Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ikatan Batin


__ADS_3

Saat Luna tengah menangisi keadaan putrinya, Ariel datang. Ia tau di mana putrinya di rawat karena Luna tadi lagi-lagi mengirim email dan memberitahu kondisi putrinya, lengkap dengan rumah sakit dan kamar di mana Diana di rawat.


Saat mendengar suara langkah, Luna melihat ke arah pintu. Awalnya ia berfikir itu mungkin dokter, namun betapa kagetnya saat ia melihat jika yang kini berdiri di hadapannya itu adalah mantan suaminya.


"Mas." Luna segera berdiri dan memeluk Ariel seperti yang ia lakukan dulu.


"Mas, putri kita sakit, Mas. Hiks hiks .... " Mendengar suara Luna, Ariel merasa kasihan. Namun ia langsung mendorong tubuh Luna.


"Maaf, kita bukan lagi mahram," tutur Ariel. Mendengar perkataan Ariel, Luna pun di buat malu. Luna menganggukkan kepalanya. Dan sedikit menjauh.


"Maaf, aku lupa," dustanya. Padahal ia tadi hanya reflek aja, dan entah kenapa dia tiba tiba lari dan memeluk Ariel dengan erat.


Ariel berjalan ke arah putrinya yang kini tengah menutup mata. Selama ini, ia hanya melihat dari fotonya saja, tapi sekarang, ia bisa melihat secara langsung, bahkan ia bisa memegang Diana dengan tanganya.


"Sayang, putriku. Ini Papa, Nak. Maafin Papa, karena Papa baru datang." Ariel menangis, ia memeluk putrinya dengan erat.


Melihat Ariel menangis, Luna pun ikut menangis. Entah karena terharu, atau karena rasa bersalahnya karena sudah membuat putrinya jatuh sakit.


"Kamu harus sembuh ya, Sayang. Demi Papa," tutur Ariel sambil menci-um kening dan pipi putrinya. Ariel juga memegang tangan Diana dan menci-umnya berulang-ulang.


Saat Ariel menangis, tiba-tiba entah karena kekuatan batin atau apa, Diana mulai membuka mata dan saat ia pertama kali lihat Ariel. Matanya langsung terpaku.


"Sayang, kamu bangung, Nak. Ini Papa, Nak," ucap Ariel sambil menatap putrinya yang dari tadi menatap wajahnya terus menerus. Mungkin Diana masih bingung, karena belum pernah melihat Ariel sebelumnya.


"Papa," ucapnya dengan mulutnya yang terlihat mengemaskan.


"Iya, ini Papa." Mendengar putrinya menggumam kata Papa, Ariel semakin menangis. Ia langsung membawa Diana ke dalam pelukannya. Diana yang merasa nyaman pun membalas pelukan Ariel.


"Papa," Diana terus bergumam kata Papa. Karena memang dia tidak bisa bicara karena umurnya yang masih delapan bulan. Namun ia bisa memanggil Mama, dan kali ini, Diana sudah bisa memanggil dirinya Papa.


"Iya, Sayang," jawab Ariel sambil terus memeluk Diana dan mengusap punggung putrinya itu. Wajahnya masih pucat, namun Diana terlihat sangat antusias sekali. Mungkin memang batin seorang anak dan ayah itu sangatlah kuat, hingga Diana, walaupun baru pertama bertemu, langsung merasa nyaman berada dalam pelukan Ariel.


"Papa." Diana terus mengoceh nama Papa.


"Ada apa, Sayang. Diana sakit, hem?" tanyanya. Diana tidak mengerti Ariel ngomong apa. Namun Diana menganggukkan kepalanya.


"Sabar ya sayang. Putri Papa sangat kuat, nanti Allah pasti menyembuhkan rasa sakitnya," ujarnya. Saat Ariel ingin melepas pelukannya, Diana tidak mau. Diana terus memeluk Ariel. Ariel pun tak mempermasalahkan. Ia pun memeluk Diana, namun tak seerat tadi, karena takut jika Diana akan kesakitan.

__ADS_1


"Papa." Diana terus menyebutnya, membuat hati Ariel bergetar.


"Selama ini, Luna hanya tau berkata Mama dan selebihnya hanya mengoceh tidak jelas. Ini pertama kalinya, Diana bisa memanggil nama Papa," tutur Luna memberitau. Ariel hanya diam dan menganggukkan kepala. Karena fokusnya saat ini adalah putrinya, bukan Luna.


Entah kenapa saat melihat Diana, hati dan fikiran Ariel hanya tertuju pada Diana, bahkan ia seakan tidak memperdulikan keberadaan Luna di sampingnya. Padahal ia sangat khawatir, jika dirinya akan lemah lagi di hadapan Luna. Ternyata, apa yang di takutkan tidak terjadi karena perioritas Ariel saat ini adalah Diana, bukan Luna.


Sejam sudah Diana berada dalam pelukan Ariel, dan Diana tidak mau lepas dari Ariel. Karena takut Diana lelah, akhirnya ia duduk di brankar dan menaruh Diana di pangkuannya sehingga Diana bisa meluk dengan posisi enak.


