Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Pembicaraan Sesama Laki-laki


__ADS_3

Beberapa hari sudah, Noah sengaja tidak ke rumah sakit, ia membiarkan Luna berdua dengan sang suami. Ia ingin Luna bisa mengobrol lebih leluasa dengan Ariel. Siapa tau dengan adanya cuma mereka berdua, Luna berhasil membawa Ariel kembali ke dunia nyata, karena saat ini, Ariel seperti ada di dunianya sendiri. Bahkan psikolog, psikiater, yang sudah di datang pun, tidak membawa pengaruh apa-apa. Ariel seakan tidak mau merespon kedatangan mereka.


Dan hari ini Noah, sudah janjian dengan temannya Ardi di sebuah kafe. Ardi adalah orang yang ia kenal sejak tiga tahun terakhir. Mereka bertemu di sebuah tempat nongkrong dan sejak saat itu, mereka mulai akrab satu sama lain. Ardi itu adalah seorang duda dan sudah punya banyak pengalaman menikah. Jadi, Noah ingin sharing tentang masalah rumah tangga, mengingat dirinya sendiri belum ada pengalaman menikah.


Noah menunggu kedatangan Ardi di kafe yang menyajikan makanan tradisional, tempatnya juga sejuk dan nyaman. Namun kafe itu memang agak jauh, bahkan hampir sejam tadi Noah mengendarai sepeda motor.


Setelah cukup lama menunggu di kafe, barulah Ardi datang.


"Maaf ya lama, tadi masih ada urusan," ucapnya sambil duduk di kursi yang ada di hadapan Noah, sedangkan di tengah-tengah mereka ada meja yang berbentu bundar.


"Gak papa santai aja, aku juga baru datang," dustanya padahal hampir lima belas menit ia menunggu.


"Kamu sudah pesan?" tanyanya.


"Belum, aku nunggu kamu."


"Oh ya udah, ayo kita pesan," ucapnya.


Dan setelah itu, mereka pun memesan makanan, sambil nunggu pesanan datang, mereka pun mengobrol santai, dan Noah juga memberitahu alasan dia ingin bertemu dengan Ardi. Ardi pun menganguk-anggukkan kepalanya, mendengarkan cerita Noah.


Sebelum Ardi menanggapi cerita  Noah, makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang. Akhirnya mereka memilih untuk makan lebih dulu. Selesai makan, barulah Ardi mulai bercerita.


"Sebenarnya setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya masing-masing. Jujur, aku sudah empat kali menikah dan sayangnya empat kali aku gagal," tutur Ardi seperti mengenang kembali cerita masa lalunya. Noah pun diam mendengarkan.


"Sepuluh tahun yang lalu, aku menikah saat umurku sudah dua puluh lima tahun. Saat itu aku kerja serabutan, karena walaupun aku lulusan sarjana akuntan, tapi mencari kerja di perdesaaan itu gak mudah. Cukup sulit. Jadi dari pada aku pengangguran, akhirnya aku memilih untuk kerja apa aja yang penting bisa menghasilkan uang dan halal. Aku tinggal bersama Ibu, adikku yang baru lulus SMA dan juga istriku yang baru aku nikahi. Awalnya istriku ingin dia ngekos atau ngontrak, tapi karena penghasilan aku yang pas-pasan, aku pun meminta dia untuk bersabar lebih dulu.


Ayahku meninggal saat aku semester akhir, jadi memang beberapa bulan sebelum aku lulus jadi sarjana, ayah meninggal karena kecelakaan. Saat itu aku terpaksa kuliah sambil kerja agar bisa bayar uang kuliah, karena menurut aku sudah nanggung, tinggal berjuang sedikit lagi dan aku akan jadi sarjana.


