
Sehabis makan siang, Luna mengajak Ariel ngobrol santai di ruang keluarga sambil nonton tivi. Ariel sendiri pun merasa senang karena ini pertama kalinya Luna mau ngajak dirinya ngobrol setelah akhir-akhir ini hubungan mereka dingin dan hampa.
Bibi juga sudah menyiapkan minuman, buah yang sudah di kupas dan juga kue kering di meja buat nemenin mereka mengobrol. Bibi Imah emang paling the best deh, tanpa di perintah, dia langsung tau apa yang harus di lakukan.
Luna menonton film di ikan terbang, tentang perselingkuhan, sengaja nonton itu, biar Ariel sadar akan kesalahannya. Siapa tau dengan film itu, Ariel dapat hidayah karena kan kalau film di ikan terbang, akhir-akhirnya pasti pengkhianat akan dapat karma, atau pelaku pengkhiatan akan menyesal seumur hidup hingga sudah mendapatkan kebahagiaan lagi.
"Mas, besok kan hari Minggu ya. Aku ingin ngadain pesta," ucap Luna memberitahu.
"Pesta apa sayang?" tanya Ariel memanggil sayang dengan lembut.
"Bakar-bakar gitu loh Mas, sudah lama kita gak gitu lagi kan, aku pengen kayak pas masih kuliah. Kangen aku."
"Oh gitu boleh. Jam berapa?"
"Gimana kalau habis sholat isya' aja. Kalau bakar-bakar pas malam hari kan lebih enak Mas, ketimbang siang hari."
"Okay, apa perlu kita ngundang temen-temen kuliah kita?"
"Enggak usahlah, Mas. Kan ada aku, kamu, Bibi Imah, Bibi Neni, Mas Dion dan nanti aku mau ajak Laras juga. Boleh ya. Biar rame gitu loh, Mas. Lagian aku kangen sama Laras, sudah lama gak ketemu, karena Laras sibuk terus," pinta Luna memohon.
"Baiklah, terserah kamu. Enaknya gimana, yang penting kamu seneng."
"Makasih ya, Mas. Besok aku sama Bibi Imah mau ke pasar, buat beli bahan-bahannya. Mas mau nitip apa?"
"Apa ya, gak deh."
"Iya sudah, tapi misal besok pengen apa, bilang aja ya. Nanti aku belikan."
"Iya, Sayang. Kamu gak marah lagi sama aku?"
"Aku gak marah kok, emang kenapa aku harus marah?"
"Habisnya sikap kamu dingin sama aku."
"Santai aja kali Mas, mungkin kemaren aku sensitif," ucap Luna tersenyum.
"Oh, gitu. Syukurlah. Mas iku seneng dengernya."
"Iya," sahutnya tersenyum. Luna mengambil buah dan memakannya. Sedangakn Ariel, dia makan kue coklat kering.
"Aku harap hubungan kita menghangat seperti ini, yank. Rasanya hatiku tenang."
"Iya, Mas. Maafin aku ya, sikap aku kemaren pasti bikin kamu bingung."
__ADS_1
"Iya gak papa, yang penting jangan di ulangi lagi ya. Kalau sikap kamu dingin gitu, terus ketus sama aku. Akunya sedih banget rasanya."
"Iya, Mas. Lain kali gak gitu lagi," ucapnya tersenyum manis.
Mereka pun mengobrol santai. Ariel senang karena perubahan istrinya yang kembali menghangat, dan Luna sendiri, jangan di tanya bagaimana perasannya. Tak ada hati yang akan baik-baik aja, setelah apa yang ia baca tadi pagi. Namun, ia memilih untuk tetap pura-pura tidak tahu aja. Ia akan bersikap ramah seperti tak terjadi apa-apa. Jika Ariel pandai beracting, maka Luna pun akan melakukan hal yang sama.
"Oh ya sayang, Lusa Mama sama Papa mau ke sini." ucap Ariel memberithu tentang orang tuanya yang mau datang ke rumahnya.
"Oh ya, bagus dong. Aku sudah kangen banget Mama Ila dan Papa Ardi, sudah lama rasanya gak ketemu mereka," jawab Luna antusias. Mama Ila dan Papa Ardi sangatlah baik, jadi wajar jika Luna juga sangat menyayangi mereka.
"Kamu gak kangen sama Ayah Lukman dan Bunda Naira?" tanya Ariel kepada Luna.
"Tentu aku kangen sama mereka, mereka kan orang tua kandung aku. Tapi kan nanti pas aku ulang tahun aku pulang, jadi aku bisa melepas rasa kangen sama mereka, kalau sekarang cukup telfonan dan vidio call aja," sahutnya.
"Iya, aku juga kangen banget rasanya. Sudah lama ya kita gak pulang kampung."
"Iya, Mas kan sibuk terus. Sedangkan aku gak boleh pulang kalau sendirian, ya akhirnya kayak gini deh, kita jarang menemui orang tua aku."
"Maafin aku ya."
"Gak papa, Mas. Santai aja kali." balas Luna tersenyum ramah.
