Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Dion Erlangga Mahabharata


__ADS_3

Seminggu kemudian, mobil pesanan Ariel untuk Luna sudah datang, lengkap dengan sopirnya, seorang laki-laki berumur tiga puluh tahun yang punya wajah tampan rupawan dan juga tubuh yang cukup kekar, dada yang bidang dan tampilan yang menarik. Karena memang sebenarnya dia adalah orang berada, tapi karena bosan di rumah terus dan mengurus perkebunan tehnya. Ia pun memilih untuk pergi ke Jakarta. Sedangkan kebun tehnya akan di urus oleh tangan kanannya. Dan juga ada orang tuanya yang akan ikut mantau di sana.


Dion Erlangga Mahabrata, itulah namanya. Asli Bandung. Dulu dia sempat tunangan hasil perjodohan, tapi pada akhirnya pertunangan itu batal di tahun kedua, karena wanita itu  memilih kabur dengan kekasihnya. Dan Dion pun hanya bisa diam, tak ada kemarahan di wajahnyaa, hanya sedikit kekecewaan saja. Ia beruntung karena belum mencintai wanita itu, karena jika dia sampai mencintainya, tentu dirinya akan merasakan patah hati yang teramaat dalam.


Dan ketika Dion mendengar dari temnannya jika ada seseorang yang butuh sopir, Dion pun langsung melamar, untungnya langsung di terima karena di sana Dion mencantumkan kalau dirinya punya skil mengemudi yang baik, punya sim dan jago beladiri. Ditambah Dion hanya melampirkan jika dirinya lulusan SMA saja, walaupun sebenarnya dia sudah lulus S2 beberapa tahun lalu.


Dan disinilah dirinya berada saat ini, dengan di antar oleh taxi online, ia pergi ke rumah Ariel. Dengan hanya menampilkan sandal gunung, celana jeans, kemeja pendek dan jam tangan. walaupun sederhana, tapi karena kulitnya yang putih bersih, membuat Dion tampak memukau.


Dan ketika Ariel bertemu dengan Dion, betapa kagetnya dia. Karena ternyata Dion sangatlah tampan, lebih tampan darinya. Ariel emang tampak mempesona, tapi jika di bandingkan Dion, jelas Dion lebih tampan sedikit ketimbang Ariel. Kemaren saat ia melihat surat lamarannya, Ariel tak melihat fotonya, dia hanya melihat sekilas, jika orang yang bernama Dion itu pintar jago bela diri dan mahir mengemudi. Hanya itu yang dia baca, dan kini ia menyesalinya. Namun Ariel tak bisa untuk memecatnya, apa kata dunia jika dia seperti orang linglung, karena dia sendiri yang minta Dion untuk datang hari ini dan bekerja padanya setelah Ariel membaca sura lamaran dari Dion.


Dan lagi Dion sudah menyanggupinya dan mereka sudah tanda tangan kontrak melalui file yang Ariel kirim, bahwa Dion akan menjadi sopir untuk istrinya selama setahun ke depan dan menjadi mata-mata untuknya. Alias apapun yang istrinya lakukan, Dion harus memberitahu, apapun itu.


Namun walaupun Dion sedikit lebih tampan dari Ariel, Ariel tetap percaya diri, karena Dion hanya kerja seorang sopir, berbeda dengan dirinya yang merupakan pemilik resto dan juga seorang yang punya banyak uang berkat dirinya yang suka investasi uangnya di beberapa perusahaan.


Dan kini mereka duduk berdua di ruang kerja Ariel yang berada di samping ruang tamu.


"Kamu sudah tau tugas kamu?" tanya Ariel tegas.


"Sudah, Tuan," jawab Dion.


"Bagus. Kamu harus mengantarkan istrikku kemanapun dia pergi, dan jangan sampai ada yang menyakitinya, seujung kukupun. Dan kamu harus mengawasi ketat dan laporkan apa aja yang ia lakukan saat di luar, bahkan apa aja yang ia makan. Dan satu lagi, jangan jatuh cinta istriku. Karena jika itu terjadi, aku akan buat kamu menyesal seumur hidup kamui," ujar Ariel dan Dion pun mengangguk patuh.


"Siap, Tuan." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Dion.


"Iya sudah, saya akan memperkenalkan kamu dengan istriku, ingat jangan menatap lama-lama dengan istriku."


