Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Jaga Jarak


__ADS_3

Sejak kemaren Diana begitu lengket sama Ariel. Bahkan saat Ariel ke kamar mandi untuk ambil wudhu pun, Diana akan terus menangis sampai-sampai Luna sendiri gak bisa nenangin.


"Papa, Papa, Papa," teriaknya histeris.


"Mas cepetan dong," ujar Luna kesal karena Ariel cukup lama menurutnya, padahal cuma ambil wudhu tanpa mandi.


"Iya, sabar." Ariel keluar dengan terburu-buru. Ia langsung memeluk Diana dan menggendongnya, sampai akhirnya Diana diam dalam pelukannya tapi masih dengan isakan kecilnya.


"Maaf ya, Putri Papa yang cantik. Papa tadi ambil wudhunya lama ya," ucapnya sambil mencium rambut Diana dan mengelus punggung putrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Sedangkan Luna hanya diam melihat keakraban mereka berdua, sejak Ariel datang, Diana seperti tidak membutuhkannya, ia begitu lengket pada Ariel dan tidak mau lepas dari Papanya.


Saat Diana sudah tenang, barulah Ariel mengambil sejadah danĀ  menghamparkannya di samping brangkar, lalu menaruh Diana di sampingnya, agar ia bisa sholat. Sesekali Diana akan mengganggungnya, namun Ariel tetap fokus sholat. Selesai sholat, barulah ia menaruh Diana di pangkuannya sambil dirinya berdzikir.


"Mas mau aku belikan apa?" tanya Luna.


"Roti aja," jawabnya. Karena memang Ariel tengah lapar dan ia gak bisa keluar karena Diana tidak mau di tinggal.


"Baiklah, aku keluar dulu bentar. Oh ya itu di tas ada bisquit Diana, mungkin kalau kamu yang ngasih, Diana mau." ujarnya memberitahu. Luna mengambil Bisquitnya dan memberikannya ke Ariel.


Ariel pun menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah itu, Luna pun pergi dari sana. TAk ada obrolan seperti dulu lagi, Ariel benar-benar menjaga jarak dengannya.


"Diana mau?" tanyanya dan Diana menganggukkan kepalanya.


Melihat tingkah laku putrinya, Ariel terkekeh.


Ia membuka bisquit itu dan memberikannya ke putrinya satu. Diana pun mengambilnya dan memakannya dengan sedikit belepotan. Ariel dengan senang hati membersihkan di area pipinya agar tidak kotor.


"Papa," panggilnya.


"Iya, kenapa?" tanyanya namun Diana hanya tersenyum sambil makan bisquitnya.


Sedangkan tangannya masih di infus, tapi Diana tidak rewel seperti anak-anak lainnya. Ariel bahkan sangat kagum, karena putrinya itu sangat berbeda dan jarang menangis, kecuali saat dirinya pergi ke kamar mandi aja, dan Diana mungkin mengira dirinya akan pergi lagi dan tak akan kembali, padahal cuma ke kamar mandi bentar, bahkan tak sampai sepuluh menit.


Saat dokter memeriksa, Dokter itu menjelaskan semuanya. Ternyata gagal ginjal untuk balita bisa di sembuhkan tanpa harus cuci darah atau transplantasi ginjal. Mendengar hal itu, Ariel pun bernafas lega.


Jika nanti keadaan Diana sudah baikan, ia bisa pulang, cuman tiap minggu sekali harus kontrol. Dan juga harus jaga pola makan dan minum. Ya, di usia Diana saat ini, selain minum susu, juga sudah boleh minum air putih.


Diana dengan tangan kotornya, karena memegang bisquit yang kena air liurnya jadi becek dan kotor. Lalu memegang baju Ariel, ia memegang tangan Ariel lalu bahu Ariel untuk berdiri sendiri, dan mencium pipi Ariel. Melihat perjuangan putrinya itu, Ariel terharu. Ia membalas ciu-man putrinya.

__ADS_1


"Papa sayang kamu, Nak. Papa sayang kamu." Lagi, Ariel menangis walaupun mungkin apa yang di lakukan Diana, adalah hal sepele, tapi tidak baginya. Ariel selalu terharu dengan apa yang di lakukan putrinya.


"Papa," panggilnya lagi, lalu lanjut dengan ocehan yang tidak ARiel mengerti. Namun ocehan Diana, seperti suara merdu di telinganya.


Diana terus mendusel dusel wajah Ariel dengan mulutnya yang kotor karena bisquit, dan Ariel tidak mempermasalahkan. Ia akan membiarkan Diana melakukan apapun yang dia mau.


