Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
9 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Luna sudah melahirkan seorang anak laki-laki, yang di kasih nama Daniel Sturridge Mananta. Nama itu di berikan oleh Dion. Daniel Sturridge adalah nama seorang mantan pemain sepak bola yang pernah menjadi andalan klub asal Inggris, Liverpool. Karena Dion menyukai cara main dia, jadi Dion mengambil namanya. Sedangkan Mananta sendiri artinya orang yang berani, cerdas dan pekerja keras.


Luna tidak keberatan dengan nama itu, dia biasa-biasa aja. Toh namanya juga cukup bagus untuk di dengar.


Mendengar kelahiran sang cucu, kedua orang tua Dion sangat antusias sekali. Mereka bahkan menggendong Daniel secara bergantian. Wajahnya sama seperti Dion saat kecil, hanya saja untuk rambutnya ngikut Luna.


Mami Ocha dan Papi Dimas, sangat bersyukur akhirnya setelah menunggu sekian lama, mereka bisa juga menggendong cucu sama seperti yang lainnya.


Dulu ia di buat iri, oleh teman arisan Mami Ocha, oleh rekan bisnis Papi Dimas, oleh keluarga mereka yang sudah lebih dulu gendong cucu. Tapi tidak dengan sekarang, mereka tak lagi merasa iri, karena mereka sudah merasa bagaimana menggendong seorang cucu, dan rasanya sangat luar biasa sekali.


Dion juga sudah menghubungi Ibu mertuanya dan Lintang. Tapi mereka gak bisa datang sekarang, karena Lintang masih ujian, dan lagi mereka masih sibuk mengurus sawah mereka. Dion pun mencoba untuk mengerti. Yang penting sebagai menantu, dirinya sudah memberi kabar bahagia untuk mereka.


Luna sendiri cukup di rawat dua hari dan setelah itu, dia sudah boleh pulang. Luna melahirkan normal untuk kedua kalinya. Ya, Luna termasuk wanita yang kuat, padahal tadi dokter sempat menyarankan operasi sesar, namun Luna kekeh ingin melahirkan normal. Dan Alhamdulillah nya, semua yang di takutkan tidak terjadi. Luna mampu mengatasi rasa sakitnya dan bertahan hingga akhir.


Melihat perjuangan Luna melahirkan putrinya, Dion merasa kasihan, apalagi melihat raut wajah kesakitan Luna. Sungguh, jika sudah seperti ini. Kekesalannya pada Luna yang tadinya menumpuk seakan hilang begitu saja. Berganti dengan rasa syukur karena anak dan istrinya baik-baik aja.


"Sayang," panggil Luna. Kini mereka sudah pulang dari rumah sakit dan tinggal di rumah sederhana mereka.


"Iya, Mas." jawab Luna sambil menoleh ke arah suaminya.


"Kamu mau makan apa, ini sudah hampir siang. Kamu belum makan."


"Emm, aku bingung. Aku sih pengennya nasi sama sayur bening bayam, sama perkedel jagung dan kerupuk," request nya.


"Iya sudah kalau gitu, kamu tunggu dua puluh menit lagi ya. Enggak papa kan?"


"Enggak papa, Mas. Lagian aku juga belum terlalu lapar," balasnya.


Setelah itu, Dion menelfon pelayan yang ada di rumah orangtuanya dan meminta mereka memasak seperti yang Luna mau. Karena di sini tidak ada pelayan, jadi emang agak sedikit susah sebenarnya.


Setiap pagi, siang dan malam. Dion harus memesan makanan secara online untuk di makan oleh dirinya, Luna dan orangtuanya yang memilih tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.


Tapi ada kalanya, para pelayan dari mension lah yang mengantarkan makanan yang sudah matang ke kediaman mereka. Agak merepotkan memang, tapi karena Luna tak ingin ada ART di rumah ini. Mau gak mau, Dion pun berusaha untuk mematuhi keinginan Luna. Sedikit ribet tak apa, asal istrinya itu nyaman dan tak mengeluh terus.


