
Hari, Minggu, bulan pun berjalan begitu cepat. Tak terasa besok adalah tanggal kelahiran Diana. Yang artinya, besok Diana genap berumur 1 tahun.
Dan besok juga, Luna akan resmi menikah dengan Dion.. Sebenarnya Ayah Lukman mengundang Ariel untuk datang, namun sayangnya Ariel menolak dengan alasan ia akan pergi ke Dubai. Yah, hari dimana Luna akan menikah, Ariel dan Diana akan liburan ke Dubai untuk menemui Papa Ardi.
Sekalian jalan-jalan tentunya, menikmati waktu bertiga dengan Papa Ardi.
"Kamu yakin besok mau ke Dubai?" tanya Noah, sengaja ia menginap di apartemen Ariel karena Ariel akan pergi cukup lama.
"Ya, sangat yakin," jawab Ardi.
"Kamu pergi, bukan karena ingin menghindari pernikahan mantan istrimu kan?"
"Enggak lah, ngapain aku menghindarinya."
"Tapi kenapa waktunya bisa pas gitu?"
"Pertama, besok genap umur satu tahun putriku. Jadi di umurnya yang satu tahun, aku ingin mengajak putriku liburan dan bertemu dengan Kakeknya. Kedua, Luna menikah, otomatis kan ada malam pertama. Aku gak ingin menganggu mereka dengan alasan Diana. Jadi aku ingin Luna menikmati masa masa indahnya pengantin baru."
"Terus kamu di Dubai berapa hari?"
"Keknya enam bulanan gitulah."
"Cukup lama ya?"
"Ya, tapi mungkin bisa jadi kurang dari enam bulan. Kan harus lihat situasinya. Misal tiba-tiba Luna kangen dan pengen ketemu, ya aku mungkin akan pulang lebih cepat dari perkiraan."
"Oh, iya dah. Yang penting kamu dan Diana baik-baik saja."
"Hemm."
"Kamu sudah ngasih tau Luna tentang kamu yang ingin ke Dubai?"
"Sudahlah, mana mungkin aku gak bilang padanya."
"Terus tanggapan dia gimana?"
"Enggak papa, katanya sih dia percaya aku bisa jaga Diana dengan baik. Jadi dia mengizinkan aku bawa Diana ke Dubai."
"Syukurlah. Aku takutnya nanti malah jadi masalah ke belakang harinya."
Mereka pun terus mengobrol dengan santai, menikmati waktu bersama sebelum Ariel pergi untuk waktu yang lama. Sedangkan Diana, dia sudah tidur karena lelah setelah bermain masak masakan.
"Dania gak kamu bawa juga sekalian?" tanyanya.
"Pengennya sih aku bawa. Tapi kan aku gak enak, pasalnya Dania sekarang di rawat oleh Ardi dan Lestari. Walaupun Dania putri kandungku, tapi aku juga gak bisa sebebas aku memperlakukan Diana. Aku harus menghargai keputusan mereka sebagai orang tua angkat Dania."
__ADS_1
"Yah, kamu benar. Apalagi sekarang aku lihat, Dania sangat klop sama Lestari. Mungkin karena dia merasakan ikatan batin, bagaimanapun Lestari adalah Tante kandungnya, pasti ada rasa nyaman tersendiri."
"Mm, aku cuma berharap kebahagiaan Dania, gak lebih. Selama putra-putriku bahagia, maka aku pun ikut bahagia."
Di tempat yang berbeda, Luna merasa sangat gugup sekali. Padahal ini bukan pernikahan pertama, tapi entah kenapa Luna sangat gugup, dan takut. Bahkan tubuhnya pun panas dingin sangking gugup dan grogi.
"Ciee calon pengantin baru," goda Lintang.
"Apaan sih," balas Luna cemberut.
"Jangan marah-marah, nanti calon suamimu tak suka lihat kamu yang suka cemberut gini "
"Ck, Mas Dion itu sudah tergila-gila sama aku. Jadi kek apapun aku, dia gak akan pernah ninggalin aku."
"Yakin?" tanyanya.
"Iyalah."
"Jangan terlalu yakin gitu, gak baik. Tetap harus waspada dan hati-hati, karena kita gak pernah tau isi hati orang itu gimana."
"Iya." balas Luna cuek.
"Kamu gak kangen sama putrimu? Sudah lama loh kalian gak ketemu "
"Kangen sih, tapi biarlah Diana sama Papanya lebih dulu. Karena kalau sama aku, takutnya malah aku abaikan karena aku sibuk sama pernikahanku."
