
Malam harinya, Luna dan Laras makan malam berdua, karena Ariel belum kunjung datang. Sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni makan di belakang, sebenarnya Luna seringkali mengajak mereka makan bersama saat suaminya gak ada, hanya saja Bibi Imah dan Bibi Neni menolaknya karena mereka merasa tidak pantas makan satu meja dengan Luna, sang majikan.
"Lun, emang suamimu kapan datangnya?" tanya Laras sambil menikmati hidangan malamnya. Seumur-umur dia gak pernah makan enak, kecuali di sini, di rumah Luna. Lalu bagaimana mungkin Laras bisa melepaskan semuanya ini, yang membuatnya seperti seorang ratu.
"Aku gak tau, Ras. Karena suamiku pulangnya emang suka telat, dan gak nentu jam berapa. Emang kenapa? Perasaan kamu nanya suamiku terus?" ujar Luna tersenyum ke arah Laras. Sedangkan tanpa sepengetahuan mereka, Bibi Imah dan Bibi Neni mendengarkan percakapan mereka. Walaupun mereka makan dalam diam, namun telinga mereka fokus mendengarkan obrolan majikannya dan sahabat majikannya itu.
"Aku cuma ingin nanya pekerjaan aja kok, Lun. Aku ingin secepatny bisa bekerja, bagaimanapun aku ke sini kan karena butuh kerjaan, butuh uang buat aku kirim ke keluarga aku di kampung dan untuk biaya hidup aku," sahutnya tersenyum.
Laras pun mengangguk-anggukkan kepala. Mencoba untuk memahami apa yang dirasakan oleh Laras.
"Mungkin suamiku pulang malam. Kalau emang mau ketemu suamiku besok pagi aja." Namun baru aja Luna selesai ngomong, tiba-tiba suaminya datang dan berjalan ke arah Luna.
"Siapa yang mau ketemua aku, Sayang?" tanya Ariel sambil mencium kening Luna di depan Laras.
Melihat tampilang Ariel, membuat Laras tercengang. Pasalnya Ariel seperti laki-laki yang ia idam-idamkan, walaupun Luna sering mengirim foto dia dan sang suami, namun bertemu langsung kayak gini membuat Laras benar-benar terpanah.
"Laras, Sayang. Dia sahabatku," sahut Luna sambil melihat ke arah Laras.
"Oh ya sudah nanti aja, aku mau mandi dulu," ucap Ariel tanpa melihat ke arah Laras.
"Mas gak makan dulu?" tanya Luna.
"Mas sudah makan tadi sama rekan bisnis, Mas. Jadi masih kenyang, kamu selesaikan makannya aja dulu. Mas mau ke kamar, pengen cepat-cepat mandi dan ganti baju." Tanpa menunggu jawaban Luna, Ariel langsung pergi dari sana. Menenteng tas hitamnya menuju kamar, tampilan Ariel emang sedikit berantakan, namun bukannya terlihat jelek dan kusut, tapi malah terlihat tampan berkharisma.
"Kamu kenapa, Ras. Lihat suamiku sampai segitunya?" tanya Luna melihat Laras yang terus menatap suaminya, membuat Luna sendiri menjadi risih.
"Ah enggak, aku cuma sedikit bingung aja. Kenapa suamiku kayak model yang lagi naik daun itu, siapa ya namanya? aku lupa," balas Laras berusaha menutupi groginya.
"Oh, Aldo Aditama itu?" tanya Luna.
__ADS_1
"Iya," jawab Laras antusias.
"Hemm kamu ada-ada aja. Aku ke kamar dulu ya," ucap Luna setelah menyelesaikan makannya. Laras pun menganggukkan kepala.
Laras melihat Luna yang tengah berjalan menuju kamar utama, melihat itu, lagi-lagi Laras merasa iri dan cemburu. Ia merasa Luna sangat beruntung sekali, mempunyai suami super tampan, perhatian, dan mempunyai kekayaan yang berlimpah, diperlakukan seperti seorang ratu dan bisa beli apa aja yang dia mau.
"Andai aku yang jadi Luna, betapa bahagianya hidup aku," gumam Laras dengan suara kecil. Namun sayangnya suara itu masih terdengar oleh Bibi Imah yang ada di sampingnya untuk membersihkan meja makan karena makan malam sudah selesai, hanya saja, Laras belum juga beranjak dari tempat duduknya dan malah termenung. Bibi Imah seakan tidak peduli, ia tetap membersihkan meja itu setelah melihat Luna selesai makan dan berjalan ke arah kamarnya.
Namun, saat ia tengah menata piring kotor, ia malah mendengar gumaman Laras yang membuat dirinya shok. Melihat itu, Bibi Imah mengepalkan tangannya. Dari tadi, Bibi Imah mendengar obrolan mereka dan melihat dengan jelas, bagaimana Laras menatap majikannya dengan tatapan kagum dan tatapan seperti ingin menguasai Tuan Ariel.
Sayangnya Bibi Imah dan Bibi Neni gak akan membiarkan itu terjadi. Mereka akan membantu Luna untuk menyelamatkan rumah tangganya. Sebenarnya mereka menyayangkan Luna, kenapa harus membawa orang luar untuk memasuki istananya. Walaupun dia adalah sahabatnya, namun tetap saja sebagai istri, seharusnya Luna tak boleh membiarkan itu terjadi.
