Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Luna Yang Tak Lagi Peduli


__ADS_3

Sesampai di rumah, Luna mengajak Bibi Imah dan Bibi Neni buat makan terang bulan bersama di ruang keluarga sambil menonton tivi. Bibi Imah dan Bibi Neni pun langsung merapat, mereka duduk lesehan di lantai sedangkan di tengah-tengah mereka, ada tiga terang bulan.


"Kenapa sampai beli tiga, Non?" tanya Bibi Neni.


"Biar cukup, jadi satu orang satu. Ada tiga warna, coklat, strawberry dan melon. Rasanya juga beda, ada yang pakai coklat dan kacang almond, ada yang pakai coklat keju, dan ada yang pakai coklat saja. Ayo pilih," tutur Luna sambil menjelaskan satu persatu.


"Non Luna aja yang milih duluan," ujar Bibi Imah.


"Baiklah, aku pilih yang rasa melon, yang isinya coklat dan kacang almond," ucap Luna. Dan Bibi Imah pun mengambil yang rasa coklat dan isinya coklat saja karena Bibi Imah tidak terlalu suka keju. Jadi yang rasa strawberry isi coklat keju di makan oleh Bibi Neni.


"Keadaan Tuan Ariel gimana, Non?" tanya Bibi Neni sambil makan terang bulannya.


"Biasa aja," jawab Luna sambil mengunyah makanannya.


"Biasa aja, gimana Non? Apa Tuan Ariel sudah sadar?" tanya Bibi Imah.


"Belum," sahut Luna.


"Kasihan ya, Non," tutur Bibi Neni.


"Enggak sih, aku gak kasihan. Lagian itu kan sakit di buat sendiri. Ngapain sampai gak makan dan gak tidur. Aku aja yang waktu itu di khianati masih menjaga pola makan aku, masih tidur dengan nyenyak kok. Kalau Mas Ariel emang gak mampu dengan semua masalah yang ada, seharusnya Mas Ariel mengambil wudhu, sholat. Bukan malah mengabaikan sholat dan memilih menyiksa diri sendiri. Seharusnya dia mengadukan masalahnya sama Tuhan, meminta pertolongan-Nya. Bukan malah nangis gak jelas, bukan malah mogok makan, bukan malah memilih untuk tidak tidur. Emang manfaatnya apa? Bukannya bikin hati tenang, yang ada malah fisik akan ikut sakit," sahut Luna santai.


Bibi Imah dan Bibi Neni yang mendengarnya pun setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Luna barusan. Seharusnya, seberat apapun masalahnya, Ariel gak boleh sampai mengabaikan sholat, lalu menyiksa diri sendiri dengan mogok makan dan tidur.


"Sudahlah, jangan di fikirkan. Nanti juga sembuh sendiri jika emang ada kemauan yang kuat dari dirinya, ingin segera sembuh. Tapi jika memang Mas Ariel memilih untu menyerah, ya mungkin tak ada harapan lagi buat hidup karena kondisinya akan terus menurun. Semuanya kembali pada dirinya, mau sembuh apa gak," tandas Luna yang sudah malas membahas masalah suaminya itu.


Melihat raut wajah Luna yang mulai terlihat kesal. Bibi Imah dan Bibi Neni pun tak lagi membahas masalah Ariel dan mencoba untuk membahas masalah yang lain.


Jika makan sambil ngobrol, tak terasa terang bulan mereka pun sudah habis tak tersisa, apalagi emang porsi kecil, jadi emang cepet habisnya.

__ADS_1


"Aku mau siap-siap dulu ya, Bi. Bentar lagi sudah memasuki adzan maghrib," pamit Luna sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, Non," sahut Bibi Neni dan Bibi Imah bersamaan.


Lalu Luna pun pergi ke kamarnya untuk mengambil wudhu, mengaji sambil nunggu adzan Maghrib. Setelah adzan berkumandang, Luna menyudahi ngajinya dan menjawab adzan.


Selesai adzan, Luna mengangkat tangannya untuk berdoa.


Mungkin banyak orang yang gak tau, bahwa waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu utama terkabulnya doa.


Dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqomah, maka berdoalah (kala itu).


Selesai berdoa, Luna pun segera melaksanakan sholat maghrib tiga rakaat dan melanjutkan ngajinya sampai tiba waktu sholat isya.


Jam setengah delapan, Luna keluar dari kamar sambil membawa Hpnya. Ia menghampiri Bibi Imah dan Bibi Neni yang tengah mengobrol santai.


"Non sudah mau makan?" tanya Bibi Imah.


"Tapi Bibi sudah masak enak loh. Nasi sama tempe penyet di kasih kemangi, sama Ayam kentucky juga, dan oseng-oseng kangkung."


"Hueftt, tapi aku masih kenyang, Bi. Tapi ya sudahlah, aku mau makan dikit aja, tapi temenin ya Bibi Imah, Bibi Neni. Aku gak nafsu rasanya kalau makan sendirian," tutur Luna. Bibi Imah dan Bibi Neni pun menganggukkan kepalanya.


Akhirnya mereka pun makan bertiga, saat tengah makan, hp Luna berbunyi ada panggilan dari Dion. Luna tak mengangkatnya, ia hanya mengirim pesan.


"Aku masih makan, Mas. Nanti aku telephon balik," ketiknya.


Dan setelah itu, Dion pun tak menelfon lagi.


"Bi, aku sudah selesai makan. Aku mau ke depan dulu ya."

__ADS_1


"Tapi di luar lagi gerimis, Non." Bibi Imah memberitahu.


"Enggak papa, lagian aku kan gak main hujan-hujanan, cuma duduk di teras aja," balas Luna sambil berjalan keluar.


Lalu ia duduk di kursi kayu jati yang di bentuk berbentuk oval. Ia memegang hpnya dan menelfon balik Dion. Tak lama setelah terhubung, Dion pun langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum," sapa Dion lebih dulu.


"Waalaikumsalam. Sudah sampai Mas?" tanyanya.


"Iya, Alhamdulillah, sudah sampai tadi jam lima. Tapi langsung mandi dan sholat. Sudah selesai makannya?" tanyanya.


"Iya, Mas. Sudah. Mas Dion sendiri sudah makan?"


"Alhamdulillah, sudah barusan."


"Syukurlah."


"Tadi katanya kamu pergi ke rumah sakit, gimana keadaan suamimu?" tanyanya.


"Iya gitu deh, dia belum sadar," jawabnya sekenanya.


"Semoga Allah segera menyembunhkan suamimu ya."


"Hm. Sudahlah jangan bahas Mas Ariel, okay. Mending kita bahas yang lain aja, oh ya di sana gak hujan, soalnya di sini sekarang gerimis?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan.


"Tadi sempat hujan deras bentar, tapi sekarang sudah gak lagi," jawab Dion.


Mereka pun terus mengobrol santai, hingga tak terasa satu jam sudah berlalu. Setelah itu, Dion menyuruh Luna untuk tidur dan jangan bergadang. Terlebih Luna tengah hamil saaat ini. Luna pun mengangguk setuju, lagian ia juga lelah banget hari ini dan ingin cepat-cepat tidur lebih awal.

__ADS_1


Setelah selesai menelfon Dion, Luna pun pamit ke Bibi Neni dan Bibi Imah untuk tidur lebih dulu. Dan Luna juga meminta agar besok Bibi Imah menyiapkan makan lebih banyak karena ia harus menjenguk Ariel lagi sekalian mengantarkan sarapan buat Noah.


__ADS_2