
Malam harinya Ariel memutuskan untuk tidur di ruang tengah bersama Noah dan Diana. Yah mereka memutuskan untuk tidur di atas karpet tebal yang empuk. Tentu di sekeliling mereka sudah banyak mainan yang berserakan. Namun mereka tak mempermasalahkan selama Diana betah tinggal di rumah itu dan tidak menangis.
Diana tidur di tengah-tengah Papa dan Pamannya. Diana memeluk Ariel dan Ariel pun memeluknya sambil mengelus punggung Diana.
Keesokan harinya, Noah yang menemani Diana untuk main. Sedangkan Ariel yang membersihkan mainan Diana dan membuatkan sarapan dan juga susu buat Diana.
Melihat putrinya akrab dengan Noah, Ariel cukup senang. Karena sudah lama Noah ingin bermain dengan Diana tapi Diana selalu menolaknya. Entah apa yang merasukinya saat ini hingga Diana cukup lengket dengan Noah.
Setelah makanan sudah selesai di sajikan. Barulah mereka makan bersama. Diana yang makan MPASI. Sedangkan Ariel dan Noah makan nasi dengan lauk sederhana. Ya hanya makan omelette telur dan oseng-oseng udang yang di kasih banyak cabe hingga cukup membuat bibir mereka seperti Jontor, namun entah kenapa baik Ariel maupun Noah malah sangat berselera hingga menambah nasi.
"Aku gak nyangka kamu makin ke sini, makin jago masak," puji Noah dengan ingus yang ingin keluar terus karena sangking pedasnya. Bahkan keringat mulai bercucuran.
Noah menyeka keringatnya dan minum air hangat agar pedasnya cepat reda
"Hemm aku harus jago, karena sekarang tidak ada istri yang merawat aku dan aku juga malas pakai pembantu. Jadi aku harus serba bisa," balas Ariel sambil melihat ke arah putrinya.
Dan setelah itu, dua puluh menit kemudian. Ariel memandikan Diana sedangkan Noah yang bagian nyuci piring dan bersihin dapur.
Ya, mereka berbagi tugas. Agar semuanya cepat selesai.
Setelah Diana selesai mandi, barulah di titipkan ke Noah. Karena kini Ariel yang gantian mandi. Begitulah seterusnya. Setelah Ariel selesai mandi, kini Diana main bareng Ariel sedangkan Noah yang gantian mandi karena tubuhnya sudah gerah.
__ADS_1
Lalu setelahnya, mereka memilih untuk pergi ke taman yang agak jauh dari rumah itu untuk sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu bertiga.
"Nanti sore hasil tes DNA nya baru keluar. Setelah keluar dan benar jika Dania putrimu, maka malamnya kita bisa langsung ke rumah Ardi untuk memutuskan bagaimana enaknya. Dania ikut kamu atau tetap bersama Ardi," ucap Noah.
"Iya, semoga nanti mendapatkan jalan tengh agar tidak ada yang di rugikan."
Lalu setelah itu, mereka pun mengobrol santai sambil melihat ke arah Diana yang asyik main sendiri di rumput. Diana berjalan jalan walaupun beberapa kali jatuh, namun Diana seakan tidak mau menyerah. Ia akan berdiri lagi, melangkah dengan pelan dan setelahnya ia akan jatuh lagi dengan posisi duduk.
Ariel dan Noah terkekeh melihat Diana yang terus berusaha, ia bahkan tidak menangis walaupun jatuh berulang-ulang.
Seharian itu, Noah dan Ariel menghabiskan waktu bersama. Setelah dari taman, mereka akan jalan-jalan ke kebun binatang dan tempat-tempat lainnya yang bikin Diana senang.
Hingga sore hari, barulah mereka pergi ke rumah sakit untuk mengambil tes DNA.
Dengan mengucap basmalah, Ariel mulai membuka surat tes DNA itu.
Sedangkan Diana, ia di gendong oleh Noah sambil melihat raut wajah Papanya dengan wajah yang sulit untuk di tebak.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Noah penasaran.
"99% positif."
__ADS_1
"Jadi benar Dania itu putrimu?" tanyanya.
"Iya."
"Jadi yang meninggal itu Laras?"
"Hm."
"Ya Allah, aku gak menyangka jika Laras ternyata umurnya sangat pendek sekali. Siapa yang akan menyangka jika hidup Laras ternyata sangat menyedihkan. Menjadi pengemis dan gelandangan selama berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya ia koma setelah melahirkan dan meninggal dunia tanpa melihat putrinya." Noah merasa sedih begitu pun dengan Ariel.
"Keluarganya belum tau jika Laras sudah meninggal. Haruskah kita kasih tau mereka?" tanya Ariel.
"Ya, tapi nanti. Setelah kita menyelesaikan urusan kamu sama Ardi. Baru setelah itu, kamu bisa bawa Ardi dan Dania ke Jember buat ketemu sama keluarga Laras."
"Baiklah, berarti kita ke rumah Ardi sekarang?" tanyanya.
"Ya, tapi jam segini biasanya Ardi masih kerja. Bagaimana kalau nanti aja habis sholat Isya."
Dan Ariel pun mengangguk setuju. Lalu setelah itu mereka pulang.
Sepanjang jalan, hati Ariel seakan mengambang. Ia merasa sangat bahagia sekaligus sedih.
__ADS_1
Bahagia karena tau Dania itu putrinya. Juga sedih karena Laras harus meninggal dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Dan dirinya belum sempat minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu.
Walaupun Laras yang menjadi penyebab keretakan rumah tangganya, tapi bagaimanapun Laras adalah Ibu yang sudah melahirkan putrinya. Tak ada lagi benci, yang ada hanya kasihan karena Laras harus pergi tanpa ada keluarga atau saudara yang menyaksikan saat-saat terakhirnya.