Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Laras Mendatangi Rumah Luna


__ADS_3

Laras pulang dari rumah sakit jam tujuh malam, sebenarnya ia sudah boleh pulang tadi sore, cuma Laras masih diam di ruangan itu, karena ia gak mau keluar karena hari masih terang. Ia tak ingin menjadi santapan liar oleh orang-orang di luar sana karena vidio dirinya yang tengah viral.


Laras pulang sendirian karena memang tak ada yang menjemputnya, sungguh itu membuat Laras hanya bisa tersenyum miris. Bahkan saat ia keluar dari ruangannya pun, ia masih saja mendapatkan tatapan sinis dari suster dan orang-orang yang ada di sana, mungkin mereka sudah melihat vidio dirinya, yang sudah di lihat oleh jutaan orang.


Memang sekarang ini jaman sangat canggih sekali, sekali klik, maka seluruh dunia akan tau dan bisa melihatnya, dan mereka orang yang merasa paling benar, akan terus mencaci maki dirinya, seolah olah mereka adalah manusia suci yang tak pernah berbuat salah.


Sepanjang jalan, Laras hanya bisa menunduk, ia risih mendapatkan tatapan sinis dari orang-orang yang melihatnya. Padahal ia rela pulang malam, karena ia fikir wajahnya gak akan terliht jelas, karena hari sudah malam, namun kenyataannya, tetap saja. Mereka masih bisa mengenali Laras dengan jelas.


Laras berjalan ke arah toko yang ada di depan rumah sakit, ia membeli topi, masker dan kaca mata untuk menutupi wajahnya agar tak ada lagi yang mengenalinya, sungguh mendapatkan perlakuan seperti ini membuat dirinya sakit.


"Aku bukan pembunuh, aku bukan seorang korupsi yang mencuri uang masyarakat untuk memenuhi kekayaanku, aku juga tidak merugikan banyak orang. Kenapa aku di hukum seberat ini. Aku hanya melakukan satu kesalahan yaitu menikung sahabat aku sendiri, tapi kenapa semua orang yang melihatku, seakan akan mereka melihat bangkai yang busuk, sampai mereka ingin muntah melihatku. Tatapan sinis mereka, membuatku hatiku sakit," gumam Laras dalam hati.


Setelah membayar belanjannya, ia segera memakai maskernya, kaca matanya dan topinya. Setelah itu, ia memesan mobil online untuk mengantarkan dirinya ke suatu tempat. Yah, sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya, ia akan pergi ke rumah Luna untuk menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


Cukup lama Laras menunggu, hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di hadapannya. Setelah konfirmasi dan benar bahwa itu mobil yang ia pesan, ia pun segera masuk ke kursi belakang.


Tak perlu Laras kasih tau, dia akan kemana, karena di aplikasi itu sudah tertera dengan sangat jelas, tujuan Laras saat ini. Lagian ia juga males untuk buka suara, ia memilih memejamkan matanya. Ia terlalu malas untuk buka Hp, karena isinya hanya sebuah hinaan dan caci maki.


Laras diam-diam menitikkan air mata, entah sampai kapan hidupnya akan seperti ini, hidup dalam hinaan dan caci maki dari semua orang. Malu, takut, kesal, marah, kecewa, sedih seakan bercampur jadi satu.


Malu karena aibnya tersebar di dunia maya, hingga banyak orang bisa mengaksesnya dan melihatnya dengan jelas. Bagaimana ia begitu liar di ranjang dan bagaimana ia mendesah karena merasakan kenikmatan dalam hubungan badan.


Malu karena semua orang tau, bahwa dirinya menjadi pelakor dalam rumah tangga sahabatnya sendiri, sahabat yang sudah banyak menolong dirinya hingga memberikan dirinya kehidupan yang cukup enak dan nyaman selama di Jakarta.


Ia malu dengan semua yang terjadi.


