Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kedatangan Laras ke Rumah Luna


__ADS_3

Malam harinya, setelah sholat maghrib, Dion datang. Sedangkan Luna masih mengaji, Ariel sibuk dengan hpnya. Bibi Imah dan Bibi Neni yang menyiapkan semuanya di belakang, Dion yang baru datang langsung membantu Bibi Imah dan Bibi Neni.


"Wah, dagingnya apaan, Bi. Banyak banget?" tanya Dion saat melihat ada banyak daging dan ikan di sana.


"Ada daging sapi, daging kambing, daging ayam, ikan salmon, ikan tuna sama ikan kakap merah, sama ada jagung manis juga buat di bakar nanti."


"Mana jagung manisnya, kok aku gak lihat?"


"Masih ada di kulkas, tadi sudah Bibi bersihkan, nanti tinggal bakar aja, bumbunya juga sudah Bibi siapkan," jawab Bibi Imah yang memang antusias untuk melakukan barbeque kali ini.


"Wah Bibi mah emang keren, aku jadi makin kagum sama Bibi," ucap Dion yang membuat Bibi Imah hanya geleng-geleng kepala mendengar pujian itu.


"Luna  mana?" tanya Dion karena tak melihat Luna sedari tadi.


"Jam segini masih ngaji. Nanti habis sholat Isya' dia kelur," jawabnya yang di balas dengan anggukan kepala oleh Dion. Bagaimana mungkin ia tak menyukai Luna, jika Luna sangat taat akan agamanya. Jarang-jarang ada wanita seperti Luna di zaman seperti ini, jika pun ada, mungkin sedikit. Karena kebanyakan dari mereka, melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain, terlebih zaman sekarang setelah banyak mengenal sosial media terutama tiktok, kebaikan apa saja di rekam, dari sholat, puasa, ngaji, dzikir, menolong orang lain dan lain sebagainya.


Memang semua tergantung niat, mungkin sebagian dari mereka ada yang ingin memotivasi orang lain, namun sebagian lagi karena haus akan pujian, semakin di puji, semakin ia akan menebar kebaikan. Karena baginya pujian itu membuat dirinya bahagia dan merasa tersanjung.


"Bibi Neni kok diam aja sekarang?" tanya Dion menyapa Bibi Neni yang sibuk menata semua bahan dan daging di meja yang sudah di siapkan.


"Bingung, mau ngomong apa," jawabnya terkekeh.


"Ngapain bingung, ngomong aja apa yang ada di hati," sahut Dion membuat Neni ketawa.


"Mas Dion, pasangkan lampu aja deh sana, bisa kan?" ucap Bibi Neni.


"Bisa kok, cuma pasang aja kan?'


"Iya."


Dion pun langsung memasang beberapa lampu sehingga yang tadinya sedikit terang, sekarang seperti di siang hari, sangat terang menderang.


"Akhirnya selesai semua ya," ucap Bibi Imah.

__ADS_1


"Iya, Bi. Ini Bibi beli di mana arangnya?" tanya Dion karena kalau di rumahnya, mereka gak perlu pakai arang lagi, sudah ada yang lebih canggih dari ini.


"Di pasar masih banyak yang jualan. Arang kan sangat bagus, Mas. Selain buat barbeque seperti ini, juga bisa buat nyetrikan," ucapnya memberitahu.


"Astaga, padahal sekarang sudah banyak setrika eletronik, masih ada ya yang pakai arang."


"'Adalah, Mas."


Saat mereka tengah mengobrol, tiba-tiba Laras datang bersama Ariel. Melihat kedatangan mereka, Dion, Bibi Imah dan Bibi Neni langsung diam. Entah kenapa mereka merasa risih melihat kedekatan mereka berdua.


"Dia siapa, Mas?" tanya Laras yang terlihat sangat akrab sama Ariel.


"Oh itu, Dion. Sopir Luna," jawabnya membuat Laras tersenyum ramah sama Dion. Mungkin karena ia terpanah dengan ketampanan Dion, apalagi Dion terlihat lebih tampan dan badannya pun sedikit lebih kekar dan juga lebih macho.


"Hay, kenalin aku Laras," ucapnya dngan suara yang di buat-buat sambil mengulurkan tangannya, sumpah mendengar suara Laras yang sengaja di buat-buat seperti itu malah membuat Dion jengah. Namun karena Ariel di sana, Dion pun mau gak mau membalas uluran tangan Laras.


"Dion," jawabnya sambil melepas tangannya dengan cepat. Ia infil dan muak melihat wajah munafik seperti Laras, wanita yang terlihat ramah, baik namun menyimpan beribu-beri kemunafikan.


"Bibi Imah, Bibi Neni, Dion, saya titip Laras ya. Saya masih harus menemani Luna dulu. Nanti habis sholat saya ke sini lagi," ujarnya lalu pergi dari sana, karena gak mau meninggalkan kecurigaan. Padahal, Dion, Bibi Neni dan Bibi Imah sudah tau semuanya tentang hubungan mereka berdua.


