
Di rumah sakit, Luna sudah ada di ruang bersalin. Di sana ada Dion yang setia menemaninya. Sedangkan Bibi Imah, dia memilih menunggu di luar karena tidak ingin menganggu mereka berdua di dalam sana.
Sedangkan beberapa dokter, mereka mengira, dua orang yang ada di ruang bersalin itu adalah suami istri, jadi mereka tidak mempermasalahkannya.
Luna mulai merasakan kontraksi yang berlangsung dua hingga tiga menit sekali dan durasi kontraksi sekitar satu hingga satu menit setengah.
Dokter mengatakan, jika Luna sudah pembukaan tujuh.
Luna menahan kesakitan yang luar biasa, ia bahkan tanpa sadar mengiggit bibirnya sendiri hingga terluka. Tangannya memegang tangan Dion dengan sangat erat.
"Sabar ya, kamu harus kuat. Gak lama lagi, kita bisa melihat dede bayinya," ujarnya memberikan support.
"Aku gak kuat, Mas." ucap Luna di sela sela tangisannya.
"Kamu harus kuat, Sayang." ujarnya.
Dion yang gak tega meminta Dokter untuk memeriksanya kembali. Namun Dokter mengatakan baru pembukaan delapan.
Sedangkan Luna sudah mulai merasakan kelelahan karena menghabiskan banyak tenaga saat kontraksi yang terus terjadi sedari tadi.
"Ya Allah, ampuni aku jika aku ada salah. Sakit banget, Ya Robb," ucapnya dengan deraian air mata. Dion yang melihatnya pun tidak tega, hingga ia memeluk Luna dengan erat.
Luna, tidak sadarkah dirimu. Jika saat ini, kamu bahkan melakukan dosa di saat kamu meminta ampunan sama Tuhan. Kamu berduaan dengan laki-laki yang bukan mahrammu. Kamu bersentuhan tangan dengannya, bahkan menerimam pelukan dari laki-laki lain, selain suamimu. Bagaimana mungkin kamu masih bisa mengatakan, 'Ampuni aku jika aku ada salah'.
__ADS_1
Bahkan dalam sebuah hadits, Rosulullah pernah bersabda, "Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik dari pada menyentuh wanita yang bukan mahramnya."
Saat pembukaan sepuluh, Dokter sudah mulai bersiap membantu Luna untuk proses melahirkan.
Luna pun terus menyebut nama Allah, karena rasa sakitnya sungguh sangat luar biasa sekali.
"Ya Allah, sakit Ya Allah. Sakit ... hiks ... kenapa sesakit ini. Mas Dion, aku gak kuat," ujarnya sambil terus mengejan.
"Aku gak kuat, Mas. Aku gak kuat," ucap Luna yang hampir kehilangan kesadarannya.
Dokter berusaha untuk memberikan support
"Tolong tetap sabar ya, Bu. Ini kepala Bayinya sudah mulai kelihatan." ujar sang dokter.
"Ini kenapa ya, prosesnya agak sedikit lama, biasanya jika kepala sudah mulai nongol sangat mudah sekali," gumam dokter merasa heran.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun sudah tiga jam lebih, Luna masih belum berhasil melahirkan bayinya.
Luna di bawa ke rumah sakit sekitar jam delapan lewat empat puluh dua menit. Sampai di rumah sakit, jam sembilan lewat dua puluh menit. Saat sampai di rumah sakit dan di cek, ternyata sudah pembukaan empat.
Baru pembukaan sepuluh saat jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Dan sampai jam menunjukka pukul sembilan, Luna bahkan masih belum bisa melahirkan bayi yang ia kandung.
Sedangkan di luar sana, Ardi, Noah dan Ariel baru datang. Noah baru di hubungi oleh Bibi Imah setengah jam yang lalu. Noah langsung memberitahu Ardi dan setelah itu, mereka langsung membawa Ariel ke rumah sakit. Bahkan sepanjang jalan, Noah sampai ngebut-ngebut di jalan, agar segera sampai di rumah sakit. Untungnya jalananan cukup sepi, sehingga Noah bisa datang lebih cepat tanpa hambatan.
__ADS_1
"Bi, gimana dengan Luna? Apa sudah melahirkan?" tanya Ardi.
"Belum, Tuan. Sudah dari tadi, belum ada dokter yang keluar," ujarnya.
"Kenapa Bibi baru ngasih tau?" ucap Noah kesal.
"Maaf, Bibi lupa. Dan Bibi fikir, Non Luna sudah ngasih tau sebelum berangkat ke rumah sakit," sahutnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Terus Luna di dalam sana sama siapa?" tanya Ardi.
"Sama Nak Dion," ujarnya takut, iya dia takut salah bicara.
"Allah ... " Ardi langsung menyebutnya.
"Baru kali ini aku tau, ada istri orang melahirkan di temani selingkuhannya," ujar Ardi tanpa sadar.
"Mereka gak selingkuh Tuan," ucap Bibi Imah membela Luna.
"Enggak selingkuh? Lalu apa, Dion sudah akrab dengan kelurga Luna. Luna pun sudah akrab dengan keluarga Dion. Bahkan Luna sudah menginap di rumah Dion seminggu. Mereka jalan-jalan bersama pergi ke beberapa wisata, saling berpegangan tangan, makan saling suap-suapan, bercanda gurau, duduk berdekatan layaknya suami istri. Itu yang Bibi bilang gak selingkuh? Bibi bahkan lihat sendiri, putraku menunggu istrinya siang malam, sampai sakit dan di bawa ke rumah sakit. Sedangkan Luna, dia bahkan bahagia dan tertawa dengan cowok lain. Pantaskah seorang istri seperti itu. Terlepas dari kesalahan apa yang di lakukan oleh putraku, pantaskah seorang istri berduaan dengan laki laki lain, berhari-hari, siang malam menghabiskan berdua, bahkan tidak risih saat tidur di rumahnya?" tanya Ardi merasa kesal. Ia tidak terima karena yang ada di dalam adalah Dion, bukan putranya. Padahal jika Luna memberitahu, tentu Ardi akan langsung membawa Ariel ke rumah sakit untuk menemani dan memberikan dia support. Mendoakannya agar Allah melancarkan jalan lahirny.
"Bagaimana jika anakku tidak ridho atas apa yang mereka lakukan. Jangan sampai Luna mendapatkan karma karena sudah mendzolimi putrakku seperti ini." imbuhnya lagi, membuat Bibi Imah ketakutan. Bagaimanapun, ridho suami adalah hal yang sangat penting. Karena Ridho suami sama seperti Ridho Allah. Dan benar, Luna tak sepantasnya berdua di dalam sana, dengan pria lain yang bukan suaminya.
Bibi menyesal kenapa gak dari tadi pagi, ia menghubungi Noah dan mengatakan jika Luna mau melahirkan. Kenapa ia sampai lupa bahkan ketika ia ingat, ia tidak langsung mengabarinya karena berfikir Luna pasti sudah memberitahu Noah, dan Noah pasti akan memberitahu Ariel selaku ayah kandung yang ada dalam kandungan Luna. Terlebih belum ada surat cerai yang di terima mereka sampai detik ini, yang artinya, mereka bahkan masih sah jadi suami istri.
__ADS_1
Bibi Imah memberitahu karena Dokter tak kunjung keluar, sehingga Bibi Imah, barualh kefikiran buat mengabari Noah karena takut jika Luna kenapa-napa, dan dirinya di salahkan.