Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Laras Menghadapi Kemarahan Lintang dan Bunda Naira


__ADS_3

Laras mengetuk pintu dengan pelan, sejujurnya ia merasa gugup untuk datang ke sini, sama seperti Ariel saat datang ke rumah ini tadi pagi. Hanya saja rasa gugup Laras dan Ariel tentu berbeda. Dan apa yang di rasakan Laras saat ini jauh lebih parah ketimbang apa yang di rasakan oleh Ariel tadi pagi, walaupun untuk sebuah penyesalan, pasti Ariel yang jauh lebih menyesal karena dirinya sebagai pelaku utama di sini yang mengkhianati istrinya yang sudah lama mendampinginya saat suka maupun duka.


Setelah mengetuk pintu tiga kali, seseorang membuka pintu.


"Ngapain lagi kamu ke sini?" tanyanya sinis. Walaupun Laras menggunakan topi, kaca mata dan masker, dia masih bisa mengenali Laras dengan sangt jelas.


"Aku ingin bertemu Luna, Lin," jawab Laras kepada Lintang, adiknya luna.


"Buat apa? Buat menyakiti Mbak Luna lagi? Hah?" tanyanya dengan intonasi tinggi. Andai Laras itu laki-laki sudah pasti ia akan menghajar Laras habis-habisan seperti ia menghajar Ariel beberapa hari yang lalu. Sayangnya, Laras seorang perempuan. Bunda Naira pernah bilang, 'jangan pernah sesekali kamu mengangkat tangan pada seorang perempuan, karena sejatinya perempuan itu lemah dan tidak suka kekerasan. Jadilah laki-laki sejati, yang bisa melindungi perempuan karena kamu dilahirkan dari rahim seorang perempuan'.


"Enggak, Lin. Aku hanya ingin minta maaf sama Luna. Aku gak ingin menyakiti dia lagi. Tolong panggilkan Luna, Lin. Aku ingin bicara dengannya," pinta Laras memohon.


"Enggak, aku gak akan mengizinkan kamu bertemu Mbak Luna lagi. Sudah cukup rasa sakit yang kamu berikan buat Mbak Luna. Aku gak ingin kedatangan kamu, akan membuat Mbak Luna semakin sakit." Lintang tak akan mengizinkan Laras buat bertemu saudaranya, karena ia tak ingin Luna disakiti lagi oleh Laras. Sebagai sadaura laki-laki satu-satunya, ia sudah merasa gagal karena selama ini, ia tidak mengetahui kejahatan Laras hingga membuat kakaknya memendam rasa sakit seorang diri. Dan kali ini, ia akan menjadi pelindung buat Luna untuk menghadang siapa saja yang akan menjadi sumber rasa sakit kakaknya itu.


"Please, Lin. Tolong izinkan aku ngomong sama Luna, sebentar saja. Aku janji gak akan lama, setelah itu aku akan pergi dan gak akan ganggu Luna lagi." Laras masih memasang wajah memelas, berharap Lintang kasihan padanya dan memberikan izin buat bertemu Luna.


Sungguh, ada banyak hal yang ingin Laras bicarakan, tapi jika seperti ini bagaimana ia bisa ngomong sama Luna, jika Lintang bahkan tak mengizinkan dirinya bertemu Luna.

__ADS_1


"Enggak, mending kamu pulang aja deh, rumah ini gak nerima wanita jahat seperti kamu," ucap Lintang yang memanggil Laras dengan sebutan kamu. Memang terdengar tidak sopan, tapi itu lebih baik dari pada Lintang menyebut Laras dengan nama binatang.


"Lintang, jangan seperti ini. Tolong hargai aku sebagai tamu, aku ingin bertemu Luna, aku gak akan menyakitinya lagi, kenapa kamu gak percaya banget sih sama aku," ujar Laras yang sudah terlihat kesal. Ia juga sudah capek berdiri sedari tadi, namun Lintang seakan tidak mau mengerti. Dia emang sangat keras kepala, sama seperti Luna.


"Hargai? Emang kamu mau di hargai berapa, hm? Ah ya, aku lupa, kalau kamu rela menjual harga diri demi menggaet kakak iparku? Percaya, bagaimana bisa aku percaya, lah kepercayaan Mbak Luna aja, disalah gunakan, apalagi kepercayaanku. Sorry, aku gak mau percaya sama wanita yang sudah mengkhianati sahabatnya sendiri," ucap Lintang sinis.


