
Setelah kepergian Lintang, Luna nangis meraung-raung. Bunda Naila yang tau putrinya menangis pun hanya bisa diam, biarlah ini jadi pelajaran buat putrinya di masa depan. Agar tak lagi bersikap egois, gegabah dan tak mau mendengarkan nasihat orang lain. Jangan selalu merasa bahwa dirinya yang paling benar, karena sejatinya, apa yang kita fikirkan tidak melulu berakhir menyenangkan.
Belajarlah dari pengalaman orang lain, dan minta nasihat pada orang terdekatnya yang sudah makan banyak asam garam. Karena sejatinya mereka yang sudah banyak pengalaman, tentu sedikit banyak bisa memberikan nasihat yang lebih baik dari apa yang ada dalam pikiran kita
Jangan pernah meremehkan orang lain apalagi nasihat orang tua, karena sejatinya mereka tidak akan memberikan nasihat jika mereka tidak sayang pada kita.
Luna pergi ke TPU terdekat, ia yakin Ayahnya pasti di makamkan di sana. Dengan wajah lesu, penuh dengan deraian air mata, ia berjalan dengan sedikit terseok-seok. Pasalnya ia seperti sudah tak punya tenaga, namun ia berusaha untuk kuat.
Banyak para saudara dan tetangga yang merasa kasihan dan ingin membantu Luna, namun Luna menepisnya karena kali ini ia tak ingin di ganggu oleh siapapun.
Setelah sampai di TPU, Luna langsung mengedarkan pandangannya di segala penjuru, setelah menemukan makan yang masih baru, barulah dia melangkahkan kakinya menuju makam tersebut.
Benar saja, ia melihat baru nisan bertuliskan nama Ayahnya.
Lukman Hidayatullah bin Sulaiman
Luna langsung jatuh di atas makam Ayahnya dan menangis meraung-raung.
__ADS_1
"Ayah, maafin Luna, Ayah. Luna menyesal, Luna menyesal karena tidak pernah mendengarkan kata-kata Ayah. Maaf, Ayah. Maafin Putrimu yang sering membangkang, maafin Putrimu yang selalu merasa sok paling benar, maafkan putrimu yang sangat keras kepala, maafkan putrimu yang seringkali membantah setiap kali di nasihati. Aku menyesal, sangat menyesal." Luna terus menangis. Sambil mengusap batu nisan Ayahnya.
Luna terus menyesali perbuatannya selama ini, kenapa, kenapa dirinya harus kehilangan sang Ayah, di saat dirinya bahkan belum bisa membahagiakannya.
Kenapa, kenapa Ayahnya harus pergi karena sikap keegoisannya.
Kenapa harus dirinya yang menjadi penyebab Ayahnya meninggal dunia?
Luna terus saja menangis. Badannya yang lemah karena lelah kerja berhari-hari siang malam, belum lagi nyetir berjam-jam lamanya, belum lagi perutnya yang memang belum di isi sejak kemaren, belum lagi dirinya yang tidak istirahat membuat kondisinya benar-benar memprihatinkan.
Ia kembali tak sadarkan diri, di atas makam Ayahnya.
Melihat kakaknya tak kunjung pulang, walau bagaimanapun sebagai seorang adik, ia pasti merasa khawatir. Apalagi ini sudah malam, akhirnya ia pun menyusul Luna ke TPU.
Dan benar saja, ia melihat Luna yang tak sadarkan diri. Ia pun langsung segera menggendongnya, dan membawanya ke rumah.
Luna ternyata tengah demam, wajahnya sangat pucat sekali. Lintang meminta sang Bunda untuk mengganti bajunya, lalu setelahnya itu mengompres Luna.
__ADS_1
Sedangkan Lintang, ia langsung menghubungi Mbak Salsa yang merupakan seorang dokter di puskesmas dan kebetulan, Salsa ini merupakan tetangganya. Dan rumahnya tak jauh dari sana
Setelah cukup lama menunggu, Salsa pun datang dan langsung memeriksa Luna.
"Mbak, gimana keadaan Mbak Luna?" tanya Lintang khawatir.
"Luna hanya kelelahan saja, terlebih sepertinya Luna belum makan sejak kemaren dan dalam keadaan yang banyak beban fikiran. Usahakan, setelah sadar, Luna di kasih makan bubur walaupun sedikit, dan harus istirahat yang cukup, jangan lupa untuk minum air hangat serta jangan terlalu menekannya, karena itu bisa berakibat fatal."
"Iya Mbak Salsa, terima kasih. Maaf merepotkan."
"Enggak papa, santai aja."
Setelah berbincang sebentar, Bunda Naila memberikan uang sebesar lima puluh ribu, baru setelah itu Salsa pun pulang membawa perlengkapannya lagi.
Sedangkan kini Lintang dan sang Bunda masih menatap ke arah Luna yang masih berwajah pucat. Bajunya sudah di ganti, hanya saja Luna masih belum sadar sampai sekarangpun.
"Kamu jaga Mbakmu dulu, Bunda akan bikin bubur," ujarnya. Walaupun ia kecewa dengan sikap Luna, tapi sebagai seorang Ibu yang telah melahirkannya, tentu ia tak akan tinggal diam melihat putrinya sakit
__ADS_1