
Rumah tangga Luna dan Dion kembali dingin. Itu karena Dion terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa untuk memperhatikan istrinya.
Sedangkan Luna yang merasa kesepian di rumah, membuat dirinya selalu badmood. Tidak ada temen mengobrol dan juga tidak ada kegiatan selain hanya tiduran, makan dan sholat.
Luna juga sudah malas untuk olah raga, berat badannya juga naik menjadi 85 kg. Mungkin efek suka makan sembarangan, nyemil dan jarang olahraga membuat tubuhnya naik drastis.
Apalagi kegiatannya cuma makan tidur, sedangkan Dion seperti biasa aja dengan perubahan istrinya itu.
Baju-baju yang dulu pun tak ada yang muat termasuk **********. Sehingga seminggu sekali, Luna harus belanja secara online.
Masalah resto, Luna mempercayakannya pada Ariel. Dan benar kata Ariel, itu bukan karena konsleting listrik, tapi karena orang yang iri karena resto itu kembali maju.
Tapi Luna cukup tenang, karena Ariel berhasil membereskannya. Dia bahkan menyewa jasa pengacara yang cukup terkenal sehingga kasus itu cepat naik dan mendapatkan penanganan lebih cepat.
Masalah resto, Ariel sudah menjual tanah itu dan uangnya di kirim ke kerening Luna.
Awalnya Luna kekeh ingin membangun resto kembali, tapi setelah mendengar saran dari Ariel, Luna pun mengalah dan memilih untuk menjual tanahnya karena bangunannya sudah habis tak tersisa.
Termasuk rumah yang ada di Jakarta juga di jual, dan uangnya masuk ke dalam rekening Luna. Sedangkan Bik Imah, dia akhirnya memilih pulang kampung dan membuka usaha warung sembako di kampungnya.
Sekarang, Luna tak lagi memikirkan masalah resto dan rumah yang ada di Jakarta, karena semuanya sudah habis terjual. Sebagian uangnya ia kirim ke Ariel dan sang Bunda untuk kebutuhan mereka di sana. Awalnya Lintang dan sang Bunda menolak, namun karena Luna bersikeras, akhirnya mereka pun menerimanya. Dan berjanji akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Dengan uang itu, Lintang kembali fokus ke sekolahnya karena ia tak perlu lagi memikirkan besok makan apa dan bagaimana membayar uang spp, uang praktek dan yang lainnya.
Jujur, Lintang merasa bersyukur punya saudara yang masih peduli dengan keluarganya. Karena banyak di luar sana, jika sudah menikah kadang tak lagi peduli, dan hanya fokus sama kebutuhannya sendiri.
Sedangkan Luna, kini ia tak lagi ada pemasukan kecuali uang bulanan sebesar tiga puluh juta dari Dion. Untungnya semua kebutuhannya sudah di penuhi, jadi uang tiga puluh juta itu akan tetap utuh selama Luna tidak membeli yang aneh-aneh.
"Lun," panggil Dion. Tak ada lagi kata sayang, sejak ia tau, jika diam-diam Luna meminta bantuan mantan suaminya. Hanya saja, Dion pura-pura tidak tau karena tak ingin bertengkar. Apalagi Luna tengah hamil, tak mungkin ia mengajak Luna debat yang bisa berakibat fatal pada janin yang ada dalam kandungan Luna.
Jadi, Dion memilih untuk pura-pura tidak tau dan menahan rasa sakitnya.
"Iya, Mas," jawab Luna.
"Aku mau ke rumah Mama, Mama aku sakit. Kamu mau ikut?" tanya Dion basa basi.
"Maaf ya, Mas. Aku gak bisa ikut. Soalnya perutku rada gak enak hari ini," dustanya.
"Oh gitu, iya udah. Tapi kemungkinan aku menginap, kamu yakin gak ikut?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
"Yakin, Mas. Tapi besok pulang kan?" tanya Luna.
"Iya," balas Dion.
"Iya udah gak papa kalau gitu."
__ADS_1
"Hmm, kalau gitu aku berangkat sekarang. Kamu baik-baik di rumah, misal ada apa-apa, hubungi aku."
"Iya, Mas."
Setelah itu, Dion pun langsung berangkat ke rumah Mamanya. Sedangkan Luna, memilih diam di rumah karena mager mau kemana-mana.
Setelah kepergian Dion, Luna pun langsung tiduran sambil nonton tivi. Tiba-tiba ia merindukan Diana.
Luna pun langsung Vidio call Ariel.
"Assalamualaikum, Lun."
"Waalaikumsalam, Mas."
"Ada apa, Lun?"
"Aku kangen Diana, Mas. Diana mana?" tanya Luna sambil fokus meneliti wajah Ariel yang semakin terlihat tampak setiap harinya.
