Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kekecewaan Ariel


__ADS_3

Setelah dokter mengatakan Luna sudah melewati masa kritisnya, para dokter pun keluar sambil membawa alat-alat mereka yang tadi di pakai untuk membantu Luna dalam proses melahirkan.


"Dok, gimana keadaaan Luna?" tanya Dion lebih dulu. Membuat Ardi yang ada di belakangnya pun menggeram kesal. Padahal di sini, posisi Dion masih termasuk orang lain karena dia bahkan tidak ada ikatan apapun dengan Luna. Tapi Dion bersikap seolah-olah Luna adalah istrinya.


Dokter yang di tanya pun, menatap wajah Dion dengan tatapan yang sulit di artikan. Mungkin semua dokter juga merasa kecewa karena di tipu habis-habisan oleh mereka berdua. Mereka bisa kena dosanya karena membiarkan laki-laki lain masuk ke dalam ruang bersalin yang tengah melahirkan secara normal. Berperlukan di hadapan mereka, saling berkata sayang, saling berpegangan tangan dengan erat, dan lain sebagainya yang bikin mereka muak. Ya, muak setelah mereka tau kejadian yang sebenarnya. Kalau suami aslinya itu adalah pria yang duduk di kursi roda.


Melihat Ariel, mereka terenyuh. Mereka bisa melihat ketulusan di mata Ariel. Bukan hanya ketulusan tapi juga ketakutan dan kekhawatiran yang begitu dalam. Walaupun Ariel tidak bisa berkata apa-apa karena kondisinya yang kurang baik, tapi air mata yang Ariel tumpahkan di dalam ruangan tadi, seakan sudah menganggambarkan semuanya. Dia emang tidak berkata apa-apa, tapi bisa jadi doa yang ia panjatkan dalam hati, membantu Luna melawan masa kritisnya.


"Kondisinya semakin membaik. Tolong untuk beberapa jam ke depan, jangan sampai ada yang masuk ke dalam ruangan." ucap dokter itu memberikan perintah.


"Tapi bagaimana dengan Ariel di dalam sana?" tanya Dion yang merasa keberatakan, karena bukan dirinya lagi yang menemani Luna.


"Emang kenapa?" tanya dokter itu kesal.


"Bukankah kata dokter tidak boleh ada yang masuk ke dalam ruangan itu?" tanyanya.


"Kecuali suaminya. Selain suaminya gak boleh," ujarnya dan segera pergi dari sana.


Melihat jawaban ketus sang dokter, Ardi dan Noah diam-diam tersenyum.


"Rasakan, emang enak. Salahnya sendiri, gatel ma istri orang. Belum juga mereka pisah, sudah gak sabar aja pengen ngedeketin," gumam Noah dalam hati.

__ADS_1


Sedari tadi, Dion di luar, Ardi dan Noah bahkan tidak mau menyapanya. Siapa juga yang mau menyapa laki-laki yang punya sifat buruk kayak gitu. Orang-orang milih Dion dari pada Ariel. Ck ... mending Ariel, dia bahkan jauh lebih baik. Setidaknya sebelum Laras datang dan Luna memaksa mereka berdua untuk dekat, ARiel sudah membuktikan, jika ia bisa menjadi suami yang baik dan tidak pernah mendekati wanita lain selain istrinya.


Sedangkan Dion, belum apa-apa, dia sudah berani mendekati wanita yang bukan mahramnya, yang parahnya lagi dia terang-terangan mendekatinya di depan keluarga Luna dan keluarga Ariel. Hanya cowok yang fikirannya otak udang, yang tak punya rasa malu.


Bibi Imah yang melihat Dion di abaikan begitu saja, hanya bisa diam. Tidak membela dan juga tidak menyalahkan. Diam aja, seakan menjadi penonton.


Dion pun akhirnya kembali duduk di depan ruang bersalin.


"Om mau aku belikan kopi?" tanya Noah.


"Boleh, Om ngantuk banget soalnya," sahut Ardi.


Noah tidak menawari Dion ataupun Bibi Imah, karena Noah merasa jika Bibi Imah ada di pihak Dion.


"Iya. Hati-hati."


"Iya."


Sedangkan di dalam, Ariel terus menemani Luna, ia bahkan tidak mengantuk sama sekali, ia hanya menatap Luna dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hatinya semakin menyesali apa yang sudah ia lakukan di masa lalu.


Di tangan Ardi, Ariel bahkan bisa sembuh. Berbeda saat di rawat oleh Luna. Bagaimana mungkin Ariel bisa sembuh, jika Luna sibuk chatan dan telfonan dengan Dion di hadapannya, di depan matanya. Belum lagi, kadang luna selalu mengingatkan dirinya akan dosa di masa lalu. Akhirnya, bukannya membaik malah memburuk.

