Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Masa Lalu Ariel dan Luna


__ADS_3

Setelah Noah pergi, Luna sudah gak minat menghabiskan es krimnya yang masih sisa sedikit itu, ia memilih membuang es krim itu ke tempat sampah. Rujak dan terang bulannya ia taruh di kulkas dan camilannya ia taruh di rak samping kulkas. Ia sudah gak minat untuk menghabiskan semuanya.


Setelah selesai membereskan makanan yang bercerah di kursi dan meja, Luna duduk di samping Ariel. Ia menatap Ariel yang tengah memejamkan matanya. Sedangkan Hpnya sedari tadi berbunyi, namun tidak Luna hiraukan. Karena ia tau, yang nelfon pasti Dion.


Hari ini, Luna juga sudah gak mood untuk mengangkat telfon dari Dion. Ia cuma ingin menyendiri dan merenungi kesalahannya.


"Apakah benar aku yang salah di sini?" tanyanya sambil menatap wajah Ariel.


"Seharusnya dulu aku mendengarkan kata-kata kamu kan, untuk tidak bawa Laras ke Jakarta? Seharusnya aku mendengarkan kamu kan, agar Laras tidak tinggal satu atap dengan kita. Seharusnya aku gak memaksa kamu kan, buat menerima Laras kerja di resto kita? Seharusnya aku juga tidak memaksa kamu kan, buat mengantar Laras ke resto padahal waktu itu, aku tau kamu risih tapi demi aku, kamu terpaksa melakukannya. Aku yang sudah menciptakan peluang itu buat kalian berdua. AkuĀ  yang membuat jarak kalian semakin dekat hingga membuat Laras jatuh hati dan ingin merasakan apa yang aku rasa. Aku yang tidak bersikap tegas, sehingga membuat Laras berfikir aku pasti akan menerimanya jika dia menginginkan posisi untuk menjadi istri kedua. Aku juga yang menyebabkan kamu pada akhirnya tergoda dengan segala bujuk rayunya.


Aku sadar akan kesalahan aku. Memang tidak baik ada orang ketiga di antara kita. Sama seperti halnya Mas Dion yang berada di tengah-tengah kita. Pantas dulu kamu tidak ingin jika aku sering keluar, kamu selalu meminta aku untuk menunggu kamu pulang jika memang ingin jalan-jalan. Aku fikir, dulu kamu begitu posesif. Sampai aku merasa di kurung di sangkar emas. Tapi setelah kamu menerima permintaan aku, kamu membawakan sopir buat aku, nyatanya aku malah nyaman dengannya. Aku nyaman saat mengobrol dengan dia, jalan-jalan menghabiskan waktu bersama.


Pada akhirnya, aku juga sama seperti kamu, terjebak perasaan terhadap orang lain. Bedanya, kamu gak bisa menahan hawa naf su kamu, sedangkan aku bisa. Yah, aku akui. Kelemahan laki-laki itu memang terletak pada wanita, sedangkan kelemahan wanita itu adalah uang. Entah siapa yang salah di sini. Namun aku merasa, kita semua salah. Aku salah karena sudah menghadirkan Laras di tengah-tengah kita, kamu juga salah karena tidak kuat iman. Bahkan saat aku memberikan kamu kesempatan berkali-kalli pun, kamu yang sudah terlanjur merasakan enaknya, tidak mau berhenti dan malah mengabaikan perasaan aku.

__ADS_1


Laras juga salah, sudah tau kamu suami aku, tapi dia masih menggoda suami sahabatnya sendiri. Semuanya salah dan tidak ada yang benar.


Aku juga salah karena terus mengeluh, karena merasa aku di kurung. Padahal aku tau, kamu menjaga aku.


Padahal jika dalam islam, memang sudah sepatutnya istri diam di rumah dan boleh keluar jika ada suami yang mendampinginya. Namun aku yang tidak tau diri, terus merengek, hingga akhirnya kamu tidak tega dan mengabulkannya. Kini setelah apa yang aku mau, kamu turuti. Aku malah terjebak dengan perasaan yang tidak seharusnya aku rasakan. Aku terjebak oleh mainanku sendiri.


Aku bingung gak tau harus berbuat apa? Tapi yang jelas, untuk memberikan kamu kesempatan sekali lagi, aku gak bisa. Karena kamu terlalu dalam mengecewakan aku. Andai dulu kamu berhenti saat aku mengingatkannya, saat aku memberikan kamu kesempatan, mungkin aku masih mau. Karena aku anggap jika yang sebelumnya, mungkin kamu khilaf. Tapi, masalahnya, kesempatan yang aku berikan, selalu aja kamu abaikan. Kamu seakan tidak peduli dengan peringatan yang aku katakan. Dan sekarang setelah semua ini terjadi, kamu baru menyesal. Andai aku, tidak mempermalukan kamu. Aku yakin, kamu dan Laras pasti akan semena-mena sama aku, kalian pasti akan meremehkan aku. Kalian pasti akan terus melakukan zina atau menikah diam diam di belakang aku. Kamu akan mengutamakan Laras ketimbang aku. Kamu pasti akan terus mengabaikan aku dan hanya fokus sama Laras.


