
Jam sebelas Dion baru bangun, ia segera keluar dari kamar dan melihat tak ada siapa siapa kecuali Lintang yang tengah main game.
"Kak Dion sudah bangun?" tanya Lintang.
"Iya, Luna mana?" tanyanya sambil duduk di dekat Lintang. Jasnya sudah dibuka dan hanya menyisakan kemeja putih yang masih rapi karena ia tidurnya pun gak sampai bikin bajunya kusut. Tidurnya cukup tenang, bahkan saat ia bangun, tetap posisinya tetap seperti semula, tak ada yang berubah.
"Ada di dapur sama Bunda, lagi masak buat makan siang."
"Oh, kalau Ayah kamu di mana?"
"Ada di sawah, tapi nanti pulang kok. Cuma bentar ke sawahnya."
"Hmmm ... " Dion masih menguap, masih ada rasa ngantuk sedikit.
"Kalau masih ngantuk tidur aja kak gak papa," ucap Lintang yang merasa kasihan karean Dion masih terlihat ngantuk sekali.
"Enggak, tadi sudah lumayan cukup kok istirahatnya. Mungkin harus mandi aja biar seger,"
"Mau mandi di kamar aku?"
"Enggak, nanti aja sekalian pas mau sholat dhuhur."
"Oh. Oh ya kak, terima kasih ya hadiahnya, aku suka," ucap Lintang yang ingat dengan hadiah yang dibelikan Dion. Sekarang jam tangannya, sepatu dan jaketnya sudah di taruh di lemari, dan di kunci rapat rapat biar gak ada yang ngambil. Karena harganya sangat mahal, bahkan jika semuanya di jual, ia pasti bisa beli sepeda motor baru yang gagah.
"Iya sama-sama. Kalau kamu pengen apa apa bilang aja, nanti aku belikan," ujarnya santai membuat Lintang melongo. Ingin rasanya dia bilang pengen sepeda motor baru buat pergi ke sekolah, tapi ia gak boleh mengatakannya. Ia gak mau mempermalukan Luna karena punya adik yang terlalu matre. Apalagi Dion belum resmi jadi saudara iparnya, masih calon, itupun kalau jadi mereka menikah nanti. Kalau enggak, kan kasihan.
"Iya, Kak," jawabnya.
Luna yang dari dapur kaget melihat Dion sudah bangun dan ngobrol santai dengan adiknya.
"Sudah bangun?" tanyanya.
"Iya, maaf ya aku tidurnya kelamaan, padahal tadinya mau tidur satu jam aja tapi malah lebih dari satu jam," ucapnya tak enak hati.
"Enggak papa santai aja. Mau mandi, biar seger? Nanti habis mandi langsung sholat dhuhur terus makan. Ntar lagi juga sudah adzan dhuhur," ujarnya.
"Iya ntar lagi," tuturnya masih menguap sekali lagi.
"IYa sudah. Lintang, nanti kamu kasih pinjem ya handuknya satu yang baru. Ingat yang baru," ujar Luna mengingatkan.
"Iya, Mbak," Lintang pun juga tak mungkinlah tega memberikan handuk miliknya, pasti dia akan memberikan handuk yang baru, yang belum di pakai sama sekali. Tapi ya itu harganya murah, cuma empat puluh lima ribu. Jadi sedikit kasar.
__ADS_1
Setelah itu Luna balik lagi ke dapur buat bantu sang Bunda. Sedangkan Dion ia malah rebahan di samping Lintang.
"Capek banget ya, Kak?" tanyanya.
"Hmm, aku kemaren kemarennya gak bisa tidur di sana."
"Kenapa?"
"Entahlah, gak nyaman aja tidur di negara orang. Belum lagi pekerjaan numpuk, pengen cepet cepet selesai terus pulang. Makanya sekarang badan aku kayak lagi sakit semua, pengennya rebahan terus," ujar Dion.
"Mau aku pijet, Kak?"
"Enggak, aku gak suka," jawabnya yang langsung bangun membuat Lintang terkekeh.
"Aku pinjem handuknya aja deh, buat mandi," ujarnya tapi dia ingat sesuatu.
