Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
10 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan lebih sejak Ariel menerima lamaran dadakan dari seorang wanita, Ariel belum menghubungi nomer itu karena ia masih merasa ragu.  Ariel masih fokus dengan putrinya dan fokus memperbaiki diri. Sedangkan Noah sejak curhat malam itu, pagi harinya dia pergi dan sampai sekarang belum juga menghubungi dirinya lagi. Ariel pun sudah berusaha untuk nelfon lebih dulu, tapi nomernya tidak aktiv, dirinya chat pun juga centang satu, Ariel cuma bisa mendoakan semoga Noah baik baik aja dan semoga selalu berada dalam lindungan Tuhan. Noah emang selalu terlihat kuat, padahal sebenarnya ia pun juga kadang terlihat rapuh di waktu waktu tertentu.


Sedangkan Luna, ia beberapa kali kirim pesan, namun jarang ia balas, jika pun di balas, mungkin cuma jawab iya, dan tidak. Ariel berusaha untuk membatasinya, agar dirinya dan Luna tidak semakin dekat dan membuat Dion cemburu dan salah faham padanya.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Luna merasa perutnya mules sejak tadi pagi. Padahal kata dokter, masih kurang seminggu lagi, tapi entah kenapa perutnya seakan tak bisa di ajak kompromi.


"Kamu kenapa, Lun?" tanya Dion, yang melihat Luna meringis sejak tadi pagi dan memegang  perutnya.


"Perutku mules, Mas."


"Emang kamu salah makan apa gimana?" tanyanya yang kurang peka.


"Entahlah, tapi sepertinya aku mau melahirkan."


"Bukannya kata dokter masih kurang seminggu."


"Itu kan dokter masih perkiraan Mas, setau aku, bisa maju seminggu atau bisa mundur seminggu."


"Iya sudah kalau gitu, ayo berangkat."


"Sebentar, aku siap siap dulu." tuturnya, Luna berusaha untuk kuat.


Setelah persiapannya, di masukkan ke dalam tas. Dion pun langsung bantu membawakannya.


"Mas, aku gak kuat jalan. Sakitnya semakin terasa."


Mendengar ucapan Luna, Dion kelabakan sendiri. Dengan susah payah, ia pun menggendong Luna ala koala. Jangan di tanyakan berat apa gak, karena dari wajah Dion, bisa di bayangkan, jika ia rasanya sudah kewalahan namun berusaha untuk kuat.


Berat badan Luna sudah naik drastis jadi sembilan puluh dua kilo. Bahkan bajunya benar benar tidak ada yang muat semua, bahkan ukuran bajunya pun yang paling jumbo.


Setelah sampai di mobil, nafas Dion seperti mau habis. Ia berusaha untuk tenang dan menghirup udara segar serta menghembuskannya secara perlahan.


Setelah agak tenang, barulah Dion masuk ke dalam mobil dan mulai menyetir, namun sebelum itu, Dion mengunci pintu lebih dulu karena di dalam ada banyak berkas penting yang tidak boleh sampai jatuh ke tangan orang yang salah.


"Mas, tolong lebih cepat. Sakitnya semakin terasa." Luna bahkan sampai mencengkram bajunya sendiri dan sesekali meringis kesakitan. Melihat hal itu, hati Dion meleleh. Rasa kesal, benci, marah, kecewa selama hampir dua bulan terakhir ini seakan hilang begitu saja.


"Sabar ya Sayang," tutur Dion sambil fokus menyetir, ia bahkan sampai menerobos lampu merah dan menyalip beberapa mobil yang menurutnya terlalu pelan.


"Mas, aku gak tahan." rengek Luna menahan rasa sakit, ia terus mengelus perutnya yang semakin sakit. Rasa sakitnya kadang hilang, kadang datang lagi. Terus seperti itu.


"Sabar ya, bentar lagi sampai.,"


"Cepat, Mas."


"Iya, sayang. Sabar ya."

__ADS_1


Dion terus berusaha untuk tetap fokus karena dia menggunakan kecepatan tinggi. Setelah hampir dua puluh menit, barulah dirinya sampai di depan rumah sakit.


Dion langsung mengambil brankar, karena ia tak mampu lagi untuk menggendong Luna, jika dulu mungkin ia kuat, tapi berbeda dengan sekarang, rasanya pingganya seperti mau patah.


"Ayo sayang, naik ke atas brankar, sini aku bantu."


Dion membantu Luna untuk naik ke atas brankar, setelah itu, Dion mendorongnya dengan cepat dan memanggil dokter, menghebohkan pihak rumah  sakit.


"Dokter, dokter tolong istri saya dok," pinta Dion memohon.


Dokter yang ada di sana pun akhirnya bergerak cepat. Setelah itu, Luna di bawa ke ruang ibu hamil.


"Bapak mau masuk, apa nunggu di luar."


"Masuk, aja dok."


"Baik, silahkan."


Jika Dion lagi fokus menemani Luna yang tengah ingin melahirkan, berbeda dengan Ariel. Karena tadi, ia mendapatkan surat seperti surat lamaran kerja, tapi isinya tentang wanita itu. Dan ia mendapatkan surat itu di depan pintunya yang memang ada tempat untuk menaruh barang. Mungkin wanita itu malu untuk memberikannya secara langsung, terlebih dirinya sampai sekarang belum juga menghubunginya.


Ariel gak langsung membacanya, ia menaruhnya begitu saja. Setelah Diana tidur, barulah Ariel membuka surat itu yang memang di tujukan padanya.