Setelah lulus, aku barulah kerja full, apa aja, dari kuli bangunan, menjual koran di pinggir jalan, kerja di sawah, angkut-angkut barang di pasar, dan banyak lagi lainnya. Karena aku sudah menaruh beberapa lamaran kerja di beberapa perusahaan dan di toko-toko, tapi gak ada satupun yang mau menerima aku. Jadi ya dari pada nganggur, aku ya milih kerja. Karena aku punya tanggungan, yaitu ibu dan adikku yang masih sekolah.


Barulah setelah adikku lulus, aku merasa beban aku agak ringan dan akhirnya aku memutuskan untuk nikah. Saat nikah, aku semakin kerja siang malam, karena saat itu adikku masih nganggur dan masih bingung mau kerja di mana. Aku aja yang lulusan sarjana, kerja serabutan apalagi adikku yang cuma lulusan SMA. Jadinya dia cuma diam di rumah sambil nanya ke temen-temennya, siapa tau ada lowongan kerjaan, dia gengsi kerja serabutan sepertiku.


Dua bulan setelah aku menikah, istriku hamil. Aku makin semangat buat kerja, karena aku akan jadi seorang ayah. Tapi walaupun aku kerja hampir dua puluh empat jam, dan hanya tidur sejenak, tetep aja uangnya kurang. Dan masih aja kekurangan. Akhirnya setelah istrikku melahirkan, keadaan semakin terpuruk. Tiga bulan setelah istriku melahirkan, aku memutuskan untuk merantau. Aku gak tahan lagi membiarkan istri, adik, dan ibuku kekurangan terlebih ada anak kecil di rumah itu, yang tak lain adalah anak kandungku yang baru lahir. Istriku juga harus makan banyak karena dia harus menyusui putraku.


Aku pergi merantau ke Jakarta, ikut temanku menjadi kuli bangunan. Di sana gajinya cukup mahal, dua juta tujuh ratus perbulan. Aku juga tinggal di mess dan makanku di tanggung perusahaan. Awalnya istriku pengen ikut, tapi aku menolaknya. Dengan alasan, dia baru melahirkan, dan aku merasa khawatir jika anakku yang baru lahir, harus ikut perjalanan jauh. Terlebih jika istriku ikut aku ke Jakarta, otomatis, aku harus cari kosan, karena gak mungkin aku membiarkan istriku tinggal di mess bersama anakku. Sedangkan di mess itu, penghuninya laki-laki semua, sedangkan aku aja, tidur satu kamar dengan temenku yang juga laki-laki.

__ADS_1


Belum lagi biaya hidup yang mahal, jadi aku meminta istriku sekali lagi untuk bersabar.


Saat gajian, aku mengirim uang buat istriku dua juta dan ibuku lima ratus ribu. Aku cuma ngambil dua ratus ribu buat beli pulsa atau buat pegangan, siapa tau aku pengen ngopi setelah seharian bekerja.


Baru enam bulan aku kerja, aku dapat info, istriku berkhianat. Ya, dia tidur bareng adik kandungku sendiri, jujur aku kecewa. Aku langsung pulang dan meminta istriku buat jujur. Dan benar saja, istri dan adikku mengakuinya. Mereka sudah empat kali berhubungan badan saat ibu tengah pergi keluar.


Aku sakit, aku nangis, aku merasa kesal tapi juga merasa bersalah dalam waktu bersamaan. Andai aku menuruti keinginan istriku untuk ikut ke Jakarta, mungkin kejadiannya gak akan seperti ini. Akhirnya aku menceraikan istriku dan setelah masa iddah selesai, istriku nikah sama adikku, karena istriku yatim piatu.


Dulu aku menikahinya karena gak tega dia kerja di pasar, angkut-angkut barang.


Dan karena dia menikah dengan adikku, maka dia tetap bisa tinggal di rumah itu.


