
Sejak Diana tinggal di apartemen Ariel, Diana sangat lahap sekali makan. Ariel berusaha untuk menjadi ayah yang baik untuk Diana. Dia sendiri yang mengatur jadwal kapan Diana harus minum susu, minum air, makan MPASI, bisquit dan makanan yang emang boleh di konsumsi oleh anak balita.
Bahkan Ariel sendiri juga yang membuat MPASI nya dengan bahan-bahan berkualitas tinggi, cukup mahal tapi tak apa. Ariel ingin memberikan yang terbaik buat putrinya.
Sedangkan Ariel, ia makan makanan dari luar. Ya, dia terpaksa pesan secara online, karena ia gak bisa masak sambil mengurus Diana. Kalau cuma buat MPASI dia bisa, tapi tidak dengan memasak untuk dirinya sendiri. Toh di apartemen ini ada yang resto di lantai dasar, tinggal pesan, setengah jam kemudian pasti akan di antar ke apartemennya. Selama ada uang, semuanya pasti akan mudah.
Setiap hari Rabu, Luna akan datang ke apartemen Ariel untuk ikut memperiksakan kondisi Diana. Alhamdulillah makin ke sini keadaan Diana semakin sehat, terlebih Diana semakin subur tapi masih tahap normal, tidak sampai berlebih.
Awalnya Luna ingin membawa Diana pulang, tapi sayangnya, setiap kali di gendong Luna, Diana akan menangis dan memanggil Papanya berulang-ulang. Dan akhirnya Luna menyerah, dia membiarkan putrinya tinggal bersama Papanya. Ia beranggapan jika Diana mungkin masih kangen sama Papanya sehingga setiap kali di ajak pulang, Diana pasti nangis dan mengambuk pada Luna
Akhirnya Luna selalu pulang dengan tangan kosong. Ariel pun meminta maaf, karena ia juga tidak bisa memaksa putrinya untuk ikut Luna, selama Diana tidak mau. Takutnya kalau di paksa, malah memperburuk keadaannya dan Ariel gak mau itu terjadi. Toh jika Luna kangen, dia bebas datang ke apartemennya.
Setiap pagi, setelah selesai mandi, dan sarapan. Ariel akan mengajak Diana jalan-jalan ke taman yang emang di sediakan oleh pihak apartemen. Di sana Diana bisa main apa saja yang dia mau. Ariel juga mengajari bagaimana cara jalan yang benar.
Dan benar saja, kini Diana bisa melangkah walaupun pada akhirnya ia akan jatuh jika tidak berpegangan. Namun tidak sampai membahayakan dirinya. Ariel menjaga Diana dengan sangat ketat sekali, ia bahkan tidak akan main hp selama menemani Diana bermain. Kecuali Diana sudah tidur, barulah dia mau buka hp dan membalas pesan yang masuk.
Di apartemen juga penuh dengan mainan Diana. Ariel emang sengaja membelikan banyak, agar Diana bisa memilih mainan apa yang dia inginkan. Toh dia kerja juga buat putrinya, jadi ia rasa tidak masalah jika harus memanjakan Diana. Anggap saja, sebagai penebus rasa bersalah juga karena sejak Diana hadir dalam perut Ibunya sampai Diana lahir dan umur delapan bulan, dirinya gak ada di sampingnya. Jadi, selama Diana ada padanya, Ariel ingin melakukan apapun yang ia bisa untuk membahagiakan putrinya.
Tak terasa sebulan sudah Diana tinggal satu atap dengan Ariel di apartemennya. Usia Diana kini sudah jalan sembilan bulan lebih. Sesekali, Ariel juga akan mengajak Diana untuk pergi ke panti asuhan dan berbagi rezeki dengan mereka. Ariel ingin mengajarkan Diana untuk berbagi kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung. Kadang jika ada pengajian, Ariel akan membawa Diana ke sana. Untungnya, Diana tidak rewel selama di bawakan susu dan camilan khusus balita.
__ADS_1
Bahkan sampai pengajian selesai pun, Diana tidak menangis sama sekali. Dan itu membuat Ariel bangga pada putrinya, putri kesayangannya.
Saat Ariel tengah bermain dengan putrinya, tiba-tiba bell apartemen berbunyi. Ariel pun membawa Diana untuk membuka pintu. Walaupun sebentar, Ariel tidak bisa untuk membiarkan Diana sendirian, karena itu sangat berbahaya mengingat Diana saat ini sangat gesit sekali. Apalagi jika sudah merangkak, dia akan ke sana kemari, jika sampai Ariel lengah, bisa jadi Diana akan jatuh atau akan melakukan hal hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri.
Walaupun Ariel sudah menjauhkan barang-barang yang bahaya, tetap saja dia harus esktra hati-hati sekali.
Saat Ariel membuka pintunya, ternyata Luna yang datang.
"Masuk, Lun," ucap Ariel, yang tampak sudah biasa aja, tak ada cinta yang menggebu-gebu seperti dulu lagi.
