
Dion tiba di rumah yang hanya berukuran 21x25meter. Sangat kecil sekali di Bandung Mension milik Mami Ocha dan Papi Dimas. Harganya pun bahkan tak sampai tiga miliar.
Dan rumah itu juga hanya lantai satu. Dengan tiga kamar tidur, empat kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, musholla mini hanya hanya muat sampai delapan orang saja, kolam renang dengan ukuran mini, taman belakang sama tempat jemuran di samping taman.
Kenapa ada empat kamar mandi? Karena di setiap kamar tidur, ada kamar mandinya masing-masing, plus di dapur juga di sediakan satu kamar mandi. Misal ada tamu, atau masak tiba-tiba pengen buang air kecil, bisa di sana. Enggak perlu masuk kamar.
Warnanya juga putih bersih sama coklat di beberapa sudut sehingga terlihat sanga cerah walaupun dari jauh.
Luna cukup senang dengan rumah pilihan Dion. Walaupun kata Dion, ini rumah mungil, tapi tidak dengan ya. Ini sudah cukup luas karena yang nempatin hanya dua orang saja.
Luna mulai beres-beres, ia mengeluarkan baju di koper dan menatanya di lemari. Untungnya semua peralatan sudah pada lengkap dan benar-benar sesuai yang Luna mau.
Luna tidak menyangka, jika Dion bahkan sudah menyiapkan sedemikian rupa, padahal ia baru kemaren minta pisah rumah. Entah dengan cara apa Dion melakukannya, hingga bisa gerak cepat seperti ini.
Selagi Luna bersih-bersih, Dion memesan makanan online, agar siangnya Luna tak perlu masak. Karena bagaimanapun Luna pasti capek setelah bersih-bersih, jadi Dion berinisiatif untuk membelikan makanan buat sang istri.
"Mas," panggil Luna.
"Iya," balas Dion yang tengah duduk di ruang keluarga dengan tivi yang tengah menyala.
__ADS_1
"Aku tadi ke dapur, belum ada beras, sayur, bumbu dan yang lainnya. Padahal aku mau masak," ujarnya sambil duduk di samping Dion dan menyenderkan kepalanya di bahu Dion.
"Siangnya kamu gak usah masak, kamu pasti capek kan habis beberes. Aku sudah memesan makanan kesukaan kamu, mungkin ntar lagi datang. Nanti sore, habis sholat ashar, baru kita belanja, bua kebutuhan dapur," tuturnya lembut.
"Oh gitu, iya deh. Pasarnya jauh?" tanyanya.
"Enggak kok, Deket. Nanti aku belikan kamu sepeda motor ya, biar enak kalau belanja. Kalau mobil, kayaknya kurang cocok kalau di bawa ke pasarl, rata-rata aku lihat biasanya kalau ke pasar pasti sepeda motor, kecuali kalau beli banyak, baru pakai mobil gak papa."
"Iya, Mas. Aku juga kurang nyaman misal ke pasar pakai mobil, nanti malah di kira sombong."
"Hemm, gimana kamu suka rumahnya?" tanyanya.
"Sudahlah gak papa, lupakan masa lalu. Ayo sekarang fokus ke masa depan."
"Iya, Mas. Aku janji, aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu."
"Aamiin."
Saat mereka tengah berbincang, bell rumah berbunyi. Luna pun segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke ruang tamu, lalu membuka pintunya. Dan benar saja,ada pengantar paket.
__ADS_1
Luna pun segera mengambilnya dan tak lupa mengucap terimakasih. Setelah memastikan, pengantar paket dah pergi, baru Luna menutup pintunya dan mengunci pintu dari dalam.
Lalu, ia pergi ke ruang tengah, dan menaruh makanan dan minumannya d atas meja.
"Ayo makan, aku dah lapar," ajak Luna Dion menganggukkan kepalanya, karena isinya nasi dan lalapan, maka mereka memutuskan untuk makan pakai tangan agar jauh lebih nikmat. Tentu mereka harus cuci tangan lebih dulu agar terhindar dari kuman.
Setelahnya mereka pun makan berdua, sambil sesekali menyuapi satu sama lain. Entah kenapa tiba-tiba Luna ingat dengan Ariel.
Dulu Ariel juga suka makan makanan nasi bungkus seperti ini, nasi, lalapan dan ikan bakar, apalagi sambalnya pedas manis plus kerupuk putih. Yang membuat banyak orang langsung lapar hanya mendengar aromanya.
"Kok bengong?" tanya Dion sambil melihat Luna yang tiba-tiba termenung.
"Enggak, aku cuma ingat Lintang sama Ibu. Mereka sudah makan belum, ya," dustanya karena tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya apa yang tadi tengah ia fikirkan.
"Jelas mereka sudah makan, tak mungkin mereka menahannya jika perus sudah terasa perih minta di isi."
"Iya, Mas Dion bener." jawabnya tersenyum kaku.
Setelah selesai makan dan minum, mereka lanjut mengobrol sebentar, sebelum akhirnya mereka mandi bareng, sholat dhuhur dan tidur siang.
__ADS_1