
Sehabis sholat maghrib, Luna lanjut mengaji sambil adzan Isya'. Sedangkan Ariel memilih main Hp. Setelah adzan Isya' berkumandang, barulah mereka sholat Isya' berjamaah. Selesai sholat, Luna langsung ke dapur membantu Bibi Imah yang lagi memasak untuk makan malam. Luna sengaja menghindari Ariel karena terlalu malas untuk berdebat. Sedangkan Bibi Neni tengah menyetrika baju di kamar belakang.
Setelah makanan sudah tersaji di atas meja makan, Luna pun akhirnya pergi ke kamar dan menyuruh suaminya untuk pergi ke ruang makan karena semua makanan sudah selesai di hidangkan. Ariel pun langsung pergi ke sana sambil membawa Hpnya.
Luna dan Ariel pun duduk saling berhadap-hadapan, Luna mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Ariel lalu ia mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.
Luna makan lebih dulu karena Ariel asyik chatan entah dengan siapa, bahkan sesekali tersenyum. Luna yang merasa di abaikan, hanya diam aja. Ia mempercepat makannya, dan setelah itu, ia segera bangkit dari tempat duduknya.
"Loh yank mau kemana?" tanya Ariel.
"Mau cuci piring."
"Kamu dah selesai makan?"
"Kelihatannya gimana?" tanya Luna sambil memperlihatkan piringnya yang sudah kosong.
"Kok cepet yank?" tanyanya mengernyitkan dahi.
"Bukan aku yang cepet, tapi Mas aja sibuk main Hp, sampai nasinya aja lembek gitu gara-gara gak cepat di makan," jawanya ketus, memang Luna mengambilkan sayurnya cukup banyak sehingga nasinya agak lembet jika gak cepat di makan.
"Maaf ya," ucap Ariel merasa bersalah.
__ADS_1
"Santai aja kali, aku tau Mas super sibuk, jadi gak usah merasa bersalah gitu," sindirnya lagi entah Ariel peka atau gak. Luna berjalan ke wastafel, mencuci piringnya lalu setelah itu, ia langsung pergi ke kamarnya tanpa menyapa Bibi Imah yang ada di sana. Entah kenapa Luna lagi males ngomong, jadi ia jalan ke kamar tanpa berkata-kata.
Di kamar, Luna melihat tiktok melihat lagu-lagu yang berisi kata-kata yang menggambarkan isi hatinya saat ini.
Dan setengah jam kemudian, Ariel datang dan menghampiri Luna.
"Lagi apa Sayang?" tanyanya, tanpa menjawab, Luna memperlihatkan apa yang ia tonton.
"Oh, nonton tiktok toh," ucapnya sambil duduk di samping Luna.
"Kamu kenapa?" tanya Ariel lagi.
"Emang aku kenapa?" tanya balik Luna.
"Kalau aku sih masih sayang, gak tau kalau kamu?"
"Aku masih sayang dan cinta banget sama kamu yank?"
"Yakin cuma aku?" tanyanya membuat Ariel menatap Luna.
"Kamu berfikir kalau aku suka bagi-bagi rasa sayang dan rasa cinta aku ya?" tuduhnya.
__ADS_1
"Enggak kok. Aku gak mikir gitu?"
"Tapi pertanyaanmu menjurus ke situ loh."
"Iya kah? Maaf kalau gitu, bibirku emang suka ceplas ceplos kalau ngomong, gak tau kenapa. Gatel aja rasanya kalau gak di ungkapin," tutur Luna tanpa melihat ke arah Ariel.
Ariel menarik Luna hingga masuk ke dalam dekapannya. Ariel memeluk Luna dengan erat, sedangkan Luna hanya pasrah aja, tanpa berontak.
"Maafin aku, kalau aku nyakitin kamu," tuturnya sambil mencium puncak kepala Luna.
"Jangan minta maaf sama aku, Mas. Minta maaf itu sama Allah, bukan ke aku. Aku mah apa, cuma manusia biasa yang mudah di bohongi. Ingat, Mas. Serapat apapun kamu menyembunyikan sesuatu dariku, sepintar-pintarnya kamu mengelabui aku. Bahkan saat kamu bersembunyi di lubang semut pun, untuk melakukan dosa. Tetap aja Allah lihat. Kalau kamu gak takut dosa mah, terusin aja. Kalau aku sih, mengikuti arus. Selama aku kuat, ya aku bertahan. Tapi kalau aku gak kuat, ya maaf aja kalau aku memilih untuk meninggalkan. Dan saat aku pergi dari hidup kamu, bahkan ketika kamu bersujud di kaki aku pun, bahkan saat kamu nangis darah pun atau kamu mati di depan aku pun, aku gak akan balik lagi. Kamu tau kan sifat aku gimana. Sekali di sakitin, gak akan ada kesempatan sekali lagi," ucap Luna panjang lebar membuat Ariel hanya bisa mengehal nafas kasar.
"Aku harap, kita akan selalu bersama, yank," ujarnya.
"Kalau Mas ingin terus bersama aku, cuma satu yang harus Mas lakukan. Jangan banyak tingkah. Syukuri apa yang Allah kasih. Sudah cukup, jangan serakah jadi orang. Jangan sampai Allah murka dan membuat Mas kehilangan semuanya. Aku cuma mau mengingatkan kalau penyesalan itu ada di belakang. Jangan sampai Mas menyesal karena jika itu terjadi, Mas gak akan bisa mengubah keadaan kembali seperti semula. Dan itu artinya, kehancuran sudah tampak di depan mata," balas Luna sengit. Setelah itu, ia melepas pelukan Ariel. Luna menaruh HPnya di meja, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, cuci muka, sikat gigi, lalu ambil wudhu. Setelah selesai, ia pun naik ke atas tempat tidur dan langsung menarik selimutnya sampai leher. Dia bahkan tidur membelakangi suaminya.
"Kok tidurnya ngadep ke sana yank?" tanya Ariel.
"Pengen aja," jawab Luna.
"Tapi .... "
__ADS_1
"Sudahlah, Mas. Mending tidur aja deh, ini sudah malam," ucap Luna ketus membuat Ariel hanya bisa menghela nafas. Akhirnya ia pun membiarkan Luna tidur membelakangi dirinya.