Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ariel Cemburu Terhadap Dion


__ADS_3

Pagi harinya, setelah selesai sholat. Luna tak langsung olah raga. Ia memilih untukk bermalas-malasan di atas kasur. Lagian suaminya sudah tak ketat seperti dulu lagi, jadi ia gak perlu takut di marahin atau apapun. Ia benar-benar menikmati saat-saat seperti ini, santai di pagi hari. Beda sama dulu, yang harus melakukan perintah suaminya, bahkan ketika Luna merasa sangat malas, ia tetap harus melakukannya.


"Sayang, kok masih rebahan?" tanya Ariel sambil menghampiri sang istri yang rebahan sambil main Hp.


"Habis mau ngapain, Mas. Mau masak sudah ada Bibi Imah. Mau bersih-bersih sudah ada Bibi Neni. Mau olah raga, males masih pagi. Aku mau olah raga nanti aja jam delapan pagi," jawab Luna tanpa menatap ke arah suaminya itu.


Ariel hanya bisa menghela nafas, beginilah jika ia memberikan kebebasan untuk sang istri. Luna akan memilih untuk rebahan siang malam dan itu gak bagus untuk kesehatannya.


"Gak mau nyiram tanamanmu itu?" tanya Ariel lagi.


Luna menggelengkan kepalanya. "Enggak, biar Bibi Neni aja yang nyiram paginya. Aku nyira sorenya aja," jawabnya.


"Hmm, kamu jangan rebahan dan main hp terus sayang. Bukannya aku melarang, tapi kalau kamu rebahan terus, itu gak baik loh buat kesehatan, apalagi pagi-pagi gini, harus banyak aktivitas biar tubuh sehat. Dan jika kamu main hp terus, nanti malah matamu kenapa-napa," tutur Ariel menasehati.


"Aku gak rebahan terus, Mas. Lagian baru hari ini aku tiduran setelah sholat, biasanya juga enggak. Ntar lagi aku juga bangun, buat nemenin kamu sarapan pagi, terus lanjut menyiapkan baju kerja kamu dan setelah itu, lanjut renang. Aku gak akan rebahan dua puluh empat jam, jadi jangan khawatir. Aku juga gak mungkin main hp dua puluh empat jam. Sebelum mataku sakit dan perih, aku pasti akan menyudahinya. Aku tau kapan aku berhenti main hp," balas Luna sambil menatap suaminya sebentar, lalu fokus ke HP lagi.


"Hmm iya deh, maafin aku ya," ucap Ariel mengalah karena mendengar nada Luna yang sudah mulai gak enak di dengar.


"Oh ya, gimana kemaren? Kamu senang-senang?" tanya Ariel pura-pura tak tahu.


"Iya dong, aku juga belikan baju couple buat kita, bukan hanya baju tapi juga jaket couple dan jam tangan couple. Bentar." Dengan semangat, Luna menaruh hpnya di meja, lalu ia bangun dari tidurnya dan mengambil tas yang bahkan belum ia bongkar sejak kemaren.


"Lihat jamnya, Mas suka gak? Ini aku beli dua loh, nanti bisa kita pakai bareng, Mas. Kalau mau keluar, biar so sweet gitu," ujar Luna semangat sambil memberikan jam tangan itu kepada Ariel untuk di lihat.


"Bagus, aku suka. Kamu emang pinter ya kalau suruh milih barang," puji Ariel yang membuat senyuman Luna semakin merekah.


"Iya, dong. Aku pasti akan milih yang terbaik buat di pakai bersama. Ini soba dulu kaosnya, cocok gak. Aku mau nyoba juga." Luna membantu memasangkan kaos itu ke tubuh Ariel, dan Ariel pun hanya bisa menerimanya begitu saja.


"Wah Mas Ariel makin tampan deh, kainnya enak kan?" tanya Luna dan Ariel pun menganggukkan kepala.


"Makasih ya, Sayang."


"Sama-sama, Mas." Luna juga memakai baju kaos itu sehingga mereka tampak semakin serasi. Apalagi Ariel dan Luna emang cantik dan tampan, jadi walaupun hanya baju kaos, membuat mereka terlihat berkilau.


"Oke, sekarang kita buka dulu kaosnya, biar di cuci sama Bek Neni. Sekarang kita coba jaketnya ya," ujar Luna dan Ariel pun hanya bisa pasrah aja saat Luna memasangkan jaketnya ke tubuhnya.

__ADS_1


"Gila sih keren banget, kayak mahal gitu ya, padahal harganya cuma sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu," ucap Luna memberitahu.


"Dua jaket harga segitu?"


"Ya gaklah, satu jaketnya Mas harga segitu. Kalau dua ya, ya harganya dua juta kurang dikit."


"Oh."


Ariel tak mempermasalahkan berapa uang yang dihabiskan oleh Luna, toh dia kerja banting tulang dari pagi sampai malam juga demi membahagiakan istrinya, demi masa depan mereka berdua dan buat memberikan sedikit rezekinya untuk orang tuanya dan orang-orang sekitarnya. Tapi yang  utama, ia ingin membahagiakan sang istri agar tak merasa kekurangan. Jadi berapapun yang Luna habiskan tak masalah, yang penting Luna senang maka dirinya juga ikut senang tentunya. Toh rezeki itu juga datangnya pasti dari doa istri, jadi sudah seharusnya ia memberikan rezeki lebih banyak untuk istrinya itu, bahkan jika kurang, ia akan mentransfernya.