"Iya, Tuan," sahut Dion. Di dalam hati, Dion hanya bisa menghela nafas, "Emang secantik apa sih istrinya sampai segitunya," cibir Dion. Namun tentu, ia gak akan berani bersuara, karena ia tak mau di pecat di hari pertama ia bekerja. Walaupun ia sudah tanda tangan kontrak untuk satu tahun ke depan, tak menutup kemungkinan majikannya itu akan memecatnya jika dirinya melakukan kesalafahan fatal.


Ariel memanggil istrinya untuk dikenalkan ke Dion. Dan saat Luna masuk ke ruangannya, Dion terpukau dengan majikannya itu. "Pantes aja Tuan Alfa sampai segitunya menjaga istrinya, lah istrinya aja kayak bidadari gini," gumam Dion dalam hati. Namun ia berusaha untuk tak lagi menatap Luna, karena tak ingin Alfa marah.


"Sayang, kenalin ini Dion, dia yang akan jadi sopir kamu dan nganterin kemanapun kamu pergi," ucap Ariel sambil merangkul istrinya yang ada di dekatnya. Ariel tak merasa malu walaupun di depannya kini ada orang lain.


"Halo, salam kenal, Nyonya. Saya Dion, sopir pribadi Anda," ucap Dion sambil mengulurkan tanganya. Luna pun menerima uluran tangan Dion.


"Saya Luna. Tapi jangan panggil saya Nyonya ya, berasa tua. Panggil Mbak, atau apa gitu," pinta Luna sambil menarik kembali tangannya.


"Gila, tangannya halus banget sih. Sudah kayak tangan bayi," gumam Dion dalam hati sambil menarik tanganya juga. Tapi entah kenapa saat berjabat tangan dengan Luna, jantungnya berdebar kencang. "Dia pasti perawaan mahal, sampai sehalus itu," ucapnya lagi. Namun Dion hanya bisa ngomong dalam hati.


"Jangan panggil nama, nanti kalian akrab. Panggil Non aja ya Dion,"


"Iya, Tuan."


"Iya sudah, aku harus berangkat ke resto hari ini. Sekalian nanti jam sepuluh mau ke kantor, ada rapat soalnya," ujar Ariel  memberitahu. Sebagai orang yang punya saham di sebuah perusahaan, tentu Ariel juga kadang harus datang saat meeting penting.


Ariel sendiri tidak memakai sopir, dia memilih menyetir sendiri, keuali emang darurat, baru ia manggil sopir andalannya itu yang selalu standby dua puluh empat jam.


"Iya, Mas. Kalau gitu, aku nanti ke Mall ya, bareng Bibi Neni sama Bibi Imah," ucap Luna memberitahu.


"Okay, tapi jangan sampai lelah ya, dan jangan lama-lama di sana. Harus pakai baju yang sopan, yang tertutup, Mas gak mau berbagi kecantikan kamu dengan orang lain di luar sana."

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Iya sudah Mas berangkat dulu." Ariel langsung keluar dari ruangan itu, karena ia buru-buru. Gara-gara nunggu kedatangan Dion, ia akhirnya terpaksa berangkat siang


Setelah Ariel pergi, kini hanya Dion dan Luna di sana.


"Aku harus manggil apa, Mas, Pak, atau gimana?" tanya Luna.


"Terserah Non Luna aja."


"Baiklah, kalau gitu, aku panggil Mas aja ya."


"Iya, Non.


"Kita ngobrol di ruang tamu aja ya, gak enak kalau ngobrol di ruang kerja suamiku."


"Baik, Non."


Sesampai di ruang tamu, Dion duduk di sana. Sedangkan Luna ia meminta Bibi Imah untuk membuatkan minuman dua gelas sama menyediakan cemilan. Setelah itu, Luna kembali ke ruang tamu untuk mengobrol dengan Dion.


"Mas Dion sebelumnya kerja di mana?" tanya Luna dengan lembut, membuat hati Dion berdesir, namun sebisa mungkin ia tetap profesional.


"Di kebun teh, Non," jawab Dion, ia tak mengatakan jika dirinya adalah pemilik kebun teh tersebut.


"Wah, pasti enak kerja di sana. Udaranya seger ya," balas Luna tersenyum ramah.


"Iya, Non."


"Benarkah?"


"Iya, Oh ya Mas Dion dari mana?"