Mendengar hal itu, Laras hanya bisa menghela nafas. Kenapa begitu susah rasanya bicara dengan Lintang.


"Ayolah Lintang, tolong jangan kayak gini." Laras sampai bingung mau ngomong apa lagi, karena setiap omongannya, selalu saja mendapat nyirnyiran dari Lintang.


Saat Laras mau buka suara, tiba-tiba terdengar suara seseorang.


"Lintang, ada tamu siapa?" tanya Bunda Naira sambil berjalan ke ruang tamu.


"Tante," sapa Laras yang melihat Bunda Naira.


"Kamu, mau ngapain lagi ke sini?" tanya Bunda Naira geram, karena melihat wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga putrinya.

__ADS_1


"Tante, tolong izinkan aku bertemu Luna, aku mohon, Tan," pinta Laras sambil menangkupkan kedua tanganya di depan dada.


"Buat apa? Belum puas kamu menyakiti hatinya, menghancurkan rumah tangganya? Sampai kamu masih datang ke rumah ini untuk menemuinya?" tanya Bunda Naira dengan raut wajah penuh kecewa.


"Tante gak menyangka, kamu akan menjadi benalu dalam rumah tangga anaknya Tante. Kamu sukses membuat rumah tangga Luna di ambang kehancuran," ucap Bunda Naira menitikkan air mata.


"Seharusnya jika kamu emang pengen kaya, kamu cari laki-laki lain, kenapa harus Ariel yang kamu goda, LARAS? KENAPA? Dia itu suami sahabat kamu sendiri," ujar Bunda Naira dengan mata berkaca-kaca, ia bahkan menekan kata Laras karena sangking gregetnya.


"Maafin aku, Tante. Aku khilaf, maafin aku." Laras bersujud di kaki Bunda Naira. Ia menangis sesegukan.


"Khilaf? Khilaf itu satu kali, tapi kamu dengan sengaja terus menggoda Ariel. Tante sudah tau semuanya, kamu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan, kamu selalu mempengaruhi Ariel hingga ia terus bersama kamu dan mengabaikan Luna beberapa bulan terakhir ini. Bahkan kamu seperti sangat menikmati hubungan kamu dengan Arile di rumah besar itu, di saat Luna tengah ada di sini. Tante sudah tau semuanya dan sudah lihat semua yang telah kamu lakukan pada Luna. Tante gak menyangka jika selama ini, Luna sudah berteman dengan wanita bermuka dua, di depan Luna kamu tampak baik, seolah olah kamu selalu mengkahwatirkannya, mendukungnya. Tapi di belakang, kamu terus berusaha menghancurkan kehidupan Luna. Dan sekarang, kamu sudah berhasil, Laras. Kamu berhasil menghancurkan kehidupan sahabat kamu sendiri," tutur Bunda Naira lemah, bahkan air mata itu akhirnya lolos jatuh membasahi pipinya.


Sedangkan Lintang, ia hanya bisa diam melihat Laras dan sang Bunda. Mendengar kata-kata Bunda Naira, entah kenapa hati Lintang ikut sakit, dan ikut menitikkan air mata. Padahal Lintang cowok, tapi ia bisa menangis jika sudah berkaitan dengan masalah keluarganya.


Mendengar kata-kata Bunda Naira, Laras semakin nangis, ia ingat akan dosanya yang memang tak terhitung. Ia sadar, dirinya memang benalu dalam kehidupan Luna. Namun semua sudah terjadi, tak bisakah mereka memaafkannya? Toh jikapun mereka memarahi dirinya habis-habisan, semua yang sudah terjadi tak akan bisa kembali seperti semula. Tak bisakah jika mereka menerima dirinya dan hidup dengan akkur. Tanpa harus saling menyakiti lagi seperti ini. Laras hanya bicara di dalam hati, ia tak punya kuasa untuk ngomong langsung di depan Bunda Naira.


Saat Laras masih bersujur di kaki Bunda Naira dan masih menangis sesegukan, Luna keluar dari kamar, ia ketiduran setelah habis sholat maghrib. Dan saat ia buka pintu, dan berjalan mencari sang Bunda. Betapa kagetnya Luna melihat Laras ada di rumahnya dan tengah bersuju di kaki sang Bunda. Luna segera menghampiri mereka untuk tau apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2