__ADS_1


Berbeda dengan Ardi, Ardi sering menceritakan masa lalu Ariel yang baik-baik, selalu memperlihatkan album keluarga mereka. Ardi juga sering membawa Ariel ke makam makanya. Setiap pagi, Ardi akan membawa Ariel berjemur di belakang rumah sedangkan Ardi, ia menyiram tanaman sambil mengajak Ariel bicara dan membahas kebahagiaan sebelum Ariel menikah.


Setelah matahari beranjak siang, barulah Ardi mengajak Ariel masak bersama, walaupun Ariel hanya diam, namun Ardi begitu antusias mengajak Ariel bicara seolah-olah Ariel mendengarnya.


Ardi juga telaten menyuapi Ariel sedikit demi sedikit, lalu memandikannya dan setelah itu mengobrol santai sambil nonton tivi. Jika ada pengajian, Ardi akan membawa Ariel ke sana untuk mendengarkan pengajian secara langsung. Biar Ariel gak boring di kamar terus.


Ardi juga mengajak Noah dan Ariel untuk sholat berjamaah, walaupun Ariel harus sholat di atas kursi roda.


Kadang jika malam hari, Ariel gak bisa tidur, Ardi akan membawa Ariel ke kamarnya sendiri, di mana kamar itu mempunyai banyak kenangan dirinya bersama sang istri. Sesekali, Ardi juga akan mengajak Ariel ke dokter untuk melihat perkembangannya.


Ariel juga  mengonsumsi obat dari dokter terbaik di Jakarta. Obat yang berbentuk sirup, sehingga Ariel dengan mudah menelannya karena jika berbentuk kapsul, akan sulit buat Ariel menelan obat itu.


Dan benar saja, belum satu bulan, ARiel sudah mulai ada kemajuan, tidak seperti saat bersama Luna yang seperti mayat hidup.


"Kamu harus sembuh, aku janji jika kamu sembuh, aku akan pergi jauh, sejauh mungkin. Aku gak akan ganggu kamu dan Dion. Karena aku tau, Dion adalah sumber kebahagiaan kamu," ucap Ariel dalam hati, sambil mengeluarkan air mata lagi.


"Aku ikhlas, aku ikhlas melepaskan kamu walaupun sangat berat. Aku sadar diri, kamu sakit hati karena ulahku. Aku gak akan menyalahkan kamu, karena di sini akulah yang bersalah, aku tidak bisa mengendalikan naf suku sendiri. Aku benar-benar minta maaf. Tapi berjanjilah, jika suatu saat kamu menikah lagi, tolong jangan memasukkan wanita lain dalam kehidupan rumah tangga kamu, bahkan jika dia adalah saudara atau sahabat perempuan kamu yang lain. Aku tak ingin kamu hancur untuk kedua kalinya. Karena kita tidak tau, bagaimana Dion akan menyikapi semuanya, jika berada di posisi yang sama seperti aku dulu. Tidak semua laki-laki akan kuat menerima godaan setiap hari. Semoga pengalaman pahit ini bisa menjadi pelajaran buat aku, kamu dan semua orang. Bahwa rumah tangga bisa hancur karena orang terdekat yang mungkin tidak di sangka-sangka." Ariel terus berbicara dalam hati, seakan Luna bisa mendengar isi hatinya.


Tak terasa pagi hari sudah tiba, namun Ariel bahkan tidak merasa mengantuk sama sekali, ia juga tidak berminat untuk tidur, karena ia takut, jika ia terlelap sebentar aja, ia bisa kehilangan Luna. Ia takut, takut jika Luna kenapa-napa.


Saat Ariel tak sengaja menatap jari-jari Luna, jari-jarinya bergerak, Ariel ingin memanggil dokter, tapi bagaimana caranya. Dia bahkan tidak bisa untuk mengerakkan tubuhnya. Ariel merasa menjadi manusia yang tidak berguna, bahkan untuk memanggil dokter saja, ia tidak bisa.

__ADS_1


"Mas Dion ... Mas, jangan tinggalin aku, Mas. Mas Dion ... Mas ... Mas Dion." Luna bergumam dengan suara pelan. Bahkan sangat pelan sekali. Namun walaupun pelan, Ariel bahkan mendengar suara itu dengan sangat jelas.


"Segitu besarnya kamu mencintai pria yang baru saja hadir dalam hidup kamu Sayang. Sampai saat kamu sadar pun, orang pertama yang kamu sebut adalah pria lain, bukan aku, suamimu," ucap Ariel dalam hati. Lagi-lagi, hatinya berdenyut sakit. Ariel mengucap istigfar berulang-ulang. Untuk bisa menghilangkan rasa sakit itu, karena jika di biarkan, bisa jadi mempengaruhi kesehatannya.


__ADS_2