Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Mengadu


__ADS_3

Dion menunggu di rumah dari pagi sampai malam hari, bahkan ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam pun, Luna tak kunjung pulang.


Sedangkan Dion, ia sengaja gak pernah ke resto untuk menemui Luna secara langsung karena takut menganggu pekerjaan Luna, terlebih ia merasa gak enak hati untuk berada di sana. Bagaimanapun itu resto punya mantan suami istrinya, pasti ada rasa nano-nano.


Jadi, Dion memilih untuk tetap diam dan menunggu sedangkan nomer Luna juga tidak aktif.


Dion memilih duduk di ruang tamu sambil melihat file yang di kirim lewat emailnya.


Sedangkan Bibi Imah, ia merasa devaju, dulu Ariel yang menunggu pulang istrinya sampai malam di ruang tamu. Sekarang, Dion pun melakukan hal yang sama.


Bibi sudah menyuruh Dion untuk istirahat lebih dulu karena mereka kasihan, namun Dion kekeh ingin menunggu sang istri pulang.


Akhirnya Bibi pun hanya bisa pasrah dan membuatkan minuman dan membawakan camilan siapa tau Dion haus atau pengen nyemil.


Sedangkan Bibi, ia memilih untuk bersih-bersih, mengingat Bibi Neni sudah gak ada. Jadi tugas Bibi bukan hanya masak, tapi juga bersih-bersih rumah, nyuci dan yang lainnya.


Tapi gaji Bibi pun juga dua kali lipat, karena pekerjaan itu seharusnya untuk dua orang. Bibi gak bisa berhenti seperti Bibi Neni, walaupun ia sangat ingin. Karena Bibi Imah masih punya banyak tanggungan yang gak bisa ia abaikan begitu saja.


Setelah tanggungannya selesai, dan ia punya banyak tabungan. Mungkin Bibi Imah juga memilih untuk berhenti dan buka warung kecil-kecilan, bagaimanapun ia juga tak mungkin selamanya jadi pembantu, ia juga ingin menikmati masa tua bersama keluarga besarnya.


Sampai jam setengah dua belas malam, Luna juga tak kunjung pulang. Membuat Dion hanya bisa menahan kegeramannya dan kekesalannya.


Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pergi menemui Luna di resto. Ia mengambil kunc mobilnya dan segera pergi menuju resto tempat dimana Luna berada.


Sayangnya, sesampai di sana Luna tak ada. Bahkan resto juga terkunci rapat.

__ADS_1


"Kamu sebenarnya ada dimana, Lun?" tanyanya.


Sayangnya, ia tak punya contacts siapapun, jadi ia gak bisa menghubungi karyawan resto.


Entah keluarga macam apa ini, suami tidak tau keberadaan sang istri. Dan sang istri tak mengabari suaminya.


Akhirnya dari pada nunggu seperti orang bodoh, sedangkan pekerjaan di Bandung menumpuk, belum lagi besok ada meeting jam delapan pagi. Membuat Dion langsung meluncur ke Bandung, namun sebelum itu, Dion menghubungi Bibi dan mengatakan ia akan pulang ke Bandung, agar Bibi gak khawatir. Dion juga menyuruh Bibi untuk istirahat karena ini juga sudah dini hari.


Sepanjang jalan, Dion menitikkan air mata. Dalam agama, seorang wanita bahkan tidak boleh pergi tanpa izin suaminya. Bahkan jika pun pergi, harus di dampingi mahramnya atau saudara yang lain.


Ini, izin maksa, gak ada kabar, sekarang entah ada di mana.


Dion bahkan sebagai suami, benar-benar tidak di hargai.


Akhirnya sangking kesalnya, Dion menghubungi orang tua Luna, tak peduli ini malam apa gak.


"Assalamualaikum, Nak Dion. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya panik, mungkin berfikir anak dan menantunya kenapa-napa. Mengingat Dion menelfon masih jam setengah tiga pagi.


"Waalaikum salam, Ayah. Maaf, saya ganggu malam-malam."


"Iya, gak papa. Ada apa?"


Lalu Dion pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Tanpa di lebih-lebihkan atau di kurang-kurangi.


Sedangkan Ayah Lukman diam mendengarkan sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


Lagi, putrinya lagi-lagi mempermalukan dirinya.


Sedangkan Dion sengaja bercerita pada orang tua Luna, karena memang dalam Islam.


Jika Luna merasa tidak puas dengan sikap Dion, atau ada yang tidak di sukai dari Dion. Maka Luna bisa cerita ke orang tua Dion, biar orang tua Dion yang menasehati Dion.


Begitupun sebaliknya, misal Dion tada yang tidak suka dengan sikap Luna, ia akan bercerita ke orang tua Luna, biar mereka yang bisa menasehati Luna.


Karena jika Dion cerita ke orang tua kandungnya, tak menutup kemungkinan yang ada malah, orang tuanya membenci Luna, dan ia gak mau itu terjadi.


Sedangkan Dion sebagai sang suami, bukan tidak bisa membimbing, namun ia sudah lelah karena tak lagi bisa di hargai. Nasihat dan omongannya seakan di anggap angin lalu, dan itu sangat melukai harga dirinya, baik sebagai laki-laki maupun suami.


"Maaf ya Nak Dion. Maaf jika Luna sudah tidak menghargai suaminya seperti ini."


"Iya, Yah. Aku cerita, bukan ingin menjelek-jelekkan istriku, tapi aku cuma sudah lelah hidup seperti ini. Bahkan saat ini pun aku tidak tau dimana Luna berada. Aku dari Bandung ke Jakarta berharap bisa menemuinya, tapi bahkan aku nunggu sampai malam hari, Luna tak kunjung pulang. Aku cari di resto juga tidak ada.


Saat ini aku harus balik ke Bandung karena besok pagi, aku ada meeting. Aku gak mungkin terus terusan seperti ini, Ayah. Aku juga ingin di layani, sebagai mana mestinya.


Bahkan sejak menikah, aku cuma beberapa kali bertemu istriku, karena dia terlalu sibuk mengurus bisnisnya, hingga lupa jika dia adalah wanita bersuami.


Jujur, sebagai suami aku tidak meridhoi setiap langkahnya. Karena apa yang dia lakukan, telah menyakiti aku sangat dalam. Bahkan jika Luna terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan, aku akan mengembalikan Luna pada Ayah, sebagai walinya. Karena menurutku, punya atau tidak punya istri sama aja. Karena yang mengurusku adalah asistenku." Ucap Dion panjang lebar.


"Baik, Nak. Nanti Ayah akan menghubungi Luna dan menasehatinya. Maaf atas apa yang telah Luna lakukan selama ini."


"Iya, Yah. Aku harap setelah ini, Luna mau berubah. Jujur aku tak ingin ada sebuah perceraian, tapi jika aku tak mampu. Aku bisa apa, aku tak mungkin mempertahankan wanita yang tidak taat pada suaminya, wanita yang meninggalkan suaminya dan hanya sibuk dengan urusannya sendiri, serta wanita yang baik pada suaminya. Harga diriku sebagai suami seperti di injak-injak. Aku harap dengan Ayah menasehatinya, Luna mau berubah."

__ADS_1


Dan setelah itu, Dion pun langsung menutup telfonnya.


__ADS_2