Aku kembali ke Jakarta, untuk bekerja. Dan kali ini, aku mengirim uang buat ibuku satu juta dan untuk mantan istriku lima ratus ribu. Aku memberikan uang lima ratus ribu, bukan karena aku masih mencintainya, tapi aku masih harus bertanggung jawab atas anak yang di asuh oleh mantan istriku. Bagaimanapun tidak ada mantan ayah, yang ada mantan suami dan mantan istri. Dan anakku akan jadi tanggung jawabku sampai dia beranjak dewasa.


Satu tahun kemudian, aku menyukai wanita lain, aku langsung melamarnya dan menikahinya. Sengaja aku tidak mengajak dia pacaran, takut khilaf. Tau sendiri kan, laki-laki kalau sudah dekatan dengan wanita, seperti ada strum. Aku gak mau jika sampai melakukan hal yang hina karena aku tidak kuat menahan godaan.


Namun sayangnya pernikahan keduaku hanya berjalan delapan bulan. Kamu tau alasannya kenapa, karena dia gak ikhlas jika uangnya aku kirim buat ibuku dan juga anakku di kampung. Dia ingin menguasai semua gajiku. Aku tentu menolak, pasalnya laki-laki walaupun menikah, akan tetap jadi milik ibunya. Lagian ibuku seorang janda, kalau bukan aku yang ngirim uang, lalu siapa yang akan menafkahinya. Sedangkan dia sudah tua, tidak kuat untuk kerja berat. Adikku pun kerjanya cuma bisa buat dirinya dan istrinya. Padahal aku cuma ngasih uang buat ibuku lima ratus ribu, dan lima ratus buat anakku. Ya, terpaksa aku kurangi jatah ibu sejak aku menikah dengan istri kedua. Karena aku harus ngekos, perbulan lima ratus ribu. Dan sisanya untuk makan berdua.


Sejak aku nikah sama istriku yang kedua, aku terpaksa ngekos bersama istriku. Jadi buat Ibu, lima ratus ribu, buat anakku lima ratus ribu dan buat bayar kos lima ratus ribu. Aku cuma minta seratus buat pribadiku. Seratus ribu buat bayar listrik dan PDAM dan satu juta buat makan berdua, tapi sayangnya uang satu juta itu selalu habis di minggu ketiga. Padahal makan gak pakai ayam atau apapun. Aku juga kadang makan di tempat kerja aku. Tapi mungkin karena tinggal di Jakarta, jadi sehari tiga puluh ribu buat kebutuhan dapur, buat beli sabun dan yang lainnya, tentu gak cukup. Dan karena itulah, dia minta cerai karena gak kuat hidup sama aku.


Sayangnya saat ia hamil dan melahirkan anakku, dia pendarahan hebat dan akhirnya ia meninggal bersama putriku. Di situ aku hancur, hancur-sehancur hancurnya. Aku bahkan butuh waktu dua bulan untuk bisa memulihkan kondisiku.


Setelah itu, satu tahun setengah aku gak menikah lagi. Tapi namanya laki-laki yang sudah tau rasanya hubungan badan, tentu ada rasa ingin melakukannya lagi. Dan karena aku takut gak bisa menahannya, aku memutuskan untuk menikah dan kali ini aku menikahi wanita muda dan anak tunggal. Dan jujur, pernikahanku yang keempat bikin aku sakit kepala. Kali ini, dia selalu membantah omongan aku dan menuruti perintah orang tuanya, bahkan dia juga gak mau tinggal di kosan atau ngontrak. Akhirnya aku yang mengalah tinggal bersama dia di rumah orang tuanya. Di sana aku di sindir, di hina dan di caki maki oleh mertua aku. Sedangkan istriku cuma diam, tidak mau membelaku. Aku merasa harga dirikku sebagai laki-laki, sebagai kepala rumah tangga tidak di hargai. Aku meminta istriku memilih, antara suami dan orang tua, dan dia memilih orang tuanya, maka saat itu aku langsung menjatuhkan talak dan mengurus surai cerai.


