
Luna dan Dion menuju hotel bintang lima. Sepanjang jalan Luna hanya diam aja, perkataan Laras tadi membuat dugaannya semakin kuat, entah kenapa rasa gugup yang Laras perlihatkan membuat Luna yakin, bahwa Laras menyembunyikan sesuatu darinya. Ia kenal Laras sudah lama, ia tahu bahwa tadi Laras sudah berbohong padanya.
Dion hanya fokus menyetir, ia gak tau apa-apa. Jadi ia gak akan ikut campur, selain dirinya hanya seorang sopir, dirinya juga termasuk orang luar. Dan haram hukumnya orang luar mengurus rumah tangga orang lain. Kecuali jika Luna membutuhkan bantuan darinya.
"Mas, nanti ikut aku masuk ya. Aku gugup banget soalnya," pinta Luna. Dion pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Siap, Non."
Lalu setelah itu, Dion memarkirkan mobilnya di parkiran hotel. Lalu dia membukakan pintu belakang. Luna pun turun, ia menghela nafas beberapa kali untuk meredakan rasa gemuruh di hatinya. Lalu setelah itu, ia mulai berjalan dengan wajah tegak, Dion berjalan di belakangnya.
Luna menuju lobi dan ia berjalan ke arah resepsionis. Resepsionis itu pun menyapa dan menyambut kedatangan Luna dan Dion dengan ramah. Luna pun membalas tak kalab ramahnya.
Lalu Luna mengeluarkan kertas cek in hotel milik suaminya.
__ADS_1
"Mbak, apa bener ini dari hotel ini?" tanyanya sambil memperlihatkan kertasnya.
"Iya benar, Bu."
"Apa boleh saya tau dia datang sama siapa?"
"Kalau itu saya kurang tau, Bu. Tidak terlalu memperhatikan karena kemaren banyak orang keluar masuk."
"Apa dia memesan pakai KTPnya?" tanyanya seperti orang bodoh.
"Oh gitu, misal dia bawa pasangan, Apakah pasangannya juga harus menunjukkan KTP nya?"
"Enggak perlu, Bu. Cukup yang memesan kamar aja."
__ADS_1
"Mbak sebenarnya yang memesan tiket ini suami saya, dan kemaren itu dia menghilang bersamaan dengan sahabat terdekat saya. Saya ingin mencari bukti perselingkuhan mereka. Apakah saya bisa lihat CCTV saat dia datang kemari?" tanya Luna pelan. Dion yang mendengar itu sangat kaget. Tak menyangka, secantik Luna aja di selingkuhi. Emang apa kurangnya Luna. Walaupun Dion baru bertemu Luna, tapi ia yakin Luna orang baik. Bukan hanya cantik di wajah aja tapi juga hatinya. Tapi kenapa suaminya tega nyelingkuhi Luna, emang apa yang dicari suaminya itu dari perempuan lain.
"Maaf, Mbak. Saya gak bisa memperlihatkannya kecuali ada perkara hukum, itupun harus izin ke atasan. Soalnya di sini kami menjaga ketat semua provasi pelanggan kami. Gak bisa sembarangan," ucap Mbak Resepsionis menjelaskan dengan ramah.
Mendengar hal itu, Luna langsung lemas. Padahal itu satu-satunya bukti untuk ia tau. Apakah suaminya pergi sama Laras ke hotel ini apa gak. Mengingat kemaren mereka hilang bersamaan. Di gambah kertas cek in ini, dan lagi tadi suaminya buru-buru pergi. Laras juga terlihat sangat gugup. Luna yakin mereka pasti ada apa-apa.
"Iya sudah Mbak, gak papa. Makasih ya, Mbak.
"Sama-sama, Bu."
Setelah itu Luna pun pergi dari sana. Dion hanya bisa mengikutinya dari belakang. Entah kenapa ia ikut merasakan sakit melihat wajah sendu Luna. Andai Luna istrinya, tak mungkin ia membuat Luna sedih seperti ini.
Padahal Luna itu seperti berlian, cantik, body bagus, kulit putih mulus, sholehah, ramah pada semua orang, menghormati orang tua, baik, gak pelit, orangnya juga kayak bidadari. Masih aja diselingkuhi.
__ADS_1
Dion semakin penasaran ingin lihat Laras secara langsung, wanita secantik apa dia sampai bisa ngalahin Luna seperti ini. Akankah Laras seperti bidadari, sampai membuat Ariel berpaling.
Entahlah, Dion hanya bisa menerka-nerka.