
Sore hari Noah memutuskan untuk pulang sehingga kini hanya ada Ariel dan Diana saja. Luna sendiri masih belum balik sejak tadi siang. Dan mungkin akan datang besok pagi, entahlah.
Sampai Noah pulang, Diana juga enggan di gendong atau main sama Noah. Diana terus lengket sama Ariel dan tidak mau jauh-jauh dari Ariel.
Bahkan saat Ariel mau ambil wudhu saja, haru membawa Diana ke kamar mandi, agak kerepotan memamg apalagi dengan infus yang terpasang di tangan kiri Diana.
Namun, Ariel tidak mengeluh. Ia senang menjalani semuanya.
Menikmati waktu berdua dengan Diana, adalah hal yang paling menyenangkan. Dan ini adalah moment yang selalu ia tunggu dari dulu, sebelum Luna hamil.
Bermain bersama anak-anaknya, menghabiskan waktu bersama buah hatinya.
Saat Luna hamil, hanya Ariel dan Tuhan yang tau, betapa ia sangat bahagia mendengar kehamilan Luna. Karena memang itu yang paling ia tunggu dari dulu.
Saat Luna melahirkan, adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Karena saat itu juga, dirinya sudah resmi menjadi seorang Ayah.
Hanya saja moment itu hanya sebentar, karena setelahnya Ariel harus pergi untuk berobat. Namun kali ini, ia bisa menyentuh dan memberikan kasih sayang sepenuhnya. Jika selama ini hanya lewat doa, tapi tidak untuk sekarang, ia bisa melakukannya dengan nyata, dengan tangannya sendiri.
Lalu bagaimana mungkin ia mengeluh, yang ada ia sangat bahagia sekali.
__ADS_1
Jam delapan malam, Luna ternyata datang. Ia membawakan baju Ariel lengkap dengan celananya. Baju-baju Ariel masih ada di rumahnya Luna, jadi ia membawanya beberapa agar Ariel bisa mandi dan ganti baju.
Luna juga membawakan makan malam dan juga camilan yang di buat oleh Bibi Imah.
"Maaf ya aku lama," ucap Luna tak enak hati.
"Enggak papa," jawab Ariel sambil menemani putrinya main boneka.
"Oh ya ini baju dan semua kebutuhan kamu ada di sini. Ini juga ada makanan, minuman dan juga camilan dari Bibi," tutur Luna memberitahu.
"Terimakasih," balas Ariel biasa aja.
"Mm, salam balik buat mereka," sahutnya.
"Aku juga bawakan beberapa mainan Diana, biasanya Diana suka main ini." Luna mengeluarkan boneka dan alat masak dari dalam tasnya.
Saat Luna menaruh di depan Diana, benar saja Diana langsung memainkannya.
Ada boneka, ada alat masak, lemari mungil, ada piano kecil, hp kecil mainan yang di pencet ada bunyinya, ada juga mainan balok, dan sensory ball.
__ADS_1
"Ini semua Papa Ardi yang belikan," ungkap Luna, tak ingin jika Ariel berfikir macam-macam. Seperti memikirkan, itu pemberian Dion.
Yah, walaupun Dion juga membelikan banyak barang, namun ia tidak mungkin membawanya ke sini. Ia masih sadar diri dan tak mau bikin kehebohan.
Ariel hanya menganggukkan kepala dan melihat putrinya yang ternyata suka alat muci, mungkin karena saat di pencet, mengeluarkan cahaya dan suara..
Untungnya ini ruangan VVIP dan kedap suara, sehingga tidak akan menganggu pasien yang lain.
"Kamu makan dulu, biar Diana aku yang temani."
"Iya." Ariel langsung beranjak dari tempat duduknya, untungnya Diana sibuk sama mainannya hingga tidak menyadari jika saat ini yang menemaninya itu Mamanya bukan Papanya.
Ariel gak langsung makan, ia memilih mandi dan ganti baju, sekalian sholat isya'. Baru selesai sholat, ia segera makan. Rasanya ia sangat lapar, seharian dirinya cuma makan roti aja. Sedangkan kemaren, ia bahkan tidak makan sama sekali.
Entah sangking laparnya, atau karena memang masakan Bibi Imah yang enak, Ariel menghabiskannya tanpa sisa.
Luna melirik ke arah mantan suaminya, ia senang Ariel makan dengan sangat lahap sekali.
Selesai makan, barulah Ariel diam sejenak dan memainkan hpnya. Toh ia tidak mungkin menghampiri Diana yang kini bermain bersama Mamanya.
__ADS_1