
Dion yang menerima kabar dari Lintang jika Ayah mertuanya meninggal langsung merasa lemas. Ia gak menyangka, jika aduannya tadi pagi, mengakibatkan Ayah mertuanya meninggal dunia.
Dion langsung jatuh ke tanah, air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Ada rasa bersalah yang menyeruak ke dalam dadanya. Ia seperti telah membunuh orang tanpa di sengaja.
"Ada apa, Nak?" tanya Mami Ocha.
"Mam," Dion langsung memeluk Maminya, untuk meluapkan rasa sedihnya. Walaupun umurnya sudah kepala tiga, tapi ada kalanya, ia merasa seperti anak kecil yang sangat membutuhkan kasih sayang Ibunya.
"Ada apa?" tanyanya pelan. Mami Ocha tentu kaget, karena Dion tak pernah menangis. Bahkan terakhir menangis itu saat masih kelas dua SD. Lalu apa yang terjadi? Benaknya seperti bertanya-tanya, ada apa.
Dion pun menceritakan semuanya, tanpa di tutup-tutupi.
__ADS_1
"Ya Allah, Dion. Apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Ya Allah, kamu sudah membunuh Ayah mertuamu sendiri!" Mami Ocha bahkan sampai melepaskan Dion dari pelukannya sangking kagetnya.
Ia tak menyangka jika putranya akan melakukan hal demikian, ia emang kecewa dengan sang menantu, tapi bukan berarti, Dion harus melakukan hal seperti itu.
Dion seharusnya cukup bersikap tegas kepada Luna, buka mengadukan masalahnya kepada mertuanya, apalagi menelponnya di saat jam tidur malam.
"Aku gak tau Mam, aku gak tau kalau akhirnya akan seperti ini. Aku hanya frustasi aja, aku kesel karena sebagai suami, aku gak tau, istriku ada dimana. Makanya aku telfon Ayah, biar Ayah aja yang menasehati putrinya. Karena aku sendiri pun, sebagai suami sudah menyerah," balasnya dengan isakan kecil.
Ingin rasanya ia memaki kebodohan putranya itu, namun ia urungkan dan memilih pergi dari sana. Melihat kepergian ibunya, Dion semakin frustasi. Ia benar-benar merasa bersalah, andai dirinya tak melakukan kebodohan itu, pasti sampai detik ini Ayah mertuanya akan baik-baik aja
Seharian penuh, Dion memilih mengurungkan dirinya di kamar, ia bahkan tidak berangkat kerja, walaupun ada meeting penting sekalipun. Ia sudah gak peduli, jika harus kehilangan uang milliaran rupiah.
__ADS_1
Saat ini hatinya tidak baik-baik saja, ia bahkan enggan untuk makan, karena tidak berselera. Ia hanya bergumam kata maaf,maaf dan maaf. Penyesalan emang selalu ada di belakang.
Mami Ocha sendiri pun, juga mengurung dir di kamar. Papi Dimas yang sudah tau, dari sang istri. Hanya bisa diam dan menghela nafas.
Papi Dimas pun, akan mengajak anak dan istrinya untuk ke Jember. Karena jika pun berangkat saat ini, ya percuma. Karena besannya juga pasti sudah di kebumikan.
Jadi dari pada terburu-buru, mending besok aja, sekalian menenangkan diri. Dan semoga aja, entah nanti atau besok, hp Luna sudah aktiv, karena rasanya pasti akan berbeda, jika mereka berangkat tanpa kehadiran Luna.
Papi Dimas, sejujurnya juga kecewa sama sikap putranya yang tak memikirkan efek dari apa yang dia lakukan, tapi walaupun ia marah-marah dan memukul Dion sampai babak belur pun, pasti percuma. Semua sudah terjadi, dan tidak bisa kembali ke awal.
Yang penting ke depannya, Dion harus bisa bersikap tegas, dan berfikir matang-matang. Jangan gegabah, karena bagaimanapun mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan tanpa mikir panjang, pasti hasilnya tidak akan baik.
__ADS_1