Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Tak Curiga


__ADS_3

Saat Luna tengah membasuh kaki, tangan dan wajahnya, Dion hanya diam memperhatikan Luna dari jarak dekat. Ia membandingkan Luna dan sahabatnya yang bernama Laras itu. Awalnya ia berfikir  mungkin Laras itu cantik banget hingga membuat Ariel jatuh cinta, nyatanya Laras bahkan kalah jauh dari kecantikan yang Luna miliki. Bukan hanya cantik di wajah, tapi auranya pun berbeda, jika Dion melihat Luna, ia selalu merasa tenang dan nyaman. Berbeda jika ia melihat aura Laras, walaupun cukup cantik tapi auranya gelap. Dan jika di bandingkan dengan Luna, sungguh hanya orang bodoh yang memilih Laras ketimbang Luna.


"Non, kok bisa sih Tuan Ariel itu jatuh cinta sama wanita seperti Laras, padahal dia gak cantik-cantik banget," ucap Dion. Mendengar hal itu, Luna pun terkekeh.


"Aku juga gak tau, Mas. Menurut aku Laras itu sudah cantik, Mas. Ketimbang dulu saat Laras baru datang ke sini." Dan Luna mulai menceritakan tentang dirinya dan Laras, bagaimana Luna mengajak Laras untuk tinggal di Jakarta, berjanji akan memberiakn dia pekerjaan, mencarikan Laras kontrakan, memberikan Laras baju-baju miliknya bahkan baju baru yang belum terpakai, make up, uang, dan juga cara merawat diri dari olah raga, jaga pola makan dan seterusnya. Luna menceritakan semuanya dan Dion pun mendengarkan dengan seksama. Ia tak menyangka, bagaimana Laras tega menikam sahabatnya sendiri setelah apa yang Luna berikan pada Laras, bukankah itu artinya dia tidak tau berterima kasih.


"Mas Dion ingin lihat Foto Laras yang dulu sebelum perawatan?" tanya Luna dan Dion yang penasaran pun langsung mengiyakan. Untungnya Luna masih menyimpan foto mereka berdua. Jadi Luna tak keberatan untuk memberitahu fotonya dan foto Laras yang dulu-dulu.


"Ih, dulu Laras jelek banget ya," ucap Dion blak-blakan.


"Ya gitu deh," balas Luna.


"Tapi kenapa kamu selalu cantik, bahkan sebelum kamu perawatan. Dulu pasti belum ada filter dan makeup yang seperti sekarang itu, yang perawatn sampai berjuta-juta. Tapi wajah kamu sudah terliht cantik, imut dan manis. Kulit kamu juga putih walaupun gak seputih sekarang sih," puji Dion.


"'Entahlah, mungkin aku eman ditakdirkan jadi cantik sejak dalam kandungan," sahut Luna bercanda membuat Dion terkekeh.


"Ya, kamu benar. Kamu emang sudah ditakdirkan cantik dari kamu kecil bahkan saat kamu ada dalam kandungan, dan ketika kamu melakukan perawatan, kecantikan kamu pun berkali-kali lipat seperti sekarang," ujar Dion membuat Luna geleng-geleng kepala


"Hemm ya ya, aku emang cantik dan aku akui itu. Apalagi sekarang setelah apa yang aku lakukan. Aku mau pulang dulu ya, dan terima kasih atas bantuannya hari ini."


"Mau aku antar?"


"Enggak deh, lagian gak jauh dari sini ada Bibi Imah yang sudah nunggu aku."


"Oh gitu, ya sudah. Nanti aku ke sana jam berapa?"


"Jam berapa ya, kayaknya libur deh. Lagian Mas Ariel juga kan libur kerja, jadi kamu bisa istirahat seharian tapi jangan lupa nanti habis maghrib kamu ke rumah aku ya, aku mau mengadakan barbeque. Sebenarnya acaranya akan dimulai sehabis isya, tapi kamu datangnya habis magrib aja ya, buat bantu-bantu Bibi Imah juga menyiapkan semuanya."


"Siap, Non."


"Iya sudah kamu hati-hati pulangnya dan sekali lagi terima kasih atas bantuannya tadi."


Dan setelah itu, Luna pun segera pulang, ia menuju jalan pertigaan di mana Bibi Imah tengah menunggu dirinya.


"Hallo, Bi. Maaf ya lama," tutur Luna merasa bersalahh.


"Enggak papa, Non. Santai aja, lagian Bibi juga sekalian istirahat di sini," ucap Bibi Imahh.


"Oh ya, Non Bubur Ayamnya Bibi cuma beli empat, soalnya sisa itu."


"Iya sudah gak papa, Bi. Lagian Mas Dion pagi ini gak akan datang, dia datang nanti habis maghrib."


"Oh gitu syukurlah. Terus Mas Dion makan apa paginya?"

__ADS_1


"Dia bisa cari di luar, Bi. Sini tasnya aku bantu."


"Enggak usah, Non. Berat."


"Enggak papa, Bibi. Bibi kan bawa dua, jadi kita bawa satu-satu, biar Bibi gak berat. Lagian aku sudah olah raga, jadi aku sudah kuat bawa barang seperti ini."


"Iya sudah."


Akhirnya Luna pun membantu Bibi membawakan tas belanjaannya, saat sampai di rumah ia melihat Ariel yang tengah menyiram tanaman di depan rumah dengan baju yang sama saat perti ke taman.


"Kok lama yank?" tanya Ariel sambil mematikan airnya dan menghampiri Luna.


"Iya, Mas. Kan belanja banyak, terus tadi masih antri bubur ayam, nih dapat tapi cuma empat, ini pun stock terakhir, padahal aku pengen beli lima. Aku juga beli jajan tradisional loh, nanti kita makan bareng ya."


