
Malam harinya, sehabis sholat Isya. Ariel mengajak Luna dinner di luar, awalnya Luna gak mau, tapi karena Ariel sedikit memaksa, akhirnya Luna pun menurutinya. Dia memakai gamis hitam, dan semuanya serba hitam. Entah kenapa ia suka memakai warna gelap sekarang, mungkin efek sakit hati, jadi suasana hatinya pun gelap.
Ariel mengajak Luna makan di Hotel bintang lima, sekalian mereka akan menginap di sana semalam. Luna pun hanya menurut saja, toh dia berontak pun yang ada malah bikin Ariel marah dan debat panjang. Dan Luna terlalu malas untuk berdebat, hanya buang-buang energi saja.
Di resto hotel bintang liima, Ariel memesan makanan dan minuman terbaik di hotel itu, tentu harganya pun tak murah bahkan makanan pembukanya aja, satu kue ukuran kecil, bahkan hanya sekali suap seharga tiga juta. Karena ada taburan emasnya. Namun Ariel tak mempermasalahkan itu semua, karena kali ini Ariel ingin memanjakan istrinya itu.
Luna cukup menikmati hidangannya, walau suasana hatinya memburuk, tapi di kasih hidangan cantik nan mahal, tentu Luna harus menikmatinya setiap makanan dan minuman yang ada di hadapannya. Jarang-jarang juga Luna bisa makan makanan semahal ini. Namun bukan berarti ia akan luluh dengan sikap Ariel, itu tidak akan pernah terjadi. Ia hanya menikmati apa yang Ariel kasih, walaupun Luna tau pasti, bahwa Ariel melakukan itu, tentu ada alasannya. Namun Luna tak peduli itu, toh dia sudah mati rasa.
"Kenapa diam aja dari tadi?" tanya Ariel karena sedari tadi Luna hanya fokus makan.
"Enggak papa," jawabnya.
"Makanannya gak enak?"
"Mana ada makanan harga selangit kayak gini gak enak, aku cuma males ngomong aja. Pengen nikmati makanannya."
"Tapi kan aku ingin kita makan sambil ngobrol."
"Iya sudah ngobrol aja, aku pasti jawab kok."
"Aku ingin kita seperti dulu yank."
"Seperti dulu gimana, saat kamu ngekang aku. Saat kamu gak ngizinin aku makan ini dan itu, dan harus makan makanan hambar itu. Atau saat kamu paksa aku untuk selalu terlihat cantik dua puluh empat jam, aku harus olah raga agar bentuk tubuhku tetap langsing. Harus menuruti kemauan kamu walaupun diriku tersiksa. Harus selalu bilang ya, walaupun hatiku kadang berontak. Harus selalu tersenyum walaupun hati menangis. Harus pura-pura bahagia walaupun batinku tersiksa?" sindir Luna membuat Ariel terbelalak.
"Apakah itu yang kamu rasakan selama itu, kamu tersiksa menikah denganku?" tanya Ariel dengan suara lemahnya. Mendengar ucapan Luna tadi membuat dirinya seperti gagal jadi suami.
"Ya," jawabnya tegas tanpa ada keragu-raguan sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu tersiksa sama semua aturan yang aku berikan?"
"Buat apa, emang dulu kamu mau dengerin keluhanku, yang ada kamu akan hina aku dan bilang aku istri yang gak tau terima kasih, gak bersyukur. Iya kan. Dari pada cuma akhirnya dapat hinaan mending aku diam. Toh bersuara pun juga percuma, ujung-ujungnya juga tetap aku harus mematuhi kamu."
"Tapi aku melakukan itu demi kebaikan kamu sayang. Aku emang ingin kamu selalu tampil cantik, dan ****. Tapi bukan hanya itu, aku juga ingin kamu sehat, dengan kamu jaga pola makan dan rajin olah raga, tubuh kamu akan segar dan kamu jarang sakit. Kamu bisa menerapkan pola hidup sehat, agar kamu bisa terhindar dari segala penyakit. Kamu bisa lihat kan perbedaannya, saat kamu makan mkanan sehat dan saat kamu makan makanan sembarangan, tentu kamu bisa menilai sendiri, rasanya bagaimana, pasti ada yang beda."
"Sama aja tuh, yang penting kita atur porsinya. Aku emang suka makan sembarangan, tapi aku juga tau kapan aku harus berhenti. Aku tau, berapa porsi yang harus aku makan agar tidak menyakiti tubuhku. Aku tau, apa yang harus aku lakukan. Aku bukan anak kecil lagi, Mas. Selama tidak berlebih-lebihan, aku rasa tidak masalah," jawabnya.
"Ya sudah deh terserah kamu, aku minta maaf jika sikap aku dulu membuat kamu gak nyaman bahkan bisa dibilang menyakiti kamu. Aku benar-benar minta maaf, aku menyesal. Tapi yang harus kamu tau, dari dulu sampai detik ini aku masih mencintai kamu."
"Aku tau, kamu masih cinta sama aku. Hanya saja rasa cinta itu sudah beda. Sudah tak lagi sseperti dulu," sindir Luna.
"Kamu benar, cintaku sama kamu emang tidak seperti dulu lagi, karena cinta aku ke kamu makin ke sini makin bertambah," ucap Ariel yang membuat Luna ingin muntah mendengarnya.
"Ya ya, terserah kamu deh," Luna pun males ngomong lagi, buat apa. Toh ujung-ujungnya, Ariel hanya manis di lidah, sedangakn sikap dan kelakuannya sudah seperti laki-laki breng sek.
