
Sejak kepulangan dari kediaman mertuanya, hidup Luna jadi tak ceria lagi. Luna merasa bersalah, ia merasa bahwa dirinyalah penyebab kematian Mama mertuanya. Sungguh, Luna tidak bermaksud untuk menyakiti banyak orang. Ia hanya ingin mempermalukan suami dan sahabatnya yang selama berbulan-bulan lamanya sudah bahagia di atas deritanya. Ia ingin mempermalukan mereka dan membeberkan aib mereka agar semua orang tua, jika suami yang sangat ia cintai, sudah tega berkhianat dengan sahabatnya sendiri, sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Luna ingin seluruh keluarga besar Ariel tau, bagaimana kebe jatannya selama ini, jadi misal Luna ingin bercerai pun, mereka tau siapa yang salah dan Luna tak perlu menjelaskan satu persatu ke mereka, apa penyebab Luna menggugat cerai Ariel. Karena mereka sudah melihat sendiri perselingkuhan Ariel dan Laras. Jadi, Luna tak perlu di salahkan akan hal ini. Itulah yang ada di benak Luna saat itu. Ia hanya ingin memberikan pelajaran juga buat Ariel, agar tidak seenaknya menganggap lemah dirinya, berpesta pora melakukan hubungan badan siang malam, layaknya suami istri.
Luna juga ingin memberikan pelajaran pada Laras, ia ingin semua orang tau terutama keluarga besar Laras dan orang tuanya, jika Laras sudah menjadi duri dalam rumah tangganya. Luna ingin mereka semua tau, jika Laras sudah menggoda suaminya dan ingin menjadi istri keduanya. Luna ingin semua oran tau, jika Laras sudah menjadi pelakor dalam rumah tangganya, Luna ingin semua orang tua, bagaiman liarnya Laras dan menggoda suaminya. Luna ingin semua orang tau, bahwa Laras yang sudah ia bantu sedemikian rupa, sudah ia bantu dari segi pekerjaan, tempat tinggal dan yang lainnya. Masih tega menusuknya dari belakang. Luna ingin semua orang tau, betapa jahatnya Laras selama ini kepadanya. Semua kebaikannya, dia balas dengan sebuah penghianatan.
Saat itu, Luna tidak berfikir dampak dari apa yang ia lakukan. Ia hanya ingin mempermalukan dan memberikan mereka pelajaran. Hanya itu. Ia juga ingin membalas rasa sakitnya yang sudah ia pendam beberapa bulan lamanya. Ia ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dari orang-orang yang sekitarnya.
Luna tidak berfikir, bahwa dampak dari ia mempermbalukan suami dan sahabatnya akan berakibat fatal. Ia gak berfikir bahwa yang akan kena dampaknya bukan hanya mereka berdua, tapi seluruh keluarga besar mereka, nama baik keluarga besar mereka terutama Ariel. Luna hanya fokus ingin membalas kejahatan suami dan sahabatnya tanpa ia sadari, bahwa dirinya sudah menjadi penyebab Mama mertuanya kehilangan kewarasaanya.
Luna tidak tau jika gara-gara dirinya, Mama mertuanya sampai mendapatkan hinaan dan caci maki dari teman-temannya, dan dari orang sekitarnya. Luna tidak tau, jika semua orang membully Mama mertuanya karena menganggap Mama mertuanya tidak becus menjadi seorang Ibu. Luna tidak tau akan hal itu, karena memang tidak ada yang memberitahunya.
__ADS_1
Luna menangis, ia bahkan sudah tidak ada selera untuk makan. Semua keluarga Ariel kini memilih membencinya dan menuduh dirinya penyebab kematian Mama mertuanya. Luna merasa bersalah dan ia merasa tertekan akann hal itu.
Sedangkan di tempat yang beda, Papa Ardi pun memilih untuk tidak keluar kamar bahkan saat tahlilan pun, Papa Ardi memilih diam di kamar sambil menatap foto mendiang istrinya. Ia merasa separuh jiwanya sudah pergi.
Selama ini, sejak saat ia masih remaja, Papa Ardi selalu bersama dengan Mama Ila. Mereka sekolah bareng dan menjalani hubungan. Saling menguatkan satu sama lain dan mengejar cita-cita mereka bersama-sama. Saling mendukung dan saling support. Hingga akhirnya mereka dewasa dan mereka berhasil meraih impian mereka. Dan setelah itu, mereka memutuskan untuk menikah dan menjalani rumah tangga yang harmonis. Apalagi saat Ariel hadir di tengah-tengah mereka, membuat keluarga itu semakin penuh dengan kebahagiaan.
Hampir seluruh hidupnya, ia habiskan bersama dengan Mama Ila. Cinta pertamanya, wanita kedua yang selalu ada disisinya selain sang Ibu. Dan kini sang istri sudah tiada. Tidak ada lagi teman tidur, tidak ada lagi teman untuk berbagi cerita, tak ada lagi yang menyiapan makanan untuknya, tidak ada lagi yang menyiapkan bajunya sehari-hari, tidak ada lagi yang mendengar segala keluh kesahnya. Tidak ada lagi yang mengingatkn dirinya untuk sholat tepat waktu dan beramal. Tidak ada yang mengingatkan dirinya lagi untuk olah raga dan makan makanan yang sehat agar bisa berumur panjang dan sehat selalu sehingga bisa menggendong cucu-cucu mereka kelak, tidak ada lagi yang menemaninya bercanda, atau sekedar jalan-jalan pagi ke taman. Tidak ada lagi yang menemani dirinya berkebun sambil bercanda tawa, tak ada lagi yang menemaninya mengaji sehabis sholat maghrib, tak ada lagi yang memarahi dirinya karena lupa waktu jika sudah bekerja.