"Padahal sejak Diana bisa mengenali seseorang, ia tidak mau di peluk laki laki lain, bahkan di peluk Ayah, Lintang dan Mas Dion pun dia menolak. Bahkan Diana akan menangis kencang, jika ada di pelukan mereka. Tapi sama kamu, Diana bahkan tidak mau lepas. Mungkin karena Diana tau, kamu itu Papanya, sehingga dia tak ingin jauh-jauh dari kamu lagi." Luna terus mengajak bicara, namun Ariel hanya diam karena bingung mau ngomong apa.


Merasa tidak ada tanggapan, Luna pun pamit keluar dan memberikan kesempatan buat Ariel dan Diana untuk melepas rasa kangen. Luna pergi ke taman samping rumah sakit, di sana, Luna menangis seorang diri.


Sedangkan Ariel, saat ia memeluk Diana, hpnya berbunyi, ada vc dari Papanya. Ariel pun segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Pa," sapa Ariel lebih dulu.


"Waalaikumsalam, Nak. Sudah sampai?" tanyanya. Dari tadi ia menunggu telfon dari Ariel, namun karena tak segera mendapatkan telfon, jadi Ardi, berinisiatif untuk menelfonnya lebih dulu.


"Iya, Pa. Saat ini aku sama putriku." Ariel mengarahkan putrinya yang kini duduk di pangkuannya sambil memeluk pinggangnya.


"Wah, cucu Papa. Akhirnya kamu bisa memeluk putrimu sendiri, Nak," ujar ARdi terharu.


"Enggak papa, kamu harus memperioritaskan putrimu, dia pasti lebih membutuhkan kasih sayang kamu, Nak."


"Iya, Pa." ucap Ariel


"Diana, Putri Papa. Sapa Opa dulu yuk," ucapnya namun Diana menggelengkan kepalanya. Bahkan ia menaruh wajahnya di dada Ariel.


"Maaf ya, Pa. Putriku mungkin malu," tutur Ariel tak enak sendiri, karena Diana seakan enggan menyapa Kakeknya.


"Enggak papa, ini kan baru pertama kalinya, Diana lihat Papa. Dia pasti merasa asing. Tapi saat ketemu kamu, apakah dia juga melakukan hal yang sama?" tanyanya penasaran.


"Enggak, Pa. Diana langsung lengket Bahkan sampai detik ini, Diana seakan enggan pisah dari aku."


"Mungkin karena ikatan batin, jadi dia seperti tau kalau kamu itu Papa kandungya."


"Iya, mungkin Pa."

__ADS_1


"Iya sudah, Papa matikan dulu ya. Yang penting Papa sudah tau, kamu sudah sampai."


"Iya, Pa. Maaf karena aku lupa ngabarin."


"Enggak papa, semoga Diana cepat sembuh."


"Aamin."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Ardi pun mematikan Hpnya. ARdi sengaja tidak menanyakan kabar mantan menantunya itu, karena takut jika itu akan membuat ARiel sedih.


Sedangkan Ariel, ia langsung menaruh hpnya dan fokus sama putrinya. Ia mengelus punggung Diana dan kadang mengelus rambut Diana yang hitam lebat. Dan panjangnya pun cuma sampai bahunya.


Ariel tidak menyangka jika wajah Diana persis dirinya bahkan termasuk rambutnya juga yang hitam lebat dan mudah panjang. Bahkan Ariel juga harus mencukur rambutnya sebulan sekali, karena mudah panjang.


Walaupun selama ini, Luna sering mengirim foto Diana, akan tetapi melihat langsung seperti ini, masih saja membuat Ariel merasa takjub.


"Papa," ucap Diana sambil menatap wajah ARiel.


"Ada apa, Nak?" tanyanya lembut, sangat lembut.


"Cucu." ujarnya dengan wajah menggemaskan.


"Susu, Diana mau minum susu?" tanyanya dan Diana pun menganggukkan kepalanya.


Karean bingung, dan gak pernah minum susu. Ariel pun mengambil hpnya dan mengirim pesan pada Luna. Ini pertama kalinya, Ariel mengirim pesan lewa email. Selama ini, Ariel memilih diam dan jadi pembaca saja.


Setelah ia mengirim pesan pada Luna, tak lama kemudian, Luna datang.


Untungnya sebelum pergi ke rumah sakit, Bibi Imah sudah menyiapkan semuanya.


Luna pun membuatkan susu untuk Diana dengan air hangat. Bibi Imah emang sangat teliti, ia bahkan sampai membawakan dot yang masih bersih, susu bubuk dan air hangat pakai termos kecil.


Setelah membuatkan susu, barulah Luna memberikannya ke Ariel. Ariel pun mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Ariel memberikan susu itu pada Diana, Diana pun meminumnya tapi hanya sedikit, setelah itu, ia memberikan susu itu pada Ariel lagi.


"Kenapa gak di habiskan?" tanya Ariel pelan dan Diana hanya menggelengkan kepalanya, lalu dengan mata yang redup, ia mulai memejamkan matanya secara perlahan. Ariel yang tau jika putrinya itu mengantuk, segera menaruh susu itu di meja samping brankar, lalu ia mulai mengelus punggung Diana lagi hingga Diana benar-benar tertidur.


__ADS_2