
Setelah menitipkan Diana pada Noah, barulah Ariel segera pergi ke resto. Sesampai di sana, ia melihat resto itu benar benar sudah hangus. Tak ada yang tersisa sedikitpun. Mungkin saat Anggi memberitahu Luna, yang terbakar sekitar tujuh puluh persen saja, tapi saat Ariel yang sampai di tujuan. Itu bukan tujuh puluh persen tapi sudah seratus persen. Ludes, benar-bener ludes.
Entah kenapa, Ariel tidak merasa sakit hati atau apapun, walaupun jelas yang di depan matanya saat ini adalah hasil jerih payahnya dulu.
"Pak Arie," ucap Anggi, saat melihat mantan bosnya ada di depan resto.
"Kenapa ini terjadi?" tanya Ariel untuk mengetahui yang lebih jelasnya.
"Saya kurang tau Pak, tadi saat habis sholat shubuh, saya mendapatkan kabar kalau resto mengalami kebakaran, tapi pas saya datang gak terlalu besar, saya dan semua orang di sini berusaha memadamkannya pakai air. Namun bukannya padam, apinya malah semakin membesar. Lalu saya menelfon pemadam kebakaran, namun sayangnya, pemadam kebakaran juga lambat datangnya karena kondisinya macek di jalan, mungkin karena waktunya bersamaan dengan waktunya berangkat kerja.
Saat pemadam kembaran datang, Bangunan sudah seperempatnya, namun karena angin, jadinya semuanya di lahap, dan akhirnya seperti ini, habis tak tersisa. Tapi setidaknya tidak sampai merembet ke tempat yang lainnya." ucap Anggi mensyukuri hal yang terakhir. Ya, jika sampai merambat ke yang lain, tidak menutup kemungkinan mereka menuntut ganti rugi, yang akhirnya malah semakin banyak kerugian yang nantinya akan menimpa Luna.
Mendengar ucapan Anggi, Ariel hanya bisa menghela nafas. "Tapi gak ada korban, kan?"
"Aman, Pak. Kan anak anak masih belum pada datang. Syukurnya itu juga. Tapi hasil kemaren masih ada di dalam sekitar dua puluh juta lebih."
"Sudahlah gak papa kalau cuma masalah uang, yang penting gak makan korban."
"Tapi bagaimana nasib kami ke depannya, Pak?" tanya Anggi merasa sedih, karena harus kehilangan pekerjaannya.
"Emmm bagaimana ya, saya juga gak lagi buka usaha. Saya cuma bisa mendoakan semoga di luar sana, kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kamu kan sudah punya banyak pengalaman, biasanya yang berpengalaman dan cekatan, akan mudah mendapatkan pekerjaan nantinya. Atau nanti saya bantu carikan ke teman teman saya, siapa tau di sana ada lowongan pekerjaan buat kamu," tuturnya yang merasa tak tega melihat wajah sedih Anggi.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih." Anggi sangat bersyukur sekali di pertemukan dengan orang baik, terlebih dengan Ariel, laki-laki yang diam diam telah mencuri hatinya.
"Sama-sama."
Setelah selesai bicara dengan Anggi, Ariel pergi menemui polisi yang datang ke tkp, dan juga berbicara dengan pemadam kebakaran yang masih belum pulang dan masih ada di sana.
Cukup lama mereka berbicang, sedangkan para warga yang tadinya ada di sana, sedikit demi sedikit mulai memudar, lagian lama lama di sana juga buat apa.
Setelah selesai berbicara dengan polisis dan juga bapak bapak pemadam kebakaran, Ariel meminta semua karyawan untuk pergi ke kafe sebelah.
Ariel menyuruh mereka semua untuk memesan makanan dan minuman apapun yang mereka suka, karena hari ini Ariel akan traktir mereka. Selama mereka menikmati hidangan yang datang, Ariel memilih pergi dari sana dan mengambil uang cash di bank terdekat.
Uang itu di bagi menjadi beberapa bagian dan memasukkan ke amplop gaji.
Setelahnya, Ariel pergi ke kafe lagi dan duduk di antara mereka yang ternyata sudah selesai makan.
