Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ketegasan Ayah Lukman Pada Dion


__ADS_3

Bunda Naira turun sambil menggendong Diana, Lintang dan Ayah Lukman pun juga turun dan mereka masuk ke dalam rumah. Lalu duduk di ruang tamu. Sedangakn Bunda Naira, ia berjalan ke arah kamar Luna, tapi sayangnya pintunya di kunci dari dalam. Bunda Naira pun hanya bisa menghela nafas. Akhirnya ia berjalan ke arah dapur dan meminta Bibi Imah membuatkan minuman.


"Ini anaknya Non Luna ya, ya Allah lucunya. Wajahnya mirip sekali sama Tuan Ariel." Melihat Bunda Naira menggendong bayi, Bibi Imah dan Bibi Neni pun mendekat.


"Iya sangat mirip Papanya. Oh ya, Bi. Tolong buatkan minuman ya Bi. Tiga gelas, terus bawa ke ruang tamu. Minuman dingin aja biar cepat," ucap Bunda Naira.


"Iya. Apa di luar ada Nak Dion?" tanyanya.


"Iya, ada."


"Baiklah."

__ADS_1


Setelah itu, Bunda Naira pun membawa Diana ke kamarnya karena Luna seperti anak kecil yang mengurung diri, dan melupakan jika dia sudah jadi seorang Ibu.


Di ruang tamu, Dion sudah duduk di hadapan Lintang dan Ayah Lukman. Melihat Ayahnya dan Dion secara bergantian, membuat Lintang merasa tak nyaman berada di antara mereka, akhirnya ia pun memilih untuk pergi dari sana. Sehingga kini, hanya ada Dion dan Ayah Lukman.


"Luna mana Om?" tanyanya.


"Lagi istirahat di kamarnya," sahut Ayah Lukman.


"Nak Dion, sebelumnya Om minta maaf sama kamu. Bukan maksud Om, tidak menghendaki kehadiran kamu di kehidupan Luna. Tapi alangkah baiknya jika kalian menjaga jarak lebih dulu. Luna kan baru cerai, dia masih dalam masa iddah. Jika dia sudah selesai masa Iddah, dan kamu ingin mendekatinya, kamu bisa bilang sama Om. Biar Om  sendiri yang akan menikahkan kalian secara langsung, agar tidak terjadi fitnah. Dan lagi, kalian sudah dewasa, sudah mengerti agama tentunya. Bagaimanapun dua orang yang belum terikat pernikahan, tidak baik jika terlalu dekat, karena pasti akan terjadi hal-hal yang tidak seharusnya di lakukan. Om sudah mendengar kejadian saat kamu yang menemani Luan saat melahirkan, kamu memeluk Luna dan mencium dahinya berulang-ulang. Jujur, Om kecewa. Karena kamu seperti tidak menghargai putri Om. Kamu memegangnya, padahal kamu tau, kamu bukan suaminya. Jika kamu mencintai Luna, kamu pasti akan menjaga kehormatannya, kamu pasti tidak akan menyentuhnya sampai waktunya tiba. Kamu akan menjaga dan melindungi nama baiknya," ujar Ayah Lukman langsung to the point.


Mendengar hal itu, Dion pun diam.

__ADS_1


"Maafin aku, Om," ucap Dion karena kini ia merasa malu saat menyadari kesalahanya.


"Hmm ... Om harap kamu mengerti dan tidak salah faham. Om melakukan itu demi kalian berdua. Om gak ingin kalian terus menerus melakukan sebuah dosa besar."


"Iya, Om."


Dan setelah itu, Bibi Imah pun datang membawa minuman.


"Silahkan di minum dulu."


Dion pun segera meminum jus yang masih sangat dingin itu, sehingga terasa segar di tenggorokan. Setelah hampir dua puluh menit dan Luna tak kunjung keluar. Akhirnya, Dion yang merasa tak enak sendiri pun memilih untuk pulang. Karena ia juga tak enak berada di situasi di mana saat ini posisinya serba salah.

__ADS_1


Setelah Dion pergi, barulah Ayah Lukman bernafas lega. Saat ini, ia hanya perlu menasehati Luna agar Luna mau mengerti dan tak lagi bersikap egois. Sudah cukup ia melaukan sebuah kesalahan di masa lalu, dan dirinya membiarkannya hingga memakan korban. Kali ini, ia tidak ingin melakukan sebuah kesalahan lagi, yang pastinya akan merugikan putrinya sendiri.


__ADS_2