Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Bukti Kedua Yang Dimiliki Oleh Luna


__ADS_3

Pagi harinya setelah selesai sarapan, Ariel mengajak Luna pulang. Sepanjang jalan, Ariel hanya diam aja. Begitupun dengan Luna, yang memilih diam dari pada bicara. Bahkan tadi mereka juga makan sedikit, karena terlalu malas. Hanya lagu galau yang menemani mereka, lagu yang mengisahkan tentang kesakitan seorang kekasih yang di tinggal demi kekasih lain. Mendengar lagu itu, lagi-lagi Ariel merasa sesak dada, lalu ia melihat Luna yang sedari tadi hanya melihat ke luar jendela tanpa melihat ke arahnya sama sekali.


Ariel memegang tangan Luna menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanan fokus menyetir. Saat tanganya di pegang, Luna menoleh ke Ariel namun hanya sekilas, lalu melihat ke luar jendela lagi.


"Kenapa?" tanya Ariel.


"Gak papa," jawabnya dengan suara rendah.


"Aku minta maaf," ucap Ariel lagi membuat Luna terkekeh pelan.


"Minta maaf buat apa, lebaran masih lama. Jangan minta maaf terus," jawabnya tersenyum, menyembunyikan luka yang semakin menganga.


"Jangan sedih terus, aku sakit lihatnya," pinta Ariel memohon.


"Sesungguhnya sumber kebahagiaan dan sumber kesakitan aku darimu, Mas. Jadi, itu semua ada padamu, bagaimana kamu memperlakukan aku. Kamu baik, aku bahagia, kamu jahat tentu aku sedih, aku kecewa, aku marah dan aku sakit," balasnya sambil tersenyum.


"Pukul aku jika itu bisa meringankan sakit hati kamu."


Luna menggelengkan kepalanya, "Buat apa? Jika pun aku memukul kamu, yang sakit hanya fisik dan mungkin satu dua hari sembuh. Beda sama hati. Seumur hidup pun, luka itu pasti ada."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Berubah, minta maaf sama Allah dan janji untuk tak lagi menyakiti hati aku. Ingat, Mas. Walaupun aku gak tau apa yang kamu lakukan di luar sana, feeling seorang istri itu kuat. Kamu bertingkah pun, aku pasti tau. Kamu ada perubahaan sedikit aja, aku pasti bisa merasakanya. Dan lagi, sepintar pintarnya kamu menyembunyikan dosa kamu, ingat Mas. Allah gak tidur. Dia selalu melihat apa yang kamu  lakukan di luar sana. Tapi ya sudahlah, jangan bicara ini lagi kalau ujung-ujungnya juga akan berakhir sad ending. Mending kita diam aja dan aku akan mengikuti alur yang kamu buat. It's okay, gak papa. Rasa sakit yang aku rasakan, biar aku sama Allah yang tau. Kamu tetap lakukan apa yang kamu lakukan, cuma aku berharap, jika waktunya sudah tiba, jangan pernah meminta aku untuk bertahan. Karena saat aku memilih untuk pergi, itu artinya rasa sakit yang kamu berikan sudah melampaui batas dan aku tak mampu lagi untuk menanggungnya."


"Aku akan mengusahakannya, doakan aku semoga aku bisa menjadi versi terbaik seperti yang kamu mau. Walau berat, tapi aku akan mencoba," ucapnya membuat Luna hanya tertunduk diam. Bukan ia gak percaya, masalahnya ia sudah tak mau bertahan dengan suami yang sudah berbagi cinta, kasih sayang, perhatian, uang dan tubuh dengan wanita lain. Kalau cuma masalah uang, Luna gak akan sesakit ini, tapi masalahnya luna sangat yakin jika mereka sudah pernah melakukan pergulatan di atas ranjang, itu yang gak bisa ia terima. Mungkin Luna belum ada bukti yang kuat tapi ia mempunyai keyakinan bahwa mereka sudah melakukannya.


"Ya," jawab Luna malas.


Sesampai di rumah, Ariel langsung memarkirkan mobilnya secara asal. Lalu ia dan Luna pun turun dari mobil. Saat melihat Dion, Ariel merasa tak suka, entah kenapa ia merasa jika Dion terlalu dekat dengan istrinya selama ini.


"Cucikan mobilku dan setelah itu kamu bisa pulang. Istriku hari ini gak akan kemana-mana," ucapnya ketus sambil memberikan kunci itu kepada Dion.


"Baik, Tuan." Dion hanya bisa menerimanya dengan lapang dada, ia tau jika majikannya itu pasti tengah bertengkar karena raut wajah mereka tidak ada yang tidak sedap di pandang mata, terlebih aura Luna yang terlihat kesal, marah dan kecewa dalam waktu bersamaan.


