
Ariel dan Laras walaupun mereka satu mobil, namun tak ada yang bicara. Inilah gak enaknya, jika Ariel gak pakai sopir, akhirnya di mobil ini, hanya mereka berdua. Berbeda jika Ariel memakai jasa sopir, maka akan ada orang ketiga, sehingga tak ada kecanggungan seperti ini. Tapi Ariel juga gak suka pakai sopir kecuali emang dalam kondisi butuh banget, atau saat malas untuk nyetir sendiri.
"Maaf ya, Mas. Tidak seharusnya aku numpang di mobil Mas Ariel," ujar Laras basa-basi, tapi dalam hati, ia senang bisa berangkat dan pulang bareng Ariel, entah kenapa ia merasa nyaman aja ada di dekat Ariel. Apalagi melihat Ariel yang tampan dan memakai baju modis, membuat Ariel tanpak keren di matanya.
"Gak papa, santai aja. Besok aku belikan sepeda motor metik ya buat kamu, biar enak pulang perginya, gak perlu nunggu angkot lagi," tutur Ariel membaut Laras tercengang. Semudah itu kah, Ariel akan membelikan dirinya sepeda motor, padahal harganya bahkan dua puluh juta lebih. Ariel bilang mau belikan motor, sudah seperti mau belikan gorengan yang harga seribuan aja. "Apa segitu banyaknya uang Mas Ariel ya?" tanya Laras dalam hati.
"Tapi aku gak mau merepotkan, Mas," jawab Laras, tentu saja ia tak bisa langsung menerima begitu saja, karena itu bisa membuat Ariel memandang dirinya matre. Dan Laras gak mau itu terjadi.
"Enggak merepotkan, kok. Mas usahakan besok sebelum kamu berangkat kerja, sepeda motornya sudah ada di depan kontrakan kamu. Kamu bsia kan nyetir sepeda motor?" tanya Ariel dan Laras menganggukkan kepalanya.
"Bisa, kok."
"Syukurlah."
"Makasih ya, Mas."
"Makasih untuk apa?"
"Sudah belikan aku sepeda motor," ujar Laras malu-malu. Belum dekat aja, sudah di belikan sepeda motor, apalagi kalau dekat dan jadi istrinya. Laras yakin, apapun yang ia mau, pasti Ariel akan membelikannya dan ia bisa pergi kemana aja yang ia mau, karena sudah punya banyak uang. Menghayal seperti itu membuat Laras senyam-senyum sendiri.
"Astaga, kenapa aku berfikir sepreti itu. Ingat, Laras. Ariel itu suami sahabat kamu sendiri," ujar Laras pada dirinya sendiri, ia selalu mengingkatkan dirinya, agar tidak keterlaluan dan membuat Luna patah hati karenanya.
__ADS_1
"Aku belikan kamu karena kamu itu sahabat istriku, jadi santai aja. Aku juga gak mungkin bikin orang-orang yang di sayang oleh istriku jadi kesusahan," balas Ariel membuat Laras tersenyum kecut. Entah kenapa mendengar hal itu membuat Laras gak suka.
"Tapi tetap aja aku harus berterima kasih, kan. Karena jika bukan Mas Ariel, tentu aku gak akan punya sepeda motor," sahut Laras.
"Terserah kamu deh," ucap Ariel cuek. Dia fokus ke depan tanpa menoleh ke arah Laras sama sekali. Padahal Laras sudah dandan cantik buat Ariel, datang pagi-pagi untuk bisa ketemu Ariel dan bisa berangkat bareng. Tapi malah seperti ini. Walaupun berangkat bareng, tapi suasanannya kaku.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan resto, Ariel meminta Laras turun duluan. Sedangkan Ariel memarkikran mobilnya di tempat biasa, karena memang ia punya tempat parkir sendiri, di tempat yang teduh dan langsung mengarah ke CCTV.
Setelah itu, Ariel pun turun dari mobil sambil menenteng tas kerjanya. Lalu ia berjalan menuju ruangannya, sesampai di ruangan itu, Ariel membuka kancing baju atasnya, entah kenapa ia merasa hawanya sekarang panas.