"Iya."


"Aku masuk duluan ya, mau naruh ini terus mau nyiapin sarapan pagi juga, Mas cuci tangan gih, terus masuk."


"Iya, Sayang."


Luna tersenyum sinis sambil masuk ke dalam rumahnya, "Emang cuma Mas Ariel yang pandai berbohong, aku juga kali," gumam Luna dalam hati.


"Bi, belanjaannya aku taruh sini ya. Aku mau mandi bentar sambil ganti baju. Bibi siapkan aja bubur ayamnya di meja, siapkan dua aja, karena yang dua buat Bibi dan Bibi Neni. Jangan lupa jajan tradisinoalnya juga ya."


Dan setelah itu, Luna pun masuk ke dalam. Ia menaruh hpnya dan langsung pergi ke kamar mandi.


Sedangkan di ruang makan, Ariel sudah ada di sana.


"Luna kemana, Bi?" tanya Ariel sambil duduk di kursi makan.


"Lagi bersih-bersih Tuan, mungkin Non capek tadi desak-desakan di pasar, jadi dia mau mandi bentar karena gak enak kulitnya lengket karena keringetan."


"Oh." Ariel pun percaya, ia memainkan hpnya sambil menunggu Bibi Imah selesai menata makanannya di atas meja makan, tak lupa air minum juga ia sediakan. Setelah selesai, Bibi Imah pun pergi dari sana.


Sambil menunggu Luna datang, Ariel memainkan hpnya, ia juga mengambil jajanan tradisional dan ia makan dengan lahap.


"Rasanya enak juga ternyata," gumam Ariel saat makan dadar coklat isi pisang dan keju coklat. Lalu ia juga makan bikang empuk walaupun sudah dingin, tapi mungkin karena empuk dan mekar, jadi terasa enak. Ada banyak macamnya, dan Ariel hanya makan beberapa saja. karena kalau makan semua, ia bisa kenyang sebelum menghabiskan bubur ayamnya.


Tak lama kemudian, Luna pun datang.


"Maaf ya, Mas. Lama."


"Enggak papa, Sayang. Iya udah kita makan yuk,"

__ADS_1


"Iya, Mas."


Dan setelah itu mereka pun makan bareng, hanya makan bubur ayam saja karena memang paginya Bibi Imah gak memasak.


Selesai makan, Luna membantu Bibi Imah membersihkan dapur dan juga memasukkan daging ke kulkas. Untuk bakar-bakar nanti, Bibi Imah sudah menyiapkan semuanya. Luna bersyukur Bibi sangat pengertian hingga semuanya sudah selesai di beli. Dan nanti malam tinggal eksekusi aja.


"Tadi Mas Ariel nanya apa aja, Bi?" tanya Luna dan Bibi Imah pun menjelaskan.


"Makasih ya, Bi," ucap Luna tulus.


"Sama-sama, Non."


Bibi Imah senang jika bisa membantu majikannya itu, ia merasa berguna dan itu membuat hatinya merasa senang. Apapun yang Luna mau, ia pasti akan mengabulkannya dan jika Luna meminta tolong, ia pasti akan dengan senang hati melakukannya. Karena baik itu Bibi imah maupun Bibi Neni mereka sangat menyayangi Luna.


Selesai membantu Bibi Imah, Luna menghampiri Ariel yang tengah chatan dengan senyam-senyum sendiri.


"Chatan sama siapa, Mas. Seneng banget keknya," sindir Luna sambil duduk di dekat Ariel.


"Ini lagi chatan sama temen, yank."


"Sampai senyam senyum gitu?" tanyanya.


"Habisnya temenku lucu yank, makanya aku senyam senyum. Kamu sudah selesai bantu Bibi Imah?"


"Sudah, Mas. Kamu gak mandi, kecut loh habis olah raga."


"Iya, ntar lagi aku mandi yank."


"Hmm."


"Iya sudah aku mandi deh, biar kamu seneng. Aku mandi dulu ya, nanti kita ngobrol bareng lagi."


"Iya."


Dan setelah itu, Ariel pun segera pergi ke kamarnya sambil membawa hpnya itu.


"Teruslah berbohong, Mas. Karena semakin kamu berbohong, semakin aku merasa senang karena dengan kebohongan kamu itu, akan membuka jalan buat aku mengungkapkan sebuah kebenaran dan mencari bukti sebanyak yang aku bisa," gumam Luna sinis sambil menatap Ariel yang tengah berjalan ke kamarnya.


Sedangkan Ariel di dalam, ia segera  menyudahi chatannya dengan Laras agar tak membuat Luna curiga padanya, setelah itu ia menghapus chat dirinya dan Laras. Baru setelah itu, dia mandi membersihkan diri dau bau tak sedap.


Sejujurnya ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Laras, tapi ia gak bisa. Pertama karena sudah terlanjur cinta, kedua, karena ia sudah mengambil kehormatan Laras. ketiga, Laras gak mungkin mau di putusin gitu aja, dia pasti akan mengancam dan membeberkan semuanya ke Luna dan itu akan menimbulkan masalah besar untuknya. Dan terakhir ia suka dengan keberadaan Laras di sampingnya, setidaknya ia bisa cuci mata dan bisa mendapatkan kepuasan dari istrinya dan juga dari Laras, sahabat istrinya.


Ariel sadar dirinya salah, tapi ia gak bisa berbuat apa-apa, karena ia sudah terlanjur terjun ke dalam jurang pengkhianatan. Nasi sudah jadi bubur, di perbiaki pun tak bisa. Yang bisa ia lakukan adalah menyembunyikan hubungannya dengan Laras, agar semuanya tetap bail-baik saja dan Luna pun tak akan sakit hati jika tau dirinya sudah mendua.

__ADS_1


__ADS_2