Dari situ aku merasa trauma buat nikah. Aku memilih untuk fokus sama diri aku aja, aku kerja lebih giat dan meneruskan kuliah S2 ku. Ya aku kuliah lagi di sore hari dari jam lima pagi sampai jam sembilan malam, kadang jam sepuluh malam. Sedangkan aku kerja dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore.


Aku kerja dan kuliah, aku memfokuskan diriku agar tidak berfikir yang membuat n*fsu aku meningkat. Ya, tau sendirilah, kelemahan seorang pria itu terletak pada wanita. Apalagi aku sudah punya banyak pengalaman, kadang jika aku nganggur atau sendiri, pasti ada rasa ingin melakukannya, tapi aku belum siap jika harus menikah lagi dan aku juga tidak mungkin menyewa wanita.


Jadi aku mutusin, buat kerja, dan kuliah. Serta puasa sunnah biar, fikiran aku teralihkan. Aku juga tetap rutin buat ngirim uang buat Ibu dan anakku. Karena aku gak ada tanggungan, jadi aku ngirim satu juta buat ibu dan lima ratus buat anakku, sisanya untuk diriku sendiri. Agar hemat, aku kembali ke mess dan tinggal di sana serta makan di sana.


Setelah aku lulus S2, aku keluar dari kuli dan mencoba melamar pekerjaaan lagi dan alhamdulillah, aku di terima. Sejak aku jadi staf, gajiku lumayan besar, jadi aku bisa ngirim dua juta buat ibuku dan tujuh ratus buat anakku. Aku cuma ambil dua juta buat bayar kos lima ratus ribu dan satu juta setengah buat makan, sisanay aku tabung buat beli mobil. Dan Alhamdulillah setelah bertahun tahun, ekonomi aku sudah meningkat, aku sudah punya rumah pribadi di Jakarta, aku juga sudah punya mobil. Aku bisa bantu ekonomi ibuku di kampung dan aku juga bisa membiayai anakku, bahkan aku lebihkan agar bisa bantu ekonomi adik dan mantan istriku.


Dan kini, aku masih memilih untuk menduda di usia aku yang tiga puluh lima tahun. Aku masih trauma buat nikah lagi, bukannya gak mau nikah lagi ya, tapi aku  masih harus menghilangkan trauma aku dulu, baru aku akan buka hati lagi buat wanita lain. Dan tentu, aku harus seleksi terlebih dahulu, agar yang dulu-dulu tidak terulang kembali.


Tapi aku yakin, setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya masing-masing. Entah itu faktor ekonomi, suami yang suka main tangan, suami tidak setia, atau istri yang tidak setia, istri suka ngatur, masalah mertua atau ipar, masalah tetangga julid dan lain sebagainya. Mungkin ada di antara mereka yang bertahan, namun juga tidak sedikit yang memilih berpisah. Intinya, semua keputusan ada di tangan masing-masing." ucap Ardi setelah menceritakan semua kisah hidupnya yang begitu pahit.

__ADS_1


Noah yang mendengarnya pun, hanya bisa diam. Ia yang belum berumah tangga, kadang bergidik ngeri jika mendengar cerita teman-temannya yang sudah berumah tangga.


"Apakah saat kamu bercerai, istrimu pada koar-koar?" tanyanya.


"Iyalah terutama istri kedua aku. Tapi ya sudahlah, aku tidak menanggapinya akhirnya dia diam sendiri. Malah sekarang, istri kedua aku ngajak aku balikan setelah dia tau aku sukses. Tapi aku sudah gak mau lagi balikan dengannya, jadi aku blokir aja nomer dan semua akun sosial medianya."


"Bagaimana jika .... " Noah mulai menjelaskan masalah yang menimpa Luna dan juga Ariel dan kali ini, Ardi yang diam mendengarkan.