"Papa."


"Iya, Sayang. Kenapa manggil Papa terus, masih kangen ya. Sama Papa juga masih kangen banget rasanya," ujar Ariel yang mencoba mengartikan sendiri, ocehan putrinya.


Saat mereka lagi asyik berdua, Luna datang sambil membawa sekantong kresek berisi berbagai macam roti dan juga dua air mineral.


"Ini roti dan airnya," ucap Luna sambil menaruh di samping Ariel.


"Terima kasih," ujar Ariel. Luna hanya menganggukkan kepalanya.


Lalu setelah itu, Luna duduk di sofa dan hanya memperhatikan anak dan mantan suaminya itu, yang terlihat sangat bahagia sekali.


Ariel membiarkan Diana terus berdiri sambil berpegangan padanya, sedangkan Ariel, ia mengambil rotinya dan menyobek bungkusnya.


"Baiklah, Papa makan dulu ya." Dan Diana lagi-lagi meresponnya dengan anggukan kepala.


Ariel menci-um Diana, sebelum akhirnya ia makan roti. Ia menghabiskan dua roti lalu meminum air mineralnya. Namun saat minum air, Diana seperti ingin memintanya, dengan sangat hati-hati sekali, Ariel memberikan air itu kepada Diana, Diana hanya minum sedikit, mungkin dia kepengen karena melihat Papanya yang minum, jadi pengen nyoba saja.


Keberadaan Luna benar-benar seperti tak dianggap. Putrinya seakan melupakannya, sedangkan Ariel, ia bahkan juga tidak mengajak dirinya bicara dan sibuk dengan Diana. Ariel benar-benar mengabaikannya dan fokus sama putrinya.


Entah kenapa Luna merasa kesal sendiri, ia seperti jadi penonton di antara mereka.


Sedangkan Ariel, ia emang sengaja jaga jarak dan tidak mengajak Luna mengobrol karena mengira jika Luna sudah jadi istrinya Dion, hanya saja dia tidak tau, kenapa Dion gak datang menjenguk putrinya. Namun Ariel tidak mempermasalahkan, karena dia datang ke sini, demi Diana, putrinya, bukan demi Luna atau yang lain.


Saat mereka tengah asyik main sendiri, tiba-tiba Hp Luna berbunyi, ada telfon dari Dion. Luna pun langsung pergi keluar dari kamar itu dan mengangkatnya. Ia tidak mungkin mengangkat di kamar inap Diana, karena tidak ingin Ariel sakit hati lagi.


"Ada apa?" tanya Luna.


" .... "


"Apa? Mas Dion ada di rumah sekarang?"

__ADS_1


" .... "


"Iya, aku emang di rumah sakit, lagi jaga Diana."


" .... "


"Jangan ke sini, biar aku aja yang pulang."


" .... "


"Diana di jaga seseorang di sini."


" .... "


"Hemm, pokoknya jangan ke sini ya. Biar aku yang pulang, okay. Tunggu aku di rumah."


" .... "


"Iya."


Dan setelah itu, Luna pun mematikan telfonnya. Luna tidak mau jika Dion sampai ke sini dan bertemu dengan Ariel, pasti nanti akan canggung dan Luna tak ingin Ariel sakit hati karena kedatangan Dion. Jadi, Luna memilih, dirinya aja yang pulang untuk menemui Dion.


Luna masuk kembali ke kamar inap Diana.


"Mas?" panggil Luna.


"Iya," jawab Ariel menoleh ke arah Luna sekilas dan fokus melihat putrinya lagi.


"Aku boleh gak pulang?" tanyanya khawatir.


"Boleh, biar Diana aku yang jaga," sahutnya. Ariel seakan mengerti, mungkin yang tadi nelfon itu adalah Dion.


"Hemm, makasih. Aku pulang dulu ya," pamitnya dan Ariel hanya menganggukkan kepalanya.


Dan setelah itu, Luna pun pergi dari sana. Saat ini, Ariel sangat cuek sekali padanya, entah kenapa hatinya begitu sesak. Ariel yang dulu selalu perhatian dan memanjakan dirinya, sekarangg cuek seperti orang asing.


"Apakah kamu membenci aku, Mas?" gumam Luna dengan menitikkan air mata. Namun ia segera menghapusnya karena tak ingin ada yang melihatnya. Luna pulang dengan naik mobil online. Karena emang dia gak bawa mobil ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2