"Lagian besok Diana mau ikut papanya "
"Kemana?"
"Ke tempat kakeknya."
"Oh di rumah itu?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Di Dubai."
"Hah?" Lintang kaget mendengarnya.
"Kenap sih kamu? Sampai segitunya?"
"Kamu yakin, baik-baik aja. Kak Ariel mau bawa Putrimu loh ke tempat yang jauh "
__ADS_1
"Yakin, yakin sekali. Lagian Mas Ariel sudah izin sama aku. Lagian mereka gak lama di sana."
"Emang berapa hari?"
"Enam bulan."
"Astaghfirullah. Dan selama itu, apa kamu gak akan merindukan putrimu?" tanya Lintang kaget.
"Kangen tapi kan biasa Vidio call, jadi masih bisa natap wajah putriku. Lagian ini sudah zaman canggih, aku bisa ngobrol berjam-jam lamanya bahkan bisa menatap wajah putriku juga. Dan misal aku kangen dan pengen ketemu langsung, Mas Ariel berjanji akan segera pulang dan gak akan lama di sana."
"Terserah kamulah Mbak."
"Lagian aku besok sudah menikah, bagaimanapun aku harus menghargai pernikahanku dan menghormati suamiku. Iya kan?"
"Tapi bukan berarti Mbak gak peduli sama Diana?"
"Siapa yang gak peduli. Diana sama Papanya, dan dia bahagia. Lalu dimana letak ketidak pedulian aku?" tanyanya dengan nada meninggi.
"Tapi Mbak seakan ingin lepas tangan, Mbak terlalu fokus sama kehidupan dan kebahagiaan Mbak, sampai Mbak mengabaikan jika Mbak itu Ibu Yang punya anak satu."
"Lalu maumu aku harus gimana? Apa saat malam pertama, aku harus mengajak putriku untuk melihat apa yang aku dan Mas Dion lakukan."
"Ya gak gitu juga Mbak. Tapi ya gimana ya, jangan lepas tangan gitulah "
"Keknya kamu itu sama kayak Ayah deh. Apapun yang aku lakukan, selalu salah di mata kalian."
"Gak gitu. Aku cuma ngingetin aja sesama saudara. Aku gak ingin Mbak menyesal di kemudian hari."
"Buat apa menyesal. Aku gak menelantarkan putriku. Dia bersama Papa kandungnya. Dan seharusnya Mas Ariel senang, karena bisa bersama dengan Diana adalah impiannya lebih dulu. Malah Mas Ariel berharap jika Diana itu bisa selalu bersamanya. Dan Diana pun juga begitu, ia lebih senang bersama Papanya ketimbang aku, Mamanya sendiri. Dan aku membantu mereka berdua, Diana yang pengen terus bersama Papanya, dan Ariel yang pengen terus bersama putrinya."
" Terserah Mbak Luna ajalah. Aku mau keluar dulu." Lintang memilih keluar dari pada harus berdebat dengan saudara kandungnya itu.
Sedangkan Luna, ia menangis setelah kepergian adiknya itu.
Ia menangis karena ia merasa jika keluarganya saat ini berpihak pada mantan suaminya. Bukan hanya putrinya, tapi juga adik dan kedua orangtuanya. Mereka seakan kompak ingin menyudutkannya, menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.
Bahkan Ayahnya pun selalu mengungkit-ungkit kebaikan Ariel saat masih menjadi suaminya.
Padahal di sini, dirinyalah korban atas apa yang di lakukan oleh Ariel di masa lalu. Tapi kenapa orang-orang terdekatnya yang tadinya memihak padanya, kini seakan berbalik arah menyerangnya.
Sebenarnya apa yang terjadi di sini
Dan salahkah jika dirinya ingin bersama dengan laki-laki yang ia cintai. Laki-laki yang selalu ada untuknya di saat dirinya berada di saat saat terpuruk.
Kenapa di saat ia ingin membuka lembaran baru, ada aja ujian yang harus ia hadapi. Cobaan demi cobaan seakan datang silih berganti
__ADS_1
Kadang Luna lelah dan ingin menyerah. Tapi sayangnya, ia tidak bisa pasrah gitu aja dan membiarkan kebahagiaannya terenggut sekali lagi.
Ia harus memperjuangkan apa yang bisa membuat dirinya bahagia walaupun dirinya tau, akan ada banyak hati yang terluka karena kecewa akan pilihannya