Tapi semua sudah terjadi, Bibi Imah dan Bibi Neni tak bisa terlalu menyalahkan sikap Luna yang terlalu baik dan gampang di bodohi, untuk itulah, biarkan Bibi Imah dan Bibi Neni yang membantu Luna untuk bisa menyingkirkan para pelakor.
Melihat Bibi Imah yang tengah beres-beres, membuat Laras mendengus. Ia langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar.
Sedangkan di kamar yang lain, Luna tengah menyiapkan baju untuk suaminya yang tengah mandi. Sambil nunggu suaminya selesai mandi, Luna memainkan hpnya.
"Sudah dari tadi, Mas," jawab Luna tersenyum. Ia menaruh Hpnya di meja dan melihat ke arah suaminya. Ariel emang tampan, dia juga mapan. Luna juga sadar, pasti banyak wanita yang ingin mendekati Ariel, namun ia percaya selama Ariel tak meladeni mereka, tetap setia padanya, dan tak membuka pintu buat mereka masuk ke dalam kehidupannya, maka Ariel gak akan selingkuh dan menghancurkan pernikahan yang mereka jalani saat ini.
Luna juga sudah berusaha jadi istri sholehah, istri penurut dan selalu menjaga kecantikannya dan postur tubuhnya hanya demi suaminya. Tapi misalkan suatu saat suaminya berpaling, maka bukan salahnya. Tapi suaminya yang gak bisa menjaga hati dan kesetiaannya serta kepercayaan yang dia berikan.
"Ini bajuku?" tanya Ariel melihat baju yang ada di atas kasur.
"Ya," jawab Luna. Ia mengambil baju itu dan membantu suaminya memasangkan bajunya. Lalu setelah itu, Luna mengambil sisir dan menyisiri rambut suaminya.
"Sini handuknya." Luna mengambil handuk yang basah itu dan menaruhnya di hanger. Sedangakn Ariel, ia memasang CD dan sarung.
"Aku sholat dulu," ujar Ariel dan Luna pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sambil menunggu suaminya sholat, Luna melanjutkan memainkan HPnya.
"Yank, sahabatmu itu mau ngomong apa sama aku?" tanya Ariel yang sudah selesai sholat.
"Pekerjaan, Mas," jawab Luna sambil fokus menatap layar hpnya
"Kalau suami ngomong, taruh dulu hpnya."
"Iya." Luna menaruh kembali hpnya,
"Kan Mas sudah bilang, dia nanti bisa kerja di resto Mas. Emang ada lagi?"
"Kayaknya dia pengen ngomong langsung gitu."
"Aku males, besok suruh dia datang aja di Resto kita. Biar nanti aku memberitahu menajer di sana untuk menerima sahabatmu kerja di sana."
"Iya, aku bukannya gak mau ngomong sama sahabat kamu, tapi kayak risih aja. Kalau bisa, mending kamu kasih uang aja buat dia untuk kos. Aku mending kehilangan uang, ketimbang rumah kita nantinya yang ada masalah, bukan apa-apa. Aku ini laki-laki, godaanku ini perempuan. Apalagi aku cukup mapan, banyak wanita yang akan datang untuk menarik perhatianku. Bukan mau seudzon, tapi lebih baik mencegah dari pada mengobati. Bagaimanapun aku gak mau mengkhianati kamu dan bertengkar untuk masalah sepele, jadi aku harap kamu mau mengerti aku," ujar Ariel menjelaskan.
"Baiklah, biar besok aku yang akan ngomong sama dia."
"Aku juga, besok habis shubuh harus keluar kota selama tiga hari."
"Ngapain?"
"Ada rapat di sana, selama aku gak ada, kamu gak boleh keluaran loh. Harus tetap diam di rumah dan tetap jaga pola makan dan olah raga. Aku emang suka lihat tubuh kamu langsing kayak gini, tapi aku jauh lebih suka jika lihat kamu sehat dan tak gampang sakit. Percayalah, apapun yang aku lakukan itu demi kebaikan kamu sendiri," ujar Ariel dan Luna pun mengiyakan.
"Bagaimana kalau kita .... " belum selesai Ariel bicara, ia langsung membuat Luna barbaring di atas tempat tidurnya. Ia mulai mencum bu Luna hingga Luna men de sah. Dan Ariel yang mendengar hal itu pun merasa semakin semangat, ia membuka CD dan sarungnya dan mulai melakukan ibadah bersama sang istri.
Sedangkan di kamar yang lain, Laras bingung mau ngapain. Ia keluar untuk menemui Luna, namun saat sampai di depan pintu, ia malah mendengar suara yang menjijikkan. "Sialan," gumamnya. Ia pun berbalik badan dan langsung kembali ke kamar.
__ADS_1
Memang Luna lupa matikan peredam suaranya, karena inii masih jam delapan malam, siapa yang akan menyangka jika Ariel akan meminta jatahnya jam segini. Biasanya juga tengah malam atau di pagi hari.