"Iya," jawab Luna sambil masuk ke apartemen Ariel dan duduk di sofa. Setiap kali masuk ke apartemen Ariel, maka Luna akan melihat mainan di mana-mana. Sebenarnya bukan Ariel tidak pernah membersihkannya, ia bahkan sudah beberapa kali membersihkan mainan setiap kali Diana tidur. Hanya saja saat bangun, Diana akan mengambilnya lalu membawanya ke sana kemari, lalu di taruh gitu aja, dan mengambil mainan yang lain.
Ariel juga seringkali mengajari Diana untuk bicara dengan benar, mengajari Diana untuk menulis walaupun hasilnya hanya coretan yang tidak jelas, yang penting Diana terbiasa memegang pensil dan pulpen. Setiap hari, di apartemen Ariel juga memutar ayat-ayat suci Al Qur'an, agar Diana terbiasa mendengarnya sedari dini. Bagaimanapun Ariel harus mengajari Diana ilmu agama, karena dengan bekal ilmu itulah yang kelak akan menuntun Diana ke jalan yang benar, agar ia tidak salah jalan seperti dirinya dan juga ibunya.
Dengan ilmu agama, InsyaAllah, Diana bisa memilah milih mana yang baik dan mana yang salah. Ia ingin Diana seperti putri temannya yang ia kenal di Dubai. Anak umur tiga tahun sudah lancar mengaji dan menghafal surat-surat pendek. Sudah mengerti sholat dan tau kapan harus sholat.
Dan ia berharap di umurnya yang lima tahun nanti, Diana sudah mengaji dengan benar, sudah tau doa doa dalam sholat, dan yang lainnya. Ariel ingin memperiortiakan ilmu agama dari pada ilmu dunia, karena baginya, Ilmu agama jauh lebih penting dari pada ilmu dunia.
(Note, jangan sampai berfikir, masak anak umur segitu sudah bisa ngaji , sholat dengan benar. Percaya gak percaya, anak dari sepupuku sendiri umur lima tahun, sudah bisa baca alqur'an dengan benar, faham tajwid, hafal surat-surat pendek, InsyaAllah pertengahan tahun 2023 akan di wisuda. Dan setelah itu, Farza akan belajar untuk menghafal ayat-ayat suci Alquran. Saat ini anaknya masih duduk di kelas TK, baru enam bulan masuk TK. Sepupuku sendiri seorang ustadzah, jadi selain ngaji di TPQ, di rumah pun juga wajib ngaji, harus setor pada ibunya setiap pulang dari sekolah dan setiap habis sholat maghrib sedangkan untuk main ada waktunya sendiri, yang penting belajar di siplin dari kecil.)
__ADS_1
"Maaf ya, aku datang lagi," ucap Luna tak enak hati.
"Enggak papa, santai aja. Oh ya, mumpung kamu di sini, aku titip Diana dulu ya. Aku mau sholat ashar dulu," ujarnya saat mendengar jam alarm sudah berbunyi, yang artinya sudah memasuki waktu sholat ashar.
"Iya."
Dan setelah itu, Ariel memberikan Diana ke Luna. Agar mereka bisa bermain bersama, sedangkan Ariel ia masuk ke dalam kamarnya dan sholat di sana.
Sedangkan Luna hanya tersenyum miris, setiap kali ia datang, Ariel selalu memasang banyak alasan agar bisa jauh darinya. Entah itu dengan alasan mau pergi ke resto karena belum makan, atau pergi ke supermarket ingin belanja, atau alasan sholat dan yang lainnya. Dan itu pasti cukup lama.
Setelah Luna mengirim pesan lewat email, pamitan mau pulang, barulah Ariel keluar dan mendatanginya.
Setelahnya, Luna akan memberikan Diana ke Ariel. Namun sebelum itu, Luna pasti akan tanya dulu, Diana mau sama siapa, sayangnya, Diana selalu mengucap kata Papa dan langsung menjulurkan tanganya minta di gendong Ariel.
Melihat hal itu, Luna lagi lagi mengalah, walaupun ia ingin Diana ikut dirinya, tapi ia gak bisa menjadi Ibu yang egois, yang hanya memetingkan dirinya sendiri. Sedangkan Luna juga tak bisa menginap di apartemen mantan suaminya, mengingat Ariel sepertinya benar-benar ingin menjaga jarak dengannya. Walaupun Ariel masih mau menyapanya, tapi tetap saja, perlakukannya sangat jauh berbeda dengan dulu.
Ya, jelas berbeda, jika dulu Ariel memperlakukan Luna dengan sangat posesif, karena dulu Luna adalah istrinya. Sedangkan sekarang, mereka hanya mantan. Ariel tidak berhak mengatur ngatur Luna ataupun mengobrol leluasa.
Ariel tak ingin menganggu hubungan Luna dengan Dion. Ia sadar diri, posisinya saat ini. Jadi, ia berusaha sebisa mungkin untuk jaga jarak.
__ADS_1