"Wah ... baru kali ini aku denger ada istri yang begitu. Biasanya seorang istri akan risih jika suaminya dekat dengan wanita lain, ini malah ngajak wanita lain tinggal satu atap dan berduaan dengan suaminya. Apa dia tak cemburu, misal suaminya satu mobil dengan sahabatnya. Apa dia gak takut, misal sahabatnya akan jadi orang ketiga dalam rumah tangganya, apa dia gak merasa was-was, misal diam diam mereka jalin hubungan? Anehlah ceritamu itu. Baru kali ini aku tau, ada istri begitu, sengaja mendekatkan sahabat dan suaminya secara terang-terangan. Lah misal mereka sampai saling suka, lalu siapa yang di salahkan? Aku aja, dekat dengan wanita, seperti di strum, panas dingin tubuh aku, bahkan burung aku pun berdiri tegak, apalagi suaminya yang tinggal satu atap dengan prempuan lain, sepanjang jalan berduaan dengan wanita lain. Belum lagi, sudah satu atap, satu mobil, satu tempat kerja pula. Apa gak panas dingin itu suaminya.


Aku aja sampai puasa sunnah bahkan harus mandi air dingin\, biar fikiranku tak memikirkan hal itu. Bahkan aku juga rela olah raga berat\, biar n*fsu aku mereda padahal aku gak deket loh\, cuma tak sengaja menatap wanita cantik yang menarik perhatian aku. Itu kalau sudah kepengen\, gak keturutan\, kepala sakit\, dan pengen emosi bawaannya. GAk enak jadi laki-laki. Mungkin itulah kenapa Tuhan meminta seorang laki-laki harus tundukkan pandangan\, dan seorang wanita harus menjaga auratnya agar bisa membantu laki-laki\, kuat menahan n*fsu. Sumpah sih\, kelemahan pria itu adalah perempuan. Dan kelemahan perempuan adalah uang. Dan itu sudah lumrah. Dan jika sudah dapat yang setia\, syukuri. Bukan malah mengujinya dengan mendatangkan mala petaka. Sekuat-kuatnya iman lelaki\, runtuh juga kalau sudah berhadapan dengan wanita cantik.


Coba tengok ustad yang ilmunya sudah dalam, mereka bahkan sampai nikah berkali-kali sama yang lebih muda, lebih montok. Kamu fikir karena apa? N*fsu. Mana ada kyai, nikah ama janda beranak banyak atau wanita tua yang di tinggal mati suaminya sehingga anaknya terlantar. Pasti milihnya yang muda. Lah Pak Yai aja, yang agamanya sudah lebih dari kita, masih tergoda. Apalagi kita kita yang ilmunya gak seberapa. Ibarat kucing di kasih ikan, ya pasti di lahap. Kita gak bisa menyalahkan pihak laki-laki jika dari awal, sudah mewanti-wanti untuk tidak memasukkan wanita lain ke dalam rumahnya. Kalau masih bersikeras, dan akhirnya terjadi sesuatu di kemudian hari, ya pihak istri yang harus di salahkan. Kan dari awal sudah di ingatkan, kenapa gak mau dan malah terkesan ingin mendekatkan. Dia suami loh, dan sebagai istri harus bantu suami jaga pandangan, bukan malah membantu sang suami untuk terjerumus ke lembah yang hina.


Gak mudah jadi laki\, apalagi jika n*fsunay besar. Aku aja kadang sangat menderita\, sampai gak fokus kerja. Sayangnya\, aku memilih bertahan jadi duda karena trauma. Tapi kalau masalah n*fsu\, jangan di tanya\, rasanya sudah seperti kebakar. Setiap laki emang beda sih\, tapi hampir rata-rata semuanya kek gitu. Lagian tinggal satu atap sama ipar aja kagak boleh\, apalagi ini cuma sahabat\, emang dia lebih sayang sahabat dari pada suami? Suami yang sudah kerja keras siang malam demi kebahagiaan istrinya. Lagian dia membantah kek gitu\, apa gak takut dosa. Dia mau nolong sahabat\, dan mengabaikan perasaan suaminya.