Untungnya Mami Ocha dan Papi Dimas juga berusaha mengerti dengan kemauan Luna yang tak ingin ada orang asing ikut tinggal di rumah itu. Jadi mereka hanya bisa pasrah dan melakukan semuanya sendiri. Tapi juga sesekali mereka akan memanggil pelayannya untuk mengurus baju kotor milik mereka. Hanya sebatas itu.

__ADS_1


Saat ini, Daniel masih di gendong oleh Mami Ocha. Luna bahkan hanya menggendong saat Daniel menangis dan pengen minum ASI. Miris, tentu. Tapi dirinya bisa apa. Dirinya gak mungkin debat sama mertuanya sendiri.


Bahkan saat malam hari, Daniel juga tidur bareng mereka, sedangkan Luna harus menyiapkan banyak ASI sehingga saat malam hari, Daniel haus, ada stok ASI yang sudah Luna siapkan. Hingga Mami Ocha gak menganggu tidur malam menantunya.


Satu bulan sudah Luna melahirkan, dan dirinya masih belum bisa bermain dengan puas dengan putranya. Luna hanya bisa melihat dari jarak jauh. Sang mertua seakan ingin menguasai putranya itu.


Luna tau, Daniel adalah cucu kesayangannya yang sudah di nantikan sekian lama. Tapi bukan berarti mereka menguasai putranya hingga Luna tidak di beri waktu untuk bersama dengan putranya.


Rasanya miris banget, hidup dengan mertua yang tidak mau mengerti dirinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Dion.


"Aku capek, Mas."


"Capek kenapa? Hemm?"


"Mau sampai kapan Mami sama Papi tinggal di sin?" tanya Luna.


Mendengar pertanyaan Luna, jujur Dion kaget. Ia tak menyangka jika Luna tidak menyukai kehadiran orangtuanya sendiri.


"Mas masih tanya kenapa? Sejak aku melahirkan aku hanya empat kali Gendong putraku Mas. Hanya empat kali, itu pun saat Daniel nangis keras dan butuh aku. Selebihnya apa pernah kamu lihat aku duduk santai sambil gendong putraku sendiri. Bahkan Mami kamu menyuruh aku untuk menyetok ASI aja di kulkas untuk Daniel. Padahal aku bisa menyusui secara langsung, kami tinggal satu atap. Jika memang Daniel menangis karena lapar, dia bisa langsung menyusu ke aku. Tak perlu pakai dot segala," ucap Luna mengungkapkan isi hatinya. Ia bahkan sampai menitikkan air mata karena sudah tak mampu lagi menghadapi semuanya sendirian.


"Sabar sayang. Mami aku kayak gitu, karena sudah lama mendambakan seorang cucu. Wajar jika saat cucunya lahir, Mami sama Papi pengen Deket trus sama cucunya." Dion tau bagaimana perasaan Luna, tapi ia juga tidak mungkin mengambil Daniel dari tangan Maminya. Apalagi setiap melihat Mami sama Papinya tertawa bahagia, rasanya dirinya pun ikut bahagia melihatnya.


"Aku harus sabar sampai kapan, Mas? Mau sampai kapan aku dan putraku jauh?" tanya Luna sambil menangis terisak-isak.


Dion langsung memeluk dan mendekap Luna. Dia seperti makan buah simalakama. Di satu sisi ia ingin membahagiakan istrinya dan di sisi lain pun, ia juga ingin membahagiakan orangtuanya.


Dion tau, Luna sudah lelah karena dirinya terus menerus mengatakan sabar dan sabar. Tapi dirinya bisa apa. Saat dirinya ngomong sama orang tuanya pun, mereka juga mengatakan hanya ingin bersama dengan cucunya yang sudah lama mereka tunggu.