Sesampai kamar, Luna langsung mandi lagi, walaupun di hotel tadi dia sudah mandi. Lalu setelah itu, segera pakai baju dan sholat dhuha. Selesai sholat, Luna langsung menemui Bibi Imah dan Bibi Neni untuk mengobrol bersama, setidaknya ngobrol dengan mereka, membuat kegellisahannya dan kesakitannya sedikit berkurang karena mereka sangat pandai dalam mengalihkan fikiran Luna yang kini tengah kusut.


Sedangkan Ariel ia masih berada di kamar, ia berdiri di jendela, melihat pemandangan di luar jendela. Sesungguhnya ia gak mau seperti ini, ia sangat mencintai Luna, dan ingin jika hubungan mereka baik baik saja, tapi masalahnya ia sudah terlanjur merusak masa depan Laras, sahabat Luna. Ia juga tak mungkin diam aja, setelah apa yang ia lakukan pada Laras.


Bagaimanapun ia juga harus tanggung jawab, ia bukan laki-laki pengecut yang habis manis sepah di buang. Dan lagi ia juga tak bisa menyalahkan Laras sepenuhnya, karena ia sendiri yang tak menolak saat Laras menggodanya. Ia  malah menikmati apa yang Laras berikan. Lalu bagaimana mungkin ia menyalahkan Laras jika dirinya ikut menikmatinya.

__ADS_1


Memikirkan hal itu membuat Ariel merasa kesal dan merasa dirinya bodoh, ia sudah terjebak oleh hawa nafsu hingga membuat semuanya menjadi kacau seperti ini.


Saat ia tengah termenung, hpnya berbunyi ada chat masuk dari Laras. Ariel pun segera mengambil Hpnya dan membuka isi pesannya.


"Mas kamu gak masuk lagi?" tanyanya lewat pesan Wa.


"Enggak," balasnya singkat.


"Kenapa? Aku kangen loh dari kemaren gak ketemu."


"Maafin aku, tapi aku harus memperbaiki rumah tangga aku sama luna dulu."


"Kenapa yang kamu fikirkan cuma Luna sih, terus gimana dengan aku?"


"Kamu yang sabar ya, jangan bikin fikiran aku kacau. Jujur aku merasa berdosa sudah mengkhianati istriku."


"Kenapa baru sekarang kamu mikir masalah dosa Mas. Kenapa gak dari dulu sebelum kamu mengambil kehormatan aku."


"Jika bukan kamu yang menggoda aku, aku gak akan mengambil apa yang seharusnya tidak aku ambil."


"Tapi nyatanya kamu tergoda dan kamu mau kan? Kamu juga menikmatinya. Jadi jangan hanya menyalahkan aku di sini."


"Ck ... pokoknya hari ini aku ingin bertemu."


"Aku gak bisa, lain kali aja."


"Lain kali itu kapan? Kamu gak kangen aku?"


"Entalah."


"Kok gitu jawabnya."


"Aku juga bingung dengan perasaan aku sendiri."


"Kamu gak cinta aku, Mas?"


"Aku gak tau."


"Jangan bilang jika selama ini kamu hanya mempermainkan aku, Mas. Dan kata cinta kamu selama ini hanya sebuah kehobongan."

__ADS_1


"Aku bingung. Aku bingung sama perasaan aku saat ini. Aku emang tertarik sama kamu, aku suka sama kamu, aku mungkin cinta tapi melihat Luna sedih, hatiku sakit."


"Kamu jangan hanya memikirkan peraaan Luna, Mas. Kamu fikirkan juga hati dan perasaan aku. Aku juga sakit jika kamu kayak gini."


"Untuk itu beri aku waktu. Biarkan kita sendiri-sendiri dulu. Aku janji, aku akan menemui kamu, jika aku sudah tak lagi merasa bingung seperti ini."


"Jujur, Mas. Aku takut kamu niinggalin aku."


"Enggak akan. Aku janji."


"Beneran?"


"Iya."


"Aku ingin kamu menikahi aku, Mas."


"Kenapa?"


"Karena kamu sudah mengambil mahkota yang aku jaga selama ini."


"Tapi aku gak bisa nikahin kamu."


"Terus maumu gimana? Apa selamanya kita melakukan hubungan itu tanpa ada ikatan yang sah. Kamu mau kita terus melakukan dosa besar sepanjang hidup kita."


"Tapi aku gak mungkin nikahin kamu, Luna pasti akan marah besar."


"Kalau gitu, jangan sampai Luna tau. Aku rela kok di nikahi secara sirri, yang penting saat kita melakukannya, kita tak lagi melakukan dosa."


"Aku fikirkan nanti aja ya."


"Aku harap, Mas gak kabur dari tanggung jawab."


"Iya."


"Ya sudah aku mau kerja dulu."


"Hemm."


Dan setelah itu, Ariel pun menghapus pesan dari Laras. Namun tanpa diketahui oleh Ariel, Luna sudah membaca pesan itu bahkan sudah mensrinshotnya. Ia menyimpan isi chat itu bersama dengan isi chat yang kemaren, ia kumpulkan jadi satu sebagai bukti tentang pengkhiantan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2