Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ingin Mengakhiri Hubungan. Benarkah?


__ADS_3

Sesampai di rumah, Luna pamit masuk kamar karena ia lelah. Dengan meneteng belanjaannya, ia berjalan dengan tubuh yang lesu. Tubuhnya sakit semua dari atas sampai bawah, rasanya sepreti habis di pukul orang, rasanya sakit banget. Luna menaruh begitu saja belanjaannya, lalu ia pergi ke kamar mandi, untuk buang air kecil, sikat gigi, cuci muka, ambil wudhu.setelah itu, ia langsung sholat isya. Selesai sholat, Luna langsung memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, entah karena lelah atau apa. Luna langsung terlelap seketika.


Sedangkan Mama Ila pun juga langsung masuk kamar dan mandi. Lalu setelah itu, ia duduk santai di kamarnya sambil memainkan HP. Ia masih memikirkan masalah anak dan menantunya itu, Mama Ila sangat yakin sekali jika mereka ada masalah. Dan entah kenapa ia juga sangat yakin, jika sumber masalahnya itu ada pada putranya sendiri. "Apakah Luna membelikan aku barang-barang mewah, baju mewah, jam tangan mewah, tas mewah, berlian, dan lainnya agar harta putraku itu tidak jatuh ke tangan wanita lain? Aku yakin, Luna pasti sudah tau semuanya. Namun ia memilih untuk diam, ia pasti tau jika selama ini Ariel suka memberikan uangnya itu kepada wanita lain. Makanya Luna sengaja membeli banyak barang untukku dan untuk suamiku. Mungkin dia berfikir, hartanya lebih baik jatuh ke tangan aku dari pada wanita di luar sana? Tapi kenapa Luna gak kuras aja hartanya Ariel itu, kenapa malah membelikan aku banyak barang brandet seperti ini? Padahal jikapun Luna mengambil semua harta Ariel pun, aku tak mempermasalahkan, asal memang tujuan Luna itu jelas dan terbukti putraku lah yang bersalah. Aku juga lebih ridho, jika harta Ariel itu dihabiskan oleh Luna, dari pada wanita lain di luar sana. Yang jelas-jelas pasti ingin menguras harta putraku. Ya, apalagi. Seorang wanita rela jadi pelakor, alasannya pasti ada dua, mapan dan tampan. Jika putraku jelek dan miskin. Apa mereka mau jadi selingkuhan putraku." Mama ILa berberbicara sendirian di kamarnya.


"Dan tadi, tiba-tiba Luna meminta mereka berkumpul. Dan mengenalkan wanita yang bernama Laras itu di hadapan aku. Dia gak mungkin cuma iseng kan? Dan tadi wajah Luna juga terlihat sinis saat melihat Laras, walaupun cuma sekilas, tapi aku bisa melihatnya. Ariel juga mengaku kalau Laras itu saudaranya, kenapa Ariel gak jujur dari awal, jika Laras itu sahabat istrinya. Kenapa harus mengaku-ngaku jika Laras saudaranya. Pasti ada yang gak beres ini. Apa mungkin selingkuhan Ariel itu Laras, sahabat istrinya sendiri. JIka itu benar, sungguh keterlaluan mereka. Terutama Ariel, sudah tau itu sahabatnya, masih aja di sikat. Bagaimana sakitnya menantuku, saat dia tau jika suami dan sahabatnya yang sudah ia anggap seperti saudaranya berkhianat? Bukankah itu sangat menyakitkan. Bahkan aku sendiri pun tak mampu untuk membayanginya. Oh Tuhan ... jika apa yang aku fikirkan itu benar, betapa keterlaluan mereka. Tapi kenapa Luna harus pura-pura kuat? Ada apa sebenarnya dan kenapa tiba-tiba Luna ingin merayakan ulang tahunnya di kampungnya? Sebenarnya ada apa ini, Tuhan?" keluh Mama Ila. Ia takut, takut jika Luna dan Ariel bercerai. Bagaimanapun ia sangat cocok jika Lunalah yang jadi menantunya itu. Karena Luna sangat baik, cantik, sholehah, baik, ramah dan tulus.


Jika sampai Ariel bercerai dengan Luna, tentu Ariel akan rugi, karena jarang ada wanita yang sama seperti Luna, dan jika pun ada pasti akan sulit untuk mendapatkannya.


"Ah, kenapa anakku bodoh sekali sih? Aku sudah yakin saat aku mimpi buruk, bahkan tiga hari berturut-turut. Aku yakin kalau pernikahan anakku sedang tak baik-baik saja. Dan ternyata bener firasat aku. Walaupun mereka tidak cerita, tapi aku juga tidak bodoh dengan kode kode yang Luna kasih ke aku. Sesama wanita, rasa peka itu pasti ada. Dan bagaimana dengan mimpi Luna yang keguguran. Apakah saat ini Luna tengah hamil, namun ia tidak sadar jika dirinya hamil?" tanya Mama Ila lagi.


