Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Sifat Ariel Yang Makin Merajalela


__ADS_3

Sehabis sholat magrib, Luna masih mengaji sambil nunggu adzan isya'. Sedangkan Ariel dia memilih untuk duduk santai di ruang tamu sambil main Hp. Kalau main hp di kamar, takutnya menganggu Luna yang tengah mengaji. Sebenarnya dirinya mau mengaji juga, tapi karena males, jadi habis sholat dia langsung mengambil hp dan pergi ke ruang tamu.


"Mau Bibi buatkan minuman, Tuan?" tanya Bibi Imah.


"Enggak usah, Bi. Bibi siapkan buat makan malamnya aja, saya mau di masakin nasi goreng aja ya Bi sama telur mata sapi. Nasi gorengnya kasih sosis yang banyak, sama potongkan timun ya, Bi. Jangan lupa kupas dulu kulitnya. Nasi gorengnya juga agak pedes," pinta Ariel memberitahu. Bibi Imah pun mendengarkannya dengan jelas, takut ada yang kelewat.


"Sama nanti minumannya jahe hangat ya. Enak keknya makan nasi goreng sama teh jahe hangat," ujar Ariel lagi.


"Siap, Tuan. Apa ada lagi?"


"Jangan lupa kerupuk juga."


"Baik, Tuan."


"Ya sudah itu aja."


"Kalau gitu saya ke dapur dulu, Tuan."


"Iya."


Setelah Bibi Imah pergi, barulah Ariel membuka chat Laras. Namun sebelum membalas pesan Laras, Ariel membalas pesan yang lain dulu yang dari rekan kerja, teman kuliahnya, dan dari kerabatnya serta chat dari Mamanya. Setelah selesai membalas semua pesan itu, barulah ia mulai fokus membalas pesan dari Laras.


"Mas, tadi Luna chat aku, katanya besok malam dia mau bakar-bakar, dia ngundang aku ke sana. Menurut Mas, aku harus datang apa gimana?"


Membaca pesan itu, Ariel pun segera membalasnya.


"Datang ajalah, Yank. Luna juga sudah berubah baik, dia sudah minta maaf. Kayaknya Luna hamil deh, soalnya sejak kemaren dia sensitif banget terus dia emang telat datang bulan gitu."


"Mas gak akan ninggalin aku kan?"


"Kenapa aku harus ninggalin kamu?"


"'Aku takut jika Luna hamil beneran, Mas akan lupain aku, dan ninggalin aku gitu aja. Aku takut, Mas."


"Aku gak akan ninggalin kamu kok, aku pasti tanggung jawab, bagaimanapun aku sudah mengambil apa yang tidak seharusnya aku ambil jadi mana mungkin aku kabur gitu aja."


"Beneran ya, Mas. Jangan tinggalin aku."


"Iya, Sayang."


"Iya sudah besok aku datang habis maghrib."


"Okay."


"Siapaan yang di undang, Mas?"


"Gak ada, cuma Bibi Neni, Bibi Imah sama Dion."


"Dion, sopirnya Luna."

__ADS_1


"Ya, kamu belum pernah bertemu dengannya ya?"


"Belum, Mas."


"Jangan jatuh cinta sama dia ya."


"Emang kenapa? Mas Dion ganteng kah?"


"Ya gitu deh."


"Gantengan mana Mas Dion sama Mas Ariel?"


"Gantengan aku pastinya hehe."


"Ya sudah kalau gitu, aku gak mungkin berpalinglah Mas. Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Aku ini type setia, kalau sudah jatuh cinta, susah lah buat berpaling apalagi Mas Ariel itu kan tampan dan mapan, suka manjain aku, mana mungkin aku memilih laki-laki lain yang bahkan tidak ada apa-apanya di banding Mas Ariel."


"Syukurlah, Mas seneng dengernya."


"Besok aku bawa apa ke sana, ya kali tangan kosong?"


"Bawa apa ya enaknya, masalahnya semuanya ada. Lagian juga Dion pasti gak bawa apa-apa."


"Ya sudah deh kalau gitu. Aku berarti cukup ke sana aja nih."


"Iya, Sayang."


"Ya terserah kamu sama Luna. Tapi lusa Mama sama Papa aku mau ke sini."


"Wah, bolehkah aku kenalan sama orang tua kamu, Mas."


"Jangan sekarang, kapan-kapan aja deh, pasti aku kenalin."


"Emang kenapa?"


"Enggak papa, aku cuma takut hubungan kita ketahuan. Soalnya orang tua aku itu sayang banget sama Luna."


"Hemm gitu, ya deh. Tapi janji ya, kalau ada waktu kenalin aku sama orang tua kamu."


"Iya, Sayang. Di resto gimana, rame?"


"Gak Mas sepi, ini aku lagi makan, gantian sama Mbak Nani."


"Oh gitu, kalau sepi mending tutup jam delapan aja. Nanti aku akan chat Anggi."


