Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Detik-Detik Mau Lahiran


__ADS_3

Tak terasa Dua Minggu telah berlalu. Di tempat yang berbeda, Luna mulai merasakan rasa sakit di area perutnya, namun hanya sebentar, lalu sakit lagi, hilang lagi, begitu seterusnya. Luna juga bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Namun Luna memilih untuk diam, karena sesuai petunjuk dari buku yang ia baca, bahwa ini hanya kontraksi palsu. Luna mengambil tas dan mengisinya dengan kebutuhan dirinya selama di rawat di rumah sakit. Ia juga memasukkan baju bayi yang di belikan oleh Dion, beberapa hari yang lalu. Ya, Dion mengirim banyak sekali kebutuhan bayi yang sangat ia butuhkan. Karena Luna masih malas untuk beli sendiri, gara-gara memikirkan Ariel yang kini di rawat oleh Papa mertuanya. Untungnya Dion sangat perhatian padanya, hingga dia mengirimkan semua kebutuhan bayiinya seperti perlengkapan baju, bedak bayi, kasur bayi, selimut bayi, peralatan mandi untuk bayi dan banyak lagi lainnya. Bahkan ada beberapa mainan lucu yang juga Dion kirimkan.


Saat Luna tengah berkemas, sesekali ia memegang pinggangnya yang terasa nyeri. Ia duduk bentar, dan menutup resleting karena semua yang dibutuhkan sudah masuk ke dalam tas.


"Alhamdulillah sudah selesai," ucapnya sambil mengusap perutnya.


"Sebentar lagi, kita akan bertemum, Nak." tuturnya tersenyum bahagia. Karena tak lama lagi, ia bisa melihat dede bayinya, buah hati dirinya bersama Ariel.


"Oh ya, aku harus nelfon Ayah dan Bunda untuk memberitahu kalau aku akan segera melahirkan." Luna segera mengambil Hpnya dan menelfon Bunda Naira.


"Assalamualaikum, Bun," sapa Luna lebih dulu setelah Bunda Naira mengangkatnya.


"Waalaikumsalam, gimana kabar kamu sama dede bayi?" tanyanya.


"Alhamdulillah baik, Bun. Dan aku sepertinya mau melahirkan. Nanti aku akan pergi ke Rumah Sakit Khodijah."


"Alhamdulillah, akhirnya dede bayi mau lahir juga. Gak sabar Bunda untuk menggendong Cucu pertama Bunda, Nak."


"Sama, Bun. Aku juga gak sabar rasannya."


"Kamu mau lahir normal apa sesar?" tanyanya.


"Normal, Bun. Kata dokter aku bisa melahirkan secara normal."


"Syukurlah. Bunda, Ayah sama Lintang akan segera berangkat ke Jakarta. Mungkin habis sholat Ashar, Bunda berangkat naik bus"


"Iya, Bun. Aku tunggu di Rumah Sakit Khodijah ya."


"Iya. Kamu harus kuat ya, Bunda akan selalu mendoakan kamu."


"Terima kasih, Bunda."


"Iya sudah, kamu lebih baik siap-siap aja semuanya, biar nanti tidak ada yang ketinggalan."


"Aku sudah menyiapkan dua tas Bun, untuk keperluan aku dan Dede bayi selama di rumah sakit."


"Oh gitu, nanti berangkat sama siapa?"


"Naik mobil online, Bun. Walaupun ada mobil di garasi, aku sudah lama gak nyetir sendiri, takut."


"Iya, jangan nyetir. Bunda juga was was kalau kamu sampai nyetir sendiri apalagi dalam keadaan hamil besar. Nanti jangan lupa ajak Bibi Imah atau Bibi Neni ya, buat nemenin kamu selama di rumah sakit."


"Iya, Bunda."


"Jangan lupa kabari Ariel, walau bagaimanapun dia itu ayah dari anak yang kamu kandung."


"Heem, nanti aku akan mengabari dia."

__ADS_1


"Baiklah, Bunda mau bilang dulu sama Ayah dan menyiapkan semuanya."


"Iya, Bunda. Aku tutup dulu ya, Bun. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Luna pun menutup Hpnya. Dan saat ia mau mengirim pesan pada Noah, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


"Siapa?" tanya Luna dari dalam.


"Bibi Imah, Non." sahutnya dari luar.


"Ada apa, Bi?" tanyanya.


"Ada Nak Dion di ruang tamu," ujarnya memberitahu.