Luna menaruh baju dan jaket itu ke ranjang yang kotor agar di cuci oleh Bibi Neni, karena mereka tak mungkin memakai baju yang baru di beli, harus di cuci dulu agar bersih dan tak ada kumannya. Sedangkan untuk jamnya, di taruh di tempat jam milik Ariel dan Luna. Di sana ada puluhan jam dari yang harganya ratusan ribu sampai ratusan juta, ada berbagai merek, karena memang Ariel dan Luna suka mengoleksi Jam, terutama Ariel. Bagi mereka, jika memakai jam itu tampak elegant dan terlihat lebih berwibawa.


"Oh ya, Mas." Luna sudah duduk di samping Ariel.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ariel.


"Sepeda motor di garasi, gak di pakai kan?"


"Iya, kenapa?"


"Kamu kok peduli sama dia?" tanya Ariel tak suka, ia merasa cemburu karena merasa jika Luna perhatian terhadap Dion.


"Bukannya aku emang peduli sama semua orang yang kerja sama kita ya, Mas. Bukankah orang yang kerja ke kita itu, sudah aku anggap seperti keluarga. Mas gak mungkin cemburu sama seorang sopir kan?" tanya Luna penuh selidik. Ariel hanya diam cemberut membuat Luna terkekeh.


"Ya ampun, jadi Mas Ariel beneran cemburu nih. Haha .... senengnya di cemburuin. Tapi beneran deh, Mas. Aku tuh gak mungkin suka sama Mas Dion. Mas Ariel itu segala-galanya buat aku. Cinta dan hatiku itu milik Mas Ariel seutuhnya. Dan bukan maksud aku mau banding-bandingkan ya, tapi dari pada Mas Dion, Mas Ariel tentu jauh lebih baik, entah itu dari fisik, kekayaan, baik, dan sebagainya. Dan yang jauh lebih penting, Mas Ariel itu adalah laki-laki pilihanku, laki-laki yang halal untukku. Dan aku juga sudah tau luar dalamnya, bagaiamana sifat baik dan jeleknya. Bagaimana watak kerasnya dan bagaimana kehidupannya selama ini. Dan Mas Ariel tentu tahu bukan, aku bukan type orang yang mudah untuk menjalin hubuungan dengan orang lain, terlebih aku itu susah buat jatuh cinta. Ingat kan, dulu tak mudah buat Mas Ariel bikin aku jatuh cinta, butuh perjuangan dan waktu yang lama. Jadi jangan berfikir macam-macam. Aku akan menjadi istri setia selama Mas Ariel pun juga setia sama aku," tutur Luna menjelaskan terkekeh.


Ariel pun tersenyum sambil menganggukkan kepala, ia percaya sama Luna. Karna sudah lama ia mengenal Luna dan Luna gak pernah neka-neko di belakangnya.


"Terus kenapa kamu ingin memberikan sepeda motor itu buat Dion?" tanya Ariel.


"Bukan mau memberikan gitu aja, Mas."


"Lalu?"


"Untuk dipakai aja, soalnya Mas Dion itu kalau mau ke rumah harus naik taxi online, kan kasihan. Mending uangnya ditabung kan dari pada harus naik gojek. Kalau naik sepeda motor, paling cuma ngisi bensin seliter sudah bisa di pakai seminggu, kalau cuma dari tempat tinggal dia ke sini. Sepeda motor kita kan irit. Dan jika di rawat dan dipakai oleh Mas Dion, gak gampang rusak. Beda kalau cuma dibiarin aja di garasi, cuma buat pajangan aja. Sedangkan Mas harus rutin bayar pajaknya, tapi sepedanya bahkan setahun paling cuma di pakai sekali dua kali, itu pun kalau Mas bosan di jual, beli yang baru. Padahal juga di pakainya sesekali aja, kalau pas kepengen doang," jawab Luna. Ariel mengangguk setuju, ia dia setuju dengan apa yang di bicarakan oleh Luna.

__ADS_1


"Iya sudah, nanti kamu kasih aja kuncinya ke Dion."


"Iya, Mas."


"Nanti Mas di Resto kan?"


"Tumben tanya yank?" tanya Ariel sambil membawa Luna ke dalam pelukannya.


"Ya pengen tanya aja, emang salah?"


"Enggak salah kok. Iya Mas seharian di resto. Kamu mau ke sana?" tanya Ariel memastikan.


"Entahlah, kalau gak bosen ya ke sana. Kalau bosen ya tidur aja."


"Jangan rebahan terus sayang, gak baik buat kesetahan."


"Iya, Mas."


Mereka pun mengobrol santai, dan ketika jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, barulah mereka mandi bareng dan melakukan hubungan badan di sana, sehingga membutuhkan waktu setengah jam lebih. Setelah itu, mereka pun segera memakai baju, Luna menyiapkan sendiri baju suaminya itu.


Setelah selesai pakai baju, barulah mereka pergi ke ruang makan. Dan benar saja, sudah ada makanan di sana.


Tanpa buang-buang waktu, Ariel dan Luna pun makan bersama, dan sesekali mereka saling suap-suapan. Selesai makan, Ariel pun berangkat kerja, dan Luna mengantarkan Ariel sampai depan rumah. Namun di depan rumah ternyata sudah ada Dion yang duduk santai di depan rumahnya sambil main Hp.


Ariel pun hanya mengobrol sebentar, menitipkan Luna untuk di jaga dengan baik sekalian membahas masalah sepeda motor. Dion pun mengangguk senang, dan setleah itu, Dion membukakan pintu mobil untuk Ariel.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang."


"Iya, Mas."


"Hati-hati ya."


"Iya, nanti aku akan chat kalau sudah sampai."


"Iya, Mas."

__ADS_1


Dan setelah itu, Ariel pun pergi setelah memberikan ciuman di kening sang istri dan Luna pun juga mencium tangan sang suami sebagai rasa hormat dia terhadap suaminya itu.


__ADS_2