"Iya, Mas. Makasih ya. Aku juga capek banget rasanya, mungkin karena gak ada Mas di sini, jadi gak semangat kerjanya."


"Harus semangat dong."


"Gak bisa, Mas. Rasanya kek lemes gitu seharian."

__ADS_1


"Hmm .. besok malam kan kita dah ketemu?"


"Masih besok malam, Mas. Masih lama. Apa gak bisa kalau besok pagi kita ketemu dulu?"


"Enggaklah sayang, gak bisa. Aku takut Luna curiga."


"Mas pura-pura olah raga aja, keliling komplesk, nanti kita ketemuan di taman."


"Iya udah besok aku usahain ya. Kayaknya juga Luna besok ikut Bibi Imah ke pasar."


"Nah, itu kesempatan emas buat kita. Walaupun gak bisa  ngapa-ngapain yang penting dah ketemu. Kangen banget aku soalnya."


"Iya sudah besok kita ketemuan, jam enam di taman."


"Siap, Mas. Iya sudah, aku mau kerja lagi ya. Jangan lupa chat Mbak Anggi, pulang jam delapan."


"Siap, Sayang."


"I Love You, Mas."


"I Love You, Too."


Dan setelah itu, Ariel pun mengakhiri chatannya dengan Laras dan beralih menonton youtube. Namun sebelum dia menonton youtube, ia menghapus dulu chatannya dengan Laras. Dan lagi-lagi tanpa sepengetahuan ARiel, di  kamar, Luna juga tengah membaca percakapan mereka. Saat tau Ariel pergi dari kamar, Luna langsung menyudahi baca Al Qur'annya dan langsung memegang HPnya. Dan kini sudah ada tiga pesan yang di simpan oleh Luna di galerinya. Dia bahkan juga menyimpannya di folder online. Misalkan hp ini hilang, atau gimana. Ia masih punya cadangan dan bisa di buka di hp manapun. Dia sudah mewanti-wanti semuanya. Dan folder itu, tak akan ada yang tau kecuali dirinya sendiri.


Setelah menyiimpan filenya, Luna menaruh Hpnya kembali ke tempat biasa. Lalu dia melanjutkan baca Al Qur'annya. Saat adzan Isya terdengar, barulah Ariel masuk ke kamar lagi dan melihat Luna masih mengaji.


"Sholat Isya bareng ya yank" ucap Ariel.


"Iya, Mas." Seperti tak ada apa-apa, Luna menyudahi membaca Al Qur'an. Dia menunggu di atas sajadah, menunggu Ariel yang kini tengah mengambil wudhu.


Setelah itu, barulah mereka sholat Isya' berjamaah.


Selesai sholat, Luna masih mencium punggung tangan suaminya, dan tentu Ariel membalasnya dengan mencium kening sang istri.


Setelah itu, Ariel mulai berdoa namun Luna tak mengaminkannya, karena ia tak tau, doa apa yang di minta Ariel. Jadi ia memilih berdoa sendiri, meminta sama Tuhan agar diberikan kekuatan agar bisa melalui semua ini.


Selesai sholat, barulah Ariel dan Luna pergi ke ruang makan dan di sana ada nasi goreng request Ariel.


"Kita makan nasi goreng malam ini?" tanya Luna.


"Iya, tadi aku yang minta sama Bibi Imah. Kalau kamu gak mau, kamu bisa minta di masakin yang lain."


"Enggak usah, ini aja cukup kok. Kayaknya juga enak," tolak Luna walaupun ia gak berminat makan nasi goreng, ia malah ingin makan nasi dan kuah bening sama dadar jagung dan kerupuk sama sambal mentah. Namun karena tak ingin Bibi kecapean karena harus memasak lagi, jadi ia makan seadaannya aja, apa yang ada di meja, dia makan.


"Enak banget nasi gorengnya, sosinya juga banyak, nasi gorengnya juga pedes, walaupun gak pedes pedes banget, tapi ini cukup kok. Sesuai yang aku mau. Telurnya juga enak banget, gak asin, tapi gak hambar juga. Apalagi makan sama mentimun gini, rasanya makin mantap, iya kan yank. Apalgi di tambah kerupuk, bikin lidah bergoyang," ucap Ariel heboh sendiri. Luna hanya diam aja mendengarkan.


Bibi Imah yang di puji masakannya juga ikut senang walaupun ia melihat Luna seperti gak selera untuk makan nasi gorengnya. Seharusnya tadi Bibi Imah juga nanya ke Luna mau di masakin apa, tapi semuanya sudah terlanjut, dan Bibi Imah hanya bisa diam aja.


Selesai makan, Luna pergi ke ruang tamu dan memainkan Hpnya, Ariel pun melakukan hal yang sama. Ia duduk di samping Luna dan memainkan game yang kini tengah viral. Sedangkan Luna, ia membaca novel karya Evi Tamala.

__ADS_1


__ADS_2