Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Pertengkaran Sengit Di Pagi Hari


__ADS_3

Keesokan harinya, Laras bangun jam lima pagi, Ia segera olah raga di depan rumahnya sambil dengerin musik agar semakin semangat olah raganya. Setelah hampir sejam, dia olah raga dan bajunya sudah basah oleh keringat, barulah Laras istirahat sambil bermain Hp di depan rumahnya. Namun tak lama kemudian, ia melihat ada sebuah pickup yang berhenti di depan rumahnya dengan mobil baru yang ada di atasnya.


Laras pun dengan semangat dan senyum empat lima, langsung menghampirinya.


"Maaf, numpang tanya. Apa benar ini rumah Mbak Laras?" tanyanya seorang pemuda yang turun dari mobil itu.


"Ya, benar. Saya Laras," jawabnya.


"Oh syukurlah. Ini ada kiriman dari Bapak Ariel, sepeda motor dan helm buat Mbak Laras," ujar pemuda itu sambil meminta rekan-rekannya menurunkan sepeda motornya dengan hati-hati, mereka menaruh sepeda motor itu di depan halaman rumah Laras. Helmnya juga di taruh di atas sepeda motornya. Helmnya masih bagus, dan warnanya sama kayak sepeda motor warna hitam.


"Ini surat-surat kepemilikannya ya, Mbak. Atas nama Ariel," tuturnya sambil memberikan surat-surat sepeda motor, atas nama Ariel Alfarizi Ilham. Yah walaupun Ariel memberikan sepeda motor itu buat Laras, tapi tetap saja, ia beli itu atas namanya sendiri, selain gak mau ribet ngurus ktp Laras dan agar ke depannya jika ada terjadi sesuatu, Ariel bisa bertindak.


Laras mengambilnya dan melihat isi surat itu.


"Oh ya, ini kunci sepeda motornya." Pemuda itu juga memberikan kunci sepeda motor ke Laras.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama. Dan tolong tanda tangan di sini ya," ucapnya sambil memberikan dua lembar kertas. Laras pun menganggukkan kepalanya, lalu ia tanda tangan, setelah itu, pemuda itu menyobek kertas itu dan memberikan kertas yang putih ke laras, sedangkan yang warna pink, tetap dibiarkan sebagai tanda bukti saat laporan nantinya.


"Baik, kami permisi dulu."


Dan setelah itu, pemuda itu pun pergi, namun sebelum pergi, ia juga menyempatkan waktu buat foto Laras yang kini menghampiri sepedanya. Foto itu juga nantinya sebagai bukti kalau barang sudah diterima ke penerima dengan selamat tanpa ada cacat.


Setelah mobil pick up itu pergi, Laras membuat beberapa plastik yang menempel di sepeda motornya lalu mencoba sepeda motor itu.


"Aku gak nyangka akhirnya punya sepeda motor sendiri," gumam Laras senang.

__ADS_1


Melihat jam sudah lewat dari jam enam lewat, Laras segera masuk rumah dan mandi. Kali ini ia hanya mandi sebentar, lalu pakai baju, buat jus buah sebentar, setelah selesai minum jus buah, baru ia menyisir rambut, pakai make up dan lanjut menyemprotkan parfum di bajunya. Setelah memastikan dirinya cantik, ia pun segera mengambil tasnya dan hp dan dompetnya ia masukkan ke dalam tas agar tak ktinggalan.


Tak lupa surat-surat sepeda, ia taruh di bawah baju agar tak hilang. Ia hanya membawa stnk nya saja. Untungnya Laras juga sudah punya sim, karena dulu ia pernah buat sim di kampungnya dan saat ini, simnya sangat berguna karena ia akan mengendarai sepeda momtornya kemana-mana tanpa ada takut kena tilang.


Laras mengunci pintunya dari luar dan menaruh kuncinya dalam tas. Lalu ia segera berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor dan helm baru. Sepanjang jalan ia terus tersenyum karena merasa bahagia, karena punya sepeda motor sendiri, dan lebih bahagia karena yang membelikan itu Ariel, sosok yang sangat ia kagumi. Walaupun ia sadar Ariel itu siapa, namun Laras tetap mengagumi ketampanannya, kekayaannya dan kebaikannya. Walaupun kadang cuek dan dingin, namun entah kenapa kadang malah itu yang membuat Ariel semakin tampak memukau.


Sedangkan di tempat yang beda, Ariel sudah menerima kabar kalau sepeda motor dan helmnya sudah di terima oleh Laras.


"Siapa, Mas?" tanya Luna.


"Ini sayang dari toko dealer."


"Toko dealer, dealer mobil?" tanya Luna memastikan. Karena ia ingat tadi malam, Ariel mau beliin dirinya mobil.


"Bukan, sepeda motor."


"Bukan buat aku."


"Terus buat siapa?"


"Laras."


"Laras, apa hubunganya sama Laras?"


"Aku belikan sepeda motor dan helm buat Laras, Sayang."


"Kenapa Mas beliin Laras sepeda motor?" tanya Luna heran. Bibi Imah dan Bibi Neni yang tak sengaja mendengarnya pun merasa heran dan diam-diam mereka ikut menguping pembicaraan majikannya itu. Walaupun itu dosa dan gak boleh di lakukan, tapi ini demi menjaga keharmonisan rumah tangga majikannya itu. Jadi mereka harus tau.