"Mas Dion sudah lama kerja jadi sopir sahabat aku?" tanyanya sok dekat.


"Hm," jawab Dion jengah. Sahabat, apanya. Mana ada sahabat menikung sahabatnya sendiri dari belakang. Sok baik, padahal ingin menghancurkan sahabatnya sendiri.


"Mas Dion dari mana?" tanya Laras.


"Bandung," jawabnya singkat. Bibi Neni dan Bibi Imah pun hanya diam karena memang mereka gak di ajak ngobrol.


"Wah hebat, Kota Bandung kan di kenal dengan Kota Kembang, ada juga yang menjulukinya Paris Van Java. Aku sudah lama ingin kesana, bukan cuma aku sih. Luna juga, pengen ke kebun teh, terus pengen ke Orchid Forest Cikole, Rainbow Garden Lembang, Vila Air Natural Resort, Barusen Hills Ciwidey, The Lodge Maribaya dan banyak lagi laginnay, ada dua puluh tempat yang ingin di kunjungi aku sama Luna. Tapi sayangnya belum ada waktu mau ke sana," ucap Laras bercerita dengan semangat. Dion hanya diam saja, namun ia mendengarkan tempat-tempat yang dingin dikunjungi oleh Luna.


Misal suatu saat, Luna cerai sama Ariel dan menikah dengannya, maka semua tempat yang ingin dikunjungi oleh Luna, pasti akan ia datangi satu persatu, tentu datang bareng Luna, karena di sini fokusnya adalah Luna. Kebahagiaan Luna yang akan menjadi perioritasnya kelak.


Melihat tak ada tanggapan dari Dion sama sekali, membuat Laras jadi malu. Akhirnya ia pun  memilih diam, karena di sini, hanya dirinya yang antusias, yang lain seakan diam seribu bahasa tanpa ada yang mau buka suara. Padahal ia yakin, sebelum ia datang, samar-samar ia mendengar mereka bicara dengan antusias, tapi setelah dirinya datang, mereka seakan pada diam, seakan-akan kehadirannya itu gak mereka inginkan.

__ADS_1


Luna pun memilih duduk dan membuka Hpnya, ada pesan dari Ariel, melihat hal itu, suasana hati Luna yang tadinya buruk pun menjadi membaik lagi.


"Maaf ya ninggalin kamu sendirian di sana, soalnya aku gak mau bikin yang lain curiga."


"Enggak papa, Mas. Santai aja kok. Mas ada di mana?"


"Ada dikamar."


"Ngapain?"


"Enggak ada, cuma duduk di kasur, sambil chatan sama kamu."


"Luna mana?"


"Masih ngaji dia, belum selesai."


"Oh. Mas, kok kayaknya Bibi Neni dan Bibi Imah, serta Mas Dion gak suka ya sama aku."


"Kok bisa?"


"Entahlah, aku bicara dari tadi, gak di tanggepin. Aku sedih banget rasanya. Keknya kedatangan aku ke sini, gak di inginkan deh."


"Jangan berfikir negatif, mungkin karena kalian jarang ketemu, jadi sungkan mau ngajak kamu ngobrol."


"Apa bener seperti itu, Mas."


"Iya, Sayang. Aku sholat isya dulu ya sudah adzan ini. Ntar lagi aku keluar bareng Luna."


"Iya, Mas. Aku tunggu di sini."


Dan setelah itu, Ariel pun langsung mengambil wudhu dan sholat berjamaah bareng Luna. Selesai sholat, Luna segera membuka mukenahnya dan melipatnya dengan rapi. Lalu ia melihat tampilannya di cermin, ia melihat dirinya sangat cantik, jadi ia sangat pd jika harus ketemu sama Laras yang gak ada apa-apanya di banding dirinya.


"Ayo sayang, keluar," ajak Ariel dan Luna hanya menganggukkan kepala. Luna hanya tersenyum sinis melihat antusias Ariel untuk segera menemui Laras. Luna berharap misi kali ini sukses, dan akan menambah koleksi bukti terbarunya untuk membuat kejutan buat mereka semua nantinya.

__ADS_1


Luna sudah menaruh CCTV di kamar tamu dan juga di taman belakang. Ada untungnya dia beli banyak kemaren-kemarennya, sehingga bisa ia  manfaatkan dengan baik. Walaupun di rumah sudah ada CCTV, tentu Luna ingin menaruh CCTV lagi yang bisa langsung mengarah kepada tempat-tempat yang nantinya bisa di buat bermesraan. Dan lagi ia juga menaruh beberapa perekam suara yang bisa menghasilkan suara jernih dari jarak yang agak jauh.


Luna sudah memperkirakan semuanya, bahkan ia juga yang akan meminta Laras menginap, tentu Laras tak akan menolaknya. Karena Laras dan Ariel juga sudah merencanakan sebuah rencana, rencana yang akan menghancurkan mereka berdua secara perlahan.


__ADS_2