Tapi entah kenapa, melihat dan mendengar penderitaan kalian pun, juga tidak bisa membuat hatiku tenang. Yang ada aku malah merasa bersalah kepada Papa Ardi dan Mama Ila. Karena mereka harus menjadi korban keegoisan aku." Luna menitikkan air mata.


"Aku tau aku berdosa, karena aku sudah menyakiti banyak orang dan durhaka sama suami, aku sudah menyebarkan aib rumah tangga kita hingga menjadi pembicaraan orang banyak. Padahal mereka juga tidak seharusnya tau permaslahan rumah tangga kita."


"Mas Ariel, aku memaafkan kamu, aku memaafkan semua kesalahan kamu dan aku harap, kamu pun mau memaafkan semua kesalahan aku. Walaupun nantinya kita berpisah, dan tidak jadi suami istri lagi. Aku harap kita bisa jadi teman baik. Dan aku harap kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak kita kelak. Kita memang gagal dalam hal pernikahan, tapi kita tidak boleh gagal menjadi orang tua," ucap Luna sambil menggenggam tangan Ariel dengan erat.

__ADS_1


Setelah Luna merasa cukup ngomong panjang lebar, ia mengambil handuk kecil dan air lalu menyeka tubuh suaminya. Ia memandikan Ariel dengan handuk yang ia pegang.


"Kamu ingat saat awal-awal kita nikah dan aku sakit. Kamu menangis sesegukan di samping aku, padahal aku cuma demam tinggi, bukan mau mati. Tapi kamu terus saja menangis sepanjang malam. Aku bahkan sampai membentak kamu karena suara tangisan kamu mengganggu aku yang lagi istirahat. Saat aku dua hari gak mandi, kamu menyeka tubuh aku seperti ini. Kamu juga rela pergi ke dapur dan bikin bubur buat aku, walaupun rasanya hambar, tapi aku rela makan dan menghabisinya karena aku tidak mau mengecewakan kamu. Bahkan kamu juga menyuapi aku dengan telaten. Kamu selalu mengingatkanku untuk minum obat, bahkan saat aku gak mau pun, kamu akan melakukan segala cara agar aku mau minum obatnya."


"Aku juga ingat saat kamu bertengkar dengan teman baik kamu. Waktu itu, Anton datang ke rumah kita untuk mengunjungi kamu dan melepas rasa kangen karena sudah hampir setengah tahun gak ketemu. Namun karena Anton melihat aku terus-terusan, kamu menjadi marah dan emosi. Bahkan kamu dan Anton saling tonjok-tonjokan hingga berakhir di rumah sakit. Sejak saat itu, kamu gak menerima tamu laki-laki karena takut ada yang ngambil aku darimu. Padahal aku gak mungkin tertarik sama cowok lain selain kamu, kan? Kamu juga melarang aku keluar, karena kamu takut aku akan di ambil sama mereka. Padahal aku bukan anak kecil, yang akan dengan mudahnya ikut mereka ataupun berpaling ke laki-laki lain. Kamu jadi parno dan suka cemburu dengan hal-hal kecil. Setelah itu sikap kamu mulai berubah, kamu seperti mengurung aku di rumah. Dan tidak boleh keluaran kecuali bareng kamu. Bahkan untukk ikut Bibi pergi ke pasar pun, kamu tidak mengizinkannya."


"Kamu juga mulai membatasi aku untuk berhubungan dengan orang lain termasuk keluarga aku sendiri. Kamu selalu hidup dalam ketakutan, takut jika aku akan pergi dari hidup kamu. Padahal aku gak akan kemana-mana dan akan terus berada di samping kamu."


"Jangankan keluarga aku, sama keluarga kamu sendiri pun kamu juga takut, takut aku akan dekat sama mereka dan melupakan kamu. Segitunya kamu takut kehilangan aku, kadang aku ingin tertawa, tapi juga sedih dalam waktu bersamaan. Ternyata di cintai terlalu dalam juga tidak enak ya, karena semua apa yang aku lakukan jadi di batasi dan serba salah."


"Awalnya sih aku biasa aja, namun lama kelamaan aku mulai bosan. Aku ingin berontak tapi juga tidak bisa. Akhirnya aku cuma bisa menurut namun di dalam hati, aku selalu aja gerundel."


Luna terus menerus membicarakan tentang masa lalu sambil menyeka tubuh Ariel. LUna berharap dengan ia membicarakan masa lalu, Ariel mau meresponnnya, dan segera sadar.

__ADS_1


__ADS_2