"Mas Dion. Kenapa dia ada di sini?" tanyanya. Luna pun menaruh Hpnya, dan langsung pergi untuk membukakan pintu.


"Mas Dion sama siapa, Bi?" tanya Luna sambil menatap Bibi Imah.


"Sendirian, Non. Katanya ia gak tenang sejak kemaren, kefikiran Non terus. Makanya, Nak Dion ke sini buat memastikan NOn Luna baik-baik aja," jawabnya.


"Oh, iya sudah aku minta tolong, buatkan minuman ya, Bi." pinta Luna.


"Iya, Non." balasnya.


Setelah itu, Luna pun segera pergi menuju ruang tamu. Sedangkan Bibi Imah pergi menuju dapur.


"Kenapa datang ke sini, gak bilang-bilang, Mas?" tanyanya sambil duduk di kursi yang gak jauh dari Dion.


"Iya, soalnya aku juga dadakan ke sini. Kamu gimana, sudah ada tanda-tanda mau lahiran?" tanyanya to the point.


"Kayaknya gak lama lagi aku mau melahirkan, Mas. Soalnya, perutku sudah  mulai sakit sejak tadi pagi."


"Kenapa gak langsung ke rumah sakit?"


"Aku masih beres-beres tadi."


"Iya sudah, sekarang ayo aku antar. Jangan sampai kamu dan bayi kamu kenapa-napa gara-gara telat di tangani." ujarnya sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi aku sudah minta Bibi Imah untuk bikinin minuman loh," tuturnya.


"Kamu lebih utama dari pada minuman yang Bibi Imah bikin. Lagian aku gak haus," ujarnya.


"Kamu yakin mau nganterin aku?" tanyanya sekali lagi.


"Yakin, sangat yakin. Ayo." ajaknya.


"Bentar. Sabar dulu. Aku mau menemui Bibi Imah untuk siap-siap juga." Lalu setelah itu, Luna pergi ke dapur. Sebenarnya perutnya kembali sakit, namun ia berusaha untuk menahannya karena gak ingin membuat yang lain merasa khawatir.

__ADS_1


Sesampai di dapur, Luna melihat Bibi Imah tengah memanaskan air.


"Bi," panggil Luna.


"Iya, Non." jawab Bibi Imah.


"Enggak usah buat minuman. Bibi ikut aku aja ya, ke rumah sakit. Biar Bibi Neni yang bagian jaga rumah."


"Non Luna udah mau lahiran?" tanyanya kaget.


"Iya Bi, sejak tadi pagi perutku sudah sakit beberapa kali."


"Oh gitu, iya sudah Bibi mau siap-siap dulu."


"Iya, Bi. Jangan lama-lama ya."


"Iya, Non."


Dan setelah itu, Luna menemui Bibi Neni di belakang.


"Bibi Neni," panggil Luna.


"Iya, Non," sahut Bibi Neni.


"Bi, aku kayaknya mau lahiran. Aku akan pergi ke rumah sakit bareng Mas Dion dan Bibi Imah. Bibi Neni gak papa kan, di rumah sendirian. Atau Bibi Neni mau ikut juga ke rumah sakit?" tanyanya.


"Enggak, Non. Bibi di rumah aja."


"Iya sudah, akut titip rumah ya, Bi. Kalau Bibi gangguk atau apa, Bibi bisa rujak an sendiri atau Bibi bisa panggil ART sebelah buat nemenin Bibi. Biar Bibi gak kesepian. Bibi Imah kayaknya akan menginap di rumah sakit."


"Iya, Non."


"Iya sudah, aku siap-siap dulu ya Bi. Bibi jaga diri baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, segera telfon Pak RT, cari pertolongan terdekat."


"Iya, Non."


Dan setelah itu, Luna pun segera pergi ke kamarnya.


Ia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, cuci muka, sikat gigi. Ambil wudhu. Setelahnya, ia ganti baju dan memakai make up sedanya.


Barulah setelah itu, ia keluar membawa dua tas yang cukup berat.


Melihat Luna yang kesusahaan membawa tas itu, Dion pun langsung mengambilnya dan menaruhnya di dalam mobil.


"Sudah siap berangkat?" tanya Dion.


"Bentar, tunggu Bibi imah dulu ya," ujarnya.


"Iya."

__ADS_1


Mereka pun mengobrol santai sambil menunggu Bibi Imah. Setelah Bibi datang, barulah mereka semua pergi ke Rumah Sakit Khodijah.


__ADS_2