Dion sendiri bahkan cuma sekali gendong Daniel, itu pun saat Daniel lahir. Karena setelahnya, Daniel seperti di kuasai orang tuanya. Mereka bahkan sangat posesif sekali dengan Daniel. Bagia mereka, Daniel adalah cucu kesayangannya.


"Maaf, maaf karena aku gak bisa tegas. Tapi aku gak bisa mematahkan hati mereka. Aku mohon, mengertilah posisi aku," tutur Dion sambil memeluk Luna yang terus sesenggukan karena menangis.


"Kenapa harus aku yang di suruh mengerti kamu, Mas. Kenapa harus aku? Mau sampai kapan aku harus mengerti kamu dan orang tua kamu. Mau sampai kapan? Sedangkan perasaan aku sendiri selalu di abaikan. Aku mempertaruhkan nyawa aku, Mas. Aku mempertaruhkan nyawa aku untuk bisa melahirkan Daniel. Seharusnya aku di buat bahagia setelah perjuanganku yang hampir mati karena melahirkan. Tapi apa? Jangankan bahagia, aku malah tertekan di sini. Aku fikir kita pisah rumah, kehidupan kita bahagia dan tidak di recokin lagi. Tapi ternyata aku salah." Luna tertawa miris. Dulu sebelum dirinya menikah dengan Dion, mereka sangat baik. Tapi setelah jadi menantunya semua langsung berubah.

__ADS_1


"Tolong jangan ngomong seperti itu. Aku bisa apa? Posisiku di sini juga gak enak. Aku harus membuat kamu nyaman tapi aku juga ingin membahagiakan orang tua aku. Biarlah mereka berpuas-puas dulu main sama cucunya. Mereka juga gak selamanya tinggal di sini. Jika mereka sudah puas, mereka pasti akan pulang ke mension. Dan setelah itu hanya ada kita bertiga di rumah ini. Bertahanlah sebentar lagi."


"Tapi ini sudah satu bulan." tekan Luna.


"Iya, I know. Tapi aku yakin, gak lama lagi merasa pasti pulang. Apalagi pekerjaan Papi juga pasti sudah menumpuk, Mami juga pasti tidak bisa lama-lama meninggalkan mension nya. Belum lagi acara arisan, dan yang lainnya. Sabarlah, aku mohon. Demi aku." pinta Dion dengan wajah memelas.


"Huh," Luna hanya melengos. Ia melepas pelukannya dari suaminya. Tidak ada yang mengerti dirinya di dunia ini. Semua menyalahkannya, semua orang mengabaikan perasaannya dan selalu mengatakan dirinya lah yang egois.


Padahal kenyataannya malah sebaliknya. Mereka yang egois dan selalu menyalahkan semua yang ia lakukan.


"Sayang," panggil Dion dengan suara merdunya.


"Apa," jawab Luna ketus, sambil menghapus air matanya.


"Maaf, belum bisa bahagiakan kamu, maaf sudah bikin kamu sedih seperti ini," tutur Dion.


"Aku gak butuh kata Maaf, yang aku butuhkan. Kamu ambil Daniell dan kasih ke aku. Itu yang aku mau."


"Baiklah akan aku coba. Tapi kamu jangan marah lagi ya."


"Hmm ... "


"Kok masih jutek."


"Siapa yang jutek?" tanya Luna kesal.


"Itu tadi, jawabannya cuma hmm."


"Emang aku harus jawab apa?"


"Iya sayang, gitu dong."


"Duh, ribet. Sudahlahl sana, ambil Daniel dan kasih ke aku."


"Okey, okay. Aku pergi dulu."

__ADS_1


Sebelum pergi, Dion mengecup kening Luna lalu setelahnya, ia pergi dari kamarnya. Sedangkan Luna, ia menghapus ciuman Dion di keningnya. Rasa kesal yang harus ia tahan, membuat rasa cintanya ke Dion seakan memudar setiap harinya.


__ADS_2