Kini ia sendiri, dan Papa Ardi, tidak yakin, akankah ia bisa melalui semuanya seorang diri. Sedangkan dirinya sudah terbiasa hidup bergantung pada sang istri. Selama ini, Mama Ila yang sudah menyiapkan semuanya dari atas sampai bawah. Ia hanya tinggal memakai dan memakan apa yang sudah di siapkan oleh istrinya.
Papa Ardi memeluk foto sang istri dengan erat, bibirnya sesekali mengucap nama sang istri. Air mata terus bercucuran, ia bahkan tidak peduli apa yang terjadi di luar. Saat ini, hatinya tengah kosong. Ia seperti kehilangan arah, tak ada lagi yang membuat dirinya semangat untuk hidup. Ia benar-benar hampa dan seperti kehilangan harta berharganya.
__ADS_1
Papa Ardi sangat menyesal, kenapa ia tidak memaksa istrinya untuk pergi atau menetap di luar negeri. Dari pada hanya diam di rumah dan mengurung diri. Andai saat itu ia memaksa istrinya, mungkin istrinya tidak akan terus tertekan hingga membuat dirinya memilih untuk mengakhiri hidup.
Saat ini, ia sudah tak lagi peduli dengan putranya, ia sudah tak lagi peduli dengan menantu kesayangannya. Ia tak lagi peduli dengan seluruh keluarga besarnya. Bagi Papa Ardi, mereka semua penyebab istrinya frustasi, depresi dan memilih untuk menyayat pergelangan tangannya.
Ya, andai putranya tidak berkhianat dan berzina dengan wanita lain, mungkin kejadian memalukan ini tidak akan membuat kewarasan istrinya terganggu.
Andai, Luna tidak mengumumkan aib Ariel di depan banyak orang hingga berakhir viral di media sosial, mungkin istrinya masih ada saat ini. Ia kecewa karena Luna memilih untuk menyebarkan aib Ariel dari pada harus ngomong ke mereka. Padahal jika Luna bilang, ia sendiri yang akan memukul Ariel, ia sendiri yang akan menghajar Ariel sampai babak belur, ia sendiri yang akan menyeret ARiel ke penjara karena sudah melakukan zina. Ia sendiri yang akan membantu Luna lepas dari pernikahan mereka. Karena memang Papa Ardi dan Mama Ila sangat menyayangi Luna seperti putri mereka sendiri. Bahkan mereka akan selalu membela luna dari pada putranya sendiri. Mereka akan selalu berada di sisi Luna dan membela Luna. Tapi kenapa, Luna begitu jahat padanya. Kenapa Luna hanya memikirkan kesakitannya tanpa berfikir, bahwa apa yang ia lakukan akan membuat dirinya dan sang istri malu dan ikut kena hukuman atas apa yang mereka tidak lakukan.
Papa Ardi tidak mendukung Ariel, ia bahkan mengecam tindakan Ariel yang sangat memalukan itu. Seharusnya Luna tau akan hal itu. Ia tidak akan membela ARiel jika ARiel melakukan kesalahan besar. Kesalahan kecil aja, mereka gak akan segan memarahi Ariel habis-habisan, apalagi masalah sebesar ini. Tentu Papa ARdi dan Mama Ila pasti akan mendukung jika memang mereka harus berpisah agar ARiel jera. Apalagi Luna tengah mengandung cucu mereka, keturunan mereka. Papa ARdi dan Mama Ila gak akan membiarkan Luna untuk menghadapi semuanya sendiri. Sayangnya Luna tidak mau jujur dan memilih untuk melakukan rencananya sendiri yang membuat Papa Ardi dan Mama Ila kehilangan muka dan pada akhirnya menjadi bulan-bulanan keluarganya, teman-temannya dan para netizen di media sosial.
Papa Ardi juga kecewa dengan keluarga besarnya, kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Karena saat istrinya masih hidup, mereka juga ikut membully, menghina dan mencaci maki istrinya. Mereka bahkan terang-terangan menyindir sang istri tanpa memikirkan perasaanya. Secara tidak langsung, mereka juga menjadi penyebab istrinya memilih untuk mengakhiri hidupnya. ANdai saat itu, keluarga dan saudara-saudaranya memberikan dukungan dan tidak ikut menyalahkan sang istri, mungkin saat ini istrinya masih hidup dan masih baik baik saja.
__ADS_1
Sekarang, mereka menyesal dan menangisi kepergian sang istri. Tapi sayangnya, penyesalan itu sudah terlambat. Kenapa mereka harus menyesal setelah istrinya tiada. Kenapa saat masih hidup, mereka membencinya dan menghinanya. Padahal istrinya tidak bersalah, yang bersalah adalah Ariel, putranya. Kenapa istrinya yang gak tau apa-apa ikut kena dampaknya. Padahal selama ini, sang istri selalu baik sama mereka. Tapi kenapa saat istrinya terkena masalah, mereka bukannya membantu tapi malah menyalahkan. Mereka seakan lupa dengan semua kebaikan sang istri selama ini.
Bagi Papa Ardi, mereka itu hanya orang bermuka dua. Dan itulah alasan kenapa Papa ARdi memilih mengurung diri di kamar, dari pada mendengar ocehan mereka, yang mungkin tertawa di dalam hatinya.