
Orang-orang pada sepi setelah Ariel di larikan di rumah sakit setelah ia pingsan karean babak belur dari Lintang. Ya, saat Ariel mencoba untuk terus menerobosnya, Lintang yang sudah terlanjur emosi, langsung menendang dan memukul Ariel cukup keras, kalau bukan karena Dion dan orang-orang di sana, mungkin Ariel akan habis di tangan Lintang.
Ariel di bawa oleh saudara sepupunya ke rumah sakit terdekat untuk berobati, hanya dia yang ada buat Ariel karena yang lain merasa malas untuk membantu bahkan untuk menatap Ariel pun mereka ogah. Mereka masih sakit hati atas apa yang di lakukan oleh Ariel. Walaupun Luna yang di sakiti tapi tetap aja mereka yang merasa malu, apalagi kelakuan Ariel terpampang jelas seperti itu. Dari dulu keluarga mereka aman-aman aja, tapi gara-gara Ariel, nama baik mereka pun ikut tercoreng.
Laras juga ikut pingsan setelah ia merasa sakit di bagian perutnya. Yah, ada darah yang mengalir membasahi paha dan kakinya hingga membuat orang-orang terkejut. Saudara Laras yang masih ada di situ, pun mau gak mau membawa Laras ke rumah sakit juga, hanya saja, Laras di bawa pakai bentor, becak motor. Berbeda dengan Ariel yang di bawa pakai mobil. Untungnya Dion megang kunci mobilnya jadi ia langsung memberikan kunci itu kepada saudara Ariel.
Kini hanya ada keluar besar Luna yang masih ada di sana, keluarga terdekat tentunya. Dion, Bibi Neni dan Bibi Imah menyingkir, karena mereka sadar posisi mereka tidak terlalu dekat dengan Luna. Orang tuanya, adiknya dan saudara Luna yang lain lah yang jauh lebih berhak untuk ada di dekat Luna saat ini.
"Kenapa kamu nekat untuk mengajak Laras ke Jakarta, Nak. Padahal dulu Bunda sudah mewanti-wanti kamu, jangan bawa Laras ke sana. Tapi kamu gak mau dengerin omongan Bunda karena terlalu percaya Laras. Dan sekarang lihatlah dari sifat keras kepala kamu itu, semuanya kacau. Keluarga kamu berantakan. Anakmu akan kehilangan ayahnya, dia gak akan merasakan kasih sayang utuh dari orang tuanya, dia gak akan bisa merasakan punya keluarga yang normal karena sikap kamu yang terlalu keras kepala. Padahal Bunda sudah bilang, jangan sampai ada wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kamu, ipar aja bisa jadi maut, apalagi cuma sahabat. Setebal apapun imannya, jika terus di goda, juga pasti gak akan tahan. Kamu kalau di nasehatin, susah nurutnya. Selalu merasa dirinya benar, sekarang lihat kan?" ucap Bunda Naira. Sebenarnya Luna itu penurut dari kecil, hanya saja jika sudah berkaitan dengan Laras, ia sedikit keras kepala, selalu membela Laras dan mau berbuat apa saja demi Laras. Padahal dari dulu Bunda Naira kurang suka jika Luna bergaul dengan Laras, karena Bunda Naira merasa Laras kurang tulus bersahabat dengan Luna. Namun Luna gak percaya padanya dan lebih percaya pada Laras yang sudah di anggap seperti saudaranya sendiri.
Luna gak buka suara, ia diam dan terus saja menangis. Ia sadar, dirinya salah tapi nasi sudah jadi bubur. Ia gak bisa berbuat apa apa dan mungkin sudah takdir Luna harus seperti ini.
"Bun, jangan marahi Luna lagi. Dia sudah tergoncang karena kejadian tadi. Kasihan juga selama ini dia sudah nahan sendiri rasa sakit akibat suami dan sahabatnya, jangan lagi kamu marahi dia. Apalagi Luna tengah hamil, nanti kalau stres, bisa bahaya sama janinnya," ujar Ayah Lukman yang gak tega melihat putrinya itu menangis seperti itu. Bagaimanapun Putrinya adalah cintanya, buah hatinya.
__ADS_1
"Tapi, Yah .... " Bunda Naira masih belum puas memarahi putrinya itu, namun tatapan tajam suaiminya membuat nyali Bunda Naira jadi surut.
"Kehamilan kamu sudah berapa bulan, Nak?" tanya Tante Naira.
"Tiga bulan lebih, hampir empat bulan," jawabnya sambil sesegukan.
"Ya sudah kamu tinggal aja di sini dulu sambil menata hati kamu, nanti setelah empat bulan, baru adakan pengajian empat bulanan," ucapnya dan Luna pun mengangguk setuju.
Lintang masuk ke dalam dengan nafas ngos-ngosan, mungkin ia lelah setelah menghajar Ariel habis-habisan.
"Enggak papa, gimana di luar?" tanya Luna sambil menghapus air matanya, ia mencoba untuk tenang kembali. Ia mengatur nafasnya, agar mengurangi rasa sesaknya.
"Mas Ariel di bawa ke rumah sakit sama saudaranya,"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku menghajarnya karena dia mencoba untuk menemui Mbak Luna," jawabnya tanpa merasa bersalah. Luna menganggukkan kepala, ia tak mempermasalahkan apa yang sudah di lakukan oleh adiknya itu, karena Ariel pantas mendapatkannya.
"Laras?" tanya Luna lagi, ia masih menyebut nama itu setleah apa yang terjadi.
"Mbak Laras juga di bawa ke rumah sakit, kayaknya di keguguran, soalnya aku lihat ada darah yang ngalir dari pahanya," balasnya membuat Luna lagi lagi menganggukkan kepala.
"Orang-orang sudah pada pulang?"
"Sudah, Mbak. Di luar sepi, ada beberapa sih tapi mereka lagi membereskan kekacuan di luar. Mas Dion juga bantu bantu di sana untuk membenarkan kursi, meja yang berantakan. Bibi Neni sama Bibi Imah juga di luar buat berssih-bersih makanan yang ceceran," sahutnya menjelaskan detail. Yah banyak makanan bercecerah gara-gara ada sebagian dari mereka yang melempar kue mereka ke arah Laras dan Ariel, terutama Laras yang lebih banyak sehingga tampilannya benar-benar sangat berantakan sekali.
"Maafin aku ya, Mbak. Aku gak bisa melindungi Mbak Luna," ucap Lintang merasa bersalah.
__ADS_1
"Enggak papa, itu bukan salah kamu. Mungkin memang nasib Mbak seperti ini. Kamu gak perlu merasa bersalah. Semua sudah menjadi suratan takdirNya," balas Luna sambil memegang kepalaa lintang yang duduk di bawahnya itu. Karena di samping kanan ada sang Bunda dan di samping kiri ada Ayahnya. Orang-orang juga ada di sekitar Luna dan mereka.
Merasa di perhatikan membuat rasa sedih Luna sedikit terobati. Ia bersyukur karena masih di kelilingi oleh orang-orang yang tulus padanya. Tidak menyalahkan dirinya walaupun dirinya sudah membuat kekacauan besar. Dan mereka tetap menyalahkan Ariel dan Laras karena merekalah yang membuat Luna sampai berbuat sepeti ini. Andai mereak gak selingkuh, mungkin Luna pun gak akan setega itu mempermalukan mereka berdua.