Mereka mengobrol sambil menonton tivi, namun Ariel tak terlalu fokus sama layar tivi, karena sedari tadi ia ngobrol sambil menatap ke arah Luna. Luna sendiri pun sejujurnya merasa risih tapi ia pura-pura cuek dan tak tau, jika sedari tadi Ariel melihat ke arahnya.
"Oh ya Sayang, kamu kapan terakhir haid?" tanya Ariel tiba-tiba.
"Soalnya kayaknya kamu udah lama ya, gak datang bulan."
"Iya juga ya. Aku kok lupa, kapan terakhir aku haid."
"Kayaknya terakhir dua bulan yang lalu deh yank."
"Masak sih Mas."
"Iya, aku aja baru ingat tadi."
"Bentar aku lihat kalender dulu," ucap Luna sambil mengambil HPnya yang ada di atas meja, dan melihat kapan terakhir dia haid dan benar saja ia sudah telat dua bulan lebih.
"Astaga, ada apa ini. Tuhan, jangan sampai ini terjadi," pinta Luna memohon dalam hati.
"Kalau aku sampai hamil, maka rencana aku akan berantakan. Aku harus gimana, Tuhan?" tanya Luna dalam hati.
"Coba besok kamu beli testpack yank, aku kok curiga ya." tutur Ariel.
__ADS_1
"Jangan-jangan sikap kamu yang sensitif ini gara-gara kamu hamil," tebaknya membuat Luna semakin takut.
"Enggaklah, mungkin emang telat aja. Dulu juga pernah kan telat, dan aku gak hamil," ujar Luna, jika pun dirinya hamil. Dia gak akan membiarkan Ariel tahu.
"Iya sih tapi entah kenapa aku merasa dirimu hamil deh yank. Kamu itu sensitif banget, suka malas kadang, dan makannya juga lebih banyak,"
"Aku makan banyak karena sekarang aku bebas, gak seperti dulu. Kalau dulu aku makan banyak, tentu Mas akan protes sama aku. Dulu kan aku gak boleh makan sembarangan, beda sama sekarang. Jadi wajarlah jika aku menikmati apa yang ada. Toh sudah gak di larang lagi kan."
"Iya sih. Tapi tetap aja aku merasa kalau kamu itu sekarang lagi berbadan dua."
"Sudahlah, jangan berfikir yang aneh-aneh. Nanti malah kecewa," ucap Luna berusaha mengalihkan fikiran Ariel.
"Oh ya, Mas. Kamar sebelah kita kan gak di pakai ya,"
"Iya, terus?"
"Gimana kalau aku jadikan itu kamar privasi aku."
"Kamu butuh kamar privasi?"
"Iyalah, Mas. Aku ingin kamar pribadi gitu loh, Mas."
"'Enggak ah, nanti kamu malah gak mau tidur bareng aku."
"Ya gak gitu juga, Mas. Aku tetap tidur sama kamu kok. Hanya saja aku ingin punya kamar sendiri, gak papa ya, misal di pakai aku." pinta Luna.
"Boleh deh, terus Mama sama Papa aku kalau ke sini, tidur di mana?"
"Di kamar tamu aja gimana, kan lebih luas di sana."
"Iya sudah gak papa. Kamu atur aja yang penting mereka nyaman di sini."
"Pasti Mas. Tapi kapan-kapa boleh ya kalau misal Laras nginep di sini."
"Kok permintaan kamu aneh-aneh sih yank."
"Aku kangen Mas sama Laras. Bayangkan aja mau ketemu dia aja susah banget tau gak. Dia kerja dari pagi samapi malam, ya kali aku ke rumah Laras malam-malam, iya kan. Dia juga jarang balas chat aku, apalagi kalau aku nelfon hampir gak pernah di angkat. Hari Minggu aku ke sana, juga kadang dia gak ada di rumah. Kalau dia nginep di sini kan aku bisa ngobrol ma dia Mas, walaupun cuma sebentar, itu saat dia sebelum berangkat kerja, atau saat dia sudah pulang. Boleh ya, Mas."
"Okay, nanti nanti ya setelah Mama dan Papa pulang dari sini,"
"Iya, makasih ya, Mas."
"Sama-sama, Sayang. Apapun akan aku lakukan biar kamu seneng," tutur Ariel sambil memeluk Luna. Luna pun yang merasa enggan, hanya bisa menerima pelukan itu tanpa membalasnya.
__ADS_1
Jam dua lebih, Ariel mengajak Luna tidur siang. Luna pun tak menolaknya. Ia langsung pergi ke kamar bareng Ariel. Dan setelah mereka masuk kamar, Bibi Imah pun langsung membereskan meja dan menaruh kembali kue kering ke lemari kaca. Sedangkan buahnya taruh di kulkas. Dan minuman yang sudah sisa setengah itu, di buang lalu tempatnya di cuci.
Sedangkan di dalam, tak terjadi apa-apa, karena mereka langsung tidur gitu aja. Tentu Ariel tidur sambil memeluk Luna. Sedangkan Luna yang merasa muak hanya bisa pasrah agar Ariel tak curiga dengan rencana yang sudah ia susun dengan rapi itu.