Untuk menghilangkan rasa gelisahnya, Ariel mengirimkan pesan untuk Luna, namun sayangnya pesannya gak di baca walaupun sudah centang dua. "Apa mungkin Luna lagi olah raga ya, jadi gak tau kalau ada pesan masuk," gumamnya dalam hati. Ia pun menghidupkan komputernya dan mengerjakan pekerjaannya.
"Laras kamu kok bisa bareng Pak Ariel?" tanya Nani, karena ia bagian kasir, jadi ia bisa melihat ke arah luar dan bisa melihat Laras yang turun dari mobil Ariel.
"Iya, kan dia saudara aku. Jadi sesekali pulang dan berangkat bareng, kan gak papa," sahut Laras, karena memang mereka taunya kalau dirinya itu saudara Ariel.
"Oh, iya juga sih. Tapi kenapa gak setiap hari aja, berangkat dan pulang bareng?"
"Maleslah. Kadang juga pengen naik taxi, biar bisa mampir ke sana sini, kalau sama Mas Ariel kan beda. Langsung pulang, karena Mas Ariel buru-buru terus."
"Pak Ariel kayaknya cinta banget sama istrinya ya. Dia pasti buru-buru karena gak sabar pengen bertemu Ibu Luna. Tapi mereka emang pasangan serasi sih, Ibu Luna sangat cantik, aku aja yang wanita kadang merasa kagum dan suka banget lihat wajah Ibu Luna lama-lama, karena emang wajahnya gak bosenin, kalau ngomong juga manis banget, apalagi kalau tersenyum gitu, benar-benar gemesin banget, kek boneka," puji Nani membuat Laras mencibir.
__ADS_1
"Apa sesempurna itu, Luna di mata semua orang?" gumam Laras dalam hati.
Laras tak menanggapi omongan Nani dan memilih mencari kesibukan, ia malas ketika mendengar orang-orang memuji Luna sampai segitunya, seakan-akan tak ada kecacatan sedikitpun yang Luna punya. Dia sudah seperti bidadari, yang semua orang mengagumi kecantikan dan kebaikannya.
Saat makan siang tiba, Laras dan Nani gantian untuk makan siang dan sholat. Tapi Laras yang emang gak sholat, habis makan cuma istirahat bentar, main Hp. Saat melihat Ariel yang tengah ke dapur, Laras pun langsung mendekatinya.
"Pak Ariel ngapain ke sini?" tanya Laras tersenyum lembut, memang kalau saat jam kerja, Laras harus memanggil Pak, berbeda saat berdua saja, atau saat di luar jam kerja.
"Eggak ada, lihat-lihat aja. Kamu gak makan siang?" tanya Ariel sekenanya, namun entah kenapa membuat Laras tersenyum senang, karena ia menganggap jika Ariel tengah perhatian padanya.
"Sudah makan barusan, Pak Ariel sendiri sudah makan?" tanya Laras dan Ariel menggelengkan kepalanya.
"Mau saya ambilkan?" tanya Laras menawari.
"Enggak usah, entar lagi aku keluar dan ada rapat di luar. Jadi aku makan di sana aja," jawab Ariel dan pergi dari sana karena risih berdekatan dengan Laras yang tampak sengaja ingin mendekatinya.
Melihat Ariel pergi, Laras hanya menghembuskan nafas kasar, "Kenapa sulit banget ya, cuma ingin dekat dan ngobrol santai denganya?" tanyanya dalam hati. Ia kembali duduk di kursi tempat tadi. Dan Laras fokus kembali menatap hpnya dan melihat sosial medianya itu.
Di ruangannya, Ariel merasa kesal. Kesal karena chatnya gak di balas oleh Luna, kesal karena ia nelfon juga gak segera di jawab, dan kesal karena ia melihat niat Laras yang mencoba untuk mendekatinya. Ariel bukan laki-laki bodoh, dan lagi bukan cuma satu dua orang yang mencoba untuk mendekatinya, tapi banyak. Hanya saja sampai detik ini, Ariel masih bisa mempertahakan perndiriannya untuk tetap setia pada sang istri dan menolak godaan di luar sana.
Baginya, mereka itu seperti sampah yang ingin menghancurkan rumah tangganya dan Ariel tak ingin itu terjadi, untuk itulah ia kadang bersikap dingin kepada para kaum hawa, tapi juga bersikap ramah, tergantung siapa lawan bicaranya.
__ADS_1