Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ariel dan Dania


__ADS_3

Satu Minggu setelah dari rumah Ardi. Ariel merasa cukup lega, karena hampir setiap malam, Ardi pasti akan Vidio call dirinya agar bisa ngobrol dengan Dania.


Ariel juga mentransfer uang sebesar 30 juta perbulannya pada Ardi. Awalnya Ardi merasa keberatan karena uang yang di transfer terlalu besar. Namun Ariel berusaha meyakinkannya. Dan lagi, Ariel juga mengirim uang satu milliar untuk mengganti semua biaya selama Laras di rawat di rumah sakit, biaya lahiran dan biaya Dania sejak bayi.


Ardi benar-benar gak menyangka jika Ariel akan menghambur-hamburkan uangnya begitu saja. Akan tetapi untungnya Noah menjelaskan semuanya, hingga Ardi mau menerima uang itu. Hanya saja uang yang d kirim Ariel, diam-diam sama Ardi di pisahkan. Karena Ardi merasa dia gak berhak menggunakan uang itu.


Jadi Ardi membuatkan tabungan sendiri untuk Dania. Ya, anggap aja itu uang untuk masa depan Dania kelak. Karena Ardi tau, bagaimanapun kelak Dania tidak bisa mendapatkan warisan dari Papa kandung, karena Dania gak berhak mendapatkan semua itu mengingat Dania lahir di luar nikah.


Kecuali Ariel mau menghibahkan sebagian hartanya buat Dania, baru itu gak papa.


Saat ini, Ariel dan Diana sudah selesai mandi dan juga sarapan. Bahkan kini Dania sudah mulai berjalan dengan tertatih-tatih ke sana kemari mengikuti langkah Papanya.


Melihat kelucuan Diana, tentu Ariel merasa senang. Kadang ia juga merekamnya dan mengirimkannya pada Papa Ardi.


Diana juga sudah mau ngobrol dengan Papa Ardi, walaupun kadang lebih banyak ocehan gak jelas. Tapi setidaknya, Diana tidak lagi sembunyi di balik punggung Ariel setiap Papa Ardi Vidio call.


Saat Ariel dan Diana tengah bermain di ruang tamu, suara Bell apartemen berbunyi. Yah, Ariel memutuskan balik ke apartemen setelah memastikan Noah benar-benar sehat dan tak lagi merasa demam atau pusing.


Ariel pun membuka pintunya dan ternyata Luna yang datang.


"Assalamualaikum," sapa Luna canggung.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk." Ariel membukakan pintu buat Luna.


Lalu setelahnya, mereka duduk bersama.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ariel to the point.


"Aku mau bawa Diana ke Jember. Apa boleh?" tanyanya.


"Kapan?"


"Sekarang."


"Boleh. Kamu kapan pulang ke Jember?"


"Nanti sore."


"Naik apa?"


"Kereta. Aku sudah mesen tiketnya."


"Jember? Ngapain?"


"Mau ke ruma Laras."


"Kamu mau lamar Laras?" tanya Luna kaget.


Ariel menggelengkan kepalanya.


"Laras sudah meninggal."

__ADS_1


"APA!" Luna kaget mendengarnya.


Lalu Ariel pun mulai menjelaskan semuanya.


"Ya Allah. Ini pasti gara-gara aku. Aku yang sudah menyebabkan Laras dan Mama Ila meninggal." Luna langsung menangis tersedu-sedu.


Ariel hanya bisa melihatnya, karena ia tak ada berhak untuk memeluk Luna lagi dan menenangkannya.


"Hemm ... semua sudah terjadi. Ini bukan hanya salah kamu, tapi salah kita semua. Aku, kamu dan juga Laras. Salah kamu yang mengundang Laras dalam rumah tangga kita, salah Laras yang iri sama kehidupan kamu dan mencoba merayu dan menggoda aku. Dan salahku yang tidak bisa menahan hawa naf-su aku. Jadi tiga-tiganya salah."


"Tapi aku yang paling salah di sini."


"Tidak ada yang paling salah. Tapi semuanya salah. Anggap aja ini pelajaran buat kita semua agar ke depannya kita lebih hati-hati lagi dalam bertindak. Jangan sampai gegabah dalam mengambil keputusan dan jangan sampai terlena akan dunia. Kita harus bisa bisa mengikuti aturan Allah, agar kita bisa terus melangkah di jalan yang benar, hingga tidak ada lagi penyesalan di kemudian hari. Jujur sejak aku tau bagaimana kehidupan Laras saat hamil Dania, bagaimana dia luntang-lantung di jalanan, hingga akhirnya koma dan meninggal. Aku merasa bersalah. Dulu aku terlalu fokus sama masalahku hingga mengabaikan masalah yang lain. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Aku gak bisa kembali ke masa lalu. Yang bisa aku lakukan, adalah memperbaiki diri, lebih dekat dengan Tuhan, mendoakan Laras dan Mama Ila. Dan kita harus banyak-banyak sedekah buat mereka yang sudah pergi mendahului kita."


"Iya, tapi jujur aku gak menyangka Laras akan meninggal di usia muda. Bahkan aku belum minta maaf padanya setelah apa yang terjadi."


"Sudahlah, tidak perlu larut-larut dalam kesedihan. Laras juga pasti sedih jika kita terpuruk. Lagian yang di butuhkan Laras saat ini adalah doa dari kita semua."


Mereka pun mengobrol santai, lalu setelah itu Luna menghampiri putrinya. Bermain bersama, sedangkan Ariel hanya melihat Luna dan Diana tanpa ikut bermain sama mereka berdua.


Setelah Diana kelelahan dan tidur, barulah Luna pamit pulang sambil membawa Diana pergi dari sana.


Setelah kepergian Luna dan Diana, apartemennya kembali sepi. Ariel hanya bisa menghela nafas dan memejamkan mata. Entah kenapa semakin ke sini, perasaan Ariel ke Luna semakin biasa aja, apa mungkin perasaan Ariel ke Luna sudah memudar hingga ia tak lagi merasa cemburu atau apapun.


Ariel hanya ingin fokus pada pertumbuhan Diana dan Dania. Karena mereka berdua adalah bidadarinya, buah hatinya, dan hadiah terindah yang Tuhan berikan.

__ADS_1


Masalah cinta cintaan, Ariel ingin mengesampingkan itu semua, biarlah Tuhan yang menentukan bagaimana kehidupan kedepannya.


__ADS_2