Dia  maksa suaminya harus menerima sahabatnya di rumahnya aja, pasti sudah bikin suaminya jengkel, gak ikhlas, gak ridho. Mungkin suaminya bilang iya, karena terpaksa aja, demi bikin seneng istrinya. Suami gak ridho, itu dosanya sudah besar loh. Itu sama aja istri durhaka. Demi sahabat, dia rela bikin suaminya sakit hati. Kalau aku jadi suaminya, mungkin aku berfikir, dia lebih sayang sahabatnya ketimbang aku, suaminya.


Dan lagi, kalau suami sudah kecanduan hal kayak gitu, di sindir kayak apapun, gak akan mempan. Apalagi cuma kode, laki-laki mana ngerti kode. Kalau wanita kepengen, terus ngasih kode-kode gitu, kebanyakan gak ngerti, harus ngomong langsung, baru suami ngeh kalau istrinya kepengen. Apalagi kode kayak gitu, makin gak ngertilah suaminya, dikiranya cuma ngomong biasa aja, walaupun mungkin ada firasat yang gak enak.


Lagian kalau suaminya sudah kecanduan s*k, itu sama kayak kecanduan nar-koba, sulit berhenti. Kecuali sudah meninggal atau di kasih pertolongan. Makanya ada yang bilang, lebih baik mencegah sebelum mengobati, ya itu alasannya. Kalau sudah kecanduan, susah buat berhenti di tengah jalan. Apalagi sudah merasakan enaknya.


Atau kayak lagi main ju-di misalkan, kalau sudah tau rasanya, pasti akan terus memainkannya, sampai rumah, mobil dan harta habis semua, baru nyesel. Makanya jangan coba-coba main. Ya sama seperti s*k, jangan coba-coba main ama perempuan lain, karena sekali main, susah buat berhenti.


Dan istri pun harus bantu, bukan malah menjerumuskan. Apalagi kan awalnya suaminya baik dan setia, di syukuri aja, di jaga, di doakan biar selalu setia sampai akhir hayat, bukan malah mendatangkan mala petaka." Ardi yang gregetan mendengar cerita Noah, pun langsung ceramah panjang kali lebar, dia greget, karena baru kali ini ia nemui wanita bodoh kek istri yang di ceritakan oleh Noah itu.


Jika laki-laki akan bela si lelaki, karena dia tau bagaimana rasanya nahan sesuatu yang rasanya kayak di desak ingin di keluarkan. Bagaimana kepala jadi pening berdekatan dengan perempuan lain tapi gak bisa di sentuh. Bagaimana rasanya yang di bawah hidup tapi harus nahan.


Ini sudah dapat suami setia, sudah berusaha susah payah menghindar dari perempuan lain yang mencoba untuk mendekatinya, eh si istri malah mengujinya dengan membawakan perempuan lain ke dalam rumah. Pengen di pentung itu kepala, biar sadar.


Tapi bagi wanita, mungkin tetap akan menyalahkan pihak si lelaki, karena dia sudah selingkuh padahal sudah di ingatkan berulang ulang, sudah di kasih kode juga.


Padahal mereka gak tau bagaimana tersiksanya berada di pihak laki-laki, sama seperti kecanduan n*rkoba dan ju-di, ya seperti itu. Sulit buat berhenti.  Kecuali sudah mati atau nyesel, baru deh berhenti.


Makanya, jangan sesekali uji kesetiaan suamimu. Kalau sudah dapat yang setia, kaya, tampan, mapan, gak main tangan, semua kebutuhan kamu di penuhi, sudahlah jangan neka-neko lagi. Cukup fokus ibadah aja, doakan suamimu agar di luar sana, rezekinya lancar, dan terhindar dari godaan perempuan.

__ADS_1


Dan jika ingin membantu sahabat, saudara atau orang lain, ya jangan sampai keterlaluan. Bantu, boleh. Tapi juga harus tau batasannya. Jangan sampai merugikan diri kamu sendiri.


__ADS_2