"Bagaimana kabar kalian semua, rasanya sudah hampir tiga tahun ya, kita tidak ketemu?" tanya Ariel, karena memang seingatnya, terakhir ketemu saat Diana masih ada dalam kandungan Luna sedangakn sekarang Diana sudah umur dua tahuanan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Alhamdulillah kabar kami baik semua," jawab mereka kompak.
"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya." tutur Ariel tersenyum ramah.
"Seperti yang kalian lihat, sekarang resto tempat kalian mencari rezeki sudah habis terbakar jago merah. Entah ini ujian atau apa, saya pun tidak tau. Tapi apapun yang terjadi, pastinya ada hikmah di balik semua ini. Saya juga tidak bisa memberikan kalian pekerjaan, namun saya usahakan akan membantu sebisa saya. Dan jika ada lowongan, saya pasti akan menghubungi kalian satu persatu. Namun jangan terpaku dengan apa yang saya ucapkan, karena saya tidak berjanji di sini, namun saya cuma bilang, akan saya usahakan mengabari kalian jika saya menemukan lowongan pekerjaan. Tapi jika boleh saya memberi saran, akan lebih baik jika kalian buka usaha sendiri. Entah buka warung makan kecil kecilan, buka toko ATK sama fotokopi, yang rumahnya deket sekolah atau yang lainnya. Yang punya bakat, manfaatkan sebaik mungkin, jangan di anggurin. Dan masalah modal, saya akan memberikan modal sepuluh juta. Sepuluh juta ini termasuk gaji kalian yang terakhir, jadi tidak perlu minta gaji lagi pada mantan istri saya. Karena saya sudah melunasi kewajibannya untuk membayar upah selama kalian bekerja di bulan terakhir ini." Ariel memberikan setiap amplop pada mereka semua.
Melihat uang sepuluh juta di depan mata, tentu mereka tersenyum bahagia.
"Manfaatkan uang itu sebaik mungkin, jangan sampai uang itu habis dan kalian belum juga dapat pekerjaan. Mulai sekarang, saya dan mantan istri saya sudah lepas tangan. Sudah tak ada lagi hak dan kewajiban kalian, begitupun dengan saya dan mantan istri saya." tutur Ariel ramah tapi ada tegasan di setiap kata katanya.
"Iya, Pak," jawab mereka semua.
"Baiklah, sekali lagi saya ucapkan banyak banyak terima kasih atas kerjasamanya selama ini, terima kasih karena tanpa bantuan kalian, mungkin resto itu tidak bisa bertahan sampai sekarang. Terima kasih sekali lagi," tutur Ariel dengan tersenyum tulus pada mereka semua.
Setelah ngomong panjang dan berpamitan, Ariel langsung pulang, tak lupa sebelum pulang, ia melunasi semua pesanan mereka.
Saat dalam perjalanan, hpnya berbunyi lagi. Luna menelfon.
Ariel pun langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Lun."
"Waalaikumsalam, Mas. Bagaimana keadaan di sana." tanya Luna.
"Emang apa yang Mas rasakan."
"Sepertinya, resto ini di bakar oleh seseorang."
"Benarkah?'
"Ya, tapi ini hanya perasaanku saja, dan belum tentu benar."
"Jika apa yang Mas rasaksan itu benar, sungguh keterlaluan orang yang sudah tega membakar restoku," ucap Luna dengan nada geram.;
"Kira serahkan semuanya pada polisi, aku harap dalam waktu dekat, polisi sudah bisa menemukan fakta yang sebenarnya."
"Makasih ya, Mas. Aku gak tau harus minta bantuan siapa lagi kalau bukan sama Mas Ariel."
"Santai aja, selama aku bisa bantu, pasti aku bantu."
__ADS_1
"Masalah karyawan gimana, Mas?"
"Aku sudah memberikan mereka pesangon sepuluh jutaan per orang. Jadi kamu tidak perlu menggaji mereka dan memberikan mereka pesangon lagi."
"Se ... sepuluh juta?"
"Iya."
