Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Sikap Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Luna memilih ikut sang suami. Karena memang Luna tak ada pilihan, jika Luna memilih menetap dan tak mau ikut Dion, maka saat itu juga, Dion tak akan segan untuk mentalaknya.


Terlebih Lintang dan sang Bunda, mereka seakan meminta Luna untuk menjadi istri penurut. Mereka tak ingin, Luna terus menjadi istri pembangkang. Berapa kali pun menikah, tapi jika yang bermasalah itu Luna sendiri, maka pada akhirnya akan selalu berakhir perceraian.


Mau gak mau, suka gak suka. Luna pun akhirnya memilih untuk ikut apa kata Dion, jika dia sekali lagi berulah. Maka di pastikan, Lintang dan sang Bunda akan semakin kecewa padanya.


Sepanjang jalan, menuju Bandung. Dion dan Luna hanya saling diam, tak ada yang bicara. Dion yang masih merasa kesal, atas perdebatan tadi dan Luna yang merasa marah karena ia merasa, Dion jadi penyebab Ayahnya tiada.


Akhirnya karena saling marah dan saling kesal, mereka berdua pun mogok bicara.


Dion hanya sibuk dengan hpnya sedangkan Luna memilih diam memejamkan matanya, walaupun gak tidur.

__ADS_1


Sesampai di Bandung, kedatangan mereka tidak ada yang menyambutnya. Walaupun semua orang tau, Luna telah kembali. Mami Ocha memilih untuk diam di kamar melakukan perawatan. Sedangkan Papi Dimas, memilih diam di ruang kerja, menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan semua asisten rumah tangga, memilih bersikap biasa aja.


Ternyata bukan hanya Mami Ocha dan Papi Dimas yang kecewa, tapi semua ART di sana pun ikut kecewa. Mungkin mereka merasa jika majikan mereka tidak di hargai, karena Luna pergi dan jarang pulang hingga membuat Dion kesepian.


Bagaimanapun mereka sudah menganggap Dion seperti keluarga mereka sendiri, jadi misal Dion sedih, mereka pun ikut sedih.


Terlebih sudah berbulan-bulan mereka melihat dengan kepala mereka sendiri, bagaimana Dion seperti kehilangan semangat hidup setelah menikah.


Itulah kenapa, mereka kesal dan juga ikut kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Luna.


Seharusnya sebagai pengantin baru, mereka lagi hangat-hangatnya, mereka lagi bahagia-bahagiannya, dan seharusnya mereka lagi menikmati waktu berdua, bulan madu, pergi liburan. Bukan malah, pisah rumah, saling menyakiti satu sama lain. Ah lebih tepatnya, Luna lah yang membuat Dion sakit dan kesepian.

__ADS_1


Melihat wajah mereka yang tak enak di pandang, membuat Luna merasa tak nyaman. Dulu mereka selalu menyambut kedatangannya dengan hangat, dulu Luna dan mereka semua sangat akrab. Tapi kini, Luna merasa mereka seakan menghindarinya. Ia benar-benar merasa seperti orang asing di tengah-tengah keluarga suaminya. Dan entah kenapa, Luna tak suka dengan keadaan yang seperti ini.


Luna langsung memilih untuk naik ke atas, untuk pergi ke kamarnya sedangkan Dion, ia langsung pergi ke dapur, mengambil air dingin dan meminumnya. Ia berharap dengan air dingin itu, bisa mendinginkan hati dan otaknya yang kini lagi panas.


"Bukan pernikahan seperti ini yang aku mau," gumam Dion dengan wajah sendu. Para Art yang tak sengaja melihat wajah sedih majikannya membuat mereka berasumsi jika kesedihan Dion itu karena ulah Luna, sang istri.


Setelah cukup lama duduk, Dion langsung pergi gitu aja, ia ingin masuk kamar menghampiri sang istri, sayangnya pintunya malah di kunci dari dalam


Dion hanya bisa menghela nafas, ia pun pergi ke ruang sebelahnya yang merupakan ruang kerja, tapi di sana juga ada tempat tidurnya dan sebagian kebutuhannya juga ada di sana. Jadi, misal Luna tak membukakan pintu sepanjang malam pun, Dion tak khawatir tidur di mana. Terlebih di Mension ini, ada banyak kamar kosong. Namun ia juga tidak mungkin seenaknya menempati ruangan itu, ia tak ingin orang tuanya dan para ART tau, jika dirinya dan Luna masih pisah kamar.


Bagaimanapun Dion tak ingin mereka membenci Luna. Walau Luna sudah menyakiti hatinya, tapi tetap saja, ia tak ingin orang lain menyakiti Luna, entah secara fisik, ataupun secara mental.

__ADS_1


__ADS_2