Ia juga takut, takut menghadap hari-harinya yang mungkin akan sangat suram. Takut menghadapi kemarahan dan kemurkaan keluarganya terutama orang tuanya.

__ADS_1


Takut bagaimana jika ia gak bisa menggaet Ariel untuk menikahinya, bagaimana jika Ariel kelak akan lepas tanggung jawab padanya, bagaimana jika Ariel hanya penduli pada anaknya, tapi tidak dengan dirinya. Apakah statusnya akan menjadi seorang single satu anak tanpa nikah. Lalu bagaimana jika anaknya lahir dan menanyakan kenapa, ia lahir di luar nikah? Apakah anaknya akan kecewa pada dirinya karena sudah melakukan hal sekotor ini, hanya untuk bisa merasakan apa yang sahabatnya rasakan?


Ia juga merasa kesal dan marah pada dirinya sendiri, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa menyesal karena sudah melakukan hal yang hina, demi ingin mendapatkan suami tampan dan mapan, ia bahkan gak memperdulikan persahabatan dirinya dengan Luna yang sudah terjalin lama.


Tapi ia juga merasa kecewa dan sedih dalam waktu bersamaan, enggak menyangka jika Luna akan setega ini padanya. Seharusnya jika Luna marah sama dirinya, cukup berdua saja, tak perlu bawa-bawa keluarganya yang tak tau apa-apa. Ini Luna bukan hanya mempermalukan dirinya, tapi juga mempermalukan orang tuanya dan saudara-saudaranya.


Laras yakin, bukan hanya dirinya yang mendapatkan hinaan ini, tapi orang tuanya yang ada di rumah pun juga pasti akan ikut di salahkan karena ulahnya. Apa yang di lakukan oleh Luna sangat sangat keterlaluan sekali.


Jika memang Luna ingin mempermalukan dirinya dan ingin mempertontonkan vidio dirinya, seharusnya cukup orang tuanya aja dan orang tua Ariel, tapi kenapa keluarga besarnya ikut di undang untuk melihat hal yang tak seharusnya patut untuk di pertontonkan, bahkan bukan hanya keluarga besarnya, tapi juga kelurga besar Luna dan Ariel. Bahkan tetangga yang tak tau apa-apapun juga ikut di undang hanya untuk memberitahu mereka bagaimana kelakuannya selama di Jakarta.


Laras terus menitikkan air mata hingga ia di kagetkan dengan suara sang sopir yang mengatakan jika sudah sampai tujuan. Laras langsung turun setelah mengucapkan terima kasih, ia tak perlu memberi uang cash karena ia sudah bayar dompet digital.


Laras menatap sekelilinya yang cukup sepi, ia tak ingin sampai di ketahui oleh orang lain yang akan merekamnya diam diam dan mengunggahnya di sosial media, ia tak ingin membuat kehebohan lagi di dunia maya. Cukup dua vidio itu aja yang membuat dirinya  murka sampai detik ini, ia tak ingin ada vidio selanjutnya yang membuat suasana menjadi semakin keruh.

__ADS_1


Mobil yang di tumpangi Laras sudah pergi dari sana, dan Laras masih menatap rumah Luna. Rumah yang dulu sering ia datangi saat masih sekolah. Ia sering datang ke rumah ini untuk menjemput Luna dan berangkat sekolah bareng atau mengajak Luna main bersama. Ia masih ingat dengan jelas, semua kenangan dirinya bersama Luna. Banyak suka duka yang sudah mereka lewati bersama. Dan tentu, Luna yang akan sering mengalah padanya, karena ia sadar sikapnya kadang suka dominan dulu, suka mengatur dan Luna harus menurutinya.


Laras berjalan ke arah rumah Luna, ada banyak hal yang harus ia bicarakan, tentang bagaimana ke depannya dan bagaimana hubungan dirinya dengan Ariel. Dia  juga ingin meminta sesuatu, apakah itu? Yah, semuanya akan terjawab jika Luna masih bersedia untuk mengobrol dengannya.


__ADS_2