Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
3 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Hari ini, Ariel dan Diana pergi ke rumah sakit setelah mendengar jika Lestari melahirkan secara prematur. Namun kondisi bayinya baik baik aja, hanya saja harus di taruh di inkubator. Dion dan Lestari merasa bahagia setelah anak ketiga mereka lahir. Ya, ini anak ketiga, karena anak pertama, adalah anaknya Ardi dengan istri pertama, anak kedua ya Dania, jadi yang ini merupakan anak ketiga mereka. Yang di kasih nama, Putri Adelia. Di panggil Adel.


Ariel dan Ardi berbincang sedangkan Diana, ia duduk bersama dengan Dania yang di temani oleh babysitter Dania. Tak lama kemudian, Noah juga datang bersama dengan Salsa, sang istri.


Salsa pun mulai menyapa mereka semua dan kenalan dengan Lestari. Lestari pun menyambut baik kehadiran Salsa, malah ia berharap jika dirinya dan Salsa bisa dekat seperti suaminya yang sangat dekat bahkan bersahabat dengan suami Salsa.


"Salsa, umur kamu berapa?" tanya Lestari heran.


"Tujuh belas, Mbak," jawabnya tersenyum malu.


"Wah, sudah tujuh belas ya. Wajah kamu mungil sekali, Mbak suka. Malah tadinya Mbak fikir kamu masih SMP lo," godanya.


"Hehe Mbak bisa aja. TApi emang rata rata orang yang gak tau, selalu menganggap aku anak kecil, padahal sudah dewasa."


"Iya, mungkin karena lihat wajah kamu yang unyu unyu, aku sendiri aja sampai gemes sendiri lihatnya."


"Hehe Mbak ada ada aja. Mbak juga terlihat cantik kok."


Mereka terus mengobrol, hanya dengan waktu singkat, Lestari dan Salsa pun terlihat akrab. Noah sesekali melihat ke arah istrinya yang ternyata mudah akrab dengan yang lain.


"Kenapa di lihatin terus sih, dia gak bakala kemana mana," goda Ardi.


"Bukan gitu, aku cuma takut, Salsa gak nyaman. TApi ternyata dia malah terlihat akrab banget sama istrimu."


"Hemm, ya mereka bahkan sudah seperti teman akrab."


"Nah, riel kamu kapan akan membawa pasangan. Tinggal kamu aja nih." tanya Ardi.


"Doakan aja," ucap Ariel yang tak ingin memperpanjang ucapan sahabatnya itu. Jika Ardi dan Noah melihat ke arah istri mereka masing masing, berbeda dengan ariel yang melihat ke arah putrinya, siapa lagi kalau bukan Diana dan Dania.


Setelah hampir tiga jam berada di rumah sakit, ARiel pun pamit pulang bersama dengan Diana dan Dania. Ya, Dania akan ikut Ariel mengingat saat ini, Ardi dan Lestari sudah punya anak lagi. Tentu mereka akan kerepotan jika harus mengurus semuanya, walaupun sudah ada babby sitter.. Jadi Ariel berusaha meyakinkan mereka untuk membawa Dania agar mereka bisa fokus sama kesehatan Putri Adelia.


Ariel membawa kedua putrinya pulang ke apartemen mereka. Namun saat mereka pulang dan sampai di lift, tiba-tiba Ariel bertemu dengan wanita yang dulu sempat melamarnya dan kini wanita itu juga ada di lift.


Jujur, Ariel merasa panas dingin, malu, dan sebagainya.


Sedangkan wanita itu hanya bisa diam, mau nyapa pun, gak enak. Karena lamarannya sudah di tolak oleh laki-laki yang kini ada di sampingnya.


"Papa, dia siapa?" tanya Dania. Mungkin dia merasa aneh melihat dua orang dewasa ada di lift yang sama.

__ADS_1


"Halo, perkenalkan, saya Tante Zahra," sapa Wanita yang bernama Zahra itu. Ia bahkan ikut berjongkok agar bisa menyamaratakan Tingg mereka.


"Tante?" ulangnya.


"Ya," jawab Zahra


"No, dia Mama." balas Diana membua Ariel dan Zahra kaget. Tak menyangka jika Diana akan berkata demikian.


"Mama?" tanya Dania dan Diana mengangguk? dengan semangat.


