Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Sembunyi Di Bawah Tempat Tidur


__ADS_3

Malam harinya, sekitar jam sepuluh malam. Luna dan yang lainnya pun mulai masuk ke kamar masing-masing. Untuk pertama kalinya, Ariel dan Luna pisah kamar. Luna memilih tidur di kamar sebelah Ariel dan menguncinya dari dalam. Ariel sendiri merasa gelisah dan gak nyaman berjauhan dari Luna, tapi karena Luna maksa buat tidur sendiri, Ariel pun gak bisa berbuat apa-apa.


Dion juga sudah menempati kamar di samping kamar Bibi Imah. Kamarnya cukup luas, rapi dan wangi. Benar walaupun kamar ini lama gak di pakai, namun ruangannya sangatlaha bersih dan Dion menyukai ruangan ini. Ia juga tidur dengan nyaman di atas kasur empuknya. Namun ia gak bisa terlelap, jadi Dion hanya bisa memainkan hpnya. Dion mencoba mengirim pesan pada luna, namun sayangnya walaupun centang dua, tapi pesannya gak di baca.


Sedangkan di kamar Luna, Luna tengah menangis sendirian sambil menatap vidio tadi, bagaimana Ariel tengah berciu man panas, memegang bukit kembar milik Laras dan melakukan penyatuan yang tak seharusnya dia lakukan. Sebenarnya bukti ini aja sudah cukup kuat buat dia menggugat cerai Ariel dan mengambil rumah serta resto yang akan jadia miliknya jadi mereka bercerai karena penyebab Ariel selingkuh. Tapi ia gak mau melakukan itu dulu, ia ingin mengungkapkan semuanya saat di kampung nanti, di depan keluarga Laras dan semua tetangga. Tentu ia akan buat pesta meriah yang akan di hadiri oleh keluarga besarnya, keluarga besar Laras dan keluarga besar suaminya itu dan ia gak sabar menunggu saat itu tiba. Ia ingin semua orang tua, siapa yang sudah menjadi penyebab penderitaan dan kehancurannya.


Karena tak tahan lagi menahan rasa sakit, Luna bergegas mengambil wudhu lalu sholat. Selesai sholat, dia langsung mengadukan semuanya sama Allah, ia mencurahkan isi hatinya. Ia mengungkapkan apa yang ada dalam hati dan fikirannya. Tak ada yang Luna tutup-tutupi. Ia bercerita sama TuhanNya, dengan bebas tanpa ada rahasia lagi. Cukup lama Luna berdoa, bahkan mungkin satu jam lebih karena sangking banyaknya curhatan Luna. Namun setelah itu, ia cukup merasa sedikit lega dan tak lagi merasa sesak.


Setelah puas berdoa, Luna masih lanjut berdzirkir dan membaca Al Qur'an sampai tak terasa jam satu dini hari. Karena tak lagi bisa menahan rasa ngantuk, Luna pun menyudahi membaca Al Quranya, toh kini hatinya sudah baik-baik aja. Setelah melepas mukenah, Luna pun segera naik ke atas tempat tidur lalu mengambil hpnya yang ada di meja samping tempat tidur.


Ia melihat kamar suaminya, namun ternyata suaminya tak ada di kamar itu. "Jangan ... jangan .... "


Luna pun melihat ke kamar Laras dan benar saja, mereka ternyata melanjutkan apa yang tadi sudah mereka lakukan di kamar mandi. Bohong jika dirinya gak sakit, walaupun cinta itu sudah mati karena rasa kecewa yang begitu dalam, tapi tetap aja, ia tak bisa membohongi diri sendiri kalau hatinya kini tengah sakit dan terluka.


Luna memegang erat hp itu, untungnya hp mahal, jadi gak akan retak layarnya. Ia melihat ada beberapa pesan masuk termasuk dari Dion, namun Luna terlalu malas untuk membalasnya terlebih saat ini hatinya tak lagi baik-baik saja.


Luna keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar tamu. Luna mengetuk pintu itu sambil memanggil Laras.


"Laras, kamu sudah tidur, belum. Aku gak bisa tidur nih, aku pengen tidur bareng kamu dong, kita nostalgia kayak dulu lagi yuk," ucap Luna sambil terus menggedor pintu. Sedangkan Laras dan Ariel yang tengah olah raga di atas ranjang pun langsung panik mendengar suara Luna.


"Kok Luna belum tidur sih?" tanya Laras kesal. Ariel segera mencabut miliknya dan segera memasang kembalil sarungnya dan kaosnya.


"Laras sudah tidur belum, aku pengen tidur bareng kamu nih," ujar Luna lagi.


"Mas cepetan sembunyi dong, aku takut Luna membuka pintu itu, soalnya pintunya gak aku kunci," ucap Laras panik, Ariel pun tak kalah paniknya.


"Apa!" Ariel kaget mendengar hal itu, ia segera menutup mulutnya sendiri karena takut, suaranya terdengar keluar.


"Aku sembunyi di mana?" tanya Ariel bingung.

__ADS_1


"Di kamar mandi aja," jawab Laras panik dan sok.


"Nanti kalau Luna ke kamar mandi, bisa ketahuan," ucap Ariel bingung. Jantungnya sudah berdetak kencang, bahkan sudah seperti habis lari marathon. Keringat dingin juga mulai muncul di seluruh tubuhnya.


"Di lemari aja atau di bawah ranjang kasur," tutur Laras panik.