"Enggak jadi, aku pakai handukku sendiri. Aku lupa, aku kan bawa beberapa perlengkapan aku di koper," ucapnya dan langsung membuka koper yang berisi hadiah buat Luna. Dia mengambil tas kecil yang ada di koper, yang berisi handuk dan beberapa peralatan dan perlengkapannya.
Lalu setelah itu, Dion pun langsung mandi dan ganti baju. Sedangkan baju kotor, ia masukkan ke tas yang berisi baju kotor lalu di ikat kembali. Nanti akan di cuci pas sampai Bandung aja. Gak mungkin di cuci di sini karena bentar lagi juga akan pulang.
Setelah selesai mandi dan ganti baju, Dion tak lagi merasa ngantuk. Ia sudah terlihat segar dan keren. Yah, namanya orang tampan, tanpa pakai sisir dan pakai apa apa, sudah terlihat aura ketampananya, padahal Dion hanya pakai baju kaos biasa sama celana panjang, jam anti ari dan memakai parfum.
"Wah, Kak Dion sudah kece aja nih," puji Lintang yang selalu aja merasa kalah tampan dari Dion.
"Kamu gak mandi?" tanyanya.
"Sudah."
"Kapan?" tanya Dion heran.
"Barusan, pas Kak Dion pergi mandi, aku mandi juga. Cuma emang aku mandinya gak lama, jadi cepet deh selesainya," balas Lintang terkekeh.
"Astaga, tapi kenapa kelihatan seperti belum mandi?" tanyanya heran.
"Mungkin karena gak keramas, terus bajunya pakai yang tadi, lagian gak kotor, eman kalau harus ganti lagi," sahutnya membuat Dion geleng-geleng kepala.
Mereka pun mengobrol santai, lalu datanglah Ayah Lukman yang juga sudah selesai mandi. Tadi ia pulang dari sawah langsung mandi di belakang dan kini ia kumpul bersama Lintang dan Dion. Dion mencium punggung tangah calon ayah mertuanya itu, karena dari tadi gak ketemu.
Dion mengajak ayah mertuanya itu mengobrol santai. Ayah Lukman juga menanyakan hal biasa seperti pekerjaannya di luar negeri, lalu juga menitipkan Luna karena katanya Luna mau ikut Dion ke Jakarta, padahal rumah Dion itu di Bandung tapi demi Luna, Dion rela ke Jakarta lebih dulu baru setelah itu pulang ke kediamannya.
Lintang pun hanya menyimak saja, ia hanya bicara jika Dion atau Ayahnya lagi menanyakan sesuatu.
__ADS_1
Hingga adzan dhuhur terdengar. Barulah Ayah Lukman mengajak putranya dan Dion untuk sholat dhuhur berjamaah di mushola gak jauh dari rumahnya.
Selagi Ayah Lukman, Dion dan Lintang pergi ke masjid. Luna dan Bunda Naira sudah selesai masak dan kini mereka mulai menghidangkannya di ruang tamu, ya mereka akan makan di ruang tamu aja biar lebih luas.
Selagi Luna menata makanannya, Bunda Naira membuatkan teh hangat buat mereka semua.
Sepuluh menit kemudian, Dion, Ayah Lukman dan Lintang pun pulang. Dan betapa kagetnya mereka saat makanan sudah ada di atas karpet. Ayah Lukman pun menyuruh Dion duduk, begitupun dengan Lintang.
Tak lama kemudian, Bunda Naira membawa teh hangat dan Luna membawa air putih, terserah apa yang mau di minum dulu.
Setelah selesai semua, barulah Luna dan Bunda Naira ikut duduk bareng mereka. Luna duduk disamping Dion. Sedangkan Bunda Naira duduk di samping Ayah Lukman dan Luna. Lintang sendiri duduk di antara Ayah Lukman dan Dion. Jadi mereka duduk berbentuk lingkaran. Saling menyatu ujung ke ujung. Luna, Dion, Lintang, Ayah Lukman, Bunda Naira, di samping Bunda Naira ya Luna. Jadi mereka membentuk lingkaran hingga ruangan semakin luas.