"Ada, ini bareng aku. Lagi ngegambar." ujarnya sambil memperlihatkan Vidio Diana yang lagi melukis bunga dengan krayon.
"Nak, ini Mama vidio call," ucapnya sambil menaruh hpnya di depan Diana.
"Ndak au," ucapnya tanpa melihat ke arah hpnya.
"Jangan gitu, ayo ngomong dulu bentar sama Mama," tutur Ariel.
"Bentar aja, Nak." rayu Ariel
"Ndak au," teriak Diana karena dirinya merasa di ganggu.
"Okey, okey. Maaf. Jangan teriak, okay. Papa salah." ucap Ariel, karena melihat putrinya yang teriak sampai bikin Ariel kaget. Ini pertama kali, Diana teriak di hadapannya.
Mungkin karena dirinya terlalu maksa sedangkan Diana sudah dari awal bilang gak mau.
"Maaf, Papa." Diana seakan merasa bersalah, karena tadi pakai nada tinggi.
"Enggak papa, Papa yang salah karena sudah maksa Diana. Tapi jangan di ulangi lagi ya, Nak. Enggak sopan," ujarnya dan Diana menganggukkan kepalanya.
Setelah saling meminta maaf, barulah Ariel menghadapkan layarnya pada dirinya.
"Maaf ya, Lun. Diana gak mau ngomong sama kamu."
"Yang penting aku sudah denger suaranya. Aku sudah bersyukur dia baik-baik aja dan semangat belajarnya."
"Iya akhir-akhir ini dia suka ngegambar. Suka ngelukis. Kadang sehari ada beberapa yang di lukis. Ya walaupun masih amburadul dan tak tentu arah."
__ADS_1
"Hehe maklum Maas, namanya juga masih kecil. Belum faham cara ngegambar yang benar."
"Tapi kalau lihat dari sekarang, sepertinya Diana suka gambar, bisa jadi kelak dia pengen jadi arsitek."
"Iya sih, Mas. Tapi lambat lain, kadang juga bisa berubah-ubah."
"Iya benar. Suamimu mana, Lun? Perasaan setiap kamu Vidio call, suamimu gak pernah muncul?" tanya Ariel, sebenarnya ia gak nyaman Vidio call seperti ini, apalagi jika Dion gak tau. Ini sama aja seperti dirinya jadi pebinor.
Ariel tak ingin jika dirinya menjadi perusak rumah tangga mantan istrinya.
"Mas Dion hari ini pulang ke rumah orangtuanya, Mas."
"Loh kamu gak di ajak?"
"Sudah, tapi aku gak mau."
"Kenapa?"
"Mager aja, entahlah. Kehamilan kali ini, aku males ngapa-ngapain. Sampai badan aku kayak gajah, karena cuma makan tidur, males olahraga."
"Emang kamu gak takut sendirian di rumah,kamu perempuan Lo, lagi hamil lagi?" tanya Ariel cemas. Bukan karena dirinya masih cinta, tapi ia peduli karena Luna, Mamanya Diana.
"Awalnya sih takut, Mas. Tapi karena biasa di tinggal, jadinya gak takut lagi," tutur Luna dengan wajah sendu.
Terbersit rasa kasihan dalam hati Ariel, dulu saat bersama dirinya, Luna akan selalu di temani oleh dua asisten rumah tangganya. Melihat Luna sendirian, ada rasa kasihan. Tapi dirinya bisa apa, kini dirinya hanya orang luar sana tidak berhak untuk memberikan saran pada Luna. Karena Luna bukan lagi tanggung jawabnya.
"Hmm kalau ada apa-apa, telfon suamimu."
"Ya, Mas."
"Udahin dulu ya, ini waktunya Diana mandi. Takutnya kalau terlalu malam, airnya dingin.
"Ya, Mas."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sejujurnya, Ariel sengaja memakai alasan itu, karena ia tak ingin lama-lama bicara dengan mantan istrinya itu.
Sedangkan Luna, ia kembali kesepian di rumah sendirian. Akhirnya ia pun memilih untuk nonton film, yang mampu mengurangi rasa kesepiannya.
Di saat Luna kesepian, Ariel merasa Luna seakan ingin mendekatinya. Berbeda dengan Dion, ia sangat kacau sekali.
Beberapa hari ini, ia sering di buat marah oleh Luna. Tapi untuk melampiaskan emosinya, Dion gak bisa. Ia takut, takut jika anaknya akan kenapa-napa.
__ADS_1
Jadi, Dion hanya bisa menahan. Tapi jika sampai Luna melahirkan dan sikapnya belum juga berubah. Mungkin dirinya akan memilih untuk menyerah saja. Percuma bertahan jika hatinya Luna, tidak seratus persen untuknya. Masih ada nama mantan suaminya yang masih tersemat di relung hatinya.