"Besok aku harus tanya ke dia. Saat ini, mungkin Luna pasti sudah lelah karena sedari tadi jalan-jalan terus." Mama Ila harus bisa menahan dirinya agar tidak menganggu menantunya yang mungkin tengah istirahat sekarang.


Sedangkan di ruang tamu, Ariel dan Papa Ardi tengah bersitegang.


"Papa gak akan pernah memaafkan kamu, jika kamu melukai Luna, Nak!" ucap Papa Ardi lembut tapi tegas.


"Aku gak akan pernah melukai Luna karena dia adalah wanita yang aku cintai."


"Benarkah?" tanyanya seakan mengejek.


"Papa gak percaya sama aku?" tanyanya sambil menatap Papanya.

__ADS_1


"Kita itu sama-sama Pria, Papa tau dan Papa sangat tau, bahkan tanpa kamu kasih tau sekalipun. Namun, Papa tidak akan menuduh kamu sembarangan, selama bukti itu tidak ada. Namun jauh di dalam lubuk hati Papa yang paling dalam, Papa masih berharap, apa yang ada dalam fikiran Papa itu salah. Dan Papa berharap, kamu adalah pria sejati."


Mendengar hal itu, Ariel diam.


"Sungguh, jika sampai Papa mendapatkan bukti, kamu sudah mengkhianati istrimu sendiri. Maka saat itu, jangan pernah sekalipun kamu menyebut saya Papa. Karna Papa gak mau punya anak yang punya sifat pengecut, pengkhianat dan dzolim kepada istrinya sendiri. Camkan itu kata-kata Papa. Percayalah, sepandai-pandai kamu menyimpan sebuah bangkai, pada akhirnya akan tercium juga. Hanya saja, kita gak pernah tau, waktunya itu kapan, besok, lusa, Minggu depan atau saat istrimu ulang tahun nanti. Siapa tau istrimu punya kejutan yang luar biasa buat kamu, kejutan yang tak akan pernah bisa kamu lupakan seumur hidup kamu. Dan saat itu terjadi, kamu menangis darah pun, kamu gak akan bisa mengulang waktu. Dan Papa pastikan, kamu akan hidup dalam penyealan." Dan setelah itu, Papa Ardi pun pergi ke kamar tamu menyusul istrinya.


Di ruang tamu, Ariel merasa frustasi sekali. Karena ia merasa jika istri dan orang tuanya sudah mengetahui apa yang terjadi. "Apa yang harus aku lakukan?" Ariel menarik-narik rambutnya sendiri sangking frustasinya.


"Ah ya, aku harus bertemu Laras malam ini." Ariel mengambil Hpnya dan mengirim pesan pada Laras.


"Dimana?" ketiknya.


"Di rumah. Ada apa, Mas?"


"Aku ingin ketemu."


"Kapan?"


"Ntar lagi."


"Okay. Dimana?"

__ADS_1


"Di tempat biasa."


"Baiklah. Kamu mau jemput aku?"


"Iya, tapi aku nunggu di pertigaan, soalnya di depan rumah kamu ada CCTV. Aku takut ketahuan."


"Okay, aku mau siap-siap dulu."


"Ya, nanti aku akan menghubungi kamu jika sudah mau berangkat."


"Siap."


Setelah itu, Ariel pun pergi ke kamarnya, namun di kamar itu kosong, tidak ada siapa-siapa. Lalu ia ingat, Luna tidur di kamar sebelah. Dan ia pun pergi ke kamar sebelah dan benar saja, ia melihat Luna yang sudah tertidur pulas dan mungkin karena kelelahan karena tadi di Mall, jalan ke sana kemari. Jika saat di Mall, mungkin gak akan terasa lelahnya. Tapi sekarang, baru mulai terasa.


Ariel menghampiri Luna, menyelimutinya sampai dadanya, lalu ia mengecup kening Luna lama.


"Selamat tidur, aku sayang kamu, Sayang. Aku harap apapun yang terjadi, kamu jangan ninggalin aku. Karena jika itu terjadi, aku gak akan tau bagaimana hidupku tanpa kamu di sisiku. Aku akan menemui Laras dan mengakhiri hubunganku dengannya. Walaupun aku sudah mencintainya, tapi tetap saja, aku gak bisa menukar dia dengan pernikahan kita. Karena kamu jauh lebih berarti dari apapun."


Setelah mengecup kening Luna sekali lagi, Ariel pun memilih untuk pergi dari sana. Mumpung Luna tidur, jadi ia punya kesempatan buat keluar. Namun saat Ariel menutup pintunya, Luna membuka mata. Walaupun tadi dia tidur, namun saat ada seseorang yang membuka pintu, ia bangun walaupun dengan mata terpejam, jadi ia bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya itu.


"Terlambat, Mas. Kamu terlambat. Aku sudah gak ada rasa sama kamu, yang ada hanya kekecewaan saja, dan rasa ingin lepas dari kamu secepatnya," gumam Luna. Ia mengunci pintunya dari dalam. Lalu ia mengambil Hpnya, agar tau kemana dan apa yang di lakukan oleh suaminya di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2