
Noah sudah tiba di rumah Luna, ia mengetuk pintunya dengan sopan karena ini bukan lagi rumah Ariel tapi resmi menjadi rumah Luna. Jadi, Noah pun tidak bisa masuk sembarangan.
Tak la kemudian pintu terbuka. Bibi Neni terkejut ada Noah di depan rumahnya.
"Loh Tuan Noah? Tuan belum tau jika Noj Luna ada di rumah sakit sejak kemaren?" tanyanya. Bibi Neni mengira Noah belum tau apa-apa makanya pergi kemari.
"Saya sudah tau, Bi. Semalaman saya ada di rumah sakit. Saya ke sini mau ngantar barang buat Luna dan Dede Bayi," ucapnya memberitahu karena sebelum ia berangkat. Ardi mengatakan itu juga ada barang-barang milik Luna seperti Susu Hamil untuk ibu menyusui, daster agar Luna lebih mudah menyusui dan banyak lagi lainnya. Tapi barangnya lebih banyak untuk dede bayi.
"Oh saya fikir belum tau, ayo saya bantu Tuan."
"Enggal usah, Bi. Berat soalnya. Saya taruh di ruang tamu aja ya, Bi. Enggak enak soalnya kalau langsung taruh di kamar," tuturnya.
"Iya, Tuan. Gak papa." sahutnya.
Dan Noah pun dengan sudah payah mengangkat satu persatu dus besar itu
"Gila, apaan sih isinya. Bikin pinggangku mau rontok aja rasanya," gumam Noah dalam hati.
"Tuan mau minum apa, biar Bibi ambilkan," ujarnya.
"Enggal usah Bi. Oh ya apa Bibi mendapatkan surat dari pengadilan agama pagi ini?" tanyanya.
"Iya, Tuan. Tapi saya sudah meminta pengantar surat itu untuk langsung mengantarkannya ke rumah sakit. Biar bisa langsung diterima oleh Non Luna sendiri," tuturnya.
"Oh gitu, iya sudah saya pamit ya Bi."
"Iya, Tuan."
Setelah itu Noah pun segera pergi dari sana sedangkan Bibi Neni, ia langsung menutup pintu kembali. Bibi ingin mengangkat dus itu untuk membawanya ke kamar Luna, tapi karena berat, akhirnya gak jadi. Dan ia pun memilih untuk pergi dari sana dan membiarkan dus itu berada di ruang tamu.
Sedangkan di rumah sakit, Luna sudah sadar setengah jam yang lalu. Luna tersenyum melihat orang pertama yang ia lihat Dion.
"Terimakasih ya Mas, sudah menemani aku saat lahiran. Maaf sudah merepotkanmu," ucapnya merasa bersalah.
"Enggak papa, santai aja. Lagian aku seneng bisa menemani kamu seperti tadi malam."
__ADS_1
"Bayi aku mana?"
"Ada di kamar NICU."
"Apakah bayiku baik-baik aja?" tanyanya.
"Iya. Nanti jika kamu sudah sehat, kamu bisa melihat langsung. Bayimu sangat cantik."
"Bayiku perempuan?"
"Iya."
Mendengar hal itu, Luna pun tersenyum senang. Rasanya rasa sakit yang ia rasakan tadi malam, seakan sudah terbayar lunas.
"Ayah, Bunda dan Lintang belum datang?"
"Belum. Nanti sore sepertinya baru sampai rumah sakit."
"Sekarang jam berapa?"
"Hmm ... Mas Ariel gak datang?"
"Datang tapi dia sudah balik tadi pagi."
"Oh." Mendengar Ariel datang dan sudah pulang, entah kenapa ada kehampaan di hati Luna.
"Kamu sedih?" tanya Dion melihat wajah murung Luna.
"Enggak kok."
"Oh ya aku punya sesuatu buat kamu,"
"Apa?"
"Taraaaa ... " Dion memberikan sebuah surat. Luna mengambilnya dan membacanya.
__ADS_1
"Sekarang kamu dan Ariel sudah resmi berverai Sayang. Aku seneng banget rasanya," ucap Dion tersenyum ceria.
Berbeda dengan Luna, "Kenapa dadaku sesak? Bukankah ini yang aku inginkan?" tanyanya dalam hati.
"Aku tau, mungkin kamu gak terlalu bahagia seperti yang aku rasakan saat ini. Tapi, aku yakin cepat atau lambat. Kamu pasti bisa melupakan mantan suamimu. Dan kita akan hidup bahagia dengan putri kita," tuturnya sambil membelai kepala Luna dengan kasih sayang.
Luna pun menganggukkan kepalanya dan melipat kembali kertas itu dan menaruhnya di sampingnya.
"Aku ingin lihat dede bayinya?"
"Belum bisa, Sayang. Kondisi kamu masih lemah. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Sabar ya. Jika kamu sudah kuat, kamu pasti bisa melihatnya dan menggendongnya," tuturnya mencoba memberikan pengertian.
"Oh ya kamu sudah memberi nama untuk bayi kita?" tanyanya, Dion sengaja menyebut bayi kita karena memang tak lama lagi, bayi itu juga akan jadi miliknya.
"Belum."
"Apakah aku boleh memberi nama?" tanyanya.
"Aku sebenarnya pengen Mas Ariel yang ngasih, tapi dia sepertinya gak peduli," gumam Luna mengambil kesimpulan sendiri.
"Boleh," tuturnya.
"Bagaimana jika Diana? Di itu Dion. Na, itu Luna. Gak papa kan?" tanyanya sekali lagi.
Namun kali ini, Luna diam.
"Diana dalam bahasa latin, artinya surga. Semoga kelak putri kita mempunyai akhlak yang baik sehingga bisa masuk surga. Diana juga mempunyai makna langit. Semoga Diana juga punya cita-cita setinggi langit. Agar dia menjadi anak yang membanggakan untuk kita semua."
"Untuk nama terakhir, terserah kamu. Mau ambil nama keluargaku, Erlangga Mahabrata atau nama dari keluarga besar suamimu, Alfarizi atau bisa ambil dari nama belakangmu, Intan Permata. Kamu tinggal pilih," tuturnya.
"Aku pakai nama keluarga besar Mas Ariel, walau bagaimanapun dia itu anaknya Mas Ariel," sahutnya.
"Baiklah, berarti nama lengkapnya Diana Ariella Alfarizi. Bagus kan?" tanyanya.
"Iya," balas Luna tersenyum.
__ADS_1
"Syukurlah, jika kamu menyukainya." Dion pun merasa lega karena bisa melihat senyuman Luna lagi, walau tanpa Dion sadari, Lunaasih menyimpan kehampaan yang tak semua orang bisa merasakannya.