
Sesampai di depan rumah, Rahman-Bapaknya Laras langsung menyeret Laras ke dalam rumahnya lalu langsung menghempaskan Laras ke lantai dengan kasar.
"Dasar anak gak tau diri, Bapak susah payah besarin kamu buat jadi anak yang bisa banggain orang tua, bukan malah bikin malu orang tua. Apa belum cukup kamu buat Bapak dan Ibu malu dari kemaren? HAH!" bentak Rahman yang menatap putrinya dengan tatapan tajam.
Sari yang ada di sana, hanya bisa diam, tak ada rasa kasihan sedikitpun kepada Laras, yang ada hanya rasa marah dan kecewa karena gara-gara ulah Laras, dirinya ikut mendapatkan hinaan dari warga sekitar. Padahal dirinya gak tau apa-apa, tapi ikut kena getahnya. Andai ia tau jika Laras ke sana buat merusak rumah tangga Luna, pasti ia gak akan mengizinkan Laras ke Jakarta.
Laras hanya bisa diam menangis, ia takut melihat wajah Bapaknya yang terlihat begitu seram. Bapaknya jarang sekali marah, tapi sekali marah, sangat menakutkan sekali.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh keluaran lagi," titahnya tegas.
"Tapi, Pak ..." Laras gak mungkin gak keluar, ia harus bertemu Ariel untuk meminta pertanggung jawaban janin yang ada dalam kandungan Laras.
"Apa? Mau alasan apa lagi. Jangan sampai kamu membuat kesabaran Bapak jadi habis, jika itu terjadi, Bapak gak akan segan-segan membu nuh kamu." ucapnya yang sudah terlihat sangat emosi sekali.
"Tapi aku harus bertemu Mas Ariel, Pak. Karena saat ini aku tengah mengandung anaknya." ujar Laras membuat Rahman menjadi murka. Ia tau jika Laras hamil, tapi mendengar sendiri dari mulut Laras membuat Rahman seperti tak kendali.
Rahman membuka ikat pinggangnya dan memukul Laras sekuat tenaga, Laras menunduk melindungi perutnya sehingga hanya punggungnya saja yang terkena pukulan.
"Ampun, Pak. Sakit, Pak. Ibu, tolong Laras, Bu," pinta Laras yang menahan rasa sakit dan perih di bagian punggungnya.
Rahman terus memukul Laras, sedangkan Sari hanya diam. Rasa sakit yang di rasakan oleh Laras tak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan. Mungkin bukan fisik yang terluka, tapi hatinya, batinnya. Dan semua itu karena ulah Laras, putrinya sendiri.
"Ampun, Pak. Sakit, Pak." Laras terus meronta-ronta menahan rasa sakit.
Sedangkan Rahman terus memukulnya tanpa sedikitpun merasa kasihan. Setelah Laras pingsan, barulah Rahman berhenti.
"Jangan urus dia, Bu. Biar Laras bangun sendiri nanti," ujar Rahma lalu pergi dari sana.
Sari hanya diam melihat Laras yang pingsan di lantai. Entah kenapa, hati Sari menjadi dingin tak tersentuh, mungkin karena rasa kecewanya yang terlalu dalam membuat Sari enggan membantu Laras.
Sari pergi ke kamarnya dan memilih untuk beristirahat di sana, menenangkan hati dari segala masalah yang ada.
__ADS_1
Lestari, saudara Laras yang baru pulang dari rumah Neneknya begitu terkejut saat melihat Laras tengah berbaring di lantai dengan posisi meringkuk.
Ia juga melihat ada noda darah di punggung Laras. Kebetulan Laras memakai baju putih sehingga saat punggung Laras terluka dan berdarah, maka bajunya pun ikut ternoda.
"Mbak, bangun Mbak. Ngapain tidur di lantai. Ayo pindah ke kamar," ucap Laras yang tidak tau apa yang terjadi, ia hanya tau jika Laras tidur di lantai.
"Mbak ..." Walaupun Lestari kecewa dengan sikap Laras, tapi sesama saudara, Lestari tak mungkin membiarkan Laras begitu saja. Ia masih punya hati untuk tidak pura-pura peduli.
Mendengar suara anak bungsunya, Sari keluar dari kamarnya.
"Enggak usah di bangunin, nanti juga bangun sendiri," ucap Sari dingin.
