
Dion pulang dengan hati yang patah, dia sejujurnya tidak ikhlas dengan penolakan Luna. Tapi ia tidak bisa memaksanya gitu aja, karena bisa bikin Luna infil padanya.
Setahun lebih dia berjuang, tidak mungkin ia hanya pasrah gitu aja. Dion akan melakukan apapun agar Luna menjadi miliknya. Bagi Dion, Luna hanya di takdirnya untuknya, bukan untuk orang lain.
Ia tidak akan pernah ikhlas jika Luna rujuk dengan mantan suaminya ataupun menikah dengan laki-laki lain.
Sedangkan Luna, setelah Dion pergi. Luna merasa sedih, bahkan sangking sedihnya, ia sampai terisak-isak.
Luna memberikan Diana kepada Bibik Imah, agar ia bisa bebas untuk menangis sendirian di kamar. Ia tak mungkin menangis di depan putrinya, nanti putrinya malah ikut-ikutan menangis.
Bibik Imah yang mengerti kondisi Luna pun langsung faham, ia membawa Diana main di belakang. Di sana Diana bisa main di atas rumput sambil lihat ikan. Tentu harus di jaga ketat, biar gak nyemplung.
Luna melihat foto Dion di hpnya. Ia sebenarnya sangat mencintai Dion, hanya saja setiap kali ia sholat istikharah, kenapa Dion selalu datang dengan wajah menakutkan. Beberapa kali sholat istikharah, tetap saja, ia selalu bermimpi buruk.
Luna tak mungkin menerima Dion, setelah Tuhan memberikan ia petunjuk dengan sangat jelas. Apalagi Ayahnya juga kelihatannya tidak menyukai Dion.
Rasanya dadanya begitu sesak. Nyeri sekali.
"Kenapa Tuhan? Kenapa rasanya sangat sakit? Kenapa aku selalu bermimpi buruk tentangnya. Padahal Mas Dion sangat baik sama aku. Orang tuanya juga sangat baik sekali. Tapi kenapa, Engkau selalu menghadirkan mimpi yang menakutkan." Luna berbicara dengan terisak-isak.
Dulu saat Ariel melamarnya, saat Luna melakukan istikharah. Jawabannya selalu bagus. Itulah kenapa ia menerima Ariel jadi suaminya. Tapi ternyata pernikahannya hanya bertahan sebentar.
Luna menangis sendirian, meratapi nasib hubungan dirinya dan Dion, yang ternyata berakhir sia-sia.
Sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki membawa Dania pergi ke taman. Ya, setiap hari Minggu, ia selalu membawa Dania untuk jalan-jalan. Saat ini usia Dania sudah empat bulan setengah. Tak menyangka, jika waktu berjalan begitu cepat.
Hanya saja pertumbuhan Dania sangat lambat, berbeda dengan bayi yang lainnya. Namun laki-laki itu tidak pernah putus asa. Ia selalu membawa Dania ke dokter agar Dania bisa hidup normal seperti lainnya.
Yah, Dania berbeda dengan yang lain. Mungkin karena saat ibunya hamil, selain Ibunya kurang gizi, juga makan makanan yang kurang sehat, sehingga itu ngefek ke dede bayinya.
__ADS_1
Saat laki-laki itu tengah menemani Dania, tiba-tiba seseorang datang mengagetkannya.
"Hey, ngapain?" tanyanya.
"Nemenin anakku. Kamu kok tau aku ada di sini?"
"Tadi aku ke rumah kamu, tapi kata Bibi kamu ada di taman. Makanya aku langsung pergi ke taman terdekat. Itu bayinya siapa?"
"Anakku."
"What? Gimana bisa? Kamu kan belum nikah lagi. Anakmu yang pertama kan sudah besar," ujarnya.
"Hemm ini anak angkat aku."
"Kenapa?"
"Kenapa? Apanya?"
"Ya karena aku kesepian di rumah. Misal ada anak kecil kan, aku ada hiburan setiap pulang kerja. Setidaknya Dania, menjadi obat buat melepas rasa lelahku."
"Namanya Dania?"
"Iya Dania Larasati?"
"Laras?" Mendengar kata Laras, ia jadi keingat dengan wanita yang menjadi selingkuhan sepupunya itu.
"Hem, kenapa?" tanyanya, melihat Noah seperti orang linglung.
"Gak papa. Kamu ngangkat anak ini dari mana?"
__ADS_1
"Rahasia."
"Ck main rahasia - rahasiaan segala," sindirnya.
"Karena gak semua urusan pribadi aku, kamu bisa mengetahuinya."
"Hmm terserah kamu deh." Noah menatap Dania dengan tatapan aneh.
"Kamu gak kencan?"
"Enggak, pacar aja kagak punya. Gimana mau kencan." ucapnya.
"Ck ... yang dulu kemana?"
"Dah putus."
"Kamu itu, kok bisa putus nyambung gitu?"
"Bukan putus nyambung. Masalahnya dia di jodohkan sama orang tuanya. Aku bisa apa."
"Ya, usaha dong. Biar orang tuanya nerima kamu."
"Susah. Aku udah berusahalah, tapi mungkin memang aku dan dia gak berjodoh. Oh ya Ar, besok aku rencana mau ke luar negeri." Ya, dia adalah Ardi. Bukan Ardi, Papanya Ariel. Tapi Ardi temannya Noah. Yang dulu pernah ketemu di
"Mau ngapain?"
"Lihat sepupu aku di sana."
"Ya sudah, hati-hati ya di jalan. Kalau sudah sampai, chat aku. Biar aku gak khawatir."
__ADS_1
"Pastinya."
Dan mereka pun mengobrol sebentar sebelum akhirnya Noah pamit pergi dari sana. Sebelum itu, ia melihat ke arah Dania sebentar, entah kenapa melihat Dania, ia seakan merasakan sesuatu yang lain.