Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Pertengkaran sengit


__ADS_3

Luna uring-uringan saat tangan kanannya- Anggi, mengatakan jika resto terus menurun. Padahal sebulan aja Luna harus mengeluarkan uang puluhan juta, buat bayar karyawan, listrik, bahan-bahan makanan agar tetap fress, dan banyak lagi lainnya. Belum lagi ia harus membayar dua Art dan juga listrik di rumahnya. Belum lagi pajak mobil yang harganya cukup mahal, dan ia juga harus mengirim uang buat orang tuanya dan juga uang kuliah buat adiknya.


Sebulan jika di total, pengeluarannya bisa mencapai ratusan juta.


Bagaimana ia tidak pusing tujuh keliling, pemasukan tidak ada sedangkan pengeluaran terus menerus meningkat.


"Kenapa?" tanya Dion melihat wajah istrinya yang kusut.


"Aku bingung." keluhnya.


"Bingung kenapa?" tanyanya pelan.


"Resto makin hari makin sepi, sedangkan pengeluaran pasti tiap bulannya." jawabnya jujur.


"Kenapa gak di jual aja," ujarnya enteng.


"Maksud Mas Dion apa?" tanya Luna sambil menatap heran pada suaminya. Tak menyangka jika suaminya akan mengatakan hal demikian, bukannya membantu mencari solusi, malah sebaliknya.

__ADS_1


"Gini Lo sayang, kamu jarang ke resto, kamu gak melakukan perubahan apapun, sedangkan waktu terus berjalan. Bagaimanapun seorang pebisnis itu tidak mudah, dia harus punya ide cemerlang agar bisa terus bersaing dengan yang lain. Jadi pengusaha itu tidak mudah, apalagi saingan cukup ketat dan harus kuat, kuat di biaya, dan kuat mental.


Kamu aja jarang ke sana, dan hanya sesekali. Kamu lebih banyak mantau dari hp, dan hanya tau pemasukan dari tangan kananmu. Bahkan jika pun mereka ada yang korupsi, kamu gak tau apa-apa. Kamu hanya menerima dengan pasrah.


Kamu juga tidak melakukan perubahan apapun, sedangkan yang lain tentu ada makanan dan minuman yang terbaru, tempat yang mungkin harus mengikuti zaman, promo besar-besaran dan banyak lagi lainnya.


Bukan cuma diam dan pasrah sama karyawan. Dan lagi misal kamu balik ke Jakarta buat tinggal di rumah itu dan mengurus resto, lalu bagaimana denganku. Sedangkan pekerjaan aku ada di sini. Aku juga tidak mungkin bolak-balik Bandung Jakarta tiap hari. Pastinya aku capek banget. Kita juga gak mungkin LDR kan?


Kamu gak bisa mengurus resto, jika pun kamu bertahan, yang ada bukannya Untung malah semakin merugi. Bisa jadi, uang pribadi kamu yang semakin terkuras untuk biaya ini itu.


Sedangkan kamu, kamu bisa tinggal bareng aku sama Papi dan Mami di rumah ini sambil bantu aku ngurus perusahaan Teh. Kita gak LDR, dan yang ada kita bisa bersama 24 jam." Dion ngomong panjang lebar berusaha agar Luna mau mengerti.


"Aku gak bisa, Mas. Aku gak bisa menjual resto dan rumah itu, karena itu pemberian Mas Ariel."


"Lalu kenapa kalau itu pemberian mantan suamimu, yank? Apa kamu masih mencintainya?" tanyanya.


"Aku tidak lagi mencintainya, hanya saja aku ingin menjaga pemberiannya. Bagaimanapun Mas Ariel dulu membangun rumah dan resto itu susah payah. Dia bahkan kerja siang malam agar bisa membangun rumah dan resto itu tanpa bantuan siapapun. Lalu bagaimana mungkin aku menjualnya begitu saja?"

__ADS_1


"Terus maumu gimana? Kamu mau mempertahankan resto yang bahkan sudah sepi itu. Sedangkan di sana, kalau gak salah ada 15 karyawan dengan gaji empat juta sembilan ratus satu ribu tujuh ratus sembilan puluh rupiah. Perbulannya aja, hanya untuk gaji karyawan kamu sudah menghabiskan uang tujuh puluh tiga juta lima ratus dua puluh enam ribu sembilan ratus tujuh puluh rupiah. Hanya untuk karyawan, beda lagi buat listrik, PDAM, pajak dan yang lainnya. Belum biaya listrik rumah dan gaji dua ART. Belum lagi kamu harus ngirim orang tua dan kuliah adik kamu yang sangat mahal itu. Kamu bisa mengeluarkan uang dua ratus juta. Jika kamu menjual resto dan rumah, kamu cukup membiayai keluarga kamu. Dan aku akan bantu kamu, tapi aku hanya akan batasi 30 juta Perbulannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Itu tiga puluh juta terserah kamu buat apa, masalah makan, kebutuhan kamu, gaji ART, semuanya aku yang nanggung." bebernya.


Membuat Luna terdiam.


"Berfikirlah matang-matang, aku hanya takut uang simpanan kamu jadi sia-sia hanya untuk mempertahankan hal yang tidak lagi bisa di pertahankan. Aku bukannya gak mau bantu, tapi aku juga megang perumahan besar di sini."


"Tapi aku ingin mencobanya dulu, aku akan melakukan seperti yang kamu katakan barusan. Aku akan renovasi restonya, menambahkan menu minuman dan makanan serta bikin promo besar-besaran."


"Terserah kamu, tapi jika kamu melakukan semua itu, itu tak cukup uang satu milliar. Jadi pengusaha itu, selain kuat mental juga harus kuat modal. Tapi jika masalah modal, aku gak bisa bantu. Bukan karena aku pelit, tapi aku juga lagi buka cabang yang juga membutuhkan modal yang cukup besar."


"Aku mengerti. Aku akan melakukan itu pakai uang pribadi aku, aku hanya butuh dukungan aja."


"Hemm. Aku harap setelah ini, resto kamu berjalan lancar tapi jika sebaliknya, lebih baik lepaskan sebelum kamu akan menyesal di kemudian hari."


"Iya."


Dan setelah itu, mereka berdua mengobrol yang lain, dan berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang

__ADS_1


__ADS_2