"Iya, Mama Ita," jawabnya. Maksudnya adalah Mama kita.


"Mama," panggil Dania sambil minta gendong. Zahra menatap ke arah Ariel, seakan meminta izin apakah boleh menggendong Dania. Dan syukurnya Ariel mengizinkan.


"Hello, siapa namanya?" tanyanya sambil menggendong Dania.


"Ania," jawabnya dengan senyuman khasnya.


"Ania?" ulang Zahra.


"Dania," ujar Ariel meluruskan.


"Oh, Dania. Kalau yang ini siapa?" tanyanya dengan suara seperti anak kecil.


"Diana?" tanya Zahra menerka-nerka.


"Ya, Iana," jawab Diana dengan suara yang bikin orang meleleh mendengarnya.


"Wah, kalian kembar ya, cantik banget," puji Zahra.


"Mereka beda Ibu," ucap Ariel meluruskan sekali lagi.


"Apa!" Zahra di bua kaget. Bagaimana bisa mereka beda Ibu, sedangkan mereka terlihat kembar.


"Kamu punya dua istri?" tanyanya karena saat Zahra mencari tau, ia emang tidak mencari sampai sedetai itu. Yang ia cari tau hanya nama dan statusnya aja.


Ariel menggelengkan kepalanya membuat Zahra tidak mengerti.


"Aku gak bisa jelasin, kecuali kita sudah sah jadi suami istri," ujar Ariel santai namun tidak dengan Zahra yang jantungnya berdebar-debar.

__ADS_1


"Maksudnya gimana ya?" tanya Zahra tidak mengerti.


"Aku menerima lamaranmu."


Tepat setelah Ariel ngomong seperti itu, pintu lift terbuka.


Ariel langsung mengambil Dania dari gendongan Zahra dan pergi segera dari sana. Sedangkan Zahra masih mematung, karena sok. Tak percaya jika akhirnya Ariel menerima lamaran dirinya.


Melihat Ariel sudah pergi jauh, Zahra bergegas mengejar langkah Ariel.


"Maksud Mas Ariel apa ya barusan?"


"Aku menerima lamaranmu. Dan InsyaAllah dalam waktu dekat ini, aku akan datang untuk menemui orang tua kamu, dan meminta kamu secara resmi," ujarnya.


Mendengar hal itu, tentu Zahra tersenyum bahagia.


"Mas Ariel gak bercanda kan?" tanyanya.


"Aku tidak pernah bercanda dalam hal seperti ini."


"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan Mas Ariel. Aku juga akan mengabari berita bahagia untuk keluarga aku. Mereka pasti senang karena akhirnya penantian aku membuahkan hasil," tuturnya dengan semangat.


"Hmm, jika tidak ada halangan.. InsyaAllah besok malam aku akan ke ruma orang tua kamu," ujarnya.


"Okay, terimakasih. Terimakasih karena sudah mau menerima aku," ujarnya sambil berjalan di samping Ariel yang kini tengah menggendong Diana dan Dania.


"Sama-sama."


Setelah itu, Zahra dan Ariel pun masuk ke apartemen masing-masing.


Ariel gak tau, apakah keputusan ini salah atau benar. Tapi melihat suara lembut Zahra tadi, seakan menyentuh sanubarinya. Dan tanpa sadar, ia ingin selalu dekat dengan Zahra. Tapi ia tak mungkin melakukannya jika belum ada ikatan halal di antara mereka.


Untuk itu, ia berharap keputusannya tidak salah. Ia berharap Zahra akan menjadi istri terakhirnya. Istri yang bisa mendampingi suaminya di kala susah maupun senang.


Istri yang penurut dan lebih mengutamakan suaminya dari pada yang lain.


Bagaimanapun Ridho Allah terletak pada Ridho sang suami


Ariel juga berharap, Zahra bisa menjadi Ibu yang baik untuk Diana dan Dania.

__ADS_1


Ariel tidak minta banyak hal, ia hanya minta menjd istri yang Sholehah dan ibu yang baik buat semua anak-anaknya. Hanya itu.


Setelah sampai di apartemen, Ariel pun langsung menaruh bokongnya di kursi sofa. Ia juga menurunkan Diana dan Dania agar mereka bisa bermain sendiri. Tapi tetap dalam pantauan Ariel.


__ADS_2