"Tapi Mbak Laras emangnya kenapa, Bu?" tanya Lestari melihat sikap ibunya yang dingin, membuat perasaan Lestari tidak enak.
"Tadi Laras pergi ke rumah Luna dan bikin ulah lagi di sana. Jadi Bapak pergi buat jemput Laras. Dan ketika Laras bilang dia hamil, Bapak murka dan memukul Laras."
"Bukannya Bapak sudah tau jika Mbak Laras hamil?"
"Ya, tapi mendengar sendiri dari mulutnya, pasti akan terasa sesak."
"Karena Bapak memukul Laras menggunakan ikat pinggangnya, dan baru berhenti setelah Laras pingsan."
"Astaugfirullah, Bu. Kenapa Bapak sampai segitunya, Mbak Laras lagi hamil, gak seharusnya Bapak memukul Mbak Laras sampai seperti ini."
"Bapak juga bukan orang gila, kalau Mbakmu gak bikin ulah. GAk mungkin Bapak mukul. Lagian ngapain Laras pergi ke rumah Luna dan bikin masalah lagi di sana. Apa gak cukup dia mempermalukan ibu dan bapak. Gara-gara Laras, ibu dan bapak yang gak tau apa-apa, ikut kena getahnya. Sudahlah, kalau kamu emang mau, kamu bisa seret dia untuk tidur di kamarnya." Lalu setelah itu, Sari masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Lestari, ia berusaha untuk membawa Laras ke kamarnya dan merebahkan tubuh Laras ke kasur. Ia menyingkap baju Laras dan benar saja, ada banyak bekas merah di sana bahkan ada yang terluka juga.
"Kenapa sih, Mbak. Mbak Laras gak langsung pulang ke rumah aja, ngapain coba masih mampir ke rumah Mbak Luna," omel Lestari sambil mengipasi punggung Laras agar tak perih.
Ia sangat peduli ke Laras, walaupun dulu ia dan Laras seringkali bertengkar, tapi tetap aja sesama saudara, ia merasa tak tega dan ikut sakit melihat Laras seperti ini.
Tak lama kemudian, Laras mengigau.
__ADS_1
"Ampun, Pak. Sakit, Pak," Laras terus berucap dengan mata yang masih tertutup.
"Mbak, bangun Mbak. Bapak sudah gak ada, Mbak bisa tenang." ucap Lestari menenagkan Laras.
Laras terus saja mengigau hingga akhirnya ia membuka matanya.
"Lestari, bapak mana?" tanyanya.
"Aku gak tau, aku belum lihat Bapak sedari tadi," jawab Lestari.
Laras ingin bangun, namun punggungnya terasa sangat sakit sekali.
"Ish ..." Laras mendesis menahan rasa sakit.
"Sakit banget ya, Mbak?" tanya Lestari dan Laras hanya menganggukkan kepalanya.
"Padahal sudah aku kipasin dari tadi, biar lukanya cepat kering. Apa kita harus ke dokter?" tanyanya
"Enggak usah, nanti juga sembuh," jawab Laras tersenyum getir.
Ia lalu mengambil tasnya, dan membuka Hpnya.
Ia ingin mengirim pesan ke Ariel, ia harus segera pergi dari rumah ini, atau ia akan mati di tangan Bapaknya sendiri. Baru aja pulang ke rumah, dia sudah seperti ini. Bagaimana jika ia tinggal di rumah ini, ia pasti akan tersiksa lahir batin.
Saat Laras mengirim pesan, ternyata gak bisa. Dan saat di cek, nomernya sudah di blokir oleh Ariel.
"Kenapa sih Mas Ariel tega banget, apa dia gak tau, aku tersiksa di sini," gumam Laras dalamĀ hati.
"Mbak Laras ngirim pesan ke siapa?" tanya Lestari curiga.
"Bukan siapa-siapa," sahut Laras yang tak ingin bercerita.
__ADS_1
"Mbak Laras jangan bikin ulah lagi, biar Bapak gak makin marah." ucap Lestari mengingatkan.
"Ya ya ya ... lebih baik kamu keluar, aku pengen istirahat" usir Laras membuat Lestari mengenyitkan dahi. Kenapa dirinya yang harus keluar, ini kan kamarnya. Tapi karena gak ingin bertengkar, Lestari pun mengalah, ia segera pergi dari sana dan membiarkan Laras beristirahat.