"Aku buka pintunya ya," ujar Luna saat tau jika pintunya gak di kunci.


Tanpa buang-buang waktu lagi, Ariel langsung bersembunyi di bawah ranjang kasur.


"Loh kamu belum tidur?" tanya Luna melihat kasur Laras yang acak-acakan, tentu ia tau apa yang terjadi di sini.


"Aku baru bangun karena kamu mengetuk pintu. Kamu kok belum tidur jam segini?" tanya Laras berusaha untuk bersikap santai walau jantungnay saat ini sudah seperti mau copot saja.


"Iya aku gak bisa tidur, aku boleh kan tidur sini, kita sudah lama gak tidur bareng," ucap Luna.


"Bo ... boleh kok," jawab Laras gugup.


"Iya, makanya aku buka baju," jawabnay sambil menarik selimut sampai leher karena di bagian dada ada cap merahnya.


"Oh aku naikkan suhunya ya,"


"Eh ... jangan," cegah Laras. Pasalnya jika suhu AC di naikkan bisa bisa ruangannya dingin dan lagi Ariel tidur di lantai. Pasti akan kedinginan.


"Kenapa?" tanya Luna polos.


"Enggak papa, sini kalau mau tidur, aku ke kamar mandi dulu tapi ya." ucap Laras sambil mengambil bajunya yang ada di lantai. Ia lalu segera ke kamar mandi dengan selimut yang melilit tubuhnya.


Melihat Laras pergi, Luna hanya tersenyum sinis. Luna mengambil Hpnya dan melihat di mana suaminya sembunyi dan ketika ia tau, suaminya sembunyi di bawah ranjang, Luna pun ingin tertawa namun ia menahannya. Ia mematikan hpnya karena takut Laras akan curiga.

__ADS_1


Luna naik ke atas tempat tidur dan mulai meloncat-loncat membuat Ariel sok karena ranjagnnya bergoyang.Ingin rasanya Ariel keluar dari sana tapi itu gak mungkin terjadi karena jika Ariel sampai nekat, tentu akan ketahuan.


Sekitar sepuluh menit, Laras sudah kembali dengan memakai baju yang tadi. Melihat Luna yang loncat-loncat di atas kasur, membuat Laras melongo.


"Luna kamu ngapain loncat-loncat  di atas kasur gitu?" tanya Laras merasa was was dengan keadaan Ariel di bawah tempat tidur.


"Aku nunggu kamu sambil olah raga. Kamu kok lama?"


"Ya, maaf. Tadi aku masih bersih-bersih. Badan aku lengket," jawabnya. Sejujurnya ia merasa kesal dan ingin marah, karena Luna menggangu aktivitas dia dengan Ariel bahkan tadi sudah mau menggapai puncaknya namun harus di lepas gitu aja gara-gara kedatangan Luna.


"Oh, maaf ya kalau aku ganggu kamu. Soalnya aku beneran gak bisa tidur. Aku mau ke kamar suamiku, tapi aku gak mau ganggu dia tidur. Soalnya kan besok Mas Ariel sudah harus kerja, jadi kalau aku ganggu dia tidur, kasihan."


"Iya gak papa kok, santai aja," sahut Laras tersenyum kecut.


"Kamu masih ngantuk?" tanya Luna.


"Enggak, aku sudah gak ngantuk lagi,"  jawabnya.


"Oh syukurlah, gimana kalau kita ngobrol aja, aku juga belum ngantuk nih," ajak Luna membuat Laras mengangguk lemah. Ia bagaimana bisa ngantuk, jika saat ini ia merasa was was takut jika Luna mengetahui jika Ariel ada di kamarnya dan kini ada di bawah ranjang kasur.


Luna pun mengajak Laras bicara, tentang apa aja. Sedangkan Laras hanya menganggukkan kepala, geleng kepala dan sesekali mengeluarkan suara jika Luna butuh jawaban. Entah karena terlalu capek apa gimana, Laras ketiduran jam setengah tiga pagi lewat lima menit.


"Loh Laras sudah tidur," keluh Luna dengan suara santainya.


"Aku main game aja deh, mau tidur juga sudah nanggung" tutur Luna membuat Ariel merasa geram. Tubuhnya sudah kaku berada di lantai, ia gak berani gerak karena takut menimbulkan bunyii. Punggungnya juga kedinginan karena menyentuh lantai.


Luna asyik main game, ia sengaja melakukannya walaupun saat ini ia sendiri juga merasa ngantuk sekali. Bosen main game, ia lanjut scroll fb, ig, tiktok dan yang lainnya. Sampai jam setengah empat, Luna masih asyik nonton vidio.


Hingga tak terasa Adzan shubuh terdengar, Luna masih belum beranjak dari sana. Luna memilih diam agak lama di sana, sampai jam menunjukkan pukul lima lewat lima menit, barulah Luna keluar dari kamar itu karena ia harus sholat shubuh. Ia gak mungkin meninggalkan sholat shubuhnya hanya gara-gara belum puas  memberikan Ariel pelajaran

__ADS_1


Setelah Luna keluar, Ariel pun menghela nafas. Ia segera keluar dari kolom tempat tidur, dan merentangkan kedua tangannya dan meliuk-liukkan tubuhnya yang terasa kaku.


Ia ingin membangunkan Laras, tapi melihat Laras tertidur nyenyak, ia pun tak tega. Ia segera keluar dari kamar Laras dan langsung masuk ke kamarnya sebelum Luna mengetahui keberadaannya.


__ADS_2