"Itu artinya Mas mengeluarkan uang seratus liima puluh juta?"
"Iya."
"Nanti aku ganti uangnya, Mas."
"Enggak perlu. Anggap aja ini bantuan kecil dari aku, lagian aku tidak mungkin membiarkan Mamanya putriku merasa kebingungan sendiri."
"Hmm, aku emang sendirian. Walaupun aku punya suami, dia tidak mau bantu sama sekali."
"Enggak boleh seudzon. Kita harus berfikir positif, dia mungkin bukan tidak mau bantu, tapi pasti ada acara lain yang menurutnya harus ia periortaskan."
"Emang apa yang lebih penting dari pada aku?"
"Dia punya perusahaan besar, Lun. Dia gak bisa gegabah seperti orang lain. Kalau dia sampai salah langkah, kerugiannya bukan main. Kalau sampai gulung tikar, akan ada ratusan orang yang di phk besar besaran. Jangan meremehkan suamimu, kamu belum tau bagaimana dunia bisnis. Dunia bisnis itu kejam, persaingan ketat, harus pintar pintar mencari klien, dan jika sudah nemu, harus pintar pintar, jangan sampai dia goyah dan pindah haluan. Berfikirlah dengan tenang dan coba fahami suamimu."
"Tapi dulu, sesibuk apapun kamu, kamu berusaha untuk memperioritaskan aku." ucap Luna.
"Aku dan suamimu itu beda, dulu aku cuma punya usaha kecil, yaitu resto. Dan selebihnya aku main saham yang tidak setiap hari harus ke kantor, aku cuma datang misal ada rapat pemegang saham dan rapat penting. Hanya itu. Berbeda dengan suamimu, yang punya perusahaan besar. Jangan samakan aku dengan dia, karena jelas aku dan suamimu berbeda jauh. Aku bahkan belum tentu sanggup jika ada di posisinya."
"Tapi Mas .... "
"Sudahlah, itu kan pilihanmu.. Jangan mempersulit dirimu sendiri, jangan dikit dikit ngeluh. Dulu kamu punya suami aku, dirimu ngeluh, gara gara aku aku melarang kamu keluar sendirian dan makan makanan gak sehat. Padahal aku melakukan itu demi kebaikan kamu. Aku juga selalu ada buat kamu, dan selalu memenuhi keinginan kamu. Itu pun aku selalu salah di mata kamu. Sekarang kamu dapat suami yang tidak mengekang kamu, kamunya juga ngeluh, hanya gara gara dia sibuk. Kamu tidak boleh egois, Lun. Setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangan masing masing, tidak ada yang sempurna. Kamu juga sebagai manusia, pasti punya kekurangan, hanya saja kadang pasanganmu memilih diam dan tidak koar koar. Cobalah untuk mengerti pasanganmu, mau samspai kapan kamu bersikap egois dan selalu merasa dirimu benar. Berkacalah, apakah kamu sudah jadi wanita sempurna untuknya, jangan karena keinginan kamu tidak di kabulkan, lalu kamu langsung membicarakan keburukan suamimu. Jika sampai dia tau, kamu ngeluh kayak gini ke mantan suamimu, bagaimana perasaan suamimu itu?" omel Ariel panjang lebar, ia tidak suka dengan cara Luna yang suka mengeluh. Dia selalu merasa dirinya yang paling menderita, dia selalu merasa dirinya yang paling benar, padahal dirinya begitu egois dan selalul bikin orang kesal.
"Maaf, Mas." Luna tau, jika Ariel marah. Untuk itu, ia memilih diam dan tidak lagi mengeluh.
"Iya sudah aku matikan dulu, aku lagi nyetir soalnya."
"Iya, Mas."
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Entah kenapa melihat sikap Luna yang seperti ini, Ariel malah jadi infil sendiri, ia sepertinya harus bersyukur tidak mempunya istri seperti Luna yang suka ngeluh dan suka menghakimi seseorang tanpa tau fakta yang sebenarnya, apalagi menjelek jelekkan suaminya sendiri, sungguh Ariel makin gak suka sama wanita yang dulu pernah ia cintai itu.