
Hari ini Ariel, Ardi, Noah dan Dania akan pergi ke Jember menggunakan pesawat. Mereka juga sudah memesan tiketnya.
Kenapa memilih naik pesawat, tentu karena lebih cepat. Naik pesawat dari Jakarta ke Jember. Hanya satu jam tiga puluh menit.
Sedangkan jika naik kereta, sembilan belas jam lima puluh empat menit.
Apalagi naik bus, tentu akan lebih lama. Dua puluh dua jam tujuh belas menit.
Naik mobil pun juga gitu, lama di jalan, kecuali lewat jalan tol dan jangan berhenti-berhenti.
"Ardi, kamu sudah siap buat bertemu keluarga kandung Dania?" tanya Noah.
Saat ini Dania berada di gendongan Ariel. Untungnya Dania sama seperti Diana, mudah luluh pada Ariel. Mungkin karena ikatan batin, sehingga mereka lebih nyaman saat berada di gendongan Papa kandungnya sendiri.
"Aku sudah siap," balas Ardi sedikit ragu
"Bagaimana jika misal nanti kedua orang tua Laras, ingin mengambil Dania dari kamu?" tanyanya.
"Aku pasrah aja, karena mereka tentunya jauh lebih berhak dari pada aku. Walaupun jika boleh memilih, aku ingin Dania berada dalam asuhan aku." jawab Ardi sedangkan Ariel hanya diam aja.
Dalam hati Ariel, sesungguhnya ia juga ingin Dania, berada dalam asuhannya. Tapi masalahnya, ia gak enak sama Ardi karena bagaimanapun Ardilah yang merawat Dania sejak dia lahir.
Dan sekarang Ardi pun merasakan dilema, karena takut jika keluarga Laras akan meminta Dania buat di rawat mereka.
Sungguh, jika boleh memilih Ariel lebih senang jika Ardilah yang merawatnya dari pada keluarga Laras. Ariel sudah mencari tahu semuanya, dan ternyata keluarga Laras itu suka kekerasan.
__ADS_1
Setiap kali ada masalah, entah itu kecil atau besar. Bapaknya Laras suka sekali main tangan, kasar terhadap putrinya sendiri, apalagi cuma cucu yang lahir di luar nikah.
Jujur, Ariel gak akan pernah rela dan ikhlas jika Dania harus hidup dalam keadaan seperti itu. Apalagi Dania tubuhnya lemah, tidak seperti anak yang lainnya.
"Menurut kamu gimana, Riel?" tanya Noah.
Kini Ardi dan Noah menatap ke arah Ariel.
"Aku lebih ikhlas jika Dania di rawat oleh Ardi. Jujur, dari lubuk hati aku yang paling dalam, aku gak ikhlas dan gak ridho misal Dania jatuh ke tangan mereka." jawab Ariel terus terang
"Kenapa?" tanya Ardi yang tidak faham.
Dan Ariel pun menjelaskan semuanya. Tentang kehidupan Laras selama ini. Apalagi setelah tahu jika Laras hamil, bagaimana siksaan demi siksaan terus Laras hadapi setiap harinya hingga akhirnya Laras memilih pergi dari rumah itu.
"Kamu tau dari mana?" tanya Ardi.
"Aku menyuruh seseorang buat mendekati adiknya Laras, yang bernama Lestari. Dan dari sanalah, aku bisa tau semuanya." balas Ariel trus terang.
"Sejujurnya sampai sekarang aku masih gak nyangka, aku padahal asal asalan memberikan nama Dania Larasati. Tapi siapa yang menyangka jika ternyata nama Ibunya Dania emang Laras," tutur Ardi.
"Ya, aku juga kaget. Tapi kamu hebat loh. Asal pilih nama, tapi malah bener." balas Noah terkekeh.
"Tapi jujur mendengar cerita Ariel barusan, aku cukup sedih. Tapi sebagai seorang Ayah, aku pun juga mengerti. Mungkin Bapaknya Laras memukul Laras sampai seperti itu, karena Laras tidak mau menyadari kesalahannya. Dia terus ingin menemui Ariel, yang sudah menghancurkan kehidupannya. Belum lagi rasa malu yang harus di tanggung, wajar jika Bapaknya Laras mengamuk seperti itu. Andai Laras memilih untuk diam di rumah dan tidak berfikir buat mendekati Ariel lagi, mungkin tak akan ada siksaan buat Laras." Ardi mencoba untuk memahami sebagai seorang Ayah. Bagaimana jika ia punya anak perempuan dan perempuannya tergila-gila pada suami orang. Mungkin dirinya juga akan murka, hanya saja dia tidak akan melakukan kekerasan seperti Bapaknya Laras.
Tapi setiap orang berbeda-beda. Setiap orang tua punya cara masing-masing buat mendidik anak-anaknya.
__ADS_1
"Ya sih, cuman ya jangan sampai menyiksa gitulah. Aku bahkan gak membayangkan bagaimana sakitnya Laras waktu itu," ucap Noah.
"Hemm, aku pun sama. Aku fikir Laras bahagia tinggal bersama orang tuanya, tapi bukannya bahagia tapi tekanan batin yang ia dapatkan. Salahku juga sih, dulu aku yang menjanjikan Laras untuk bersabar karena setelahnya, aku akan memberikan dia tempat tinggal. Sayangnya sampai akhir hidupnya, aku belum bisa menepati janjiku karena waktu itu keadaan aku pun tidak baik-baik saja," balas Ardi sambil menghela nafas kasar.
"Dan masih banyak orang yang menyalahkan kamu dan Laras akan peristiwa di masa lalu. Padahal menurut aku tiga-tiganya salah. Kamu salah, Luna salah, terlebih Laras. Dia yang paling salah. Tapi apapun itu, semua sudah terjadi. Kini Laras sudah meninggal, Luna juga sudah akan menikah. Semuanya sudah ada takdirnya masing-masing." ucap Noah dan Ariel pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan aku harap, Luna bahagia bersama suami barunya. Aku tidak bisa membahagiakan Luna, jadi aku sangat-sangat berharap, Dion bisa memberikan kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan buat Luna," tutur Ariel.
"Apa kamu masih mencintai Luna?" tanya Ardi
Ariel menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa sudah gak, karena saat bertemu Luna lagi, aku sudah tidak merasa berdebar-debar. Yang aku pikirkan saat ini, hanya masa depan Diana dan Dania dan kesehatan Papa aku. Hanya itu, selebihnya aku sudah tidak terlalu mementingkannya." balas Ariel.
Ardi dan Noah pun tersenyum.
"Semoga kelak, kamu pun juga bisa bertemu dengan wanita yang bisa menemani kamu di hari tua. Wanita yang tulus menyayangi dan mencintai kamu serta putrimu." dia Ardi.
"Aamiin."
Dan mereka pun trus mengobrol untuk menemani perjalanan mereka menuju rumah kedua orang tua Laras.
Dengan obrolan itu, setidaknya Ardi tak lagi merasa gugup dan takut karena fikirannya di alihkan.
Ariel dan Noah pun mengerti apa yang di rasakan oleh Ardi, karena mereka pun sejujurnya juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1