"Bandung, Non."


"Wah, jangan-jangan yang di bicarakan temanku, itu kebun teh, tempat Mas Dion kerja dulu ya."


"Mungkin, Non."


"Hmm, kenapa berhenti Mas? Padahal kan enak kerja di perkebunan gitu, udaranya seger, beda sama sini."


"Pengen cari pengalaman kerja yang lain, Non. Mumpung masih muda."


"Emang Mas Dion umur berapa?"


"Tiga puluh, Non."


"OH, sudah punya istri?"


"Belum, Non. Dulu pernah tunangan tapi batal."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena dulu saya tunangan hasil perjodohan, tapi di tahun kedua, tunangan saya kabur sama kekasihnya."


"Ya ampun, kasihan. Tapi sudah move on kan?"


"Sudah, Non."


"Mau aku carikan pasangan? Aku punya sahabat, single juga. Belum punya pacar, sekarang kerja di resto Mas Ariel, rumahnya gak jauh dari sini. Kapan-kapan aku kenalin ya? Siapa tau jodoh," ujar Luna dan Dion hanya menganggukkan kepalanya. Karena bingung mau jawab apa. Padahal dirinya ke sini buat kerja, kenapa malah majikannya itu mau repot-repot cariin dia jodoh. Gak ibunya, gak ayahnya, gak majikannya sama aja, yang di urus adalah jodohnya. Padahal kan, Dion belum siap untuk komitmen dengan siapapun. Bagaimanapun Dion ingin memilih wanita yang tepat, yang bisa mendampingi dirinya saat dalam keadaan suka maupun duka. Setia, sholehah dan sayang sama orang lain. Serta cantik juga, agar enak di pandang mata.


Tak lama kemudian, Bibi datang. Dia membawakan Teh hangat buat Dion dan jus alpukat untuk Luna, serta ada makanan ringan juga di sana. Tak lupa juga Bibi Imah membawakan beberapa buah buat mereka.


"Makasih ya, Bi."


"Sama-sama, Non," balas Bibi Imah.


"Oh ya, Bi. Mas Ariel kan sudan ngizinin aku keluar. Jadi aku ingin ngajak Bibi sama Bibi Neni jalan-jalan ke Mall. Masalah kerjaan, biarin aja dulu. Terusin aja nanti."


"Iya, Non. Kalau gitu Bibi mau siap-siap dulu."


"Iya, Bi. Jangan lupa bilangin sama Bibi Neni juga ya, biar dia juga siap-siap."


"Iya, Non."


Dan setelah itu, Bibi Imah pun pergi dari sana. Dion yang melihat Luna akrab dengan asisten rumah tangannya itu merasa terharu. Karean gak semua majikan itu mau dekat dengan pembantu rumah tangga. Bahkan banyak di luar sana, yang semena-mena terhadap pembantunya.


"Silahkan di minum, Mas. Mumpung masih hangat."


"Iya, Non."


Dan setelah itu, Dion pun meminum tehnya itu, dan memang masih hangat kuku. Jadi ia minum hingga menyisakan setengahnya.


"Mas Dion tinggal di mana?" tanya Luna.


"Di penginapan gak jauh dari sini, Non."


"Oh, terus tadi ke sini naik apa?"


"Taxi online."


"Oh. Sebenarnya di garasi ada sepeda motor jarang di pakek. Nanti aku bilangin Mas Ariel ya biar itu di pakek Mas Dion aja. Biar Mas Dion gak pakai taxi online lagi. Eman uangnya, dari pada buat bayar taxi, kan mending buat ditabung. Iya kan?"


"Iya, Non." Dion melihat jika Luna ini orang yang lembut, tidak bermuka dua, baik hati, dan mudah perhatian ke orang lain. Baru kali ini ia menemukan wanita yang sangat cantik, baik, tidak sombong, ramah dan penuh perhatian. Apalagi Luna juga terliht sangat setia.


"Iya sudah, Mas Dion makan-makan dulu ini cemilan sama buahnya. Saya mau mandi dan ganti baju dulu."


"Iya, Non."


Dan setelah itu, Luna pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Hari ini ia ingin bersenang-senang dengan Bibi. Menghabiskan waktu untuk membeli apa aja yang mereka mau. Dan menghirup udara di luar sana, agar tidak bosan di rumah terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2