Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Extra Part 1 Sudah Direvisi


__ADS_3

Kehidupan Ariel dan Zahra sejak menikah cukup bahagia, jika pun ada pertengkaran kecil, mereka bisa menyelesaikan saat itu juga sehingga tidak berlarut-larut. Bagaimanapun dalam sebuah pernikahan, pertengkaran kecil itu pasti ada. Tapi selama bisa di selesaikan dengan kepala dingin, tentu semuanya akan kembali seperti semula dan seakan tidak terjadi apa-apa.


Terlebih Ariel juga belajar dari masa lalu, ia tidak terlalu mengekang sang istri. Ariel memberikan Zahra kebebasan penuh, saat ini Ariel hanya bermodalkan kejujuran, kesetiaan, dan kepercayaan. Ia tak ingin pernikahan untuk kedua kalinya akan berakhir dengan perceraian jika dirinya masih tetap menjadi suami yang posesif dan mengekang ini dan itu, walaupun sebenarnya itu demi kebaikan sang istri juga.


Ariel juga selalu mengalah, bahkan ia akan selalu minta maaf lebih dulu, walaupun dirinya gak salah. Dan jika Zahra marah pun, Ariel akan diam tidak berkata apa-apa, setelah memastikan Zahra selesai dengan amarahnya, barulah Ariel akan mendekatinya dan memeluknya. Sehingga Zahra bisa kembali tenang dan tak lagi marah-marah gak jelas.


Ariel faham, wanita sama marah-marah adalah hal yang memang tidak bisa di pisahkan. Mungkin Allah sudah mentakdirkan seperti itu.


Diana dan Dania juga sudah mulai sekolah TK karena umur mereka yang sudah empat tahun. Mereka sebenarnya sudah sekolah sejak tahun lalu, sekolah PAUD.


Dan setelah lulus PAUD, barulah mereka kini sekolah TK.


Tapi para guru sebenarnya menyarankan agar Diana dan Dania lompat kelas aja. Karena Diana dan Dania sudah mahir membaca, menulis dan menghitung. Hanya saja Ariel menolaknya dengan alasan, ia ingin Diana dan Dania menikmati masa masa kecilnya untuk tidak berfikir keras. Karena jika sampai mereka lompat kelas, bisa di pastikan mereka akan berfikir lebih berat lagi karena mereka harus memikirkans sesuatu yang tidak seharusnya mereka fikirkan di usia mereka yang masih kanak-kanak,


Zahra pun juga setuju dengan pendapat suaminya itu, biarlah Diana dan Dania menikmati masa kanak-kanak mereka dan bermain dengan anak seusianya.


"Mama, Papa?" panggil Diana dengan suara lembutnya, berbeda dengan Dania yang memiliki suara sedikit cempreng.


"Iya, Nak," jawab Zahra tak kalah lembutnya.


"Hari ini Buk Guru nyuruh aku dan Dania bawa bekal." ucapnya memberitahu.


"Kenapa gak bilang tadi malam?" tanya Zahra dengan suara ramah, tak ada suara bentakan atau apapun.


"Maaf, Diana lupa," balasnya dengan menundukkan kepalanya, ia menyesal karena melupakan sesuatu yang seharusnya ia sampaikan kemaren atau paling lambat nanti malam.

__ADS_1


"Iya sudah gak papa, lain kali hal seperti ini jangan di ulangi," ucap Zahra sambil mengelus kepala Diana yang memakai hijab panjag.


Ya, Diana dan Dania harus memakai hijab panjang yang menutupi bagian dadanya.


"Iya, Ma." ujar Diana tersenyum. Ia bahagia mempunyai orang tua yang begitu lembut, perhatian, dan selalu memanjakannya walaupun tidak sampai berlebih.


"Iya sudah kamu duduk dulu, biar Mama siapkan bekal buat kamu dan Dania."


"Iya, Ma."


Setelahnya, Zahra langsung pergi ke dapur dan menyiapkan sendiri bekal untuk di bawa oleh kedua putrinya.


Diana sendiri, ia duduk manis di ruang makan sambil nunggu yang lain.


"Mama menyiapkan bekal Pa buat di bawa ke sekolah, sedangkan Dania, dia masih ada di kamarnya, tapi bentar lagi ke sini kok." jawabnya sambilt tersenyum ke arah Papanya. Di hadapan mereka sudah tersaji banyak makanan, dan sudah siap untuk di santap. Hanya saja, karena anggotanya belum kumpul semua, jadi mereka harus menunggu agar bisa makan bersama-sama.


"Loh tumben di suruh bawa ke sekolah?" tanya Ariel sambil menatap ke arah putrinya.


"Iya, hari ini kan pelajaran olah raga, Pa. Jadi setiap anak di suruh bawa bekal sama minuman. Jadi nanti habis olah raga, makan bersama.";


"Oh, gitu. Kok gak bilang tadi malam?"


"Diana lupa, Pa."


"Lain kali gak boleh lupa ya."

__ADS_1


"Iya, Pa.,"


Saat mereka tengah mengobrol, Dania datang. Dia langsung menghampiri Papanya dan memeluknya sebentar, Ariel pun mencium kening Dania. Setelah itu, Dania langsung duduk di samping kiri Ariel. Jadi kini Ariel berada di tengah tengah Diana dan Dania.


"Dania kok lama?" tanya Ariel.


"Maaf, Pa. Tadi masih sholat."


"Hemm, Diana sudah sholat dhuha?" tanya Ariel sambil menatap ke arah Diana.


"Sudah dong, Pa." jawabnya membuat Ariel tersenyum senang. Senang karena kedua putrinya itu walaupun umurnya masih empat tahun, tapi mereka sudah rajin sholat. Tak sia sia, Ariel dan Zahra mengajari mereka dari usia dini, karena pada akhirnya rasa lelah mereka kini sudah terbayar lunas.


Ariel mengajak mereka berbincang sambil menunggu Zahra datang.


"Maaf ya, Mas. Aku lama." Zahra datang membawa dua tas mini yang berisi bekal makanan Diana dan Dania lengkap dengan camilan dan minumannya. Bukan hanya itu, ada beberapa buah yang sudah di potong kecil-kecil.


Zahra menaruh dua bekal itu di meja yang kosong, lalu ia duduk di hadapan Ariel. Hanya di halangi meja aja. Zahra tidak masalah jika Ariel harus duduk bersama Diana dan Dania, karena itu hanya masalah sepele, yang tak perlu di buat ribut.


Zahra mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk sang suami, lalu untuk Diana dan Dania. Terakhir, ia mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.


Setelah selesai makan, Ariel pun pamit berangkat kerja, begitupun dengan Diana dan Dania. Untuk paginya, Ariel sendiri yang akan mengantarkan kedua putrinya ke sekolah. Tapi saat pulang sekolah, akan ada sopir yang menjemput mereka.


Sebenarnya Zahra bisa aja antar jemput Diana dan Dania, tapi mereka berdua harus belajar mandiri sedari dini, agar tidak kebiasaaan, apa-apa selalu merengek ke orang tua.


Dulu memang ada dua babbysitter yang membantu Zahra menjaga Diana dan Dania, hanya saja Zahra memutuskan untuk turun tangan langsung merawat kedua putrinya. Dan Ariel pun tidak mempermasalahkan selama Zahra bisa dan mampu menjaga mereka, dan tidak kecapean. Bagaimanapun Ariel tidak mau membebani sang istri dengan mengasuh kedua putrinya.

__ADS_1


__ADS_2