__ADS_1


"Aku kasihan aja sama dia."


"Hanya kasihan, bukan karena Mas mulai suka sama Laras."


"Kok kamu malah nuduh Mas gitu, yank?"


"Mas itu berubah mendadak. Dan perubahaan Mas itu tidak normal. Bukannya aku gak suka, tapi jujur aku merasa ada janggal di sini. Dari Mas yang tiba-tiba beliin aku terang bulan, ngizinin aku makan apa aja yang aku suka, bisa pergi kemana aja, dan bahkan Mas juga mau beliin akuĀ  mobil dan menyediakan aku sopir, semuanya mendadak hanya dalam semalam. Kenapa, Mas? Apakah ini alasan Mas berubah?!" tanya Luna tersenyum kecut.


"Kamu gak suka dengan apa yang aku lakukan tadi malam?"


"Bukannya aku gak suka, tapi aku merasa ini gak masuk akal. Mas berubah dan paginya aku langsung dapat kabar yang mengejutkan. Mas beliin Laras sepeda motor dan helm tanpa bilang ke aku dulu, tanpa menunggu persetujuan aku. Apakah aku sudah gak berharga di matamu Mas, apakah pendapat aku sudah tak lagi berarti di sini?" tanya Luna dengan setetes air mata yang ikut keluar.


"Aku belikan Laras sepeda motor juga itu karena kamu, yank," teriak Ariel kesal. Karena dari tadai Luna terus menuduhnya, padahal ia tak pernah mengkhianati Luna, jangankan melakukannya, bahkan memikirkannya enggak. Bagaimana ia bisa berpaling jika hati dan cintannya hanya untuk Luna seorang.


"Kenapa aku?" tanya Luna dengan nada rendahnya. Ia tak lagi menggunakan nada tinggi.


"Kamu nyuruh aku buat nganter Laras. Dan aku juga kasihan sama dia karena saat pulang kerja, ia susah dapat taxi online, aku gak mungkin terus-terusan memberikan dia tumpangan yank. Bukannya aku gak ikhlas atau apa. Tapi aku gak nyaman jika ada lawan jenis yang menumpang di mobil aku. Aku gak suka berduaan terlalu lama sama Laras, sepanjang jalan aku sama dia. Kamu mikir gak gimana perasanku? Belum lagi jika ada yang lihat aku bareng cewek lain sedangkan aku sudah punya istri. Dan lagi dia itu sahabat kamu, kan. Jadi aku fikir, tak apa aku belikan dia sepeda motor. Uang masih di cari, yang penting aku gak lagi harus berduaan dengannya, dan memberikan dia tumpangan setiap kali pulang kerja. Dengan alasan rumahnya dekat atau satu jalan. Aku gak mau memberikan perhatian lebih ke wanita lain, selain istriku. Lagian aku belikan sepeda motor itu, karena spontan aja, dan langsugn mesen tadi malam. Tapi baru di kirim pagi ini," balas Ariel menjelaskan panjang lebar. Sebenarnya kalau orang lain yang beli, bisa nunggu lama apalagi beli cash. Tapi karena dirinya punya uang banyak, ia bisa memberikan sogokan sehiingga sepeda motornya datang lebih cepat. Dan bisa langsung di pakai.


Mendengar hal itu membuat amarah Luna mereda. Ia mulai bisa berfikir jernih lagi. Ia juga setuju dengan apa yang di lakukan oleh Ariel, uang masih bisa di cari tapi kenyamanan. Ariel pasti gak nyaman setiap kali memberikan tumpangan untuk Laras, walaupun Laras itu sahabat istrinya sendiri.


Setelah menyadari kesalahannya, Luna menatap Ariel dengan rasa bersalah.


"Maafin aku ya, Mas. A ... aku menyesal," ucap Luna gugup. Ariel menganggukkan kepala, ia mengerti. Dan ia tak akan menyalahkan Luna, karena Ariel juga merasa dirinya salah, karena tak izin dulu ke Luna untuk beli sepeda motor bahkan ia beli tanpa sepengetahuan dan persetujuan istrinya itu. Wajar jika luna menaruh curiga padanya. Wanita mana yang gak akan kefikiran aneh-aneh jika suaminya membelikan wanita lain sepeda motor dan helm baru yang harganya pun cukup mahal. Ia bahkan menghabiskan hampir tiga puluh juta, karena untuk sepedanya aja seharga dua puluh satu juta, dan helmnya seharga dua juta karena itu yang bagus. Dan sisanya buat nyogok mereka agar bisa di datangkan lebih cepat sesuai permintaaan Ariel.


"Gak papa, Sayang. Aku mengerti, aku juga salah. AKu minta maaf, karena aku mengambil tindakan spontan tanpa memberitahu kamu dulu. Aku benar-benar minta maaf."


Dan akhirnya mereka pun saling memaafkan dan tak lagi bertengkar. Kesalahfahaman tadi pun langsung diselesaikan saat itu juga agar tak berlarut-larut. Dan setelah itu, Ariel pun bersiap-siap berangkat kerja dan Luna mengantarkannya sampai depan rumah. Setelah Ariel pergi, barulah Luna masuk ke dalam. Sesungguh ada emosi yang belum reda namun ia tak bisa menyalahkan suaminya itu, karena jika ia ada di posisi suaminya, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama. Atau mungkin lebih.

__ADS_1


__ADS_2