Mereka sangat menikmati makanannya, ada nasi liwet, sambal terasi, lalapan timun, penyet tempe pakai kemangi, ada tahu walik, telur mata sapi, dadar jagung, ayam goreng di masak merah, ada sayur bening, dan kerupuk.
Dion makan penyet tempe, sayur bening sama kerupuk. Bahkan ia sampai nambah nasi dua kali membuat Luna, Bunda Naira dan Lintang melongo karena porsi makan Dion cukup banyak, namun mereka pada akhirnya saling pandang, seakan mengerti, mereka kembali melanjutkan makannya.
"Kamu gak pakai ayam, Mas?" tanya Luna.
"Enggak, ini aja sudah enak. Mantap banget seger, apalagi tempe penyetnya ada kemanginya, bikin nafsu makan aku bertambah, ini sangat cocok sekali perpaduannya apalagi nasinya hangat," ucap Dion benar benar sangat menikmati makan siangnya. Saat di luar, Dion bahkan hanya makan daging aja tanpa nasi, gak kenyang tapi juga gak lapar.
Baru di sini, Dion bisa makan lahap, jadi ia gak sungkan buat nambah nasi berkali kali karena memang lezat.
Luna sendiri cuma makan nasi sama sambal dan ayam serta lalapan timun. Lintang mengambil nasi, sambal, dadar telur sama ayam. Sedangkan Ayah Lukman, ia makan nasi tahu goreng, dadar jagung sama sambal. Sedangkan Bunda Naila, hanya makan nasi, sambal, lalapan timun dan dadar jagung.
Tak ada yang nambah nasi kecuali hanya Dion. Namun entah kenapa Luna dan Bunda Naira sangat senang sekali melihat nafsu makan Dion yang banyak.
"Maaf ya, nasinya sisa sedikit," ucap Dion malu. Yah, dia malu saat sudah kenyang dan melihat di tempat nasi, nasinya hanya sisa satu centong saja.
"Enggak papa, Mas. Jika masih nambah, juga gak papa, eman nasinya itu," ujar Luna tersenyum.
"Enggak deh, sudah kenyang," ujarnya sambil sedikit melonggarkan ikat pinggangnya karena perutnya terasa sesak.
"Mas gak makan berapa hari?" tanya Lintang tiba tiba membuat Bunda Naira dan Ayah Lukman melotot karena pertanyaan Lintang yang kurang sopan.
"Makan sih tiga hari sekali, tapi ya itu cuma makan roti kadang daging bakar, gak pakai nasi, di luar sana jarang ada nasi, harus pesan online atau pergi ke resto. Aku terlalu malas, jadi makan apa yang ada," ujarnya menjelaskan membuat Lintang mengangguk anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Pantas aja makan nasinya banyak, mungkin sudah semingguan kali ya gak makan nasi, cuma makan roti aja, mana kenyang," gumam Lintang dalam hati.
Selesai makan, Luna dan Bunda Naira memasukkan kembali lauk pauk ke meja makan dan menutupnya dengan penutup makanan agar tak ada hewan masuk. Di ruang tamu hanya menyisakan teh yang mulai dingin.
Di saat Dion tengah mengobrol santai dngan Bunda Naira, Ayah Lukman dan Lintang, Luna pergi ke kamarnya untuk mandi, sholat dhuhur dan bersiap siap, agar nanti sampai Jakarta tidak terlalu malam. Kasihan juga Dion karena ia harus balik ke Bandung setelah mengantarkan dirinya ke Jakarta.
__ADS_1
Luna juga membiarkan mobilnya di kendarai oleh Ariel dan Noah. Karena Dion sudah memesan mobil online, jadi mereka akan ke Jakarta naik mobil online yang di sewa oleh Dion.
Sebenarnya bisa aja Dion mengajak Luna naik pesawat atau kereta biar lebih cepat sayangnya, Luna tak mau dan memilih untuk pergi naik mobil saja. Entah karena efek bayi atau apa, Luna gak suka naik pesawat, bus, kereta atau yang lainnya. Ia hanya ingin naik mobil saja agar lebih nyaman juga selama perjalanan. Dion puon tak memaksanya, toh baginya sama aja, malah ia senang jika pakai mobil, karena waktunya bersama dengan Luna semakin lama di perjalanan.