"Assalamualaikum, maaf jika saya lancang mengirim surat ini tanpa sepengetahuan Mas Ariel. Saya terpaksa melakukannya karena saya belum mendapatkan kabar sampai detik ini, padahal sedari bulan lalu, setiap detiknya, saya berharap ada panggilan atau pesan dari Mas Ariel, namun nyatanya, hingga satu bulan lamanya, tidak ada telfon atau pun pesan dari Mas Ariel. Kecewa, tentu. Tapi saya berusaha berfikir positif, mungkin Mas Ariel tengah sibuk banget hingga lupa untuk berkirim pesan.


Mas Ariel untuk kedua kalinya, izinkan saya mengungkapkan isi hati saya. Mas Ariel, sejak pertemuan pertama kita di masjid waktu itu, sampai detik ini, saya terus kefikiran hingga ke bawa dalam mimpi. Sungguh, perasaan ini sangat menyakitkan saya, dua puluh tujuh tahun saya hidup, baru kali ini hati saya berdesir saat melihat seseorang.


Mas Ariel, saya minta maaf, karena saya sudah mencari tau tentang Mas Ariel.  Saya hanya ingin tau tentang status Mas Ariel, hanya itu, dan ketika saya tau Mas Ariel seorang duda, maka saya memberanikan diri untuk melangkah. Berharap, jika apa yang saya lakukan, mendapatkan respon positif, namun jika pun tidak, saya tidak akan memaksa, karena setiap orang berhak memilih dan berhak menolak jika tidak sesuai dengan kata hati.


Baiklah, saya rasa sudah cukup untuk basa-basinya. Sekarang saya ingin memperkenalkan diri saya secara pribadi.


Nama lengkap : Dr. Fatimah Az-Zahra


Nama panggilan : Zahra.


Tempat, tanggal lahir : Singapure, 10 Juni 1996


Anak : Kedua dari tiga bersaudara.


Status : Single, belum pernah menikah


Jenis kela-min : Perempuan


Tinggi dan berat badan : 165 cm, 45 kg.


Pekerjaan : Usaha resto, kafe, penginapan (Kos-kosan, dan hotel untuk menengah ke bawah), toko sembako, toko Atk dan bisnis travel umroh dan haji.

__ADS_1


Hobi : Membaca ayat ayat suci Al Qur'an, mendengarkan sholawat, jalan-jalan (traveling)


Cita-cita : Hanya ingin menjadi wanita sederhana yang selalu taat pada Tuhannya hingga bisa mati dalam keadaaan Khusnul khotimah.


Keinginan : Punya rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah.


Riwayat Pendidikan :


- Aliyah : Attaqwa Putri


- S1, S2, S3 : Universitas Al Azhar


- Fakultas : Syari'ah Islamiyah


- Jurusan : Fiqh Muqaran (Fiqih perbandingan)


Nama Ayah : Sulaiman Az-Zakra


Nama Ibu : Siti Aisyah


Nama Kakak Laki-laki : Muhammad Al Fatih (sudah menikah, 32 tahun)


Nama Adik Laki-laki : Abdullah Khairul Azzam (21 tahun)


Sekian surat dari saya, jika Mas Ingi lanjut. Mas bisa membalas surat saya atau mengirim pesan. Nanti saya akan datang bersama Papa dan keluar terdekat saya untuk membahas lebih lanjut.


Sekian dari saya, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarokatuh.


Setelah itu, Ariel langsung menaruh kertas itu gitu aja di meja. Ia masih berfikir, apa jawaban yang enak, yang sekiranya tidak menyakitkan.


Di satu sisi, Ariel mulai terlena dan merasa dirinya sangat di butuhkan di sini. Terlebih selama sebulan terakhir ini, ia selalu bermimpi dan mimpinya cukup bagus. Makanya Ariel ragu untuk menolaknya. Tapi jika di teruskan, ia juga belum siap untuk memulai hidup baru.


Ariel mengambil hpnya dan mulai mengetik sesuatu di sana.


"Assalamualaikum Mbak Zahra. Ini saya Ariel. Maaf baru hari ini saya bisa kirim pesan. Mengenai ajakan nikah Mbak Zahra bulan lalu, jujur membuat saya kaget dan sok. Sangking soknya, sampai bingung mau berkata apa. Lalu hari ini saya mendapat surat ini dari Mbak Zahra. Jujur hati saya tergugah rasanya. Namun ada hal yang tidak bisa membuat saya tergesa-gesa mengambil keputusan. Yaitu putri saya


Saya mempunyai dua putri yang bernama Diana dan Dania. Untuk saat ini, saya ingin fokus dengan putri saya lebih dulu. Berusaha menjadi ayah yang baik buat mereka, dan fokus untuk memperbaiki diri.


Saya belum siap untuk membina rumah tangga lagi, atau mungkin saya tidak akan menikah lagi untuk kedua kalinya.


Untuk itu, dengan ini, saya menyatakan saya menolak untuk ajakan Mbak dalam membina rumah tangga. Saya belum siap.


Mohon maaf atas penolakan saya. Sekian dan terimakasih.


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarokatuh."

__ADS_1


Setelah mengirim pesan itu, Ariel merasa sedikit lega. Sungguh, bukan maksud ingin menolak tapi Ariel hanya ingin fokus sama putrinya lebih dulu. Ia tak ingin fokusnya malah terpecah belah. Ia belum siap untuk memikirkan semuanya dalam waktu bersamaan.


__ADS_2