Selesai makan, mereka masih menetap di sana, sekitar sepuluh menit. Baru setelah itu, Ariel mengajak Luna untuk pergi ke kamar VVIP yang setiap malamnya aja harus membayar dua puluh lima juta. Namun itu sepadan dengan fasilitas yang mereka dapatkan. Terlebih pemandangannay yang sangat bagus. Di atas kasur juga ada banyak bunga mawar yang berbentuk love. Namun entah kenapa, Luna tak lagi merasa tersentuh, mungkin jika dulu, Luna akan histeris dan langsung memeluk Ariel dan memberikan banyak kecupan. Tapi sekarang, Luna hanya melihatnya seperti biasa, hanya sedikit terkejut, tapi hitungan detik sudah kembali normal.
"Biasa aja," sahutnya sambil berjalan ke arah jendela besar, ia melihat ada tombol di dekat jendela. Karena penasaran Luna memencetnya dan tak lama kemudian, jendela itu pun terbuka dengan sendirinya. Luna cukup kaget namun ia tetap menampakkan wajah datar. Lalu ia berjalan ke arah balkon. Di balkon ada satu meja dengan dua kursi. Ada beberapa tumbuhan kecil sehinga membuat suasana semakin nyaman. Ia melihat view di sana sangat bagus sekali. Ia bisa melihat gedung-gedung bertingkat, lihat lapanan, bisa lihat kolam, dan banyak lagi lainnya.
Kamar yang di tempati oleh Ariel dan Luna emang kamar paling atas, di lantai 50. Jadi yah, kita bisa melihat semuanya dari atas dan tentu saja, semuanya tampak kecil dari sana, namun Luna masih bisa melihat dengan jelas pemandangan bagus itu. Luna menghirup udara segar yang menerpa wajahnya. Sungguh, ini pertama kalinya Ariel mengajaknya menginap di hotel vvip seperti ini. Biasanya hanya hotel biasa aja.
Ariel mendekati Luna dan memeluknya dari belakang. Andai Luna tak takut akan dosa, ingin rasanya dia mendorong Ariel dari lantai itu. Sehingga ia bisa melihat Ariel mati mengenaskan. Buat apa juga hidup lama-lama jika ujung-ujungnya hanya berbuat dosa besar. Mending mati muda, setidaknya nanti siksaannya gak lama.
"Kamu suka?" tanyanya.
"Biasa aja," balas Luna.
__ADS_1
"Hemm ... gimana kalau kita Minggu depan ke luar kota, atau kamu mau ke luar negeri?" tanyanya lagi, kedua tangannya melingkar di perut Luna sedangkan dagunya di taruh di pundah Luna sebelah kanan.
"Males," sahutnya.
"Kenapa Males? Bukannya kamu ingin liburan ke luar negeri, kita bisa ke Jepang, Korea dan kemanapun kamu mau. Kita habiskan waktu kita buat jalan-jalan, menjelajah dunia. Aku punya rezeki jadi aku ingin menyenangkan hati kamu," tuturnya membuat Luna mencibir. Seorang suai makin romantis, makin bikin istri penasaran. Karena kadang suami romantis itu karena ingin menutupi kesalahannya.
"Menyenangkan hati itu mudah, Mas. Cukup setia aja, gak perlu muluk-muluk sampai mengeluarkan uang banyak untuk hal ginian. Buat apa romantis ujung-ujungnya mendua," sindir Luna membuat Ariel menghela nafas kasar.
"Kamu selalu nuduh aku yank, dosa loh fitnah aku kek gitu. Emang kamu ada bukti aku selingkuh, hem?" tanya Ariel sambil melepas pelukannnya. Lalu ia memutar tubuh Luna hingga menghadap ke arahnya. Ia menatap wajah Luna membuat Luna merasa ilfil.
"Kamu punya bukti?" tanyanya lagi.
"Enggak," jawab Luna ketus.
"Terus kamu nuduh aku gitu, atas dasar apa?" tanya Ariel lagi.
"Hanya feeling aja," jawabnya santai. Membuat Ariel geleng-geleng kepala.
"Jangan percaya sama feeling sayang, karena itu belum tentu benar. Malah bikin hubungan kita jadi renggang lo."
"Tapi feeling seorang istri itu kuat."
"I know. Tapi sekuat apapun itu, belum tentu benar sayang. Bisa aja itu karena kamu terus merasa curiga, berfikir negatif terus tentang aku, lalu akhirnya timbullah perasaan gak nyaman." ucap Ariel menjelaskan membuat Luna menganggukkan kepala, pura-pura mengiyakan saja.
"Iya sudah peluk aku sekarang." Dengan berat hati, Luna pun mengikuti kemauan Ariel. Ia memeluk Ariel, hanya pelukan biasa aja, tak terlalu erat, berbeda dengan Ariel yang memeluk Luna dengan erat.
Kalau dulu, semua yang ada pada Ariel, merupakan candunya, walaupun dulu Ariel sering bikin dirinya sedih dan kesal, namun hati gak bisa di bohongi, dia nyaman berada dalam pelukannya. Tapi sekaranya semuanya, berbeda. Ia tak lagi merasa nyaman, yang ada hanya rasa jijik dan juga kecewa.
__ADS_1
"Aku minta maaf ya, tapi aku harap ke depannya, hubungan kita baik-baik saja dan tak lagi dingin seperti kemaren-kemarennya," tutur Luna yang hanya mendapatkan cibiran dalam hati.
Bagaimana mungkin hubungan mereka akan baik-baik saja, jika Ariel masih tetap mempertahankan Laras dan tak menyudahi hubungan mereka. Jangan harap, Luna akan diam aja dan membiarkan mereka tertawa di atas deritanya.